Breaking News

31 March, 2014

Kelas Tips Menulis Traveling #13 : Mari Membuat Artikel Round Up

Oleh: Arini T

Round up secara harfiah berarti mengumpulkan. Yang disebut artikel round up adalah menggabungkan beberapa artikel perjalanan dengan topik sejenis dalam satu artikel besar. Artikel round up biasanya dibuat sebagai salah satu cara untuk "mendaur ulang" artikel yang pernah kita tulis sebelumnya.

Contoh artikel round up adalah mengenai benteng-benteng di Nusantara. Artikel ini akan berisi keterangan singkat tentang benteng-benteng yang ada di Nusantara, seperti benteng Marlborough, benteng Surosowan, benteng Vredeburg, benteng Vastenburg, benteng Van der Wijk. dan benteng Rotterdam. Penulisannya bisa berbentuk travel feature atau travel guide, bergantung pada kebutuhan. Jika berbentuk travel feature, keterangan singkat masing-masing benteng yang diliput bisa menjelaskan mengenai sejarahnya, bentuk arsitekturnya, dan lain sebagainya. Sedangkan jika berbentuk travel guide, keterangan singkat lebih ditekankan pada lokasi dan cara mencapai benteng tersebut.

Artikel round up juga bisa berupa kumpulan tempat-tempat wisata terbaik ("the best") di suatu destinasi. Sebagai contoh, saat kita menulis tentang wisata di Pulau Lombok, kita bisa membuat artikel round up berisi keterangan singkat mengenai tempat-tempat wisata terbaik di Lombok.

Contoh artikel round up yang pernah saya buat dapat dilihat di sini:

Bagaimana dengan Ibu-Ibu yang lain? Barangkali ada yang pernah membuat artikel round up tentang wisata di dekat domisili Ibu-Ibu? Mari berdiskusi dan berbagi!

Kelas Tips Menulis Traveling #12 : Tips dan Trik Menulis Travel Guide

Travel guide biasanya dalam bentuk artikel atau guidebook, merupakan panduan perjalanan yang menyediakan berbagai informasi mengenai tujuan wisata, termasuk rincian lokasi, alamat, nomor telepon, harga, ulasan akomodasi terdekat, ulasan tempat makan terdekat, aktivitas dan point of interest di suatu tempat, serta cara mencapai ke sana. Travel guide bisa dianggap sebagai bentuk tertulis dari pemandu perjalanan.

Travel guide bisa juga dibuat untuk sasaran pasar tertentu. Misalnya travel guide untuk para backpacker akan berbeda dengan travel guide untuk para flashpacker, atau travel guide mereka yang mencari kemewahan dalam berwisata. Jenis lainnya adalah travel guide untuk solo traveler, akan berbeda untuk travel guide bagi mereka yang ingin berwisata dengan keluarga. Travel guide juga bisa dibuat sesuai jenis travelingnya, misalnya travel guide khusus wisata kuliner, travel guide khusus wisata religi, dan lain sebagainya.

Membuat travel guide biasanya membutuhkan waktu dan energi yang lebih lama dibandingkan membuat travel feature. Prinsip dasarnya sama dengan membuat travel feature: lakukan riset, kunjungi lokasi untuk memastikan data hasil riset, tuangkan dalam bentuk tulisan. Namun hal yang perlu dituangkan tentunya lebih banyak, seperti:
- data transportasi menuju lokasi (jarak, waktu tempuh, moda transportasi, harga)
- data akomodasi di sekitar lokasi (Melati s/d Bintang 5)
- data rumah makan dan kuliner di sekitar lokasi 
- obyek menarik di lokasi (obyek wisata dan point of interest lainnya)
- data biaya yang dikeluarkan
- peta menuju tempat tersebut
- nomor telepon penting
- do and don't

Bagaimana dengan Ibu-Ibu yang lain? Pernahkah mencoba membuat travel guide singkat untuk berkunjung ke lokasi yang menjadi domisili Ibu saat ini? Apa hal yang menarik yang bisa dilihat di domisili Ibu? Bagaimana cara menuju ke sana?Mari berdiskusi dan berbagi!

29 March, 2014

==BEKERJA DARI RUMAH==

Oleh: Meili Damiati

"Umi, kok ga buka kedainya?" ujar salah satu tetangga via whatsapp.

"Lagi ada kerjaan di rumah jadi malas buka, hi..hi... Lagian isi kedai hanya buat pajangan doang. Jual beli via inetrnet wae, bu.."

"Enak juga usaha semau gue"

Saya hanya tersenyum sambil mikir, untung saya ga jadi karyawan kantoran. Bisa-bisa di PHK kalo kerja cuma ngikutin mood doang. Ini aja kedai samping rumah ga dibuka-buka karena asyik dengan aktifitas menulis sambil jual online.

