Breaking News

28 March, 2014

Menggali Potensi Diri

Oleh  : Nurul Khotimah

“Seringkali kita lupa bersyukur karena kita tidak mendapatkan apa yang kita doakan. Padahal, pada saat tersebut kita menerima apa yang kita butuhkan.”
“Salah satu cara terbaik untuk bersyukur adalah dengan terus mengembangkan potensi diri dan menjadikannya bermanfaat bagi sesama.”

Saya suka mengutip kata-kata bijaksana yang mampu memotivasi diri dan menyalakan gairah ketika semangat di hati mulai melemah. Nara sumber tidak saya cantumkan karena saat saya membacanya, tidak tertulis nama.

Saya merasa memiliki tenaga ekstra ketika menulis. Jadi, saya berpikir bahwa menulis adalah potensi diri yang Allah Swt. beri untuk bisa saya gali dan kembangkan. Menulis bukan hal baru bagi saya, karena ketika sekolah maupun kuliah sangat sering menulis surat kepada sahabat dan kekasih. Ehemm, jadi mesam-mesem mengingat masa muda. Mengenang saat-saat menunggu pak pos datang.

Dulu, saya menulis hanya mengikuti hasrat hati. Satu atau dua bait setiap hari, tanpa ilmu yang menyertai. Alhamdulillah, melalui komunitas ibu-ibu doyan nulis, sekarang saya menemukan banyak referensi tentang bagaimana cara menulis yang benar. Saya mulai berlatih menulis dengan memperhatikan EYD dan membuka Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). Proses belajar yang menyenangkan hati saya.

Menulis bagi saya adalah terapi. Saya sering merasa sehat jika menulis. Jiwa merasakan bahagia saat menulis. Ketika saya menulis, raga merasa seolah menemukan dunia dimana hati dan jiwa mampu hadir sepenuhnya.

Menjadi penulis adalah mimpi saya. Bukan materi (uang) yang menjadi tujuan karena menurut hemat saya, materi akan mengikuti saat kita mampu memberi (berbagi) dengan setulus hati (tanpa tendensi). Dengan menulis dan menjadi penulis, saya ingin mengembangkan diri dan bermanfaat bagi sesama walau hanya melalui satu kata ataupun satu kalimat.

Sahabat istimewa saya berkata: “Bermimpilah dan jadikan itu nyata!”
Dalam film berjudul serendipity, saya membaca tulisan: “Kita membuat keputusan, takdir memberi kita tanda.”

Salam manis,
Nurul Khotimah