Breaking News

26 March, 2014

#WomenpreaneurChecklist"I Wanna Be a Womenpreneur

Oleh  : Sri Mulyani

Kesulitan hidup di masa lalu menempa sahabatku yang satu ini berjiwa ulet dan tahan banting.Bakat bisnisnya juga sudah terasah sejak masih zaman kanak- kanak.Lahir dan menghabiskan masa remaja di sebuah desa yang bernama Kuta Cane lama Aceh Tenggara,Mardiani remaja tidak mengenal saat bersantai menikmati cerianya usia belia.Dia harus berjuang keras membantu orang tua mencari rupiah demi mencukupi mimpi - mimpi sederhananya,bisa berpakaian layaknya gadis- gadis lainnya.

                   Untuk berpakaian seragam yang pantas saja Mardiani dan adik- adiknya ( enam bersaudara,dia anak tertua) sering menunggu pemberian tetangganya yang kaya berganti seragam baru,dengan demikian seragam lama mereka akan diberikan kepada Mardiani yang memang kebetulan rumahnya berseberangan.Sedih dan malu sebenarnya,tapi tak dapat berbuat apa- apa.

                  Mardiani remaja tidak mau tinggal diam,perasaan malu membuatnya berfikir keras harus merubah nasib.Sepulang sekolah,tanpa mengenal istirahat,Mardiani berangkat ke hutan milik saudara untuk memetik buah kemiri.Pada masa itu,tahun 80an sekilo buah kemiri dihargai Rp. 100.Setiap hari itu dikerjakannya,uang hasil penjualan kemiri dikumpulkan.Ditabung untuk biaya sekolah dan sedikit sisanya untuk kebutuhan lain.Orang tua hanya menyediakan makan 3x sehari hanya dengan sayur yang dipetik dari kebun sendiri.Lauk..? Jangan berfikir untuk terpenuhi setiap hari,bisa seminggu hanya sekali merupakan satu kebahagiaan buat keluarga mereka.

                 Meski dengan segala kesulitan,Mardiani bisa menyelesaikan SMAnya.Tidak berfikir untuk melanjutkan kuliah,dia hanya berfikir untuk bisa cepat menghasilkan uang.Obsesi masa lalunya memang hanya bisa berpakaian bagus/ layak.Sederhana sekali memang .

                 Setamat SMA,Mardiani merantau ke Medan.Bekerja pada sebuah perusahaan asing yang bergerak di bidang elektronik.Untuk ukuran anak yang berasal dari kampung,itu pencapaian yang sudah menggembirakan.Bekerja tidak pernah mematikan naluri bisnisnya.Mungkin memang sudah bakat pada dunia bisnis ya,besar maupun kecil tetap saja hati selalu cendrung untuk bisa berjualan.Sambil bekerja,pada jam- jam istirahat dia menyempatkan diri menawarkan barang dagangannya pada teman- temannya.Ya biasanya kesempatan itu hanya pada jam istirahat atau sebelum dan sesudah bubar jam kerja.Barang dagangannya tak jauh - jauh dari pakaian.Karena pangsa pasarnya pada waktu bekerja adalah usia muda ( teman kerja banyak yang belum menikah) ,barang yang dijualnya berupa celana jeans,pakaian casual gaya anak mudalah.Dan itu pun dengan modal kepercayaan dari saudara calon suaminya (calon suami teman kerja ).

                    Tiga tahun bekerja mereka memutuskan menikah.Keluarga suami termasuk dalam golongan keluarga berada,otomatis cara berpakaiannya pun beda dengannya.Dan hal ini menjadikan hobby berpakaian bagus semakin tumbuh subur.Kebetulan keluarga suami penyuka busana muslim bermerk Robbani.Mardiani terikut bergaya busana seperti mereka,masalahnya pakaian merk Robbani memang harganya lebih mahal dibanding gamis- gamis biasa kan, dan memang sesuai dengan kwalitasnya.
                    Bersinggungan dengan gaya busana yang beda dengan sebelumnya,semakin membuatnya berfikir keras bagaimana untuk memenuhi hobby tersebut tanpa merusak uang belanja yang memang sudah ada loketnya masing- masing.Tidak mungkin juga kan hobby itu malah merugikan? Dari berlangganan dengan agen Robbani itu,menimbulkan ide baru di kepalanya,bagaimana dia menjadikan dirinya sendiri sebagai model dari barang yang dia dagangkan.Lagi- lagi masih dengan modal percaya dari pemilik toko dia diperbolehkan membawa pakaian- pakaian bermerk Robbani itu untuk ditawarkan pada orang- orang yang dikenalnya.Jika barang laku terjual dia diberikan komisi sebesar 15% / itemnya.Dan kepercayaan yang diberikan oleh pemilik toko terus dijaganya,berdasarkan hubungan yang baik inilah kami memberanikan diri membuka toko yang menjual barang merk Robbani pada suatu hari.