Biarin ahh, paling kalo buka juga, yang beli cuma anak-anak. Stock makanan anak-anak di kedai emang sudah saya minimalisir, hanya untuk persediaan bocah-bocah saya sendiri, biar mereka ga jajan sembarangan tapi tetap aja, sekali waktu ada yang manggil, "Nte... beli teh gelas dooong..."
Jadilah tuh rolling door buka tutup, buka tutup.
Tapi ga masalah apa kata orang, yang penting jual beli online sangat nyaman digeluti oleh Ibu Rumah Tangga seperti saya. Dan saya sungguh menikmati itu.

Dulu komputer saya tempatkan di kedai. Jadi sambil jagain, aktifitas online tetap bisa dijalankan tapi ya ampuuuuuun..... rumah jadi ga terkontrol. Akhirnya kedai yang ga terlalu produktif saya jadikan hanya untuk pajangan produk yang sesekali dibuka. Komputerpun berpindah ke dalam kamar. Jadi sambil melaksanakan pekerjaan rumah, aktifitas online tetap bisa berjalan. asyik kaaan?

Oh ya, bisnis online ini sudah dari awal 2010 saya geluti. Yang penting amanah dan selalu jaga kepercayaan konsumen dan layani mereka dengan cepat dan ramah. Modal itu dulu, rasanya sudah cukup. Ga terlalu butuh modal karena kerjasama dengan suplier dengan modal komunikasi efektif bisa melancarkan usaha ini. Kalau mau penjualan pas-pasan yaa promosilah seadanya via jejaring sosial atau apapunlah itu. Kalau ingin penjualan melesat, maka kita juga harus rajin promosi. Tapi kalau dianggurin terus, yaa tinggal menunggu rezeki turun dari langit aja deh.

--------------
Bkt,270314

#WomenpreaneurChecklist

"I Wanna Be a Womenpreneur

Oleh  :  Sri Mulyani

Kesulitan hidup di masa lalu menempa sahabatku yang satu ini berjiwa ulet dan tahan banting.Bakat bisnisnya juga sudah terasah sejak masih zaman kanak- kanak.Lahir dan menghabiskan masa remaja di sebuah desa yang bernama Kuta Cane lama Aceh Tenggara,Mardiani remaja tidak mengenal saat bersantai menikmati cerianya usia belia.Dia harus berjuang keras membantu orang tua mencari rupiah demi mencukupi mimpi - mimpi sederhananya,bisa berpakaian layaknya gadis- gadis lainnya.

