Breaking News

29 January, 2014

KMO Menulis Kisah Inspiratif, Ikutan Yuuuk ...

By Devy Nadya Aulina 

Kisah Inspiratif adalah sebuah tulisan (lebih banyakberdasarkan kisah nyata) yang mampu mengharubiru pembacanya hingga ikutterhanyut ke dalam apa yang ditulis.
Anda juga ingin bisa menulis kisah inspiratif? Silakan mengikuti Kelas Menulis Online (KMO) “Menulis Kisah Inspiratif”.

Waktu pelaksanaan : Rabu, 5 Februari 2014, pk 19.00-22.00 WIB.

Pendaftaran : 

- Peserta melakukanpendaftaran melalui Inbox FB: Devy Nadya Aulina (email:devynadya.aulina@gmail.com) atau FB Nina Kirana (email keqrana.qrana@gmail.com)

Format: Daftar _ IIDN_Online_NamaKursus_Nama Peserta
Contoh: Daftar_IIDN_Online_Kisah Inspiratif_Devy Nadya Aulina

- Pendaftaran diterima paling lambat 24 jam sebelum jadwal kursus dimulai.
- Biaya: Rp100.000,00
- Transfer ke rekening Mandiri cabang Moh Toha a.n Damayanti No.rek130-00-1300314-3 (konfirmasi melalui sms: 081911996675) atau rekening Bank BCAa.n Devy Nadya Aulina SS No. rek 1410394223 (konfirmasi melalui sms:087759049433 atau WA 087759368455). Dengan berita acara: KMO IIDN_KisahInspiratif_Nama Peserta


MetodeBelajar:
1.  Peserta belajar secara online selama 3 jam
2.  Materibisa diunduh di Google Drive sesuai pilihan kursus yang dipilih. URL akan diberikan kemudian kepada peserta
3.  Pesertakursus akan diundang ke grup khusus di FB untuk berdiskusi dengan pengajar.
4. Pesertadiberi kesempatan konsultasi dan mentoring selama 1 bulan dengan   dengan materi yang dipilih.
5.  Tugasyang nanti diberikan diunggah ke file grup khusus agar peserta bisa saling belajar.


Mentor:  Opi Yunari Purwaningsih

PROFIL TRAINER

Opi Yunari P, saat ini bekeja sebagai editor di Majalah KARTINI. Bergabung di Majalah KARTINI sejak tahun 2005 hingga sekarang.Sebagai seorang redaktur, salah satu artikel yang menjadi tanggung jawabnyaadalah artikel Kisah Sejati. Dimana Kisah sejati ini menuliskan kisah-kisahperjuangan seseorang. Mulai dari mereka yang dulunya sakit bertahun-tahun dankini bisa bangkit, atau kisah sukses pengusaha yang mengawali karirnya dariminus. Di KARTINI sendiri artikel ini merupakan artikel andalan. Karena kerapkali dijadikan andalan. Biasanya kalau tidak masuk headline, artikel KisahSejati ini masuk ke coverline majalah. Kisah Sejati sendiri, termasuk artikelyang disukai oleh pembaca KARTINI. Karena dari sini, pembaca banyak mendapatkanpelajaran dari mereka yang berhasil mengatasi masalah-masalah yang ada di hidupmereka. Bahkan kerap kali, banyak pembaca yang menanyakan ke KARTINI alamatatau nomor telpon si narasumber untuk bisa bertanya langsung. Selain menjadipenanggung jawab untuk Rubrik Kisah Sejati. Di KARTINI, juga menulis untukartikel Eksklusif. Salah satu prestasi membanggakan selama berkarir di MajalahKARTINI, wawancara Eksklusif dengan Ibu Ani SBY di London tentangperjalanananya Memasuki Isatana Buckingham, Inggris. Di akhir tahun ini, dalamempat edisi berturut-turut, tulisannya menjadi headline.

26 January, 2014

Kelas Tips Menulis Traveling #7 : Tips dan Trik Memotret Saat Traveling (bagian 1)

Oleh : Arini Tathagati

Topik kita hari ini akan kita fokuskan pada pemilihan dan persiapan kamera. Pada dasarnya, kamera apa saja bisa digunakan untuk memotret saat traveling. Kamera DSLR dengan segala fiturnya memang ideal untuk membuat foto-foto yang ciamik, namun ukurannya yang besar seringkali membuat repot. Saat ini sudah banyak kamera saku yang cukup canggih dan memiliki berbagai fitur untuk membuat foto-foto perjalanan yang cantik. Kamera apa pun yang dipakai, yang lebih penting adalah kita bisa memakainya. Jangan sampai pada saat kita mau memotret, kita terlalu sibuk dengan mempelajari cara menggunakan kamera, sampai momen yang mau dipakai sudah keburu terlewat.

Bagaimana dengan kamera ponsel atau tablet? Saat ini kamera ponsel/smartphone dan tablet memang sudah cukup canggih untuk membuat foto yang sama baiknya dengan kamera saku. Namun demikian, jika Anda ingin fotonya dimuat di media cetak, sebaiknya gunakan kamera. Bagaimana pun, resolusi hasil pemotretan dengan kamera (baik kamera saku maupun DSLR) masih lebih baik dibandingkan kamera ponsel. Jika foto-foto Anda hanya untuk dimasukkan di media dunia maya (internet), maka kamera ponsel pun cukup.

Dari pengalaman, saya memilih kamera yang akan saya gunakan berdasarkan kondisi di destinasi yang saya tuju, dan apa yang akan saya potret. Umumnya saya menggunakan DSLR, untuk menghasilkan foto dengan hasil maksimal. Saya pernah juga ketika melakukan traveling ke sebuah museum yang terletak di tengah pasar, agar bawaan saya ringkas dan tidak terlalu menarik perhatian, saya cukup membawa kamera saku saja. Sedangkan ketika suatu hari saya ke pasar Cicadas dan menemukan tukang awug, padahal saya tidak membawa kamera, saya memanfaakan kamera ponsel untuk membuat liputan.

Bagaimana dengan Ibu-Ibu yang lain? Apakah punya tips dan trik khusus untuk mempersiapkan kamera?Mari berdiskusi dan berbagi!

