Breaking News

19 December, 2014

[PUISI ] CINTAILAH HIDUPMU

Oleh : Benedict Maria

Salah bila kamu bilang tak ada yang menerima dirimu!
Ada pintu rumah, yang menyediakan kamar untukmu.
Ada pintu kantor, yang menerima dirimu bahkan kamu dihargai walau itu hanya rupiah.
Ada pintu hati orang tuamu,
Ada pintu hati sanak saudaramu,
Ada pintu hati temanmu,
Ada pintu hati kekasihmu,
Ada pintu hati anakmu,
Ada pintu hati saudaramu,
Ada pintu hati musuhmu, walau menyebalkan tapi kamu selalu dipikirkan olehnya.

Jika kamu masih tetap merasa tidak dicintai,
Untuk buang hajatmu saja.
Masih ada pintu toilet gratis yang disediakan untukmu.
Jika tak ada pintu rumah bagimu.
Masih ada pintu jagat raya,
Kolong jembatan, Rumah sakit, kantor polisi.
Jika kamu mau istirahat dengan aman walau tak nyaman.
Jika tak ada cinta yang kau dapatkan di semua tempat kamu rasa.
Duduklah di taman dan serap keheningan dari sucinya hatimu!
Dengarlah sahabatku!

Di sana,
Masih ada rumah yang dianggap orang rumah Tuhan.
Ada pintu masjid atau musolah dengan adzannya,
Ada pintu gereja dengan loncengnya yang berdentang sewaktu-waktu,
Atau
Pintu wihara dan pura, dengan dupanya yang wangi,
Menenangkanmu saat bermeditasi.
Kamu hanya perlu merenung sesaat sahabatku,
Cintailah hidupmu karna kelahiranmu membawa misi Tuhan untuk kebaikan orang-orang di sekitarmu.
Memang hidup ini singkat tapi bukan berarti kesusahan hidup ini,membawamu jauh dari kenyataan yang pada hakekatnya selalu silih berganti.
Menangis sebentar saja, sama seperti pada saat kamu tertawa.
Jika terlalu lama pun kamu bisa menangis juga.
Inilah renunganku tentang betapa berharganya hidupku, jika setiap berkat kehidupan yang Tuhan beri ini kusyukuri.

Salam buat semua sahabatku dimana pun kalian berada,
Ingatlah selalu ada pintu untukmu.
Tinggal hatimulah yang memilih dimana pintu yang bisa membuatmu dapat saling berbagi,
Pintu mana yang ingin kamu ketuk sahabat?
Tanyalah pada dirimu sendiri, karena di belakang pintu itu ada kandungan cinta yang mengakui dirimu, bahwa kamu sangat bernilai tinggi.
Tutup mata untuk hal yang tak baik,
Tutup telingamu untuk kata-kata yang tak sedap.
Biarkanlah jiwamu merasa bebas -sebebasnya, merasakan betapa luar biasanya Tuhan itu memelihara hidupmu dan hidup saya.
Jika tak kamu temukan siapapun di dalam ruangan itu saat kamu mengetuk pintu, Bukan berarti tidak ada siapa pun.

Di sana masih ada malaikat penjagamu bahkan Tuhan yang selalu setia dengan mataNya yang jeli, TelingaNya yang tajam dan tanganNya yang tiada pernah terlambat apalagi lalai terhadap dirimu.

Coretan hati dini hari,
Bekasi,
09 des 2014

18 December, 2014

Reaksi Spontan yang Positif


Oleh : Noor Ruly Abyz Wigati

Ketika ananda memecahkan vas bunga kesayangan bunda, kira-kira apa ya reaksi spontan yang muncul?
Mungkin, ananda sangat terkejut hingga menangis, mungkin juga gemetar ketakutan, atau malah pura-pura cuek seolah nggak terjadi apa-apa.


Sementara ibundanya mungkin spontan berteriak karena kaget dan kesal, mungkin juga ngomel sambil membersihkan keping-keping kaca yang berantakan, sembari menyuruh ananda pergi dari TKP dengan dalih khawatir luka kena pecahan kaca. atau malah tersenyum dan memeluk ananda untuk mengajak 'berdamai'


Para ibu dan calon ibu yang doyan nulis....


Reaksi spontan seringkali negatif dan tak terkendali, sesudahnya biasanya muncul penyesalan. Nah, memunculkan reaksi spontan yang positif itu bukan berarti nggak bisa loh... memang sih perlu latihan untuk membiasakan diri. Satu hal yang mungkin bisa membantu kita untuk bisa mengendalikan emosi yang datang tak diundang adalah, segera tarik nafas panjang untuk mengalirkan oksigen sebanyak-banyaknya ke otak kita, tarik senyum dan tiupkan angin dari mulut biar hawa panas di wajah menjauh, hehehe...


Reaksi spontan ibu terhadap prilaku salah anak, biasanya akan diingat dan ditandai ( kata orang jawa dititeni) oleh ananda, jika tidak menyenangkan, maka ananda akan menghindari dengan tidak mengakui perbuatan salahnya ataupun mengalami trauma ketakutan jika ketahuan.


Jadi, mari berlatih untuk membiasakan reaksi spontan yang positif pada kesalahan ananda dan semua orang .....
Semoga bermanfaat yaa.....

04 December, 2014

[ Tips Menulis Traveling #21 ] : Memilih Tema Tulisan Traveling

Oleh  : Arini Tathagati

Selamat malam Ibu-Ibu, selamat berjumpa lagi di kelas Tips Menulis Traveling yang hadir tiap Kamis minggu pertama pukul 20.30-22.00 WIB. :)

Hari ini kita kembali ke materi awal, yaitu tentang memilih tema tulisan traveling. Pada dasarnya, sama seperti membuat jenis tulisan yang lain, untuk membuat tulisan traveling kita harus menentukan tema. Biasanya setelah kita menentukan destinasi yang menjadi tujuan kita, kita menentukan tema apa yang mau diangkat. Tema tersebut bisa berupa pengalaman selama berwisata, ulasan kehidupan masyarakat di destinasi tersebut, makanan khas daerah tersebut, atau perjalanan khusus misalnya pengalaman saat ibadah umroh. Tema ini akan mendasari penyusunan kerangka/outline penulisan, yang kemudian menjadi dasar dalam mengembangkan tulisan traveling.

Sekarang kita berandai-andai, jika pada akhir tahun 2014 kita pergi berwisata ke suatu tempat dan berniat untuk menuliskan pengalaman kita saat bepergian, kira-kira tema apa yang ingin ditulis? Mari berdiskusi!

Kerupuk vs Sambal

Oleh :  Anna Farida

EYD Hari ini

Penjual nasi kuning: "Pakai krupuk, enggak, Neng?"
Pembeli: "Enggak, Bu. Pakai kerupuk."
PNK: "Lha iya, pakai krupuk, kan?"
P: "Bukan krupuk, Bu. Kerupuk."
PNK: "Maksudnya apa, sih? Mau kepruk saja?" ‪#‎suaranaik‬
P: "Di KBBI tertulis 'kerupuk', kok."
PNK: "Halah, beli naskun saja repot. Ini enam ribu!" ‪#‎emosijiwa‬
P: "Eh, iya, maaf. Maaf. Eh, tadi pakai sambel, kan, Bu?"
PNK: "Sambal, bukan sambel! Di KBBI tertulis 'sambal'!"


30 November, 2014

Karna menulis buku, jadi mendobrak ketidakpedean tampil presentasi ke depan

Oleh : Fathonah Fitrianti

Bedah buku di Salman ITB
Mo sharing nih bu ibu, tentang pengalaman saya. Aslinya saya ini orang yang gugupan dan gak pedean. Oleh karena itu saya selalu mengambil peran di belakang layar, supporting, atau paling banter jadi asisten pembicara. Klo jadi pembicara saya sangat hindari banget...