                   Untuk berpakaian seragam yang pantas saja Mardiani dan adik- adiknya ( enam bersaudara,dia anak tertua) sering menunggu pemberian tetangganya yang kaya berganti seragam baru,dengan demikian seragam lama mereka akan diberikan kepada Mardiani yang memang kebetulan rumahnya berseberangan.Sedih dan malu sebenarnya,tapi tak dapat berbuat apa- apa.
                  Mardiani remaja tidak mau tinggal diam,perasaan malu membuatnya berfikir keras harus merubah nasib.Sepulang sekolah,tanpa mengenal istirahat,Mardiani berangkat ke hutan milik saudara untuk memetik buah kemiri.Pada masa itu,tahun 80an sekilo buah kemiri dihargai Rp. 100.Setiap hari itu dikerjakannya,uang hasil penjualan kemiri dikumpulkan.Ditabung untuk biaya sekolah dan sedikit sisanya untuk kebutuhan lain.Orang tua hanya menyediakan makan 3x sehari hanya dengan sayur yang dipetik dari kebun sendiri.Lauk..? Jangan berfikir untuk terpenuhi setiap hari,bisa seminggu hanya sekali merupakan satu kebahagiaan buat keluarga mereka.
                 Meski dengan segala kesulitan,Mardiani bisa menyelesaikan SMAnya.Tidak berfikir untuk melanjutkan kuliah,dia hanya berfikir untuk bisa cepat menghasilkan uang.Obsesi masa lalunya memang hanya bisa berpakaian bagus/ layak.Sederhana sekali memang .
                 Setamat SMA,Mardiani merantau ke Medan.Bekerja pada sebuah perusahaan asing yang bergerak di bidang elektronik.Untuk ukuran anak yang berasal dari kampung,itu pencapaian yang sudah menggembirakan.Bekerja tidak pernah mematikan naluri bisnisnya.Mungkin memang sudah bakat pada dunia bisnis ya,besar maupun kecil tetap saja hati selalu cendrung untuk bisa berjualan.Sambil bekerja,pada jam- jam istirahat dia menyempatkan diri menawarkan barang dagangannya pada teman- temannya.Ya biasanya kesempatan itu hanya pada jam istirahat atau sebelum dan sesudah bubar jam kerja.Barang dagangannya tak jauh - jauh dari pakaian.Karena pangsa pasarnya pada waktu bekerja adalah usia muda ( teman kerja banyak yang belum menikah) ,barang yang dijualnya berupa celana jeans,pakaian casual gaya anak mudalah.Dan itu pun dengan modal kepercayaan dari saudara calon suaminya (calon suami teman kerja ).
                    Tiga tahun bekerja mereka memutuskan menikah.Keluarga suami termasuk dalam golongan keluarga berada,otomatis cara berpakaiannya pun beda dengannya.Dan hal ini menjadikan hobby berpakaian bagus semakin tumbuh subur.Kebetulan keluarga suami penyuka busana muslim bermerk Robbani.Mardiani terikut bergaya busana seperti mereka,masalahnya pakaian merk Robbani memang harganya lebih mahal dibanding gamis- gamis biasa kan, dan memang sesuai dengan kwalitasnya.
                    Bersinggungan dengan gaya busana yang beda dengan sebelumnya,semakin membuatnya berfikir keras bagaimana untuk memenuhi hobby tersebut tanpa merusak uang belanja yang memang sudah ada loketnya masing- masing.Tidak mungkin juga kan hobby itu malah merugikan? Dari berlangganan dengan agen Robbani itu,menimbulkan ide baru di kepalanya,bagaimana dia menjadikan dirinya sendiri sebagai model dari barang yang dia dagangkan.Lagi- lagi masih dengan modal percaya dari pemilik toko dia diperbolehkan membawa pakaian- pakaian bermerk Robbani itu untuk ditawarkan pada orang- orang yang dikenalnya.Jika barang laku terjual dia diberikan komisi sebesar 15% / itemnya.Dan kepercayaan yang diberikan oleh pemilik toko terus dijaganya,berdasarkan hubungan yang baik inilah kami memberanikan diri membuka toko yang menjual barang merk Robbani pada suatu hari.
