Breaking News

27 March, 2014

Tidak Mimpi Jadi Penulis, tetapi Bukunya Terbit.

 Salam Ibu-ibu. Perkenalkan saya Tri Wahyu Handayani. Tetapi karena satu dan lain hal nama FB saya tidak sesuai KTP. Hal ini disebabkan, saya pernah diinbox oleh mahasiswa, dan menulis surat protes karena nilai ybs tidak sesuai harapan(nya).
Tetapi tidak soal, saya lebih akrab dipanggil Hani saja.
Terdengar manis, semanis madu.
Beberapa hari ini, di wall IIDN nama saya dimention Bu Indari Mastuti, karena buku solo pertama saya telah terbit.

Pertamakali saya ketemu grup ibu-ibu hebat IIDN ini kira-kira pertengahan tahun 2013. Secara tidak sengaja setelah saya berselancar kesana-kemari dan blog walking ke sesama bloger.
Saya punya blog sejak 2006, itupun bukan blog tutorial atau blog serius keilmuan tertentu yang dapat menjadi rujukan. Beberapa blog yang saya miliki lebih banyak bercerita tentang suka-duka mengajar dan curhat serta pemikiran suka-suka saya.

Saya hanya menulis saja apa yang ada di kepala. Kadang-kadang saja ada yang bertanya di blog tersebut. Saya malah lebih asyik mengutak-utik tampilan blognya.
Saya kagum dengan ide pelatihan atau kursus menulis online yang diselenggarakan melalui kelas-kelas khusus di FB. Kelasnya mbak Ari Kurnia dan Galaregia Project pernah saya ikuti.
Lagi-lagi secara tidak sengaja ada pengumuman di IIDN, bahwa akan dibuka Sekolah Perempuan yang akan memberikan pelatihan selama 3 bulan dengan target hasil akhir sebuah buku.
Saya tertarik bukan karena target menghasilkan sebuah buku saja, tetapi saya tertarik kelas menulisnya. Karena menulis, menurut saya sangat luas.

Pada saat launching Sekolah Perempuan, sebagian besar ibu-ibu yang hadir bahkan sudah mempunyai mimpi akan menulis buku-buku tertentu. Buku resep, buku ketrampilan, novel, fiksi dan lain-lain.
Di papan tulis di Sekolah Perempuan terpampang diagram, program dan tujuan Sekolah Perempuan. Kami-kami ini nantinya diarahkan jadi apa saja selain menulis naskah buku. Tertera banyak bidang selain naskah buku, antara lain copywriter, editor, naskah film dan lain-lain.
Tak terbersit sebuah ide pun di kepala saya, saya akan menulis buku apa. Bahkan saya sudah setengah putus-asa, tak menghasilkan buku pun tak apa.
Menjadi copywriter pun sepertinya masih bisa.
Ternyata kurikulum dan silabus Sekolah Perempuan asyik dan jelas. Ide membuat mindmapping berbagai judul buku dan menyusun matriks penulisan, menurut saya sangat membantu dalam menulis. Sistem pengajarannya paralel, artinya selain kami diberi materi, kami juga harus mempraktekkan menulis buku.
Nah...ini dia. Sampai detik itu, saya tetap tidak punya ide.
Lalu Bu Indari menawarkan ide, bagaimana bila membuat buku semacam panduan, menyiapkan putra-putri yang akan menikah.

Kebetulan saya mempunyai anak-anak yang sudah dewasa.
Iyaya...sebagai ibu, sejak anak-anak bayi sampai dewasa, saya mendampingi mendidik, mengantar sekolah, merawat saat sakit. Memasak makanan bergizi. Menyiapkan dana pendidikan dan asuransi kesehatan. Tetapi menikahkan anak, saya merasa agak kelupaan dalam hal ini. Mungkin gara-gara sering dengar pendapat orang, jodoh kan di tangan Tuhan.
Mulailah saya berburu buku sejenis di beberapa toko buku. Ternyata banyak betul buku-buku sejenis. Begitu pula setelah saya browsing, banyak buku yang mirip.
Beberapa buku sejenis, penulisnya menulis sebagai perempuan yang akan menikah. Atau laki-laki yang akan menikah. Atau kisah pernikahan itu sendiri.
Dalam salah satu link di internet, saya menemukan bagian dari buku, yang ditulis oleh seorang ayah untuk anak sulungnya yang akan menikah.
Ada satu yang belum pernah ditulis, atau saya belum menemukannya. Yaitu gaya menulis seperti bertutur, dari seorang ibu ke anaknya.
Mulailah saya semangat menyusun outline dan alhamdulillah outline saya dilirik oleh Penerbit Elex Media.

Saya pun mengikut saja arahan dari para mentor dan mengisinya bab demi bab.
Karena arahan dari Bu Indari agar buku saya bernuansa Islami, maka saya yang tak faham menulis huruf Hijayah, berjibaku menulis kembali ayat-ayat dari Al-Qur'an dengan program khusus Nonosoft.
Saya jadi mengingat-ingat lagi kisah perkawinan saya. Menanyakan ke ibu-ibu di FB Ibu-ibu Doyan Nulis - Interaktif, tentang persiapan sebuah pernikahan.
Ternyata masukkan dari ibu-ibu sangat beragam yang justru memperkaya calon buku saya. Saya jadi menemukan sendiri mindmapping C.I.N.T.A, tentang kriteria calon pasangan untuk anak-anak saya. Karena jodoh anak-anak kita tidak datang begitu saja bukan?
Nah...apa saja yang dimaksud dengan C.I.N.T.A?
Ibu-ibu bisa membaca buku saya nanti yaaa...
Maaf, jadi iklan terselubung.

Bu Indari, menyebutkan bahwa saya juga membuat 3 calon buku lain setelah ini.
Buku berikutnya tersebut bukan buku solo, tetapi duet atau tandem atau apalah, pokoknya ditulis berdua.
Suka duka menulis berdua adalah saya harus jadi motor penggerak untuk orang lain.
Bersamaan dengan penulisan 3 buku tersebut, ternyata saya malah terlibat dengan tim copywriternya Indscript Corp
Sebetulnya saya merasa belum pantas menganggap diri saya seorang copywriter. Ternyata lingkup kerjanya sangat luas. Bahasanya harus diplomatis, terstruktur, tepat sasaran dan menjual. Karena seorang copywriter berhadapan langsung dengan konsumen.
Mau sukses seperti Mba Handayani ?