Namun kini semua harus berubah sejak negara api menyerang eh... sejak saya menulis buku "Catatan Sang Mantan Jomblo". Sebenarnya ini kumpulan oretan belajar nulis saya yang selalu saya tulis di status fb. berisi hikmah dan plajaran dari pengamatan dan pngalaman saya. Eh dikumpul2 ternyata jadi tebal juga. Setelah menerima brbagai masukan dan saya coba susun jadi sebuah buku alhamdulilah ada penerbit yang tertarik untuk menrbitkannya.
Sayangnya sampai buku itu terbit saya belum melatih diri saya untuk berbicara di depan. Wal hasil saya belum pernah mengadakan acara launching buku saya. Alasannya sdrhana, saya gak pede maju ke depan apalagi harus presentasi.

Namun, klo sudah memiliki buku yang diterbitkan, penulis memang tidak boleh mengandalkan penerbit untuk promo buku. Bahkan harus proaktif agar orng-orang jadi mngenal buku tsb. Wal hasil saya memcoba mendobrak apa yang selama ini menjadi rasa takut saya, yaitu prsentasi ke depan di depan orang-orang. Memprsentasikan isi buku ini menjadi sebuah keniscayaan yang harus saya hadapi.
Awal saya belajar prsntasi saya hanya mengundang 3 orang sahabat saya yang kepada merekalah saya bisa merasa nyaman dan merasakan dukungan. Selama 2 hari otak saya macet, pikiran saya tegang, dan tenggorokan ini rasanya tercekat akhirnya selama dua hari saya tidak ada progrs dalam membuat bahan presentasi. Baru hari ketiga ketegangan itu mulai hilang, saya mulai bisa berpikir dan mulai ada ide alur materi yang harus saya sampaikan. Saya latih diri saya dengan presentasi ke diri saya sendiri di dpan cermin. Alhamdulillah hari H sy presentasi di depan ktiga sahabat sy tersebut ketegangan sy sudah hilang. Presentasi berjalan lancar.

Hari ini, saya mencoba mensharringkan isi buku saya di unit aksara ITB Salman. bbrp hari sebelumnya hingga saat sebelum presentasi sebenarnya saya tegang. tangan ini terasa dingin. bahkan tadinya khawatir tidak bisa sambil berdiri karena sempat merasa kaki ini lemas. Tapi alhamdulillah prsentasi bisa brjalan lancar. Semua kelancaran selama ini benar2 pertolongan Allah. Rasanya bagi Allah itu mudah memunculkan maupun menghilangkan ketegangan dan kegugupan didiri ini. Namanya harus menguatkan ikhtiar dan do'a itu sangat terasa.

Saya rasa saya harus terus mengasah kemampuan saya untuk prsentasi dengan terus menambah jam terbang. Makanya saya sangat terbuka bila ada komunitas yang ingin saya sharing tentang buku ini atau seputar persiapan pranikah maupun tntang pernikahan. Klo soal sperti apa presentasi saya, saya ga berani banyak berkomentar. Itu mah lebih baik ditanyakan langsung kepada audience yang sempat ikutan bedah buku saya. satu hal yang pasti, apa yg sy sampaikan bukan untuk mengompori menikah melainkan mengajak untuk berpikir relistis, tentang persiapan apa saja terutama dari segi mental dan kedewasaan, bagaimana cara memilih calon yang bisa selaras, tahapan proses menikah, dan berbagai tips menjemput jodoh.

makasih ya.. sahabatku, makasihya.. unit aksara, makasih ya..suamiq

27 November, 2014

Kanker Bukan Akhir Segalanya

Oleh  :  Tri Wahyuni Zuhri

Book Signing " Kanker Bukan Akhir Segalanya"
 Dua di antara banyak kebahagiaan seorang penulis, yaitu saat bisa berfoto bersama buku Karya sendiri di toko buku ^^ . Selain itu bisa menanda tangani buku sendiri untuk para pembaca
Semua ini, tidak langsung saya dapatkan secara instan lho. Sama seperti teman-teman lain, saya terus belajar menulis di sela-sela kesibukan saya sebagai istri, ibu dan juga di tambah bonus sebagai survivor kanker. Heheheh

Akhirnya saya membuktikan sendiri apa yang pernah mba @indari sering bilang. Resep sukses menulis yaitu 3 M, Menulis, Menulis dan Menulis. Dengan terus menulis dengan rutin, walaupun hanya sedikit tiap hari, tulisan kita akan perlahan-lahan semakin cantik. Seperti pepatah bilang "Asa bisa karena biasa".
Oh ya, saya juga mengikuti beberapa kursus penulisan online . Antara lain yang di adakan indscript creative. Walaupun awalnya dilanda masalah inti khas emak-emak yaitu kudu pinter pinter nyisihin uang buat ikut kursus berbayar hehehe.. alhamdulillah, berbagai ilmu sangat bermanfaat juga.

Yuk, kita sama-sama menulis ^-^

26 November, 2014

Liputan Majalah Noor

Liputan Majalah Noor November 2014

Kita perkuat ya KOLABORASI di IIDN
Karena social media memang seharusnya senantiasa merekatkan.

24 November, 2014

IIDN Kuala Lumpur

 Alhamdulillah mengajar blog di IIDN Kuala Lumpur. Kelas blog ini pertama kali diselenggarakan di Jakarta dan akhirnya menghasilkan satu juara di Blog Competitions, selamat mbak @Wiwit (nggak bisa mention). Semoga IIDN KL akan memunculkan juara juga. Amiin

23 November, 2014

Mudah Menyusun SOP

Oleh  :  Arini Tathagati
 
Buku " Mudah Menyusun SOP"

Mendengar kata SOP, bayangan kita mungkin adalah setumpuk dokumen prosedur yang "njelimet" dan biasa digunakan di perusahaan besar. Namun ternyata membuat SOP tidak selalu harus "njelimet". Jika kita memahami prinsip-prinsip pembuatan membuat SOP, kita bisa membuat berbagai jenis SOP sesuai kebutuhan, mulai dari yang sederhana untuk kebutuhan bisnis perorangan atau bisnis rumahan, hingga SOP yang lebih rumit untuk keperluan perusahaan besar.

Buku “Mudah Menyusun SOP” akan membantu Anda memberikan gambaran apa yang disebut SOP, jenis-jenis dokumen apa saja yang bisa dikategorikan sebagai SOP, cara menyusun SOP, serta cara untuk memastikan agar SOP berjalan dengan efektif dan efisien. Untuk informasi lebih lanjut, bisa menghubungi 08159261189 (SMS/WA) atau email tathagati@yahoo.com.

Bahasa Tubuh

Oleh  :  Nurul Khotimah

Berhubung saya terdidik dalam keluarga dengan pola asuh yang jauh dari standar 'benar' (tahu karena merasa dan banyak membaca), akhirnya saya terbentuk menjadi pribadi yang kritis dan idealis, plus pemikir. Begitu, "Katanya."

Bila melihat orang lain yang tidak ada hubungannya dengan saya, kemudian berlaku kasar dan semena-mena terhadap anaknya yang sedang tantrum, hati saya akan merasa miris dan lalu mengurut dada. Kekuatan lidah saya terbatas, karena kapasitasnya sebagai 'siapa?' jika saya ujug-ujug bicara membela sang anak. Gawat pan, kalo dikatai "siape Lo?"