                   Ya..pada 7 tahun yang lalu,Aku,Mardiani dan empat orang lain sahabat kami memberanikan diri patungan untuk membuka sebuah toko.Tapi tepatnya kami menyebutnya kedai.Uang yang kami kumpulkan berenam itu hanya untuk biaya menyewa kedai dan peralatan penunjangnya,sementara barang yang kami jual dari agen Robbani tadi.Tapi kami tidak menamakan kedai kami dengan Robbani juga,karena kedai yang kami rintis bersifat menyediakan jasa.Kami hanya mendapatkan komisi,sama seperti yang berlaku pada Mardiani dulu.
                  Tahun pertama berjualan,kami tidak mengambil keuntungan dari kedai,keuntungan kami putarkan lagi untuk mengembangkan dagangan..
                 Memasuki tahun kedua,usaha mulai terguncang.Ada beda pendapat dari teman yang lain.Mereka ada yang tidak setuju keuntungan tidak dibagi terlebih jika harus menambah modal lagi.Sementara barang dagangan kan harus ditambah,belum lagi untuk membayar sewa kedai.Semakin hari keadaan semakin meruncing.Memasuki tahun kedua itu kami sudah terseok- seok.Begini memang jika ada banyak kepala,akan ada banyak ide yang beda- beda dalam menjalankan usaha,perlu menyamakan misi dan visi dulu seharusnya.
                 Dengan keadaan kedai seperti ini yang paling terbebani adalah Mardiani.Kami merasa sungkan dan sangat tidak enak hati untuk mengembalikan barang- barang merk Robbani tadi.Akhirnya Mardiani memutuskan untuk mengambilalih kedai.Dia yang akan menjalankan bisnis ini.Akan tetapi dia meminta kami untuk bersabar dalam pengembalian modal.Aku paham keadaan ini,segera kami menghitung aset yang masih tersisa.Setelah dihitung keseluruhan,didapatlah berapa biaya yang harus dikembalikan kepada kami masing- masing / orangnya.
                 Mardiani berhasil menyewa sebuah toko di dalam pasar Marelan.Di situlah dia menjual sisa dagangan dari kedai  muslim kami.Sedikit demi sedikit isi toko bisa ditambah dengan barang merk lainnya. Pelan tapi pasti,Mardiani bisa mengembalikan modal kami meskipun dengan cara dicicil.Dia juga diberi keringanan oleh agen Robbani itu untuk membayar barang- barang yang sudah masuk ke kedai dengan cara mencicil pula.
                  Memiliki sebuah toko pakaian agaknya memang sudah menjadi cita- citanya.Letak toko yang cukup strategis dan di dalam lingkungan pasar tradisional memudahkannya memasarkan barang -barang dagangannya.Toko tidak hanya diisi oleh satu merk tertentu saja,apa yang sedang trend harus disediakan.Ini salah satu kejelian Mardiani dalam membaca situasi.Untuk mendapatkan barang dagangan dia pergi berbelanja sendiri ke pusat Pasar,Pasar Ikan Lama,kadang berburu barang sale di mall- mall.Untuk musim lebaran dia mengkhususkan belanja ke Jakarta atau Bandung,barang sudah distok sebelum bulan puasa.Berjualan pakaian memang memiliki musim tertentu,hanya masa menjelang lebaran Idul Fitri toko pakaian mengeruk keuntungan yang berlipat- lipat dari hari biasa.
                    Menurutnya,berjualan di toko dalam lingkungan pasar perputarannya cepat.Pangsa pasarnya banyak,tidak terbatas untuk orang- orang tertentu saja.Namun bukan berarti juga tidak memiliki masalah,pelanggan tetap yang biasanya dari sesama pedagang malah kadang mengesalkan hati.khusus sesama pedagang memang Mardiani menjalankan sistem cicil,perharinya ada yang Rp.5000 atau Rp. 10.000,mereka kadang mengulur- ulur waktu saat dikutip,dengan berbagai alasan,belum laku jualannyalah..besok dibayar dobel..begitu besoknya dikutip..bayarnya satu,dan banyak lagi model- model tingkah pelanggan,semuanya itu memang lika- liku dunia bisnis.
                     Meski berada dalam lingkungan pasar, Mardiani tetap menjaga kualitas barang dagangannya.Barang- barang yang sudah hampir habis trendnya akan diobral,hal itu tidak menyebabkan penumpukan barang lama.Sehingga pelanggannya juga sudah tahu,jika belanja di toko Mardiani barangnya lebih bagus dibanding toko lainnya.