Menyebar Virus Travel Writing Bersama IIDN

Oleh: Arini T.
Travel Writing. Istilah ini mungkin terdengar baru, namun sebenarnya sudah dilakukan sejak masa silam. Genre ini menitikberatkan tulisannya tentang sebuah tempat atau daerah dan perjalanan menuju dan selama berada di tempat tersebut. Gaya penulisantravel writing pun bermacam-macam, mulai dari yang naratif hingga deskriptif, dari tulisan jurnalistik hingga karya sastra, dan bahkan bisa ditulis secara ringan hingga sangat serius. Saat ini travel writing biasanya diasosiasikan dengan perjalanan wisata, dengan tujuan memberikan informasi mengenai destinasi wisata tersebut kepada pembacanya.
Travel writing ternyata tidak semata-mata berbentuk trip guide, yang menuliskan tentang deskripsi tempat wisata, data-data teknis, dan cara menuju ke sana. Bentuk travel writing sangat banyak, namun yang dianggap sebagai jenis travel writing yang banyak dimuat di media adalah travel featureTravel feature umumnya berbentuk artikel, dan diulas dari sudut pandang orang pertama, atau penulis sebagai pelaku perjalanan. Ciri khas dari artikel feature adalah sentuhan personal tentang aktivitas dan perasaan penulis selama melakukan perjalanan.
Sejak tahun 2005 saya membuat artikel travel writing, dengan menggabungkan ketiga hobi saya yaitu travelling, foto-foto, sama menulis. Namun saat itu artikel saya masih bercampur baur antara trip guide dan travel feature. Baru setelah saya mengikuti kursustravel writing di tahun 2009, tulisan-tulisan travelling saya menjadi semakin bervariasi. Artikel-artikel ini masih terbatas diterbitkan di majalah internal korporat, karena saya belum percaya diri untuk mengirimkan artikel-artikel saya ke media-media yang cakupannya lebih luas.
Saat saya bergabung dengan Komunitas Ibu-Ibu Doyan Nulis (IIDN) pada awal tahun 2011, di pertengahan tahun 2011 ada pengumuman kebutuhan penulis untuk proyek pembuatan Kamus Wisata Indonesia. Tertarik dengan proyek tersebut karena sangat berkaitan dengan travel writing, saya pun bergabung. Niat semula hanya menulis beberapa artikel tentang DKI Jakarta, namun karena masih banyak tulisan-tulisan yang dibutuhkan, pada akhirnya saya menulis tidak kurang dari 95 artikel untuk mensupport proyek tersebut. Pengalaman mengerjakan proyek Kamus Wisata Indonesia bersamaKomunitas IIDN ini membuat pengalaman saya dalam travel writing menjadi lebih kaya, selain saya juga mendapat kesempatan berkenalan dengan ibu-ibu yang canggih  dalam menulis.
Februari 2012, saya ikut kopi darat Komunitas IIDN wilayah Jabodetabek. Di sinilah untuk pertama kalinya saya bertemu sosok Indari Mastuti, pemilik Agensi Naskah Indscript Creative sekaligus pendiri Komunitas IIDN yang selama ini hanya saya temui di dunia maya. Sayang sekali, dalam acara kopi darat tersebut, saya belum berhasil bertemu Lygia Pecanduhujan, markom dari IIDN yang selama ini tulisan-tulisannya selalu berkibar di Komunitas IIDN. Usai acara, setiap peserta diminta untuk mengumpulkan proposal outline buku. Semula saya tidak terpikir untuk mengumpulkan karena sedang menunggu ide, namun desakan dari panitia yang terus menerus menelfon agar saya mengumpulkan proposal outline buku pun membuat saya akhirnya mengumpulkan proposal buku tersebut.
Sempat bingung, buku seperti apa yang mau saya buat berikutnya? Apakah buku ketrampilan? Saat itu ide saya sedang buntu, dan saya tahu sebuah buku ketrampilan membutuhkan usaha yang tidak sedikit, karena tidak hanya membuat tulisan, tetapi kita juga harus menyiapkan contoh barang dan fotografinya. Akhirnya setelah merenung beberapa lama, saya mendapat ide untuk menulis tentang Travel Writing. Ide ini muncul dari kenyataan di mana hingga saat ini sudah banyak guide book dan buku kisah perjalanan yang diterbitkan, namun belum banyak yang menulis mengenai cara menulis travel feature dan foto perjalanan secara komprehensif.
Gayung bersambut, kurang lebih 2 bulan kemudian, sebuah penerbit major sedang membutuhkan banyak naskah perjalanan, dan mbak Indari Mastuti membuat pengumuman proposal mana saja yang diterima penerbit major tersebut. Rupanya proposal buku Travel Writing saya ikut disetujui! Dalam waktu 1 bulan, saya ngebut menyelesaikan buku tersebut, dan menyerahkannya kembali pada Indscript Creativeuntuk ditindaklanjuti.
Sambil menunggu buku Travel Writing diterbitkan, saya kembali aktif memantau informasi di Komunitas IIDN. Kalau ada audisi antologi, iseng-iseng saya mencoba ikut, dan lebih sering tidak terpilih. Tapi tidak masalah, karena setelah saya pikirkan lagi, yang penting adalah menambah jam terbang, kalau tulisannya terpilih, itu bonus. Salah satu “bonus” yang akhirnya saya dapatkan adalah masuk sebagai kontributor buku Hot Chocolate for Broken Heart yang digawangi oleh markom IIDN Lygia Pecanduhujan. Selain informasi audisi antologi, saya juga menunggu informasi mengenai alamat-alamat media, khususnya media yang menerima artikel Travel Writing. Alhamdulillah, salah satu artikel perjalanan saya akhirnya diterbitkan di Republika edisi 10 Juli 2012.
Setelah 10 bulan menunggu, di akhir Februari 2013 saat yang dinanti-nanti tiba : Travel Writing 101 diterbitkan oleh Elex Media Komputindo! Saya pun menyebarkan berita gembira ini di Komunitas IIDN. Sebagai sarana untuk memperkenalkan buku ini, saya bekerjasama dengan Duta Buku IIDN untuk menyelenggarakan kuis. Melihat animo para peserta kuis, terlihat bahwa banyak ibu-ibu khususnya anggota Komunitas IIDNyang berminat untuk menulis karya travel writing, dan buku ini bisa menjadi jawaban atas keingintahuan mengenai travel writing tersebut.
Ya, walaupun selama ini travel writing lebih identik dengan para backpacker atau mereka yang bepergian ke tempat yang eksotik. Namun sejatinya, tidak ada batasan bahwatravel writing harus ditulis oleh kalangan tertentu, atau mengenai destinasi dengan kriteria tertentu. Bukan tidak mungkin para wanita yang tergabung dalam komunitas IIDN dapat memberikan sentuhan tersendiri pada artikel-artikel travel writing, khususnya melihat pengalaman suatu perjalanan dari sudut pandang wanita. Dan saya berharap, para anggota komunitas IIDN dapat turut menyebarkan virus Travel Writingini, untuk bersama-sama menggugah para wanita dalam melakukan perjalanannya dan berbagi pengalaman perjalanan tersebut melalui travel writing.

