Breaking News

06 May, 2014

EYD Hari ini



Oleh Anna Farida

Pak Lurah sedang berpidato dengan penuh semangat.
+: "Mari kita sukseskan pembangunan kandang ayam, di mana ayam akan menjadi kunci sukses kita!"
-: Ayamnya hilang, Pak? Kok tanya di mana.
+: Ndak ada yang ilang! Kamu ngelindur, ya? Sudah! Dengarkan pidato saya!
"Ayam akan kita optimalkan, di mana telurnya dijual, dagingnya jadi sate!"
-: Nah, sekarang telurnya yang hilang, Pak? Kok tanya di mana, lagi.
+: Maksud kamu apa, sih?!
-: "Di mana" itu kata tanya untuk menanyakan tempat. Jangan dipakai sembarangan dalam kalimat. Mengapa, sih, harus maksa pakai "di mana"?
Pak Lurah bingung, ayam-ayam di kandang berkotek minta makan. Semoga ibu-ibu di sini lebih cerdas dari Pak Lurah:-D 

Kelas Tips Menulis Traveling #16 : Mari Menulis Wisata Kuliner

Hari ini kita akan mengulas wisata Kuliner. Inilah salah satu bentuk wisata yang sangat digemari, karena topiknya tentang makanan. :)

Ulasan tentang wisata kuliner memiliki lingkup yang luas, dan banyak media yang memuatnya. Lingkupnya luas, karena bisa meliputi makanan kaki lima hingga bintang lima. Demikian juga media yang menerima artikel wisata kuliner sangat luas, mulai dari media untuk backpacker hingga majalah-majalah lifestyle.

Anda bisa mengulas makanan dari sisi sejarah, cara pembuatan, tampilan visual, rasa, dan tradisi di balik kuliner tersebut. Khususnya untuk rasa, Anda harus bisa mendeskripsikan bagaimana cita rasa sebuah makanan, sehingga setelah membaca deskripsi rasa makanan tersebut pembaca bisa seolah-olah turut merasakan makanan tersebut. Namun jangan menceritakan aspek negatif dari makanan tersebut, sehingga jika menurut Anda makanannya tidak enak, jangan diulas dalam artikel Anda.

Oleh Arini Tathagati

Faktor yang sangat mendukung dalam membuat artikel wisata kuliner adalah foto makanan. Salah satu tantangan dalam membuat foto makanan adalah membuat makanan tersebut terlihat menggiurkan. Anda tidak selalu memiliki kesempatan yang bebas dalam mengatur tata letak makanan, sehingga Anda harus siap memotret makanan dalam kondisi apa pun. Usahakan untuk menggunakan cahaya dari sinar matahari agar makanan terlihat alami. Jika Anda berada di dalam ruangan, usahakan memilih tempat dekat jendela, agar pencahayaan pada makanan bisa menggunakan cahaya matahari yang masuk melalui jendela. Jika Anda berada pada ruangan yang tidak memiliki jendela, atur white balance kamera agar sesuai dengan cahaya yang ada di dalam ruangan.

Tantangan lainnya adalah membuat foto makanan dengan komposisi atau sudut pandang yang menarik. Anda bisa memanfaatkan fitur makro untuk memotret detail makanan secara close-up. Cara lain yang bisa dilakukan adalah mengatur fokus pada salah satu elemen makanan, dan elemen lainnya dibuat buram.

Kelas Tips Menulis Traveling #15 : Travel Memoar

Oleh Arini Tathagati

Berdasarkan definisi dalam KBBI, memoar adalah kenang-kenangan sejarah atau catatan peristiwa masa lampau. Pada dasarnya, memoar serupa dengan otobiografi, yaitu sebuah karya non fiksi yang ditulis untuk menceritakan kisah hidup seseorang, dan ditulis oleh yang bersangkutan. Namun jika otobiografi merupakan tulisan yang memuat sebagian besar atau seluruh kisah hidup penulis, memoar hanya menceritakan tentang satu peristiwa atau situasi tertentu, misalnya kisah seorang tokoh ketika beliau memegang jabatan tertentu. Ibaratnya, memoar adalah semacam novel, namun sifatnya non-fiksi.

Topik traveling/perjalanan juga merupakan topik yang bisa dibuat dalam bentuk memoar. Karena bentuknya berupa memoar, penulis bisa berkreasi dalam penulisan dan penggunaan gaya bahasa, tidak terikat bentuk seperti feature/tulisan jurnalistik atau travel guide. Saat ini beberapa penulis traveling Indonesia sudah banyak yang menuliskan buku dengan genre travel memoar, salah satunya adalah Agustinus Wibowo, yang menuliskan travel memoar ketika ia berkelana ke wilayah Asia Timur. Buku travel memoarnya antara lain adalah Selimut Debu, Garis Batas, dan Titik Nol. Penulis Indonesia lainnya yang juga membuat travel memoar adalah Gol A Gong, dengan bukunya Perjalanan Asia dan The Journey: From Jakarta to Nepal. 