EDISI PARENTING ====KAKAK SELALU SALAH?===

Oleh  : Meili Damiati

Ketika sedang asyik beraktifitas di dapur, saya mendegar jeritan si dua tahun yang sanggup membuat kening saya berkerut. Spontan saja dari jauh saya berteriak,
"Aliiiii.....jangan bikin nangis adik dooong..."

Ali yang sudah berumur 6 tahun pun lantang menjawab.
"Ga diapa-apain kok Umiii... Zahra aja yang nangis sendiri."
Hufft, dengan tampang kesal, saya beranjak dari dapur sambil ngomel, Duh, Abang... kok ga bisa main sama adik sih?!

Di sudut kamar terliihat Ali sedang asyik bermain dengan mobil-mobilannya. Sementara Zahra tampak sedang merapikan kerudung mungilnya di depan kaca sambil menggerutu.
"Zahra kenapa?" Saya pun bertanya.
"Mbut jaja mpak ni Mi... ga ica macuk.i..ih.." Jawab Zahra kesal.
Oh ternyata si kecil sedang mencoba merapikan kerudungnya dibagian wajah. Tapi karena poninya nongol terus dan tidak berhasil ia masukan dengan tangannya, jadilah dia marah besar, ha..ha...
Saya hanya bisa tersenyum getir mengingat spontanitas tadi yang telah langsung menyalahkan Ali sebagai abangnya. Saya sungguh merasa bersalah sudah mematikan sel-sel anak dengan selalu menyalahkannya tanpa mengecek dulu kebenaran yang ada.

Hingga masa-masa kecil saya pun jadi teringat kembali, saat orangtua memarahi saya karena tangisan adik. Betapa kesalnya saya waktu itu. Karena apa-apa yang membuat adik menangis, pastilah saya yang disalahkan. Hmmm... ternyata enak sekali ya jadi anak bungsu? pikir saya waktu itu agak sedikit sinis.
Suatu hari, disaat Ali beramain dengan Zahra dan merajuk karena mainannya diambil adik, spontan Kakekpun menasehatinya,
"Ali!!! kalau mainan kamu diambil adik, ya biasa. Dia kan adik Ali. Kalau Ali yang merebut mainan adik, itu baru ga boleh!"
Saya hanya bisa menghela nafas untuk menghindari adu argumen dengan ortu. Lagi-lagi saya membatin, 'benar-benar ga adil nih. Enak banget ya yang jadi anak bungsu karena dibela terus.'