Namun, bila itu terjadi dalam lingkup keluarga, sahabat atau kerabat dekat, maka saya bisa unjuk gigi. Secara spontan saya suka bicara setengah bertanya, "Itu anak, sifat/karakternya mirip siapa ya? Nggak mungkin kan, mirip tetangga?" Walhasil, ortunya bakal memandang saya. Di antara yang pernah kena sasaran, bahasa tubuhnya berlainan. Ada yg matanya mendelik, bibirnya nyengir karena tersindir, atau langsung cemberut dan pundung, bahkan menggerutu. Yah, itu konsekwensi logis yang harus saya terima akibat berbicara. Tapi, setidaknya perhatian mereka dari memarahi anak beralih ke saya toh? ‪#‎KedapKedipKelilipan‬

Apabila saya menyaksikan kedzaliman dilakukan oleh yang namanya saudara, sahabat atau kerabat dekat, biasanya saya tidak bisa diam dengan nyaman. Pasti lidahnya gatel dan akan spontan berbicara. Setelahnya, terserah pribadi yang mempersepsi.
Dalam mempersiapkan diri menjadi isteri dan orang tua esok hari, saya mengetahui dan belajar banyak hal dari ortu sendiri dan pribadi-pribadi setiap keluarga yang saya kenali. Membaca buku-buku parenting dan mengikuti 'Bimbingan Jelang Nikah,' menjadi penunjang saya dalam menabung ILMU.
Dengan ILMU, semoga saya mampu memahami kondisi anak dan bertindak bijak sebagaimana mestinya ORANG TUA.
***
Anak adalah amanah dan anugerah dari Allah Swt., sarana kita mengenali diri. Karena mereka kita disebut dewasa. Dari mereka kita belajar bijaksana, sepanjang masa usia kita.
‪#‎IndahnyaBerbagi‬
‪#‎MenataHatiMembenahiDiri‬
‪#‎MenujuCintaSejati‬
‪#‎ILoveMyLoveInMyLife‬

05 November, 2014

[EYD] Sulam

Oleh :  Anna Farida

Sebuah papan nama membuatku bergeming, "Terima Sulam Alis".
Disulam? Pakai benang? Aku berkhayal alisku jadi zig-zag atau bermotif batik, warna-warni, atau hitam putih ala papan catur.

Hah!

Ternyata, aku yang "kudet".

Dalam KBBI, selain berkaitan dengan bordir, ternyata sulam juga berarti mengganti (tanaman) yang kurang baik dengan yang lebih sehat; mengganti tunas yang kurang subur dengan yang baru.

Nah, mau sulam apa sekarang?

02 August, 2014

WORKSHOP " Menulis Artikel Menembus Media"


Jreng jreng! Ini dia workshop serunya. Hayook mendaftar segera!

31 July, 2014

[Testimoni] Storycake for Amazing Moms

Srie Ningsih
 Apakah Anda merasa menjadi ibu paling sengsara di dunia, karena harus mengurus semua keperluan rumah tangga sendiri? Coba deh baca buku " Storycake for Amazing Moms", dijamin Anda akan merasa belum apa-apa dengan segala kesengsaraan yang dialami.

Banyak ibu-ibuu lain yang jauh lebih berat dalam menguruus rumah tangga, seperti yg dimuat di buku tersebut. Ada 46 kisah seru para ibu hebat yang dapat membuat Anda seakan di cas kembali setelah membacanya. Anda aga percaya? silakan buuktikan sendiri & cari di toko buku terdekat.

27 July, 2014

[Testimoni] Pondok Mertua Indah


Rohyati Sofyan
Buku ini sangat menginspirasi, memandu kita yang menantu bagaimana harus bersikap pada mertua dan lingkungan keluarga suami/istri berikut tetangga sekitar. Juga bermanfaat bagi para mertua karena posisi menantu dan mertua adalah kesejajaran.

Ada banyak masalah krusial yang dihadapi menantu dan mertua (berikut pasangan hidup kita), Pondok Mertua Indah berupaya memaparkan permasalahan tersebut berikut solusinya tanpa kesan menggurui. Nunung Nurlaela telah berhasil membagi sebagian kecil renik kehidupannya hingga bermanfaat dengan buku apik tersebut. Anda layak memilikinya.

Kelak juga, sebagai menantu, kita akan menjadi mertua bagi pasangan anak kita. BTW, entah apakah saya akan bermenantukan Astri teman main Palung, hehe.

26 July, 2014

[Testimoni] Virus Mompreneur

Uning Musthofiyah
"Berani mengambil resiko, berani bersaing sehat, selalu optimis adalah beberapa syarat untuk berbisnis. Buku ini membuka mata kita tentang pentingnya kesiapan mental dalam berbisnis. Tidak heran jika dalam buku ini diungkap pula tips mengembangkan bisnis dan cara menyiapkan mental berbisnis.

Tak lupa pula sekelumit kisah hebat dari para pebisnis wanita yang mampu menginspirasi kita menjadi seorang pejuang “mompreneur..!!”

03 July, 2014

Saya Berhenti BerPendapat

Buku Karya Anggota IIDN Luar Negeri

Bukan hanya masalah politik, dalam berbagai persoalan yang bisa menimbulkan depat kusir, saya memutuskan untuk BERHENTI BERPENDAPAT.

Pendapat saya lebih melihat memiliki unsur subjectivitas yang sangat besar dibandingkan obyektivitas. Karena kerapkali kita berpikir lalu mengatakan atau menulis dari apa yang kita dengar atau baca semata atau hanya karena terlibat obrolan khas tetangga.
Alasan lainnya karena saya memang kurang menyukai debat, meski saat SMA saya pernah diikutsertakan dalam lomba debat di TVRI .

Saya memutuskan untuk mengatakan dan MENULIS dari pengalaman saya saja, meski bisa jadi ini unsur subjectivitasnya tinggi tetapi karena pengalaman sendiri menuliskannya tidak menjadi sebuah BEBAN.
Kalau ada yang bertanya, "teh, buku apa yang sedang teteh tulis?" Saya akan menjawab, "buku bisnis sebab saya adalah pebisnis, yang saya tulis apa yang saya alami bukan teori."


Menuliskan pengalaman jauh lebih mudah dibandingkan menuliskan dari apa yang kita baca atau dengar semata. Maka benar dalam sebuah penulisan buku, meski GOOGLE itu penting, tapi tidak semua yang kita baca disana benar adanya. 


Selamat menulis dan tetaplah produktif!
Berolahraga sambil menyetatus
50 menit perhari
Kembali menDETOX Pikiran

Kelas Tips Menulis Traveling #18 : Menulis dan Mendokumentasikan Wisata Religi

Oleh : Arini Tathagati

Selamat pagi Ibu-Ibu, hari ini kita bertemu lagi di kelas Tips Menulis Traveling di awal bulan Juli, bertepatan dengan bulan Ramadhan. Khusus malam ini, kelas nanti akan kita mulai pukul 20.30 WIB dan diakhiri pukul 22.00 WIB, memberikan kesempatan bagi mereka yang akan menunaikan ibadah shalat tarawih. Namun bagi siapa yang sudah memiliki pertanyaan atau hal yang akan didiskusikan, silakan menuliskannya di komentar, nanti malam akan kita bahas bersama.

Bertepatan dengan bulan Ramadhan, kali ini kita kembali mengangkat tema wisata religi pada diskusi kita hari ini. Bagi umat muslim, wisata religi dapat dilakukan bertepatan dengan saat berpuasa, atau pada saat libur hari raya, di mana kita berkesempatan untuk mudik dan berkunjung ke obyek wisata religi di sekitar kampung halaman kita.

Apa saja yang termasuk dengan obyek wisata religi? Di antaranya termasuk rumah ibadah, ziarah makam, perayaan-perayaan atau tradisi setempat yang unik. Di Indonesia, banyak mesjid dengan arsitektur menarik yang dapat dikunjungi, seperti Masjid Demak, masjid kuno dengan arsitektur yang dipengaruhi arsitektur khas Jawa, atau Masjid Agung Jawa Tengah, masjid baru yang modern dan dilengkapi payung besar yang bisa dibuka tutup secara elektronik. Ziarah makam biasanya dilakukan ke makam para wali atau kyai, misalnya ziarah makam Wali Songo. Sedangkan contoh tradisi unik adalah tradisi Petang Balimau di Sumatra Barat, di mana menjelang memasuki bulan Ramadhan, warga mandi di sungai dengan menggunakan limau untuk membersihkan diri. Atau tradisi Tumbilotohe di Gorontalo, di mana pada 3 malam terakhir di bulan Ramadhan warga memasang lampu untuk menyambut hari raya Idul Fitri.