Btw, teman-teman kita di IIDN juga ada yang sudah membuat travel memoar lho! Sebut saja mbak Jihan Davincka dengan Memoar of Jeddah, dan mbak Astri Novia dengan Lucky Backpacker.

Bagaimana dengan Ibu-Ibu sekalian? Sudah terbayang apa yang disebut travel memoar? Pernahkah membaca atau bahkan menulis travel memoar? 

Kelas Tips Menulis Traveling #14 : Apa Yang Tidak Boleh Ditulis di Artikel Traveling

Oleh Arini T

Jika minggu-minggu sebelumnya kita banyak membahas mengenai hal-hal yang perlu ditulis di artikel traveling, kali ini topik kita adalah apa yang TIDAK BOLEH ditulis di artikel traveling.

Apa saja sih yang tidak boleh ditulis dalam sebuah artikel traveling? Pada dasarnya sama seperti artikel lain, artikel traveling (baik travel feature maupun travel guide) harus terstruktur dan nyaman untuk dibaca. Gunakan bahasa sehari-hari yang mudah dipahami pembaca, namun juga tetap memperhatikan EYD dan kaidah bahasa Indonesia yang baik dan benar. Artikel traveling memang menyampaikan mengenai detail perjalanan atau tempat wisata atau obyek menarik di sebuah tempat, namun pilihlah detail yang menarik bagi pembaca, tidak perlu seluruh detail dituangkan dalam artikel.

Rule of thumb dari sebuah artikel traveling adalah jangan menuliskan aspek negatif dari obyek wisata. Contoh dari aspek negatif ini adalah pengalaman buruk yang Anda alami, misalnya makanan yang tidak enak, transportasi yang tidak nyaman, atau layanan petugas akomodasi yang buruk. Bisa jadi itu hanya moment-of-truth yang Anda alami, dan tidak dialami oleh wisatawan lain. 

Hindari juga menceritakan momen-momen yang sangat pribadi bagi Anda, misalnya saat Anda kehujanan, atau ketinggalan pesawat, karena belum tentu pembaca tertarik untuk membaca tentang hal tersebut. Perkecualian adalah jika momen tersebut terkait dengan kisah yang sedang Anda ulas dalam artikel traveling. Misalnya gara-gara ketinggalan pesawat, Anda jadi punya kesempatan melihat satu obyek menarik yang pantas untuk diceritakan.

Hindari pula membuat tulisan yang menyerempet masalah politik, militer, dan SARA. Anda mungkin ingin menuliskan perjalanan ke sebuah monumen militer (misalnya Monumen Kapal Selam di Surabaya) atau sebuah rumah ibadah. Anda bisa mengulasnya dari sisi lain, misalnya dari sisi sejarah, arsitektur, atau dari sisi pariwisatanya.

Hindari juga terlalu banyak menggunakan klise. Klise adalah ungkapan yang terlalu sering dipakai atau terlalu umum dan telah diketahui oleh semua orang, misalnya "matahari yang terbit dari timur". Klise akan membuat tulisan Anda menjadi membosankan, dan bisa jadi pembaca akan meninggalkan tulisan Anda.

Kelas Penerbitan - Ajukan Ide Anda dengan Gaya yang Berbeda

Oleh Indari Mastuti

Haiii, tiba-tiba dalam perjalanan menuju Jakarta saya terpikir satu jenis buku yang berbeda! Kenapa buku harus berbeda? Sebab Anda bisa lihat ada ribuan buku di toko buku yang harus bersaing mendapatkan pembaca. Maka, kalau bukunya biasa-biasa saja, baik dalam tampilan cover, judul, atau isinya, pasti nggak laku! Aduuuh jadi kasihan ama penulis yang sudah capek menuliskannya dan penerbit yang sudah investasi menerbitkannya.
Maka, untuk jadi penulis saat ini dibutuhkan KREATIVITAS yang pastinya lebih maknyooos. Kemarin saya jalan ke toko buku, di kasir ada buku dengan foto depannya Sherina. "Loh kok ringan banget bukunya?" Tanya saya. "Itu bukan buku, isi dalamnya kaset." Ujar kasir. Kreatif!
Lalu, saya pergi ke wilayah buku pelajaran. Dan, menemukan kamus yang dibuat jadi poket book. Laris booo! Ini juga kreatif!
Lalu, tadi malam saya diskusi di WA dengan sejumlah penulis yang ingin mengajukan outline antologi, "antologi sudah buanyaaak, saya cari antologi yang beda!" Ujar saya. Kami melanjutkan diskusi beda itu bagaimana...
Daaan....saatnya Anda juga mengajukan ide Anda dengan berbeda! Kalau BEDA Anda GAYA!