Kasus lain,

Suatu hari, di rumah saya kedatangan saudara kampung yang mengadukan tentang tetangganya,
"Si Mina benar-benar ga punya hati. Sudah tau adiknya mau melahirkan, eeh dia malah pergi ke luar kota. Kan kasian adiknya ga ada yang mendampingi. Apalagi Ibunya kan sudah meninggal."
Mendengar keluhan ini, lagi-lagi saya bersimpati kepada orang yang bergelar kakak. Bagi saya ya wajar saja si kakak itu pergi ke luar kota. Pasti ada kepentingannya. Apalagi adiknya itu sudah mau melahirkan anak yang keempat. Dan sudah menjadi tanggung jawab suami, pastinya. Lalu, kenapa lagi harus dengan kakak?!

Dari kasus-kasus ini saya berfikir, sebenarnya sejauh apa sih peran seorang kakak? apakah seorang kakak hanya punya kewajiban tanpa perlu diberikan haknya?
Jika antara kakak dan adik ada sebuah masalah, apakah sebagai orang tua, kita sudah adil menjadi seorang hakim? Karena salah dan benar bukan dinilai dari faktor mana yang besar, mana yang kecil tapi siapa yang benar, siapa yang salah? Jika ternyata si bungsu yang salah, apa tidak sebaiknya mengajarkan dia sedini mungkin untuk meminta maaf atas kesalahan tersebut kepada kakaknya?
Selain itu, jika sebagai orang tua, kita menuntut si kakak untuk sayang kepada adiknya. Apakah kita juga sudah mengajarkan si adik untuk dapat menghormati kakaknya?

Tulisan ini mengajak kita sebagai orang tua untuk melihat kembali semua kebijakan yang telah kita terapkan di rumah. Apakah antara si kakak dan si adik sudah memiliki hak dan kewajiban yang seimbang? Jangan sampai niat kita untuk mendidik kakak agar menyayangi adiknya malah jadi bumerang yang akhirnya menimbulkan dendam tersendiri dalam diri si kakak, gara-gara ia selalu disalahkan dan adiknya selalu dibela.

Ternyata dari rumah, orang tua harus belajar menjadi hakim yang bijak. Tentu saja jika ini sudah dapat kita terapkan, anak-anak akan tumbuh menjadi pribadi-pribadi yang selalu membela kebenaran. Insya Allah.

Writing Contest ‪#‎WomenpreneurChecklist



I Wanna Be a Womenpreneur
Oleh: Enni Kurniasih

Menjadi seorang womenpreneur merupakan impianku sejak di bangku sekolah. Entah mengapa yang ada dipikiranku hanyalah bisnis. Tak heran jika saat SMA, aku sudah menjadi agen kartu nama yang dijual secara nasional. Waktu itu aku bisa memperoleh keuntungan bersih lima puluh ribu setiap minggunya. Bayangkan! Uang sebesar itu untuk anak yang tinggal di kabupaten tahun 1992-1995. Saat itu, handphone belum booming seperti sekarang. Jadi uang itu bisa aku gunakan secara bijaksana, untuk keperluan sekolah.
Saat duduk di bangku kuliah, aku melupakan sejenak insting bisnisku. Hingga suatu hari aku melihat seorang ibu yang menitipkan kue di kantin kampus. Seketika otak bisnisku bekerja. Setelah ngobrol dengan mbak yang jaga di kantin, akhirnya aku bisa menitipkan keripik singkong buatanku. Kalau sedang tidak ada kuliah, aku mencari singkong di pasar. Mengupasnya, mengirisnya tipis-tipis, menggoreng dan memberinya bumbu. Semua aku lakukan sendiri sampai akhirnya kesibukan kampus terpaksa membuatku berhenti produksi.
Menjelang akhir masa-masa kuliah, aku melirik bisnis fashion (tas dan sepatu). Karena tertarik dengan modelnya, aku pun ikut memasarkan produk tersebut. Alhamdulilah, laku juga. Lumayan banyak orderanku waktu itu.  Bahkan menembus angka dua juta rupiah. Sayangnya, ketika selesai kuliah, aku harus pulang kampung dan berakhirlah bisnis fashion tersebut. Karena kemudian aku sibuk sebagai tenaga honorer di salah satu instansi pemerintah.
Sepertinya aku lebih nyaman bekerja sendiri (punya usaha sendiri). Aku melihat kondisi lingkungan di tempat tinggal kami, belum ada les Bahasa Inggris. Padahal waktu itu pertama kali Bahasa Inggris masuk menjadi mata pelajaran muatan lokal untuk anak-anak sekolah dasar. Aku melakukan survey kecil-kecilan, dengan bertanya ke tetangga sekitar. Kira-kira anak-anak mereka yang kelas 3-6 SD, butuh nggak les Bahasa Inggris? Ternyata banyak sekali yang mendukung. Awalnya aku hanya berniat membuka satu kelas maksimal 5 orang. Akhirnya jadi 3 kelas dengan siswa 7-8 orang!
Usaha les ini bertahan sampai lima tahun. Lama juga, ya.. Dan terpaksa berhenti, karena aku menikah dan harus turut suami pindah ke Jakarta. Sesampai Jakarta, aku mencoba menjajal dunia kerja. Ternyata ritme kerja ibukota yang begitu keras, tidak cocok dengan fisikku yang lemah. Nyaris saja, aku keguguran anak pertama waktu itu. Dalam masa-masa bedrest, otakku mulai berfikir. Celah bisnis mana yang bisa aku coba. Karena punya banyak waktu luang, setiap tiba jam istirahat aku mengantarkan makan siang buat suami. Sengaja aku membuat dengan porsi yang besar, agar temannya bisa ikutan makan. Mungkin karena sama-sama berasal dari Sumatera, mereka langsung cocok dengan masakanku. Dan meminta dibuatkan makan siang juga setiap harinya. Wow..Akhirnya aku mendapat pelanggan untuk bisnis katering dadakan ini hihi.. Totalnya ada enam orang yang memesan makan siang padaku, 5 kali seminggu selama hampir dua tahun. Usaha inipun terpaksa berhenti karena kami pindah rumah ke luar Jakarta.