22 January, 2014

OP (Objek Penelitian) Dadakan

Oleh : Ummu Maila


Ada sebuah peristiwa yang membuatku senyum-senyum sendiri saat mengingatnya. Semasa kuliah ada mata kuliah tes bakat. Mata kuliah ini perpaduan antara praktek dan teori. Ketika ujian semua mahasiswa wajib membawa seseorang untuk di tes bakatnya, orang itu disebut dengan istilah OP (Objek Penelitian).



Nah, tibalah waktunya ujian tengah semester. Sebelumnya ada seorang temanku yang bersedia menjadi OP, namun satu jam sebelum ujian tiba-tiba ia SMS,” Cit, maaf ga bisa jadi OP, lagi mules nih!” Aku kelabakan ujian tinggal sebentar lagi. Aku pergi ke mushola psikologi berharap ada teman yang bersedia, mushola kosong. Aku pergi ke mushola fakultas ekonomi, sama kosong juga. Bingung. Aku pergi ke tempat parkir barangkali tukang parkir bersedia, ternyata ia menolak, “Saya lagi kerja neng nanti dimarahi bos.”

Dengan harap-harap cemas aku pergi menyebrang ke kampus orang, FKUI Salemba. Tujuanku masjid ARH, namun memang nasib, kosong melompong. Pasrah. Aku duduk di pelataran masjid. Tiba-tiba nenek yang biasa berdagang di sana menegur, “Kenapa neng, kusut amat?” Aku menjawab,” Iya nek nyari orang buat tugas ga dapet.” Lalu si nenek memanggil tukang koran yang sedang mangkal di depan masjid, “ Di, tolongin nih kasian.” Datanglah dihadapanku seorang tukang koran berusia 19 tahun yang bersedia menjadi OP.

Kamipun memasuki laboraturium psikologi, dosen membagikan lembaran jawaban dan kunci jawaban tes bakat. Aku memberikan instruksi sederhana dan memintanya untuk mengerjakan soal.

Sudah hampir setengah jam, lembar jawaban itu masih putih bersih. Ia hanya melihat lembar jawaban itu lalu meletakkannya kembali ke meja, memainkan pensil dan mengedarkan pandangan. Aku membatin,” Ada yang aneh dengan orang ini.” Kubaca lagi daftar riwayat singkatnya, dan ternyata eh ternyata, inilah jawaban atas keanehan itu. OPku ternyata tidak lulus SD dan putus sekolah, bisa jadi ia tidak bisa membaca dan menulis. Seketika kepanikan menyergap. Waktunya sudah mau habis. Aku berusaha memandunya huruf per huruf untuk menjawab tes bakat tersebut. Namun tetap saja hasilnya tidak maksimal, tidak mungkin aku bisa memanipulasi data di sisa waktu yang hanya tinggal beberapa menit.

Akhirnya pasrah saja kukumpulkan hasil tes bakat yang ‘ancur-ancuran’ itu disertai dengan penjelasan kondisi OP yang sebenarnya di bagian kesimpulan. Aku sudah berpikir tidak akan lulus.

Tibalah waktunya hasil ujian dibagikan, tak dinyana ternyata dosen memberi nilai A untuk tes bakatku yang ‘ancur-ancuran’ itu. Lucu. Jadi ingat salah satu adegan film warkop DKI yang serupa tapi tak sama.

Ada seorang bapak memasuki optik, petugas optik memeriksa matanya. Mulailah ia menunjukkan huruf-huruf berwarna hijau dan merah.

“ Pak, ini huruf apa?” tanya petugas optik
“ Saya ga tahu,” jawab si bapak
“ Kalau yang ini huruf apa pak?” Ia menunjukkan huruf yang berbeda
“ Ga tau mas,” jawabnya
Petugas optik mulai kesal,” Sebenarnya bapak ngeliat ga sih ?!”
Kata si bapak, “ Ya ngeliat..tapi saya kan ga bisa baca.”

21 January, 2014

ROMANTISME ALA NABI

Oleh : Candra nila Murti Dewojati 

Sebenarnya, keindahan rumahtangga tak diukur seberapa lama Anda menikah, namun lebih dari itu: seberapa jauh Anda berikan arti dari bagi pernikahan sendiri dan pasangan hidup juga keluarga. 
Salah satu kisah yang saya suka, dan berulang kali membaca dan akhirnya saya paham, ternyata Cinta itu tak sekedar tercipta dan terbina saat orang yang disayangi ada didepan mata. karena saking mengunjam pada perasaan terdalam kontribusi cinta itu: Ia akan abadi, walau jasad sudah berkalang tanah.
Nabi Muhammad, contoh seorang yang bisa menjaga ritme cintanya kepada pasangan hidupnya yang telah lama meninggal (bahkan sudah punya penggantinya), sama baiknya saat ketika pasangan hidupnya itu ada dan tersenyum disampingnya.