Meliput, memotret, dan membuat tulisan wisata religi ini susah-susah gampang, karena topik yang satu ini terkadang menyerempet unsur SARA. Di satu sisi, banyak obyek menarik untuk ditulis dan diabadikan, namun di sisi lain, terdapat berbagai etika yang harus dipenuhi. Tidak hanya pada saat Anda berkunjung dan meliput, tetapi juga pada saat Anda menulis, agar tulisan dan foto Anda bisa diterima oleh pembaca dengan baik.

Mulai dari saat berkunjung ke destinasi wisata religi. Hal pertama yang harus diingat betul adalah hormatilah tempat tersebut. Pada umumnya, orang berkunjung ke tempat tersebut untuk beribadah, sehingga hargai mereka yang sedang beribadah di tempat tersebut.Kenakan pakaian yang sopan, jangan kenakan celana pendek atau baju tanpa lengan. Sebelum mulai memotret di destinasi wisata religi, lakukan pengamatan terlebih dahulu, untuk memastikan tidak ada larangan untuk memotret. Apabila ragu, tanyakan pada petugas setempat (bisa pengurus rumah ibadah atau petugas sekuriti) apakah ada larangan memotret.

Apabila Anda diperkenankan memotret, masih ada hal-hal lalin yang perlu diperhatikan. Hindari memotret dengan lampu kilat, karena bisa mengganggu mereka yang beribadah. Apabila Anda bermaksud memotret orang yang tengah beribadah, memotretlah dari jarak jauh (menggunakan zoom/lensa tele) agar tidak mengganggu kekhusukan. Perhatikan juga aturan-aturan khusus, misalnya Anda tidak diperkenankan memotret obyek tertentu (contohnya adalah di beberapa situs ibadah umat Buddha di Cina, tidak diperkenankan untuk memotret patung Buddha). Usahakan jangan memotret sambil membelakangi altar atau mimbar, dan jangan sekali-kali melintas di depan orang yang sedang beribadah.

Seperti halnya artikel traveling pada umumnya, walaupun topik wisata religi tentunya berkaitan erat dengan sebuah agama, artikel wisata religi sedapat mungkin tidak menyinggung isu SARA. Contoh isu SARA adalah stereotip sebuah suku bangsa, agama, atau kepercayaan. Anda bisa memfokuskan tulisan dengan meliput dari sudut pandang lain, seperti pariwisata, sejarah bangunan atau tradisi, keunikan arsitektur, atau sisi tradisi dan budaya setempat. Namun demikian, seringkali kita tidak bisa menghindari pembahasan yang menyerempet mengenai filosofi kepercayaan atau sebuah ritual, misalnya karena kita harus menjelaskan sejarah berdirinya sebuah bangunan, atau makna simbol yang terdapat dalam bangunan tersebut. Untuk itu, lakukan riset yang sangat mendalam, untuk memastikan tidak ada kesalahan pemahaman saat menuangkannya dalam tulisan.

Bagaimana dengan Ibu-Ibu yang lain? Apakah bulan Ramadhan atau libur Idul Fitri ini sudah ada rencana melakukan wisata religi? Manakah tujuan wisata religi favorit atau yang ingin dikunjungi?Mari berdiskusi dan berbagi!

21 June, 2014

MEMBANGUN SEMANGAT MENULIS PASCA KETERPURUKAN

Oleh: Sri Rahayu

Pernahkah anda mengalami kegagalan atau terpuruk?  Mungkin ya mungkin tidak.  Tapi pastinya tak satupun dari kita berharap mengalaminya.  Namun siapa yang tahu rahasia takdir dan gelap terangnya kehidupan kita.  Sebagai manusia kita hanya berharap dan berikhtiar tuk memiliki hidup terbaik.
Menulis bagi sebagian orang masih dipengaruhi oleh yang namanya "Mood".  Saat mood sedang jelek kita acap sulit untuk konsentrasi.  Inilah yang sering membuat kita lemah dan kehilangan gairah.  Ujian dan cobaan, tertolaknya berbagai ajuan outline acap membuat kita menjadi hilang semangat, walau sebenarnya ujian dan penolakan seharusnya membuat kita semakin tangguh, sayangnya kita sering lupa akan hal itu.

Saya angkat tema ini karena saya melihat banyak di antara kita termasuk saya pernah mengalami apa itu terpuruk.  Merasa hidup begitu hancur karena bisnis yang bangkrut, perceraian, perselisihan yang akhirnya membuat kita malas, atau karena hal lain.  Saat saat terpuruk kita selalu tergoda untuk meratapi nasib dan menyendiri, menjauhi lingkungan kita dan bahkan enggan melakukan aktivitas apapun.  Salah satunya saat seorang wanita mendapati pasangannya berkhianat.  Seluruh pikiran seolah terfokus pada masalah itu dan itulah titik lemah yang membuat kita akhirnya enggan menulis dan enggan beraktivitas. 

Kemudian saat kita menyadari waktu yang telah kita sia siakan dengan meratapi nasib, mungkin saat itu kita seolah lupa bagaimana caranya menulis lagi, bagaimana caranya mengolah rasa agar kalimat menjadi bermakna, enak dibaca dan indah.  Kita kembali menjadi orang gagap, kembali memulainya dari nol dan kadang ragu bahwa kita mampu tuk mengggapainya lagi.

Kisah teh Indari Mastuti dalam buku Puzzle Mimpi dapat menjadi salah satu penyemangat kita.
Kisah jatuh bangunnya seorang pengusaha yang sukses dapat kita jadikan pelajaran, bahwa hidup tak boleh berhenti selama nafas masih berhembus.

Saat saya tenggelam dalam keterpurukan yang menurut saya terberat dalam hidup, saya memilih menyendiri, menghentikan hampir sebagian besar aktivitas menulis dan fokus pada usaha untuk berjuang memperbaiki hidup.  mencari solusi terbaik.  saya hampir melupakan bahwa menulis itu tidak 100 % karena bakat, tapi karena latihan.  sama seperti bahasa Inggris, saat kita jarang menggunakannya lidah kita terasa kelu tuk melafadzkannya, kaku saat berbicara dan miskin perbendaharaan kata.  Begitupun saat itu.  Saya bingung bagaimana memulai kembali, saya seolah gagap.  Saya mengumpulkan kembali serpihan semangat yang terserak.  Mengintip beberapa tulisan para sahabat yang mulai terbit dan gentayangan di beranda.  Saya membaca status-status yang berisi motivasi dan bertanya tujuan hidup saya..tujuan saya menulis.

"Akhirnya saya temukan jawabnya, setelah saya mengintip saldo rekening saya yang mulai kosong dan dompet saya yang kian tipis."

Berbicara dengan rekan yang bisa memotivasi adalah hal positif yang  bisa kita lakukan dan alhamdulillah di group ini saya menemukan banyak sahabat yang baik yang menebarkan semangat dan pikiran positif hingga saya kembali bangkit.

Kelas Tips Menulis Traveling #17 : Open Trip

Oleh: Arini T.

Topik ini mungkin OOT karena tidak terkait langsung dengan kegiatan tulis-menulis, namun Open Trip merupakan salah satu solusi jika kita mencari topik tulisan traveling dengan biaya hemat. Bagi Ibu-Ibu yang memiliki bisnis agen perjalanan, Open Trip juga merupakan peluang bisnis untuk meningkatkan pendapatan.