 Di tempat tinggal yang baru, aku tambah semangat mengintip peluang bisnis di sini. Maklum, tempatnya di huni oleh warga dari berbagai daerah dengan tingkat ekonomi menengah ke atas. Sudah dipastikan gaya hidup mereka sangat konsumtif. Aku sempat dua kali membuka usaha makanan. Sebenarnya semuanya menjanjikan keberhasilan. Hanya saja aku mengalami masalah dalam hal perekrutan karyawan. Dengan sangat terpaksa, usaha inipun tutup. Kapokkah aku? Tentu tidak. Aku hanya berpikir belum jodohnya aku berhasil. Walaupun yang kemarin-kemarin, tidak bisa dianggap gagal.
Sampai suatu hari aku mengenal sebuah bisnis direct selling. Produk mereka berupa alat-alat keperluan rumah tangga yang terbuat dari bahan plastik kualitas tinggi. Awalnya aku sempat heran, mengapa harga produknya lumayan mahal? Padahal bahannya “hanya” dari plastik. Ternyata produk ini memiliki keunggulan di tutupnya atau seal. Hampir semua sealnya kedap udara, dan sebagian lagi plus kedap cairan. Dan yang menariknya lagi, garansi pemakaian produk yang seumur hidup dengan ketentuan yang berlaku.
Satu tahun pertama aku masih mencoba menjual produk ini. Sebenarnya peminatnya banyak, hanya saja harga produk yang tinggi membuat sebagian orang merasa berat. Ini membuat bisnisku tersendat, tidak maju-maju. Sampai suatu hari sepulang mengikuti  training dari kantor, aku berfikir keras. Aku harus mengecek ulang kesiapan bisnisku. Ini tidak bisa dianggap sepele, kalau aku ingin berhasil. Seperti yang ditulis Mbak Dian Akbas dalam bukunya Womenpreneur Checklist, akupun membuat checklist untuk bisnisku yang ini.

-          Apakah aku yakin ingin menekuni bisnis direct selling ini?
-          Kira-kira butuh modal berapa, ya? Karena orang-orang sepertinya merasa berat kalau harus membeli secara cash.
-          Darimana mendapat modalnya?
-          Bagaimana mengenalkan branding-ku ke lingkungan sekitar, bahwa aku jualan ini, lho..    
-          Bagaimana caraku mendapatkan pelanggan lebih banyak, yang artinya aku bisa menjual lebih banyak.

Kemudian aku menganalisa checklist  satu persatu dan mulai menjalankannya. Kunci sukses bisnisku ini ternyata party atau demo produk. Melalui party, masyarakat menjadi tahu fungsi masing-masing produk. Dan saat party, ada interaksi langsung dengan pelanggan. Pernah saat aku melakukan party, seorang ibu marah-marah, karena produk yang ia beli tidak bisa ditutup. Ternyata ia tidak diberitahu cara menutupnya saat membeli produk. Setelah aku jelaskan cara menutupnya dan fungsi produk yang ia beli, ia merasa senang sekali. Hingga akhirnya menjadi salah satu pelanggan tetapku.
Kunci sukses yang lain adalah rekrut. Alhamdulilah, aku mempunyai 30-an lebih consultan di bawahku. Memang tidak semuanya aktif. Tapi secara bergantian mereka tetap order barang setiap bulannya. Tugasku adalah membimbing mereka agar bisa menapaki jenjang karier sebagai manager. Dan bulan Maret ini, aku merasa bersuka cita, lantaran dua orang consultanku berhasil menjadi manager. Karena ini direct selling, mereka yang sudah menjadi manager otomatis terlepas dari unitku. Dan harus belajar mengatur dan membina unit sendiri.
Yang membuatku merasa bahagia adalah bisnis ini bisa aku atur waktunya. Aku lebih banyak follow up prosfek melalui handphone atau email. Baru kemudian janjian ketemu di kantor. Bonus yang aku terima setiap bulan juga tak menentu. Alhamdulilah, ada dikisaran angka 2,6-3 juta perbulan. Bukan bermaksud riya, tapi ini adalah keuntungan nyata yang aku dapatkan. Sering ada yang menanyakan hal ini di inbox-ku.
Yang namanya bisnis pasti ada pasang surutnya. Ada saatnya aku mendapat orderan banyak, adakalanya orderan juga sepi. Aku pernah mengantar eco bottle sebanyak 100 buah naik bis ke sebuah vendor di bilangan Jakarta Pusat. Sampai harus mencarter bajaj untuk masuk ke alamat yang dituju. Tapi apapun kesulitan yang dihadapi, jika kita ikhlas untuk menjalankannya, Insya Allah diselalu dimudahkan Allah swt.