Mengapa demikian?
Karena Khadijah, Nama sang pujaan hati itu telah menggoreskan kuat dalam sanubari Nabi: Jika ia memang sosok tak terganti. Padahal 15 tahun perbedaan usia mereka. Bukan perkara lagi fisik (aduhai, gemuk, kurus dan lainnya), bukan pula kecantikan yang terpancar diwajah, juga bukan lagi perkara tua, muda, usia pasangan, namun yang sangat penting: Ia sangat istimewa, dan itu tak bisa didiskripsikan hanya dengan satu kalimat pendek.
Lalu,


Pada kesempatan yang baik ini akan saya suguhkan kisah yang terdapat dalam buku saya "Masuk Surga Walau belum Pernah Shalat", penerbit Gramedia, Mengenai salah satu Kisah favorit saya, sebagai bukti jika Nabi hanyalah manusia biasa yang juga punya rasa romantis, walau itu ditujukan pada Istrinya yang telah meninggal, dan terbungkus dengan 'marah' saat bercakap dengan istrinya Aisyah. (entahlah saya anggap itu sebagai romantisme bentuk lain). Moga bisa diambil manfaatnya, sambil becermin: Sudahkah kita menjadi sosok teristimewa bagi pasangan hidup kita?


CINTATAK TERPERI DARI NABI

            Nabi Muhammad saw pernah mengalamimasa-masa kesedihan yang sangat dalam. Masa-masa berkabung dan kehilanganorang-orang yang dicintainya secara berturut-turut (‘am-huzn) yakni, saatmeninggalnya sang paman, Abu Thalib, dan sang Istri tercinta Khatijah yangmeninggal pada tahun yang sama.
            Khatijah sangat dicintai dandihormatinya, walau jarak usia beliau terpaut 15 tahun, namun tak sedikitpunmengurangi rasa sayangnya. Hingga beliau enggan berbagi hati dengan yang lainsebelum Khatijah wafat. Memang ia seorang wanita istimewa, yang serasa takterganti. Memantapkan diri memeluk Islam ketika tak ada seorangpun yang percayapada dakwah pertama Nabi saw.

 Sebagai penyangga jiwa yang mulai melemah,hingga beliau jadi kuat kembali saat dakwahnya mengalami jalan buntu. Seorangwanita pembela dan pendamping yang sangat setia, memberikan seluruh hartakekayaannya untuk jihad agama. Bagi Nabi, Khatijah adalah memang wanita yangistimewa. Sehingga berbagai kesempatanpun, meski beliau sudah beristri kembali,masih juga memuji Khatijah, yang membuat cemburu Aisyah.

Padasebuah hadis riwayat Imam Bukhari, diceritakan Nabi saw sedang bercengkramadidepan rumah mereka. Tiba-tiba melintaslah seorang perempuan tua. Nabi saw segera mempersilahkan perempuan tua itumasuk rumah, digelarnya sorban sebagai alas duduknya. Keduanya lalubercakap-cakap. Saat perempuan tua itu berlalu, Aisyah menanyakan perihal tamuyang terlihat sangat istimewa dimata nabi.
“Perempuantua itu mengingatkanku pada Khatijah, saat dia masih hidup, perempuan itu seringdatang kerumahnya, dan Khatijah selalu menyambutnya dengan penuh rasa hormat.Aku menghormatinya sebagaimana Khatijah dulu melakukannya..”cerita NabiMuhammad saw.

Aisyahsepertinya cemburu mendengar penuturan itu, seperti wanita normal lainnya,hingga tak sadar ia berkata,” Masih saja menyebut-sebut perempuan yang sudahmati itu. Bukankah sekarang telah ada perempuan pengganti yang lebih baik daridirinya?”

Mendengarperkataan istrinya, Aisyiah, Nabi saw nampak memerah raut wajahnya, sepertisaat menerima titah Illahiyah  atausedang marah besar. Namun jelas sekali kali ini Nampak beliau sedang marah.

“Aisyiahperlu kau tahu, Allah tidak akan mendatangkan pengganti sebaik atau lebih baikdari Khatijah! Tidak akan lagi ada perempuan seperti dia!”, kata Nabi Muhammadsaw sambil menghadapkan wajahnya pada Aisyiah.
“..Iatelah terjaga akan kenabianku ketika orang lain terlelap berselimut jahiliyah,ia juga selalu membenarkan ucapanku saat yang lain menganggapnya sebagaibualan, Ia bahkan tak segan memberikan seluruh hartanya padaku dengan ikhlassaat orang lain menyembunyikan tangan, dan darinya Allah memberiku keturunanketika dari istriku yang lain tidak. Kau perlu tahu semua itu, Aisyah!”

Nampakbenar Nabi terlihat marah besar, karena Khatijah adalah seseorang yang sangatmempengaruhi perjalanan kehidupan beliau, setitik cahaya terang diantarapekatnya malam nan gelap. Nabi merasa waktu boleh berlalu, yang hilang takkembali dapat pengganti, namun Khatijah tetap ada dihati beliau karenakemuliaannya hatinya dan cinta selalu tertancap dengan tepat didadanya.

Mulai saat itu Aisyiah memahami, seberapa besar cinta Nabi Muhammad kepada pendampinghidupnya, Khatijah. Kematian tak mematikan rasa cinta tak bertepi sang Nabikepada Khatijah, istrinya. Posisinya sangat istimewa, dan itu tak terganti olehsiapapun. Kisah cinta yang sangat mengharukan, seharusnyalah kita mengambilhikmah terdalam, agar bisa saling mencintai, menyayangi seperti layaknya NabiMuhammad kepada Khatijah...

17 January, 2014

Tips Menulis Traveling #6 : Tips dan Trik Meliput dan Mencari Data Saat Traveling

Oleh : Arini Tathagati

Dear Ibu-Ibu.. Kali ini kita akan lanjutkan Tips Menulis Traveling bagian 6.

Setelah kita menentukan mau menulis dengan tema apa, jenis tulisan traveling apa (feature/guide book/journal/literature), sudah melakukan riset dan sudah membuat outline, kini saatnya kita melakukan perjalanan ke destinasi yang menjadi tujuan kita.

Apa saja yang dilakukan selama di perjalanan? Nomor satu, tentu saja menikmati perjalanannya.