Saat ini Open Trip sudah marak di dunia perjalanan. Pada dasarnya, Open Trip sama seperti paket-paket perjalanan yang dijual oleh agen perjalanan. Namun Open Trip lebih identik dengan paket perjalanan ala backpacker. Ciri dari paket perjalanan yang disebut Open Trip adalah destinasi wisata yang ditawarkan biasanya bukan merupakan destinasi yang umum dalam industri pariwisata besar, serta fasilitas yang ditawarkan biasanya memiliki standar di bawah fasilitas wisata yang ditawarkan agen perjalanan (misalnya transportasi menggunakan kereta api ekonomi, serta penginapan menggunakan youth hostel). Promosi Open Trip juga biasanya dilakukan melalui media sosial, seperti Facebook atau Twitter. Sebagai konsekuensinya, harga yang ditawarkan oleh Open Trip jauh lebih murah dibandingkan paket perjalanan yang ditawarkan agen perjalanan pada umumnya. Selain Open Trip, terdapat pula Closed Trip, di mana peserta yang mengikuti paket perjalanan Open Trip berasal dari rombongan yang sama, tidak ada peserta lain di luar rombongan tersebut.

Bagi penggemar perjalanan, Open Trip merupakan solusi untuk berwisata dengan biaya lebih hemat/ekonomis. Selain hemat dalam sisi biaya, destinasi wisata yang unik (dan biasanya bukan destinasi wisata yan "mainstream") menawarkan pengalaman yang berbeda. Namun perlu berhati-hati memilih penyelenggara Open Trip, agar perjalanan wisata Anda aman, nyaman, dan cost effective. Pilihlah penyelenggara Open Trip yang terpercaya dan berpengalaman. Tanyakan secara detail itinerary, obyek yang akan dikunjungi, dan kondisi fasilitas yang akan digunakan. Bila perlu, carilah testimoni dari mereka yang pernah menggunakan jasa penyelenggaranya. Penyelenggara Open Trip yang terpercaya biasanya juga memiliki passion dalam melakukan perjalanan, bukan sekadar mencari keuntungan dari biaya operasional trip yang murah meriah. Mereka juga terbuka dengan pertanyaan dari calon peserta mengenai fasilitas-fasilitas yang akan digunakan.

Bagi yang ingin mencoba menjalankan bisnis Open Trip, hal pertama yang harus diingat adalah perjalanan harus direncanakan dengan baik. Itinerary harus dibuat dengan rapi, jelas, serta memperhitungkan jadwal-jadwal transportasi dan obyek wisata. Pilih transportasi dan akomodasi yang handal dan nyaman, agar perjalanan berjalan lancar. Tunjuk pemandu perjalanan yang handal, untuk memastikan perjalanan berjalan lancar. Dari itinerary dan pilihan akomodasi, kemudian perhitungkan biayanya. Peserta Open Trip biasanya tidak mengharapkan fasilitas yang mahal, namun tetap harus aman dan nyaman. Berbeda dengan paket perjalanan yang merupakan bagian dari industri pariwisata yang standar, bisnis Open Trip sangat bergantung pada kepercayaan dan kehandalan penyelenggara.

Contoh Open Trip yang pernah saya ikuti adalah one-day trip ke Banten. Rencana perjalanan dan perhitungan biayanya adalah sbb:- Jumlah peserta minimum: 10 orang, maksimum 14 orang (sesuai kapasitas mobil Elf yang digunakan)- Biaya sewa Elf 15 jam : Rp 1.500.000,- untuk 1 hari perjalanan, sudah termasuk driver dan BBM- Biaya parkir, tol, tip driver : Rp 150.000,-- Tiket masuk obyek wisata : Rp 5.000 x 11 orang (termasuk pemandu, berdasarkan jumlah peserta minimum)- Konsumsi 2x makan (snack pagi dan makan siang) : Rp 40.000 x 12 orang (termasuk pemandu dan driver, berdasarkan jumlah peserta minimum)- Honor pemandu perjalanan: Rp 150.000 per hari

Total Biaya : Rp 1.500.000 + Rp 150.000,- + Rp 55.000 + Rp 480.000 + Rp 150.000 = Rp 2.335.000, dibagi 10 peserta: Rp 233.500 per peserta.

17 June, 2014

Ide Mentok

Mau ngomongin kalau Ide MENTOK gimana niiih? Pertanyaan yang saya lihat ditulis di komen mendadak tanya beberapa hari lalu.

Kabar baiknya, itu si mentok bukan hanya milik penulis pemula, penulis dengan jam terbang tinggi mengalami hal yang sama juga loh...saya juga sama xoxoxo
So, apa yang saya lakukan kalau si mentok lewat?


1. Saya minta temen saya baca naskah. Jurus ini cukup jitu, karena tuh temen paling seneng kalau kasih kritik dan masukan. Tokcer dah kalau pakai jurus ini.
2. Mentok bisa jadi karena wawasan kita tentang tema tersebut kurang. Jadi, saya juga akhirnya ya musti baca lagi dooong. Maka, saya menetapkan target nulis satu buku baca sepuluh buku tema sejenis, kalau bisa lebiiiih banyak


3. Endapkan dulu daripada maksain nulis dan hasilnya bikin ilfil xixixi. Endapkan bukan berarti melupakan, bisa juga saat mengendapkan shilaturahmi dan ngobrolin naskah yang sedang ditulis, daaan wuuuuuus ide langsung nyebrot.
4. Nulis tema yang berbeda sebagai selingan. Nah, bagian ini paling saya suka, karena emang sih naskah yang itu mentok tapi naskah baru selesai dan siap kirim, ihiiiy...tulisan nambah terus.
Dan banyak lagi cara, setiap orang berbeda cara. Lalu, apa ide Anda?

‪#‎buku‬ ini siap dipesan di basecamp IIDN

06 May, 2014

EYD Hari ini



Oleh Anna Farida

Pak Lurah sedang berpidato dengan penuh semangat.
+: "Mari kita sukseskan pembangunan kandang ayam, di mana ayam akan menjadi kunci sukses kita!"
-: Ayamnya hilang, Pak? Kok tanya di mana.
+: Ndak ada yang ilang! Kamu ngelindur, ya? Sudah! Dengarkan pidato saya!
"Ayam akan kita optimalkan, di mana telurnya dijual, dagingnya jadi sate!"
-: Nah, sekarang telurnya yang hilang, Pak? Kok tanya di mana, lagi.
+: Maksud kamu apa, sih?!
-: "Di mana" itu kata tanya untuk menanyakan tempat. Jangan dipakai sembarangan dalam kalimat. Mengapa, sih, harus maksa pakai "di mana"?
Pak Lurah bingung, ayam-ayam di kandang berkotek minta makan. Semoga ibu-ibu di sini lebih cerdas dari Pak Lurah:-D 

Kelas Tips Menulis Traveling #16 : Mari Menulis Wisata Kuliner

Hari ini kita akan mengulas wisata Kuliner. Inilah salah satu bentuk wisata yang sangat digemari, karena topiknya tentang makanan. :)

Ulasan tentang wisata kuliner memiliki lingkup yang luas, dan banyak media yang memuatnya. Lingkupnya luas, karena bisa meliputi makanan kaki lima hingga bintang lima. Demikian juga media yang menerima artikel wisata kuliner sangat luas, mulai dari media untuk backpacker hingga majalah-majalah lifestyle.

Anda bisa mengulas makanan dari sisi sejarah, cara pembuatan, tampilan visual, rasa, dan tradisi di balik kuliner tersebut. Khususnya untuk rasa, Anda harus bisa mendeskripsikan bagaimana cita rasa sebuah makanan, sehingga setelah membaca deskripsi rasa makanan tersebut pembaca bisa seolah-olah turut merasakan makanan tersebut. Namun jangan menceritakan aspek negatif dari makanan tersebut, sehingga jika menurut Anda makanannya tidak enak, jangan diulas dalam artikel Anda.

