Breaking News

03 March, 2014

Tips Menulis Traveling #9 : Etika Menulis dan Memotret Wisata Religi

Oleh Arini T

Tanggal 31 Januari 2014 yang lalu, rekan-rekan kita dari etnis Tionghoa merayakan Tahun Baru Imlek. Biasanya mereka akan beribadah di klenteng atau pagoda untuk memanjatkan doa memohon keselamatan dan kesuksesan di tahun berjalan. Perayaan Imlek ini membuat saya terilhami untuk mengangkat tema wisata religi pada diskusi kita hari ini.

Di Indonesia, obyek wisata religi sangat banyak, dan tersebar hampir di seluruh wilayah Indonesia. Obyek wisata ini bisa dalam bentuk rumah ibadah, ziarah makam dan petilasan, atau perayaan-perayaan terkait. Meliput, memotret, dan membuat tulisan wisata religi ini susah-susah gampang. Di satu sisi, banyak obyek menarik untuk ditulis dan diabadikan, namun di sisi lain, terdapat berbagai etika yang harus dipenuhi, agar tulisan dan foto Anda bisa diterima oleh pembaca dengan baik.

Pada saat berkunjung ke destinasi wisata religi, hormatilah tempat tersebut, dan ingatlah bahwa banyak orang yang hadir di sana untuk beribadah. Kenakan pakaian yang sopan, jangan kenakan celana pendek atau baju tanpa lengan, dan usahakan menggunakan sepatu. Sebelum mulai memotret di destinasi wisata religi, lakukan pengamatan terlebih dahulu, untuk memastikan tidak ada larangan untuk memotret. Apabila ragu, tanyakan pada petugas setempat (bisa pengurus rumah ibadah atau petugas sekuriti) apakah ada larangan memotret.

Apabila Anda diperkenankan memotret, masih ada hal-hal lalin yang perlu diperhatikan. Hindari memotret dengan lampu kilat, karena bisa mengganggu mereka yang beribadah. Apabila Anda memotret orang yang tengah beribadah, memotretlah dari jarak jauh (menggunakan zoom/lensa tele) agar tidak mengganggu kekhusukan. Perhatikan juga aturan-aturan khusus, misalnya Anda tidak diperkenankan memotret obyek tertentu (contohnya adalah di beberapa situs ibadah umat Buddha di Cina, tidak diperkenankan untuk memotret patung Buddha). Usahakan jangan memotret sambil membelakangi altar, dan jangan sekali-kali melintas di depan orang yang sedang beribadah.

Pada dasarnya, artikel mengenai wisata religi tidak boleh menyinggung isu SARA, misalnya tentang stereotip sebuah suku bangsa, agama, atau kepercayaan. Anda bisa memfokuskan tulisan dengan meliput dari sudut pandang lain, seperti pariwisata, sejarah bangunan atau tradisi, keunikan arsitektur, atau sisi tradisi dan budaya setempat. Apabila ada pembahasan yang terkait erat dengan filosofi kepercayaan dan ritual, lakukan riset yang mendalam untuk memastikan tidak terjadi kesalahan pemahaman saat menuangkan dalam tulisan. Terkadang kita tidak bisa menghindari pembahasan tersebut, misalnya untuk menjelaskan makna sebuah benda atau simbol yang terdapat di sebuah rumah ibadah atau perayaan.

Bagaimana dengan Ibu-Ibu yang lain? Apakah Anda merupakan penggemar wisata religi? Apakah Anda memiliki kiat-kiat tersendiri saat mengunjungi, meliput, memotret, dan menulis wisata religi?

14 komentar:

OBAT KELENJAR GETAH BENING said...

Salam kenal ya gan

OBAT KANKER PROSTAT said...


Sangat keren bagus banget

OBAT KANKER SERVIKS said...

Kece total webnya

OBAT ALAMI BATUK said...

thanks infonya, websitenya keren

OBAT WASIR said...

Top banget deh

OBAT INFEKSI TELINGA said...

webnya mantap

OBAT PARU PARU BASAH said...

webnya keren

OBAT DARAH TINGGI said...

banget keren total

OBAT JANTUNG said...

web ini emang bener keren

OBAT INFEKSI TELINGA said...

web ini aku suka ditunggu artikel selanjutnya

OBAT HERPES said...

kocak :D

OBAT JANTUNG KORONER said...

ditunggu artikelnya

OBAT WASIR said...

oke nice http://goo.gl/ay50be

CARA MENGATASI BENJOLAN DI PUNGGUNG said...

KEREN

Post a Comment