Setelah itu, kita harus mulai meliput dan mengumpulkan data di lapangan. Bisa dengan mengambil brosur, memotret, mewawancara orang yang ditemui, dan jangan lupa untuk mencatat apa yang kita alami dan rasakan selama di perjalanan. Ada alat-alat bantu untuk meliput dan mengumpulkan data, seperti buku catatan, recorder, dan kamera.

Kalau trik saya, karena saya tidak mau "rempong", fungsi buku catatan biasanya saya alihkan ke smartphone yang memiliki aplikasi notes atau office. Biasanya saya memasukkan outline atau draft artikel pada smartphone, kemudian outline tersebut dijadikan panduan dalam mencari data. Kalau ada waktu luang (misalnya lagi di kendaraan atau menjelang tidur), draft artikel dan catatan yang saya masukkan di smartphone saya update, sesuai dengan apa yang kita temukan dan lihat di destinasi. Kamera juga bisa dimanfaatkan untuk "mencatat" data-data berupa tulisan atau keterangan sebuah barang dalam bentuk foto, namun pastikan saat memotret kameranya fokus, agar datanya tetap mudah untuk dibaca.

KELAS MENULIS ONLINE "Bagaimana Menciptakan Puisi, Prosa Liris dan Essay yang Berbobot"

Ingin bisa menulis puisi, prosa liris dan essay yang berkualitas dengan mudah? 
Ingin jutaan ide yang terbelenggu di dalam pikiran bisa terbebaskan dan tersalurkan dengan tepat dan mudah melalui puisi, prosa liris, juga essay, sehingga pikiran pun menjadi terang?

Puisi, prosa liris adalah bentuk-bentuk karya yang sangat lekat nilai sastranya.

Nah, untuk itu, yuuk, ikuti Kelas Menulis Online (KMO) Ibu-ibu Doyan Nulis dengan tema materi "Bagaimana Menciptakan Puisi, Prosa Liris dan Essay yang Berbobot", yang akan dibimbing langsung oleh seorang penulis perempuan yang sangat handal: Teh Ratna Ayu Budhiarti

Persyaratan peserta: minimal berusia 17 tahun, baik laki-laki maupun perempuan

Waktu pelaksanaan: Selasa, 11 Februari 2014 pukul 19.00-22.00 WIB, dengan masa bimbingan selama satu bulan penuh.

Di sini, tidak hanya ilmu tentang menulis yang didapat, namun juga pengetahuan tentang kesusastraan, bagaimana menciptakan sebuah karya sastra yang berkualitas dengan diksi-diksi yang tepat sekaligus dahsyat, dan mendapat teman-teman yang tentunya asyik untuk belajar bersama.

Dengan menulis, hati dan pikiran menjadi terbuka dan tercerahkan.

Pendaftaran:

- Peserta melakukan pendaftaran melalui inbox FB Nina Kirana(email ke qrana.qrana@gmail.com) ; dan inbox Devy Nadya Aulina (email: devynadya.aulina@gmail.com)

Format: Daftar_IIDN_Online_NamaKursus_Nama Peserta

Contoh: Daftar_IIDN_Online_Puisi, Prosa Liris, Essay_Nina Kirana

- Pendaftaran diterima paling lambat 24 jam sebelum jadwal kursus dimulai.

- Biaya hanya Rp100.000,-

- rekening Bank Mandiri cabang Moh Toha a.n Damayanti (FB:May Saba), no. rek. 130-00-1300314-3 atau Bank BCA a.n Devy Nadya Aulina SS no. rek. 1410394223. 

Bila sudah transfer bisa konfirmasi melalui inbox Devy Nadya Aulina (bisa melalui sms ke 087759049433 atau WA 087759368455) atau bendahara IIDN, Damayanti (FB: May Saba, no HP 081911996675)

PROFIL TRAINER:

RATNA AYU BUDHIARTI, lahir di Cianjur pada 9 Februari 1981. Menulis puisi sejak kelas 6 SD. Karya-karyanya telah banyak dimuat di berbagai media cetak dan online, seperti majalah Femina, HU. Pikiran Rakyat, Suara Karya, Bali Post, SK. Priangan, Mingguan Pelajar, Majalah Sahabat Pena, Puitika, juga di radarseni.com. Pernah menjadi juara III Lomba Menulis Puisi Cinta “Semusim” Forum Lingkar Pena Bandung (2005).

Selain itu, puisi alumnus Fakultas Pertanian Universitas Siliwangi ini dimuat dalam antologi bersama:

1. Orasi Kue Serabi (Sanggar Sastra Tasik, 2001).
2. Enam Penyair Membentur Tembok (Sanggar Sastra Tasik, 2002).
3. Poligami (Sanggar Sastra Tasik, 2003).
4. Muktamar (Sanggar Sastra Tasik, 2003).
5. Bunga yang Berserak (Komunitas Sastra Dewi Sartika, 2003).
6. Antologi 9 Penyair Jawa Barat Aku akan Pergi ke Banyak Peristiwa (Taman Budaya Jawa Barat, 2005).
7. Kumpulan Puisi Penyair Bali-Jawa Barat ROH (Mnemonic, 2005).
8. Di Atas Viaduct (Kiblat, 2009).
9. Ziarah Kata 44 Penyair (Majelis Sastra Bandung, 2010).
10. Antologi Bersama Komunitas Cita Cinta Menulis "Bait-bait Hati" (Leutikaprio, 2011).
11. Antologi 69 Penyair Perempuan Indonesia Kartini 2012 (KosakataKita, 2012).
12. Antologi Festival Penyair Internasional Indonesia 2012 what’s Poetry? (Henk Publica, 2012).
13. Antologi bilingual Voices of Archipelago (HIVOS – Ubud Writers & Readers Festival, 2012).
14. Dendang Denpasar Kesiur Sanur (Pemkot Denpasar dan Arti Foundation, 2012).
15. Antologi bilingual Diverse (Shell, 2012).
16. Back to Ubud Another Village Called Home (HIVOS – Ubud Writers & Readers Festival, 2013)

Buku tunggal:

1. Antologi tunggal Dusta Cinta (Gaza Publishing, 2008).
2. Antologi tunggal Surat Menjelang Lepas Lajang (Leutikaprio, 2011).
3. Kumpulan cerpen The Untold Stories Cerita Kita: Aku, Kamu, dan Mereka (Nulis Buku, 2012).
4. Kumpulan puisi Dada yang Terbelah (KPPI, 2013).