Oleh Arini Tathagati

Faktor yang sangat mendukung dalam membuat artikel wisata kuliner adalah foto makanan. Salah satu tantangan dalam membuat foto makanan adalah membuat makanan tersebut terlihat menggiurkan. Anda tidak selalu memiliki kesempatan yang bebas dalam mengatur tata letak makanan, sehingga Anda harus siap memotret makanan dalam kondisi apa pun. Usahakan untuk menggunakan cahaya dari sinar matahari agar makanan terlihat alami. Jika Anda berada di dalam ruangan, usahakan memilih tempat dekat jendela, agar pencahayaan pada makanan bisa menggunakan cahaya matahari yang masuk melalui jendela. Jika Anda berada pada ruangan yang tidak memiliki jendela, atur white balance kamera agar sesuai dengan cahaya yang ada di dalam ruangan.

Tantangan lainnya adalah membuat foto makanan dengan komposisi atau sudut pandang yang menarik. Anda bisa memanfaatkan fitur makro untuk memotret detail makanan secara close-up. Cara lain yang bisa dilakukan adalah mengatur fokus pada salah satu elemen makanan, dan elemen lainnya dibuat buram.

Kelas Tips Menulis Traveling #15 : Travel Memoar

Oleh Arini Tathagati

Berdasarkan definisi dalam KBBI, memoar adalah kenang-kenangan sejarah atau catatan peristiwa masa lampau. Pada dasarnya, memoar serupa dengan otobiografi, yaitu sebuah karya non fiksi yang ditulis untuk menceritakan kisah hidup seseorang, dan ditulis oleh yang bersangkutan. Namun jika otobiografi merupakan tulisan yang memuat sebagian besar atau seluruh kisah hidup penulis, memoar hanya menceritakan tentang satu peristiwa atau situasi tertentu, misalnya kisah seorang tokoh ketika beliau memegang jabatan tertentu. Ibaratnya, memoar adalah semacam novel, namun sifatnya non-fiksi.

Topik traveling/perjalanan juga merupakan topik yang bisa dibuat dalam bentuk memoar. Karena bentuknya berupa memoar, penulis bisa berkreasi dalam penulisan dan penggunaan gaya bahasa, tidak terikat bentuk seperti feature/tulisan jurnalistik atau travel guide. Saat ini beberapa penulis traveling Indonesia sudah banyak yang menuliskan buku dengan genre travel memoar, salah satunya adalah Agustinus Wibowo, yang menuliskan travel memoar ketika ia berkelana ke wilayah Asia Timur. Buku travel memoarnya antara lain adalah Selimut Debu, Garis Batas, dan Titik Nol. Penulis Indonesia lainnya yang juga membuat travel memoar adalah Gol A Gong, dengan bukunya Perjalanan Asia dan The Journey: From Jakarta to Nepal. 

Btw, teman-teman kita di IIDN juga ada yang sudah membuat travel memoar lho! Sebut saja mbak Jihan Davincka dengan Memoar of Jeddah, dan mbak Astri Novia dengan Lucky Backpacker.

Bagaimana dengan Ibu-Ibu sekalian? Sudah terbayang apa yang disebut travel memoar? Pernahkah membaca atau bahkan menulis travel memoar? 

Kelas Tips Menulis Traveling #14 : Apa Yang Tidak Boleh Ditulis di Artikel Traveling

Oleh Arini T

Jika minggu-minggu sebelumnya kita banyak membahas mengenai hal-hal yang perlu ditulis di artikel traveling, kali ini topik kita adalah apa yang TIDAK BOLEH ditulis di artikel traveling.

Apa saja sih yang tidak boleh ditulis dalam sebuah artikel traveling? Pada dasarnya sama seperti artikel lain, artikel traveling (baik travel feature maupun travel guide) harus terstruktur dan nyaman untuk dibaca. Gunakan bahasa sehari-hari yang mudah dipahami pembaca, namun juga tetap memperhatikan EYD dan kaidah bahasa Indonesia yang baik dan benar. Artikel traveling memang menyampaikan mengenai detail perjalanan atau tempat wisata atau obyek menarik di sebuah tempat, namun pilihlah detail yang menarik bagi pembaca, tidak perlu seluruh detail dituangkan dalam artikel.

Rule of thumb dari sebuah artikel traveling adalah jangan menuliskan aspek negatif dari obyek wisata. Contoh dari aspek negatif ini adalah pengalaman buruk yang Anda alami, misalnya makanan yang tidak enak, transportasi yang tidak nyaman, atau layanan petugas akomodasi yang buruk. Bisa jadi itu hanya moment-of-truth yang Anda alami, dan tidak dialami oleh wisatawan lain. 

Hindari juga menceritakan momen-momen yang sangat pribadi bagi Anda, misalnya saat Anda kehujanan, atau ketinggalan pesawat, karena belum tentu pembaca tertarik untuk membaca tentang hal tersebut. Perkecualian adalah jika momen tersebut terkait dengan kisah yang sedang Anda ulas dalam artikel traveling. Misalnya gara-gara ketinggalan pesawat, Anda jadi punya kesempatan melihat satu obyek menarik yang pantas untuk diceritakan.

Hindari pula membuat tulisan yang menyerempet masalah politik, militer, dan SARA. Anda mungkin ingin menuliskan perjalanan ke sebuah monumen militer (misalnya Monumen Kapal Selam di Surabaya) atau sebuah rumah ibadah. Anda bisa mengulasnya dari sisi lain, misalnya dari sisi sejarah, arsitektur, atau dari sisi pariwisatanya.

Hindari juga terlalu banyak menggunakan klise. Klise adalah ungkapan yang terlalu sering dipakai atau terlalu umum dan telah diketahui oleh semua orang, misalnya "matahari yang terbit dari timur". Klise akan membuat tulisan Anda menjadi membosankan, dan bisa jadi pembaca akan meninggalkan tulisan Anda.

Kelas Penerbitan - Ajukan Ide Anda dengan Gaya yang Berbeda

Oleh Indari Mastuti

Haiii, tiba-tiba dalam perjalanan menuju Jakarta saya terpikir satu jenis buku yang berbeda! Kenapa buku harus berbeda? Sebab Anda bisa lihat ada ribuan buku di toko buku yang harus bersaing mendapatkan pembaca. Maka, kalau bukunya biasa-biasa saja, baik dalam tampilan cover, judul, atau isinya, pasti nggak laku! Aduuuh jadi kasihan ama penulis yang sudah capek menuliskannya dan penerbit yang sudah investasi menerbitkannya.
Maka, untuk jadi penulis saat ini dibutuhkan KREATIVITAS yang pastinya lebih maknyooos. Kemarin saya jalan ke toko buku, di kasir ada buku dengan foto depannya Sherina. "Loh kok ringan banget bukunya?" Tanya saya. "Itu bukan buku, isi dalamnya kaset." Ujar kasir. Kreatif!
Lalu, saya pergi ke wilayah buku pelajaran. Dan, menemukan kamus yang dibuat jadi poket book. Laris booo! Ini juga kreatif!
Lalu, tadi malam saya diskusi di WA dengan sejumlah penulis yang ingin mengajukan outline antologi, "antologi sudah buanyaaak, saya cari antologi yang beda!" Ujar saya. Kami melanjutkan diskusi beda itu bagaimana...
Daaan....saatnya Anda juga mengajukan ide Anda dengan berbeda! Kalau BEDA Anda GAYA!

