Breaking News

31 July, 2014

[Testimoni] Storycake for Amazing Moms

Srie Ningsih
 Apakah Anda merasa menjadi ibu paling sengsara di dunia, karena harus mengurus semua keperluan rumah tangga sendiri? Coba deh baca buku " Storycake for Amazing Moms", dijamin Anda akan merasa belum apa-apa dengan segala kesengsaraan yang dialami.

Banyak ibu-ibuu lain yang jauh lebih berat dalam menguruus rumah tangga, seperti yg dimuat di buku tersebut. Ada 46 kisah seru para ibu hebat yang dapat membuat Anda seakan di cas kembali setelah membacanya. Anda aga percaya? silakan buuktikan sendiri & cari di toko buku terdekat.

27 July, 2014

[Testimoni] Pondok Mertua Indah


Rohyati Sofyan
Buku ini sangat menginspirasi, memandu kita yang menantu bagaimana harus bersikap pada mertua dan lingkungan keluarga suami/istri berikut tetangga sekitar. Juga bermanfaat bagi para mertua karena posisi menantu dan mertua adalah kesejajaran.

Ada banyak masalah krusial yang dihadapi menantu dan mertua (berikut pasangan hidup kita), Pondok Mertua Indah berupaya memaparkan permasalahan tersebut berikut solusinya tanpa kesan menggurui. Nunung Nurlaela telah berhasil membagi sebagian kecil renik kehidupannya hingga bermanfaat dengan buku apik tersebut. Anda layak memilikinya.

Kelak juga, sebagai menantu, kita akan menjadi mertua bagi pasangan anak kita. BTW, entah apakah saya akan bermenantukan Astri teman main Palung, hehe.

26 July, 2014

[Testimoni] Virus Mompreneur

Uning Musthofiyah
"Berani mengambil resiko, berani bersaing sehat, selalu optimis adalah beberapa syarat untuk berbisnis. Buku ini membuka mata kita tentang pentingnya kesiapan mental dalam berbisnis. Tidak heran jika dalam buku ini diungkap pula tips mengembangkan bisnis dan cara menyiapkan mental berbisnis.

Tak lupa pula sekelumit kisah hebat dari para pebisnis wanita yang mampu menginspirasi kita menjadi seorang pejuang “mompreneur..!!”

03 July, 2014

Saya Berhenti BerPendapat

Buku Karya Anggota IIDN Luar Negeri

Bukan hanya masalah politik, dalam berbagai persoalan yang bisa menimbulkan depat kusir, saya memutuskan untuk BERHENTI BERPENDAPAT.

Pendapat saya lebih melihat memiliki unsur subjectivitas yang sangat besar dibandingkan obyektivitas. Karena kerapkali kita berpikir lalu mengatakan atau menulis dari apa yang kita dengar atau baca semata atau hanya karena terlibat obrolan khas tetangga.
Alasan lainnya karena saya memang kurang menyukai debat, meski saat SMA saya pernah diikutsertakan dalam lomba debat di TVRI .

Saya memutuskan untuk mengatakan dan MENULIS dari pengalaman saya saja, meski bisa jadi ini unsur subjectivitasnya tinggi tetapi karena pengalaman sendiri menuliskannya tidak menjadi sebuah BEBAN.
Kalau ada yang bertanya, "teh, buku apa yang sedang teteh tulis?" Saya akan menjawab, "buku bisnis sebab saya adalah pebisnis, yang saya tulis apa yang saya alami bukan teori."


Menuliskan pengalaman jauh lebih mudah dibandingkan menuliskan dari apa yang kita baca atau dengar semata. Maka benar dalam sebuah penulisan buku, meski GOOGLE itu penting, tapi tidak semua yang kita baca disana benar adanya. 


Selamat menulis dan tetaplah produktif!
Berolahraga sambil menyetatus
50 menit perhari
Kembali menDETOX Pikiran

Kelas Tips Menulis Traveling #18 : Menulis dan Mendokumentasikan Wisata Religi

Oleh : Arini Tathagati

Selamat pagi Ibu-Ibu, hari ini kita bertemu lagi di kelas Tips Menulis Traveling di awal bulan Juli, bertepatan dengan bulan Ramadhan. Khusus malam ini, kelas nanti akan kita mulai pukul 20.30 WIB dan diakhiri pukul 22.00 WIB, memberikan kesempatan bagi mereka yang akan menunaikan ibadah shalat tarawih. Namun bagi siapa yang sudah memiliki pertanyaan atau hal yang akan didiskusikan, silakan menuliskannya di komentar, nanti malam akan kita bahas bersama.