Di samping itu, Ratna pun aktif mengikuti beberapa event berskala internasional lainnya, seperti: Festival Penyair Internasional Indonesia pada bulan April 2012 di Surabaya, Temu Sastrawan Nusantara Mitra Praja Utama (MPU) VIII di Serang-Banten 15-18 November 2013, Temu Karya Sastrawan Nusantara di Tangerang, 21-23 Desember 2013.

Beliau pun menjadi salah satu pembicara di Ubud Writers & Readers Festival (3-7 Oktober 2012) di Bali. Nama Ratna tercatat dalam buku Profil Perempuan Pengarang dan Penulis Indonesia (Kosa Kata Kita, 2012).

Yuk, segera daftarkan diri Anda.

Tempat terbatas hanya untuk 30 orang pendaftar pertama saja.

15 January, 2014

Gejala Tertular Virus Menulis


Oleh : Ummu Maila

Akhir-akhir ini virus menulis merebak di beberapa kalangan ibu-ibu. Ibu-ibu yang hobi buka-buka facebook beresiko lebih tinggi tertular virus ini, terbukti virus ini sudah menyebar ke sekitar 11.511 ibu-ibu.

Berikut beberapa gejala virus menulis merasuk ke hati anda :

1.Jari-jemari anda gemas, ingin memencet tombol-tombol keyboard komputer

2.Kata-kata dan ide cerita datang bertubi-tubi, menggelitik pikiran anda

3.Tiba-tiba anda menjadi haus membaca, untuk sekedar memperhatikan tanda baca atau mencari bahan tulisan anda.

4.Anda betah duduk dan bengong berjam-jam di depan laptop

5.Seketika segala objek dan peristiwa di sekitar anda menjadi menarik untuk ditulis

Jika anda merasakan gejala-gejala di atas, waspadalah! Bisa jadi anda sudah terjangkit virus menulis. Dan sayalah salah satu “korban”nya.

Memberi dengan Tulisan

Oleh:Henny Puspitarini


”Pak, kenapa ya akhir-akhir ini saya malas untuk nulis? Apa yang harus saya lakukan?”
”Ya, semuanya dikembalikan ke niatnya!”
”Gimana agar niatnya kembali?”
”Ya, dipanggil!”

Dialog di atas jika diteruskan sebenarnya panjang. Sebuah fenomena yang biasa merebak di kalangan manusia yang baru belajar menulis. Virus-virus malas menyerang dari segala sisi, merongrong hati untuk tidak menorehkan sesuatu meski hanya sedikit tinta. Melihat pena rasanya tanpa greget untuk segera mengambil lalu menjalankannya merangkai kata. Melihat peristiwa menakjubkan, rasanya lewat begitu saja. Menulis seolah-olah masih sekedar goresan tanpa ruh, tanpa ada tetesan jiwa menyentilnya, untuk apa tulisan itu. Moody, begitulah kira-kira. Sayang! Amat disayangkan! Meski tidak bisa dipukul rata. Identik dengan dialog di atas, suatu Minggu yang bersahabat, saya mengikuti sebuah Kelas Menulis. Seorang peserta bertanya,”Apa yang harus dilakukan pertama kali untuk menulis puisi?” Si pembicara menjawab,”Pikirkan manfaatnya!” Dalam buku ”Jangan Menulis Puisi Sebelum Baca Buku Ini” yang pernah saya pinjam dari teman pun menyatakan hal yang sama. Sedikit saya kutip,
Hasan : Kalau Anda diberi kuasa yang hebat untuk menulis puisi, apa yang pertama Anda buat?
Supardi : Berbuat baik pada sesama lewat puisi
Tentu saja, teman! Tafsiran jawaban Supardi itu beragam, tergantung konteksnya. Bisa saja maksudnya begini, salah satunya, bahwa melalui puisi ada hal baik (entah motivasi, rasa cinta, keikhlasan, dsb) yang bisa diserap pembacanya sehingga mereka bisa peka perasaannya untuk kemudian terus tumbuh dan tumbuh. Seorang teman pernah menasihati saya ketika saya bertanya tentang ciri-ciri puisi yang baik. Dia berujar, bahwasanya puisi yang baik salah satunya bisa membuat pembacanya tersenyum (dalam tanda kutip, bukan senyum anyir yang sifatnya menyindir lho!). Nah, sederhana bukan? Berbuat baik tak selalu harus dengan menyuguhkan sesuatu yang besar. Rotan tak ada, akar pun jadi. Cukup dengan menghadirkan senyum pembacanya, maka tulisan Anda telah memberikan makna. Apalagi menggugah perasaan-perasaan lainnya, atau mungkin sampai pada perubahan paradigma. Luar biasa!
Jujur, sebenarnya kita kaya dengan sumber-sumber yang bisa membantu kita bisa menulis dengan penuh makna. Pengalaman, alam, bahkan cacing yang tenggelam di tanah sekalipun. Semua bisa jadi cerita dengan energi memberi, meski awalnya dengan sederhana. Anis Matta berkata,”Pahlawan adalah orang biasa yang melakukan hal luar biasa.” Maka gelar pahlawan itu pun juga bisa melekat pada diri kita, luar biasa dalam membubuhkan makna dan semangat memberi di setiap tulisan kita. Bukan bunga yang tanpa putik dan benang sari. Tapi, menjadi bunga yang ketika kupu menghampiri ada sari yang bisa dicicipi. Bisa juga menjadi bunga yang senantiasa menebar wangi. Lihat saja bagaimana meledaknya novel ”Laskar Pelangi”. Letusannya terjadi karena ada kekuatan magma yang mampu menembus hati pembacanya. Memberi nuansa baru dengan isi yang menginspirasi. 
Menulis adalah memberi. Yah, seharusnya kita setuju dengan pernyataan ini.