                   Ya..pada 7 tahun yang lalu,Aku,Mardiani dan empat orang lain sahabat kami memberanikan diri patungan untuk membuka sebuah toko.Tapi tepatnya kami menyebutnya kedai.Uang yang kami kumpulkan berenam itu hanya untuk biaya menyewa kedai dan peralatan penunjangnya,sementara barang yang kami jual dari agen Robbani tadi.Tapi kami tidak menamakan kedai kami dengan Robbani juga,karena kedai yang kami rintis bersifat menyediakan jasa.Kami hanya mendapatkan komisi,sama seperti yang berlaku pada Mardiani dulu.
                  Tahun pertama berjualan,kami tidak mengambil keuntungan dari kedai,keuntungan kami putarkan lagi untuk mengembangkan dagangan..

                 Memasuki tahun kedua,usaha mulai terguncang.Ada beda pendapat dari teman yang lain.Mereka ada yang tidak setuju keuntungan tidak dibagi terlebih jika harus menambah modal lagi.Sementara barang dagangan kan harus ditambah,belum lagi untuk membayar sewa kedai.Semakin hari keadaan semakin meruncing.Memasuki tahun kedua itu kami sudah terseok- seok.Begini memang jika ada banyak kepala,akan ada banyak ide yang beda- beda dalam menjalankan usaha,perlu menyamakan misi dan visi dulu seharusnya.

                 Dengan keadaan kedai seperti ini yang paling terbebani adalah Mardiani.Kami merasa sungkan dan sangat tidak enak hati untuk mengembalikan barang- barang merk Robbani tadi.Akhirnya Mardiani memutuskan untuk mengambilalih kedai.Dia yang akan menjalankan bisnis ini.Akan tetapi dia meminta kami untuk bersabar dalam pengembalian modal.Aku paham keadaan ini,segera kami menghitung aset yang masih tersisa.Setelah dihitung keseluruhan,didapatlah berapa biaya yang harus dikembalikan kepada kami masing- masing / orangnya.

                 Mardiani berhasil menyewa sebuah toko di dalam pasar Marelan.Di situlah dia menjual sisa dagangan dari kedai  muslim kami.Sedikit demi sedikit isi toko bisa ditambah dengan barang merk lainnya. Pelan tapi pasti,Mardiani bisa mengembalikan modal kami meskipun dengan cara dicicil.Dia juga diberi keringanan oleh agen Robbani itu untuk membayar barang- barang yang sudah masuk ke kedai dengan cara mencicil pula.

                  Memiliki sebuah toko pakaian agaknya memang sudah menjadi cita- citanya.Letak toko yang cukup strategis dan di dalam lingkungan pasar tradisional memudahkannya memasarkan barang -barang dagangannya.Toko tidak hanya diisi oleh satu merk tertentu saja,apa yang sedang trend harus disediakan.Ini salah satu kejelian Mardiani dalam membaca situasi.Untuk mendapatkan barang dagangan dia pergi berbelanja sendiri ke pusat Pasar,Pasar Ikan Lama,kadang berburu barang sale di mall- mall.Untuk musim lebaran dia mengkhususkan belanja ke Jakarta atau Bandung,barang sudah distok sebelum bulan puasa.Berjualan pakaian memang memiliki musim tertentu,hanya masa menjelang lebaran Idul Fitri toko pakaian mengeruk keuntungan yang berlipat- lipat dari hari biasa.

                    Menurutnya,berjualan di toko dalam lingkungan pasar perputarannya cepat.Pangsa pasarnya banyak,tidak terbatas untuk orang- orang tertentu saja.Namun bukan berarti juga tidak memiliki masalah,pelanggan tetap yang biasanya dari sesama pedagang malah kadang mengesalkan hati.khusus sesama pedagang memang Mardiani menjalankan sistem cicil,perharinya ada yang Rp.5000 atau Rp. 10.000,mereka kadang mengulur- ulur waktu saat dikutip,dengan berbagai alasan,belum laku jualannyalah..besok dibayar dobel..begitu besoknya dikutip..bayarnya satu,dan banyak lagi model- model tingkah pelanggan,semuanya itu memang lika- liku dunia bisnis.

                     Meski berada dalam lingkungan pasar, Mardiani tetap menjaga kualitas barang dagangannya.Barang- barang yang sudah hampir habis trendnya akan diobral,hal itu tidak menyebabkan penumpukan barang lama.Sehingga pelanggannya juga sudah tahu,jika belanja di toko Mardiani barangnya lebih bagus dibanding toko lainnya.