Bertepatan dengan bulan Ramadhan, kali ini kita kembali mengangkat tema wisata religi pada diskusi kita hari ini. Bagi umat muslim, wisata religi dapat dilakukan bertepatan dengan saat berpuasa, atau pada saat libur hari raya, di mana kita berkesempatan untuk mudik dan berkunjung ke obyek wisata religi di sekitar kampung halaman kita.

Apa saja yang termasuk dengan obyek wisata religi? Di antaranya termasuk rumah ibadah, ziarah makam, perayaan-perayaan atau tradisi setempat yang unik. Di Indonesia, banyak mesjid dengan arsitektur menarik yang dapat dikunjungi, seperti Masjid Demak, masjid kuno dengan arsitektur yang dipengaruhi arsitektur khas Jawa, atau Masjid Agung Jawa Tengah, masjid baru yang modern dan dilengkapi payung besar yang bisa dibuka tutup secara elektronik. Ziarah makam biasanya dilakukan ke makam para wali atau kyai, misalnya ziarah makam Wali Songo. Sedangkan contoh tradisi unik adalah tradisi Petang Balimau di Sumatra Barat, di mana menjelang memasuki bulan Ramadhan, warga mandi di sungai dengan menggunakan limau untuk membersihkan diri. Atau tradisi Tumbilotohe di Gorontalo, di mana pada 3 malam terakhir di bulan Ramadhan warga memasang lampu untuk menyambut hari raya Idul Fitri.

Meliput, memotret, dan membuat tulisan wisata religi ini susah-susah gampang, karena topik yang satu ini terkadang menyerempet unsur SARA. Di satu sisi, banyak obyek menarik untuk ditulis dan diabadikan, namun di sisi lain, terdapat berbagai etika yang harus dipenuhi. Tidak hanya pada saat Anda berkunjung dan meliput, tetapi juga pada saat Anda menulis, agar tulisan dan foto Anda bisa diterima oleh pembaca dengan baik.

Mulai dari saat berkunjung ke destinasi wisata religi. Hal pertama yang harus diingat betul adalah hormatilah tempat tersebut. Pada umumnya, orang berkunjung ke tempat tersebut untuk beribadah, sehingga hargai mereka yang sedang beribadah di tempat tersebut.Kenakan pakaian yang sopan, jangan kenakan celana pendek atau baju tanpa lengan. Sebelum mulai memotret di destinasi wisata religi, lakukan pengamatan terlebih dahulu, untuk memastikan tidak ada larangan untuk memotret. Apabila ragu, tanyakan pada petugas setempat (bisa pengurus rumah ibadah atau petugas sekuriti) apakah ada larangan memotret.

Apabila Anda diperkenankan memotret, masih ada hal-hal lalin yang perlu diperhatikan. Hindari memotret dengan lampu kilat, karena bisa mengganggu mereka yang beribadah. Apabila Anda bermaksud memotret orang yang tengah beribadah, memotretlah dari jarak jauh (menggunakan zoom/lensa tele) agar tidak mengganggu kekhusukan. Perhatikan juga aturan-aturan khusus, misalnya Anda tidak diperkenankan memotret obyek tertentu (contohnya adalah di beberapa situs ibadah umat Buddha di Cina, tidak diperkenankan untuk memotret patung Buddha). Usahakan jangan memotret sambil membelakangi altar atau mimbar, dan jangan sekali-kali melintas di depan orang yang sedang beribadah.

Seperti halnya artikel traveling pada umumnya, walaupun topik wisata religi tentunya berkaitan erat dengan sebuah agama, artikel wisata religi sedapat mungkin tidak menyinggung isu SARA. Contoh isu SARA adalah stereotip sebuah suku bangsa, agama, atau kepercayaan. Anda bisa memfokuskan tulisan dengan meliput dari sudut pandang lain, seperti pariwisata, sejarah bangunan atau tradisi, keunikan arsitektur, atau sisi tradisi dan budaya setempat. Namun demikian, seringkali kita tidak bisa menghindari pembahasan yang menyerempet mengenai filosofi kepercayaan atau sebuah ritual, misalnya karena kita harus menjelaskan sejarah berdirinya sebuah bangunan, atau makna simbol yang terdapat dalam bangunan tersebut. Untuk itu, lakukan riset yang sangat mendalam, untuk memastikan tidak ada kesalahan pemahaman saat menuangkannya dalam tulisan.

Bagaimana dengan Ibu-Ibu yang lain? Apakah bulan Ramadhan atau libur Idul Fitri ini sudah ada rencana melakukan wisata religi? Manakah tujuan wisata religi favorit atau yang ingin dikunjungi?Mari berdiskusi dan berbagi!