14 January, 2014

[TIPS MENULIS} NIKMATI PROSESMU

Oleh : Nurul Ismayani

Menjadi penulis itu perlu "proses". Bukan sesuatu yang instan. Voila! Langsung jadi.
Kita tidur, mimpi menulis buku best seller, lalu waktu bangun bisa langsung menulis. Maka, jadilah kita penulis.
Eh, adakah yang seperti itu?

Pada awalnya, mungkin karena kita suka sekali membaca. Membaca apa saja. Membaca buku, majalah, surat kabar bekas, potongan tulisan bekas bungkus cabe, papan iklan di jalan *itu sih saya. Hahaha*
Lalu, muncul keinginan untuk menulis. Kayaknya asyik kalau saya jadi penulis dan tulisan saya dibaca orang lain.

Mungkin berawal dari menulis di lembaran paling belakang buku tulis, menulis diary, teruuuus.
Lalu, mulailah kita membuat tulisan pendek--cerpen atau puisi. Kemudian terus meningkat dan berlanjut.

Hingga pada akhirnya, kita mengenali "suara kita" dalam tulisan itu. Ya, kita telah menemukan ciri khas kita.

Setelah itu, mungkin kita masih memerlukan waktu beberapa tahun lagi untuk teruuuus berproses menjadi penulis. Mencoba lalu gagal! Mencoba lagi dan mendapatkan penolakan!

Pahit? Ya! Kapok? Tentu tidak! Ah, semoga saja tidak.

Jadi, kalau saat ini kita merasa proses itu masih jauuuuh. Saya katakan, proses itu tidak akan pernah ada ujungnya. Seorang penulis yang baik adalah seorang pembelajar sejati.

Dia harus terus belajar dari pengalaman--diri sendiri maupun orang lain. Belajar dari bacaannya. Belajar dari mana saja.
Kalau saat ini tembok kegagalan dan kejenuhan yang kita temukan. Maka, percayalah di balik tembok itu ada keberhasilan dan kesenangan yang akan kita dapatkan.

Tetapi, pilihan ada di tangan kita. Mau terus berjalan, atau berhenti?

Panjang sekali yak tulisan saya?
Padahal saya hanya ingin mengatakan, nikmati saja prosesmu.

Salam semangat,

Kenapa Siswa Sekarang Malas Menulis?

Oleh : Sofia Ummu Azfa


Sambil mengawasi try out kelas XII terbesit dalam pikiran. Setiap kali memberi soal dengan pertanyaan "apa pendapatmu...", jawaban siswa pendek-pendek. Nampaknya sulit srkali menuangkan apa yang ada dalam pikiran menjadi sebuah jawaban. 
Kebetulan hari ini try out Mata Pelajaran Bahasa Indonesia. Anak-anak seperti membaca koran, karena hampir setiap soal ada bacaannya. Keluhan mereka, "Pusing bu, soalnya panjang. Waktunya habis buat baca soal..."
Teringat waktu dulu ketika sekolah, yang psling saya duka dari Bahasa Indonesia adalah mengarang, bahkan waktu ujian nasional -dulu EBTANAS namanya-, saat ujian Bahasa Indonesia yang pertama kali dikerjakan adalah mengarang, soal lain nanti dulu. 
Meskipun bukan guru Bahasa Indonesia, tapi tetap tertarik memperhatikan pada pelajaran ini. Rupanya sekarang siswa jarang sekali mendapat tugas untuk menulis. Mereka dijejali dengan banyak materi dan latihan soal yang harus diselesaikan supaya saat ujian nasional dapat mengerjakan dan lulus. Membaca pun yang terkait dengan materi saja. Hanya satu dua siswa yang mau membaca buku lsin, itu pun novel-novel ringan. 
Sehingga siswa jadi tidak suka menulis, dan jika ada tugas menulis mereka mengerjakan sekadarnya saja, karena memang miskin kata-kata.
Semoga di masa yang akan datang kurikulum yang diterapkan dapat menumbuhkan minat siswa untuk menulis.

Faktor Penyebab Hilangnya Semangat Menulis

Oleh : Sri Rahayu

Kali ini saya ingin mengajak ibu-ibu untuk berbagi tentang faktor-faktor penyebab hilangnya semangat menulis.

Saat pertama kali saya memulai kembali hobi menulis terus terang saya merasa tidak percaya diri.  Merasa diri ini tak mumpuni dan tak layak membuat sebuah karya.  Setiap kali saya mencoba untuk memulai selalu saja ada dorongan yang membuat jari ini berhenti bergerak.  Layar FB yang terus bergerak membuat saya terpaku dan tergoda untuk mengintip.  Akhirnya saya lebih asyik berhaha-hihi dengan teman lama di dunia maya.  Rupanya kurangnya rasa percaya diri membuat saya enggan untuk memulai dan kehilangan semangat, tapi melihat para ibu-ibu keren yang terus saja melahirkan karya semangat itu muncul kembali dan saya memulai menulis.

Sebagai penulis baru tentulah tulisan saya jauh dari sempurna, bahkan saya sendiri tak merasakan jiwa dari tulisan itu.  Saya mencoba memberanikan diri untuk mengirimnya pada beberapa orang teman dan berharap mereka berkenan memberi masukan.  ternyata tak satupun yang memberikan jawaban ... tanda tanya bergelayut dalam otak saya.  Mengapa mereka diam tanpa satu komentar?  Bagus tidak, jelek juga tidak.
Setelah berjalannya waktu barulah saya menyadari bahwa mereka tak memberikan jawaban karena memang tulisan itu belum mempunyai jiwa, namun mereka tidak ingin semangat menulis saya hilang hanya karena kritik.  Mereka hanya berkata " teruslah menulis"

Ya!  kritik acap membuat semangat menulis lenyap pada sebagian orang yang baru memulai aktivitas ini.  Saya berterima kasih pada mereka yang telah menahan kritiknya saat saya masih belum siap, saat saya baru belajar tertatih.  Saya pun berusaha untuk menahan kritik atau mengemas kritik menjadi lebih cantik pada sebagian orang yang menurut saya lebih membutuhkan motivasi daripada kritik yang pedas.

Nah... kalau ibu-ibu pernah tidak kehilangan semangat menulis?  Biasanya apa yang bikin ibu-ibu menjaduki tidak bersemangat?