BSD CITY, 26 Maret 2014

Writing Contest ‪#‎WomenpreneurChecklist



Writing Contest #‎WomenpreneurChecklist "I Wanna Be a Womenpreneur"
Oleh: Yayuk Sri Rahayu

Lahir sebagai sulung dari dua bersaudara, aku menjadi tumpuan dan harapan orang tua. Belajar yang rajin, menjadi sarjana dan sukses sebagai wanita karier di kota besar itulah cita-cita yang tertanam di benakku. Setelah lulus dan mendapatkan gelar Sarjana Teknik, aku bekerja sebagai Quality Assurance Engineer di sebuah perusahaan internasional di Jakarta. Prestasi  dan karierku di dunia kerja terus meningkat. Kemapanan secara materi juga bisa aku nikmati. Hanya saja jauh di dalam hati aku sering merasakan dilema, karena membayangkan apabila nantinya sudah menikah, dengan beban kerja seperti yang sekarang aku punya dan kemacetan di Jakarta, tentu saja tidak mungkin bagiku untuk bisa mengurus rumah tangga dan keluarga dengan baik. Waktuku hanya akan habis di kantor dan di jalan.  
Setelah menikah, tahun 2007 aku dan suami memutuskan untuk tinggal di Nganjuk, kota kecil kelahiran kami. Alhamdulillah aku dipercaya sebagai quality representative sebuah perusahaan kosmetik internasional, dengan tugas utama mengontrol dan mengawasi kualitas barang dari supplier yang akan di ekspor. Dengan  pekerjaan ini, aku menjadi punya banyak waktu luang, karena kunjungan ke supplier biasanya hanya 2-3 hari saja dalam satu minggu. Untuk mengisi waktu luang ini, aku bersama suami berusaha mengelola sawah keluarga. Kegiatan ini ternyata sangat menarik dan menantang.
Ternyata menjadi petani itu tidak mudah! Pantaslah tidak banyak anak muda sekarang yang ingin menjadi petani atau berusaha di bidang pertanian. Kondisi tanah pertanian sekarang memang sudah tidak sesubur jaman nenek moyang dahulu. Pemakaian berbagai pupuk kimia dalam jangka waktu lama dan terus-menerus telah menurunkan kualitas tanah dan menimbulkan jenis hama baru yang sulit dikendalikan. Hal ini membuat tingkat keberhasilan panen menjadi semakin kecil. Secara ekonomi penghasilan petani semakin hari cenderung semakin menyusut, sementara biaya produksi semakin membesar.
Beruntung aku masih mengolah lahan sendiri. Bagi sebagian besar petani di desa kami, kehidupan menjadi semakin berat dan sulit karena kebanyakan mereka adalah petani penggarap dan buruh tani yang tidak mempunyai sawah. Mereka harus menyewa kepada pemilik lahan dengan sistem bagi hasil atau bayar sewa. Sedangkan untuk membeli benih, pupuk dan obat-obatan harus ditanggung sendiri. Jalan pintas mendapakan modal biasanya dengan meminjam uang ke renternir. Tuntutan untuk cepat mendapatkan uang juga membuat petani terjebak dalam sistem ijon/tebas, dimana petani menjual tanamanya yang belum cukup tua langsung di sawah. Sistem ini sangat merugikan karena petani tidak mendapatkan harga jual yang tinggi dan tidak mengetahu seberapa banyak sebenarnya hasil panennya.
Tahun 2008, aku membuat fasilitas penjemuran dan gudang serta mulai membeli gabah kering lumbung (GKL) dari petani untuk diolah dan dijual sebagai beras dengan merk Sri Sadono. Dengan menjual GKL, petani mendapat keuntungan sebesar 30-40% dibandingkan dengan sistem ijon. Ternyata hal ini bisa membantu petani untuk meningkatkan pendapatannya. Di tahun ini juga, aku mendapatkan beasiswa IATSS Forum dari Perusahaan Honda Jepang. Beasiswa ini diberikan kepada profesional-profesional muda yang mewakili negara-negara Asia Tenggara untuk mengikuti pelatihan, seminar, research dan tour di bidang manajemen, kepribadian kerja dan Kebudayaan. Selama 2 bulan aku tinggal di Jepang. Pada kesempatan homestay dikeluarga Jepang, aku tinggal bersama keluarga Yukaito yang merupakan keluarga petani di Suzuka. Sungguh sangat jauh perbedaan petani di Indonesia dan Jepang. Dengan teknologi yang modern, ayah Yuka seorang bisa mengolah berhektar-hektar sawah mereka dan tetangganya. Pemerintah Jepang juga sangat melindungi petani. Atas nama kesejahteraan petani, pemerintah Jepang dari dulu hingga kini menutup rapat-rapat pintu bagi beras dari luar negeri. Tak sebutir beras asing pun boleh masuk ke pasar Jepang. Sedangkan negara kita yang notabene agraris malah mengimpor beras dan petaninya masih belum melek teknologi.
Sepulang dari Jepang, aku bertekad untuk menjadi petani dan pengusaha yang mandiri dan memberikan contoh kepada petani-petani di desaku. Kami melegalkan usaha menjadi CV.Adikarya dan mulai membentuk mitra dengan buruh tani untuk mengelola sawah dengan sistem bagi hasil, sehingga mereka mempunyai lahan garapan yang pasti dan tak harus membayar uang sewa dahulu. Adikarya juga bekerjasama dengan kelompok tani, mulai menyediakan bibit yang bisa dibayar setelah panen dan juga mulai penggunaan pupuk organik. Kami berusaha untuk memfasilitasi dan membantu meningkatkan kesejahteraan keluarga petani melalui pengembangan pertanian organik, akses pasar dan sistem informasi kepada petani dan keluarganya, sehingga kehidupan mereka menjadi lebih baik.
Tahun 2011, Adikarya menjadi 8 Besar finalis Arthur Guiness Fund Community Entrepreneur Challenge yang diadakan oleh British Council Indoensia di Jakarta. Produk pertanian kami pun sudah mulai beragam, ada beras biasa, beras organik dan beras merah. Pemasaran sebagian besar dijual di toko kami sendiri dan juga melalui reseller serta agen di kota lain.  Kami juga mulai mengembangkan produk baru sepeti bawang merah goreng dan sari delai. Memang potensi di bidang pertanian sebenarnya sangatlah besar, sayang sekali masih belum banyak dilirik secara serius oleh anak-anak muda.
Sekarang, setelah menjadi seorang ibu, semakin mantaplah keinginanku untuk memberikan masa depan yang terbaik untuk anakku, keluargaku dan masyarakat di sekitarku. Memang masih panjang jalan yang harus ku tempuh. Salah satunya telah kumulai dengan menjadi petani mandiri dan menyebarkan virus kewirausahaan di sekitarku. Untuk meningkatkan kesejahteraan petani, pertama yang harus dirubah adalah pola pikir petani. Selama ini petani hanya dikondisikan untuk membeli dan memakai benih, pupuk kimia dan obat-obatan buatan pabrik. Petani memang harus mandiri! Salah satu cara dengan menerapkan sistem pertanian organik berbasiskan pada sumberdaya (lokal) petani sendiri. Petani harus menguasai teknologi pertanian, bisa membuat benih, pupuk dan obat-obatan sendiri yang cocok dengan kebutuhan pertanian berkelanjutan. Tak beda dengan pengusaha yang bisa mempunyai portofolio investasi, petani yang kreatif dan produktif juga harus bisa mempunyai portofolio usaha. Portofolio usaha petani merupakan gabungan antara tanaman dan ternak yang bisa memberikan petani kombinasi pendapatan harian, mingguan, bulanan, musiman dan tahunan. Kebutuhan makan dan gizi keluarga juga dapat tercukupi dari sawah dan pekarangan sendiri. Jika potensi ini bisa di garap dengan baik, petani bisa hidup sejahtera dan tidak perlu bekerja sebagai buruh di kota atau keluar negeri. Kebutuhan pangan pun bisa dicukupi sendiri dan tidak perlu membeli produk impor.
 “Control oil and you control nations, control food and you control the people.” (Henry  Kissinger)

Nganjuk, 28 Maret 2014