18 April, 2014

Video IC, SP dan IIDN

http://www.youtube.com/watch?v=42T3d_SE0wg (Komunitas Ibu-ibu Doyan Nulis)
http://www.youtube.com/watch?v=6FJAZs2gst4 (Komunitas Ibu-ibu Doyan Nulis)

13 April, 2014

Testimoni KMO Artikel

Ike Nereng ~ " Meskipun jarak memisahkan, tetapi waktu dan hari tidak memisahkan. Di mana saja banyak orang-orang yang baik mau membagikan ilmunya. Terima kasih dengan adanya KMO Menulis Artikel membuatku bisa bertemu dengan orang-orang tersebut. Kelas yang menarik sangat padat ilmu dan kegiatannya sehingga tidak terasa 1 bulan berlalu, tetapi tetap merasa tidak ingin pergi dari kelas, guru-guru, teman2 di sini. Berharap ada KMO "Menulis Artikel" II ya. Semoga guru2 dan assistant2nya mendapat berkat yang melimpah atas ilmu dan kebaikan yang telah dibagikan Amin. Love Ike Nereng, Hanover, Jerman. 8 April at 18:32
Lia Heliana " Mbak Ike Nereng aduuuh jadi kangen, saat jarak dan waktu bisa bersatu dalam ikatan komunitas ini, rasanya sayang Kalau berpisah 8 April at 19:03

Rayni Intansari ~ " Tidak disangka ternyata menulis artikel itu bisa sangat menyenangkan. Apa saja bisa dijadikan sumber tulisan. Mentor-mentornya pun sangat penyabar dan selalu mendukung kita semua. Tidak lupa teman-teman seperguruan, sesibuk apapun tetap berusaha menulis dan saling mendukung. Jangan lupa, undang-undang kami kembali utk buku-buku selanjutnya, jika memungkinkan. *cling - Rayni Intansari, Jakarta 8 April at 19:07

Cindy Elfira Boom ~ " Lama sudah saya hanya sekedar mengintip dan mengagumi kegiatan IIDN. Mengikuti KMO artikel menjadi pengalaman pertama sekaligus membuka mata saya terhadap dunia menulis yg sangat mengasyikkan. Metode pengajaran,pendampingan "ketat", belajar dari semangat menulis para guru serta suntikan motivasi dari para mentor di kelas ini, benar-benar luar biasa. Salut untuk para mentor yang serius dan sangat menghargai setiap karya kami, sampai mau diterbitkan jadi buku. Ini yang benar2 jadi penyemangat. Terima kasih untuk semua ilmunya ya...Teh Iin, Mba' Dian Akbas, Mba' Devy, Mba' Lia .. Barakallah, Semoga Allah berikan berkah berlipat dan kesehatan sehingga semakin banyak bisa beramal dan bermanfaat, aamiin. Terima kasih dan salam sayang untuk teman2 seperjuangan, semangat terus untuk menulis, dan setuju dengan mba Ike, grupnya jangan bubar, malah lanjut dengan KMO artikel II/ lanjutan... #berharaptingkat dewa# 8 April at 19:52

Istiqomah ~ " Meski hanya melalui dunia maya kita semua berjumpa, namun tak ingin rasanya kebersamaan dg grup KMO ini cepat berlalu. Satu bulan ini rasanya terlalu singkat bagiku. Meski isti sering telat kerjakan tugas, tp isti seneng bgt karena bisa belajar banyak disini.. dengan bu guru2 yg sabar dan tentunya penuh semangat serta teman2 juga yang tak pantang menyerah untuk menghasilkan karya dalam kesibukan yg melanda. Banyak pelajaran berharga dari sini... meski isti msh sering terkendala dg kebiasaan untuk menunda2 waktu untuk menulis, untuk lbh disiplin lagi dan memanage waktu yg benar agar terus bisa belajar
keberhasilan bukan diukur dari seberapa pandai dalam menulis, tp akan nampak dr kesungguhan belajar, dan disiplin waktu untuk terus menulis dan menulis setiap hari...
terimakasih bu guru dan teman2 semua yg selalu penuh semangat... :')
#isti_pandaan_pasuruan_jatim 8 April at 20:10

Nunuk Cita Fitriah ~ " Meskipun tertatih-tatih menjalankan tugas dari ibu guru yang baik, saya dapat banyak ilmu dan pengalaman. Menulis artikel, adalah pengalaman baru bagi saya. Meskipun masih banyak cacat pada tulisan yang saya buat, saya berharap bisa menjadi lebih baik di kemudian hari. Dengan selalu mengingat nasehat ibu guru Indari : 3M (menulis...menulis...menulis). Juga tidak boleh cepat puas, menulis dari nol...itu juga nasehatnya. # nunukcita_mojokerto 8 April at 20:47

Cindy Elfira Boom ~ " Maaf kelupaan, #Cindy- Jakarta# 8 April at 20:49

Kholifah Hariyani ~ " Saya belum yakin dengan apa yang sebenarnya ingin saya tulis, yang saya inginkan adalah tulisan saya bisa memberi manfaat bagi orang lain, dan ternyata tidak mudah. Dari beberapa KMO yang ada di IIDN, saya bingung mau pilih yang mana, karena saya belum pernah menulis apa pun sebelumnya. Namun, begitu saya lihat ada KMO Artikel, entah kenapa saya langsung tertarik. Tugas yang diberikan bu Indari luar biasa bagi saya. Kadang-kadang saya bingung sendiri, karena tidak yakin kalau saya bisa menyelesaikan tugas-tugas itu. Akhirnya harus saya akui, semangat yang diberikan bu Indari, bu Dian, mbak Lia, mbak Devy dan teman-teman KMO melebihi kemampuan saya sendiri dalam menulis. Sehebat apa pun saya, tanpa semangat itu, saya tidak akan menghasilkan apa-apa. Saya senang sekali mendapat kesempatan mengikuti KMO Artikel ini. Terima kasih bu Indari, untuk ilmu dan semangat yang telah diberikan pada saya. (kholifah_KTP Malang_domisili sementara Tangsel_sekarang lagi pulkam ke Situbondo) 8 April at 21:34
Mutiah Ohorella ~ " Sesuatu yang diberi dari hati,akan sampai ke hati. Jika dari mulut hanya sampai di telinga. Menerima Ilmu dan suport dari Guru yang ikhlas seperti Guru IIDN memang beda... melekat terus! Kemampuan menulis memang ada, tapi "Kepercayaan diri",dari sini saya dapat. Trimakasih para Guru...

Manikarori Rosky~ " Dulu saya ingin sekali bisa menulis artikel dan mengenal penerbit buku. Sejak mengenal IIDN saya dapatkan semua informasi yang diinginkan.Alhamdulillah berkat Allah SWT melalui FB saya bisa menambah ilmu dan saudara2 tanpa kenal batas daerahnya... Menggunakan kecanggihan teknologi utk hal2 positip adalah Luarr Biasa...Manikarori- Kuala Lumpur, Malaysia Yesterday at 06:42 · Like · 3 Nur Hayati walaupun belum mengenal secara fisik,saya kagum akan semangat berbagi para guru dan pengurus IIDN, tidak ragu berbagi ilmu, betul2 ilmu yang manfaat.....kadang saya masih ragu bisakah saya menulis artikel? tapi kuncinya yah terus menulis. Walau masih berjuang mengusir penyakit malas,tapi dengan adanya DL, semua pasti bisa! hihi.......bolehkah grup ini tidak dibubarkan? barangkali jika ada kesempatan bisa bertemu? menambah teman silaturahmi dan menambah ilmu....semoga. Terimakasih yaaaah . salam hormat untuk bu guruIndari Mastuti, salam sayang untuk teh Lia Heliana dan teh Devy Aulina.....# Nur Hayati Jakarta Yesterday at 11:01

Vera Barlianti ~ "Kelas menulis artikel menyenangkan dan bermanfaat untuk saya. Selain ilmu dan wawasan yang bertambah, saya juga mulai memperbaiki manajemen waktu saya supaya lebih bermakna. Bravo kepada mentor dan moderator, Teh Indari Mastuti, Mba Dian Akbas, Teh Lia Heliana, dan Mba Devy Nadya Aulina. -Vera, perbatasan Tangsel-Bogor 22 hours ago

Devy Nadya Aulina ~ Alhwmdulillah... walaupun sebagai PJ KMO saya merasa belum maksimal mengawal. Karena beberapa KMO saya tangani dalam waktu yang bersamaan. Saya senang, melihat peserta yang begitu antusias mengikuti dan mengerjakan tugss yang diberikan mentor. Ditengah kesibukan sebagai ibu rumah tangga, juga ada yang berkarier di luar rumah, peserta menyempatkan waktu untuk belajar. Sesuatu yang luar biasa. Semoga setelah KMO ini selesai, makin banyak bermunculan penulis dari IIDN. Tetap semangat dengan 3M. Peluk sayang-Devy Nadya Aulina-Kota Angin di Jawa Timur .