Berbagi yuk

10 January, 2014

Kelas Tips Menulis Traveling #5 : Jenis Tulisan Traveling

Oleh : Arini Tathagati

Apa kabar  Ibu-Ibu, dan Selamat Tahun Baru 2014! :)
Setelah kita libur selama 2 minggu, hari ini kita bertemu lagi di kelas Tips Menulis Traveling.

Mengingatkan kembali, diskusi terakhir kita adalah tentang outline tulisan traveling. Nah, pada diskusi yang lalu, kita punya struktur sederhana outline yang biasa digunakan untuk membuat artikel traveling, atau sering disebut sebagai traveling feature. Sebenarnya tulisan traveling tidak terbatas pada artikel/fitur traveling, melainkan ada beberapa jenis:

1. Traveling Feature
Traveling feature adalah jenis tulisan traveling yang sering kita temukan di majalah dan surat kabar. Bentuknya merupakan perpaduan antara catatan perjalanan dan tulisan jurnalistik, dengan memasukkan pengalaman dan perasaan penulis ke dalam tulisan tersebut. Contoh traveling feature bisa dilihat di http://tgifmag.com/

2. Guide Book
Guide book adalah buku panduan perjalanan yang memuat informasi mengenai suatu destinasi wisata, cara mencapainya, tarif masuknya, akomodasi selama di sana, poin-poin menarik, serta tips-tips mengunjungi destinasi tersebut.

3. Travel Journal
Travel Journal adalah tulisan traveling yang dibuat dalam bentuk catatan perjalanan secara kronologis.

4. Travel Literature
Travel Literature atau disebut juga sastra perjalanan adalah tulisan traveling yang dikemas dalam bentuk karya sastra, misalnya dalam bentuk cerpen atau novel. Contoh sastra perjalanan adalah buku "Garis Batas" karya Agustinus Wibowo.

Nah .. Kalau Ibu-Ibu ingin membuat tulisan traveling, kira-kira Ibu-Ibu memilih jenis tulisan yang mana? Dan kenapa memilih jenis tulisan tersebut?

09 January, 2014

KMO (KELAS MENULIS ONLINE) “ MENULIS ARTIKEL”


Ikuti Kelas Menulis Online “Menulis Artikel” yang diselenggarakan komunitas IIDN (Ibu-ibu Doyan Nulis).

TERBUKA UNTUK UMUM (minimal usia 17 tahun)

Tidak hanya ilmu yang didapat tapi juga teman-teman yang asyik dan pendampingan selama sebulan oleh pengajar yang handal.

Siapa tahu kita bisa jadi penulis-penulis hebat berikutnya seperti yang tergabung dalam


- Pelaksanaan: Hari Rabu, 7 April 2014. Waktu: pkl 19.00-22.00 WIB. 

- Peserta melakukan pendaftaran melalui Inbox FB: Devy Nadya Aulina (email: devynadya.aulina@gmail.com) atau FB Nina Kirana (email ke qrana.qrana@gmail.com)
Format: Daftar _ IIDN_Online_NamaKursus_Nama Peserta

Contoh: Daftar_IIDN_Online_Artikel_Devy Nadya Aulina

- Pendaftaran diterima paling lambat 24 jam sebelum jadwal kursus dimulai.

- Biaya: Rp100.000,-

- Transfer ke rekening Mandiri cabang Moh Toha a.n Damayanti No.rek 130-00-1300314-3 (konfirmasi melalui sms: 081911996675) atau rekening Bank BCA a.n Devy Nadya Aulina SS No. rek 1410394223 (konfirmasi melalui sms: 087759049433 atau WA 087759368455). Dengan berita acara: KMO_Artikel

Metode Belajar:

Peserta belajar secara online selama 3 jam
1. Materi bisa diunduh di Google Drive sesuai pilihan kursus yang dipilih. URL akan diberikan kemudian kepada peserta.

2. Peserta kursus akan diundang ke grup khusus di FB untuk berdiskusi dengan pengajar

3. Peserta diberi kesempatan konsultasi dan mentoring selama 1 bulan dengan pengajar berkaitan dengan materi yang dipilih.

4.Tugas yang nanti diberikan diunggah ke file grup khusus agar peserta bisa saling belajar.

Mentor: Indari Mastuti

PROFIL TRAINER

Indari Mastuti, memiliki nama lengkap Indari Mastuti Rezki Resmiyati Soleh Addy. Perempuan yang lahir di Bandung, 9 Juli 1980. Merupakan entrepreneur di bidang jasa copywriting dengan brand Indscript Creative. Serta memiliki usaha konsultasi dan pembentukan Personal Brand dengan nama Indscript Personal Branding. Ia sudah menulis lebih dari 50 judul buku yang tersebar di berbagai penerbitan di Indonesia serta menetaskan ratusan artikel sejak tahun 1996.

Indari pada saat ini sukses mengawal dua komunitas perempuan yaitu Ibu-ibu Doyan Nulis yang berjumlah 10.559 orang dan Ibu-Ibu Doyan Bisnis berjumlah 11.475 orang. Selain mengembangkan bisnis serta dua komunitasnya ini, Indari juga tercatat sebagai pengurus di Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) dan pengurus di Indonesia Marketing Association (IMA). Pada tahun 2013, Indari melaunching Sekolah Perempuan, sebuah sekolah yang diperuntukkan bagi ibu rumah tangga.

Bisnis dan komunitas yang dikawalnya telah membuat Indari mendapatkan berbagai penghargaan bergengsi di Indonesia, seperti Perempuan Inspiratif Nova (2010), Finalis Kusala Swadaya (2011), Juara 2 Wirausaha Muda Mandiri (2012), Perempuan Terinspiratif Indonesia Majalah Kartini (2012), Finalis Wanita Wirausaha Femina (2012), Juara 3 Kartini Awards (2012), Finalis Kartini Next Generation (2012), 100 Perempuan Pilihan Indonesia Mengubah Dengan Cinta SunLight (2013), Juara I Sekar Womenpreneur (2012), Perempuan Inspiratif pilihan DOVE (2013) hingga menjadi kandidat Asia Entrepreneur (2013).