'Dini' Dian Handayani ~ " Menulis, menulis, menulis. Mengikuti KMO Menulis Artikel melatih saya menulis topik di luar zona nyaman, manajemen waktu, dan melatih mental mengajukan permohonan wawancara dengan orang yang belum saya kenal secara pribadi. Serasa menjadi jurnalis beneran! Tentu masih banyak yang perlu dipelajari namun kelas ini telah memberikan umpan yang sangat baik untuk mengawalinya. Setelahnya tergantung pada tekad dan kerja keras kita mau dibawa kemana ilmu yang telah diperoleh ini @Dini_Tangerang.

Nina Rahmawaty ~ " terimakasih ya buat bu guru indari, the lia the devi yg sudah menyebarkan semangat u berkarya lewat tulisan semoga Allah membalas kerja keras bu guru n teman2 u memajukan ibu2 diindonesia ini dg pahala yg berlipat2, karna sebaik2nya ilmu adalah yg diam.

Mutiah Ohorella ~ " Oh ya... domisili saya: BOGOR. Terimaksih Bu Guru dan Ketua Kelas atas keihlasannya,semoga dibalas dengan kemuliaan. Terimakasih teman-teman yang baik atas keceriaannya. Hik

Tri Setia Dermawati ~ "Alhamdulillah .... meski gak aktif di kelas KMO Menulis Artikel, saya dapat ilmu banyak Guru Indari, Teh Lia dan Teh Devy. Mudah-mudahan kalau saya ikut lagi gak bosen yaaa...... O, ya ... domisili saya di Nganjuk, sama dengan Teh Devy cuma sekarang saya jarang ketemu karena anak-anak sudah nggak ngaji di masjid.

31 March, 2014

Kelas Tips Menulis Traveling #13 : Mari Membuat Artikel Round Up

Oleh: Arini T

Round up secara harfiah berarti mengumpulkan. Yang disebut artikel round up adalah menggabungkan beberapa artikel perjalanan dengan topik sejenis dalam satu artikel besar. Artikel round up biasanya dibuat sebagai salah satu cara untuk "mendaur ulang" artikel yang pernah kita tulis sebelumnya.

Contoh artikel round up adalah mengenai benteng-benteng di Nusantara. Artikel ini akan berisi keterangan singkat tentang benteng-benteng yang ada di Nusantara, seperti benteng Marlborough, benteng Surosowan, benteng Vredeburg, benteng Vastenburg, benteng Van der Wijk. dan benteng Rotterdam. Penulisannya bisa berbentuk travel feature atau travel guide, bergantung pada kebutuhan. Jika berbentuk travel feature, keterangan singkat masing-masing benteng yang diliput bisa menjelaskan mengenai sejarahnya, bentuk arsitekturnya, dan lain sebagainya. Sedangkan jika berbentuk travel guide, keterangan singkat lebih ditekankan pada lokasi dan cara mencapai benteng tersebut.

Artikel round up juga bisa berupa kumpulan tempat-tempat wisata terbaik ("the best") di suatu destinasi. Sebagai contoh, saat kita menulis tentang wisata di Pulau Lombok, kita bisa membuat artikel round up berisi keterangan singkat mengenai tempat-tempat wisata terbaik di Lombok.

Contoh artikel round up yang pernah saya buat dapat dilihat di sini:

Bagaimana dengan Ibu-Ibu yang lain? Barangkali ada yang pernah membuat artikel round up tentang wisata di dekat domisili Ibu-Ibu? Mari berdiskusi dan berbagi!

Kelas Tips Menulis Traveling #12 : Tips dan Trik Menulis Travel Guide

Travel guide biasanya dalam bentuk artikel atau guidebook, merupakan panduan perjalanan yang menyediakan berbagai informasi mengenai tujuan wisata, termasuk rincian lokasi, alamat, nomor telepon, harga, ulasan akomodasi terdekat, ulasan tempat makan terdekat, aktivitas dan point of interest di suatu tempat, serta cara mencapai ke sana. Travel guide bisa dianggap sebagai bentuk tertulis dari pemandu perjalanan.

Travel guide bisa juga dibuat untuk sasaran pasar tertentu. Misalnya travel guide untuk para backpacker akan berbeda dengan travel guide untuk para flashpacker, atau travel guide mereka yang mencari kemewahan dalam berwisata. Jenis lainnya adalah travel guide untuk solo traveler, akan berbeda untuk travel guide bagi mereka yang ingin berwisata dengan keluarga. Travel guide juga bisa dibuat sesuai jenis travelingnya, misalnya travel guide khusus wisata kuliner, travel guide khusus wisata religi, dan lain sebagainya.

Membuat travel guide biasanya membutuhkan waktu dan energi yang lebih lama dibandingkan membuat travel feature. Prinsip dasarnya sama dengan membuat travel feature: lakukan riset, kunjungi lokasi untuk memastikan data hasil riset, tuangkan dalam bentuk tulisan. Namun hal yang perlu dituangkan tentunya lebih banyak, seperti:
- data transportasi menuju lokasi (jarak, waktu tempuh, moda transportasi, harga)
- data akomodasi di sekitar lokasi (Melati s/d Bintang 5)
- data rumah makan dan kuliner di sekitar lokasi 
- obyek menarik di lokasi (obyek wisata dan point of interest lainnya)
- data biaya yang dikeluarkan
- peta menuju tempat tersebut
- nomor telepon penting
- do and don't

Bagaimana dengan Ibu-Ibu yang lain? Pernahkah mencoba membuat travel guide singkat untuk berkunjung ke lokasi yang menjadi domisili Ibu saat ini? Apa hal yang menarik yang bisa dilihat di domisili Ibu? Bagaimana cara menuju ke sana?Mari berdiskusi dan berbagi!

29 March, 2014

==BEKERJA DARI RUMAH==

Oleh: Meili Damiati

"Umi, kok ga buka kedainya?" ujar salah satu tetangga via whatsapp.

"Lagi ada kerjaan di rumah jadi malas buka, hi..hi... Lagian isi kedai hanya buat pajangan doang. Jual beli via inetrnet wae, bu.."

"Enak juga usaha semau gue"

Saya hanya tersenyum sambil mikir, untung saya ga jadi karyawan kantoran. Bisa-bisa di PHK kalo kerja cuma ngikutin mood doang. Ini aja kedai samping rumah ga dibuka-buka karena asyik dengan aktifitas menulis sambil jual online.

Biarin ahh, paling kalo buka juga, yang beli cuma anak-anak. Stock makanan anak-anak di kedai emang sudah saya minimalisir, hanya untuk persediaan bocah-bocah saya sendiri, biar mereka ga jajan sembarangan tapi tetap aja, sekali waktu ada yang manggil, "Nte... beli teh gelas dooong..."
Jadilah tuh rolling door buka tutup, buka tutup.
Tapi ga masalah apa kata orang, yang penting jual beli online sangat nyaman digeluti oleh Ibu Rumah Tangga seperti saya. Dan saya sungguh menikmati itu.

Dulu komputer saya tempatkan di kedai. Jadi sambil jagain, aktifitas online tetap bisa dijalankan tapi ya ampuuuuuun..... rumah jadi ga terkontrol. Akhirnya kedai yang ga terlalu produktif saya jadikan hanya untuk pajangan produk yang sesekali dibuka. Komputerpun berpindah ke dalam kamar. Jadi sambil melaksanakan pekerjaan rumah, aktifitas online tetap bisa berjalan. asyik kaaan?

Oh ya, bisnis online ini sudah dari awal 2010 saya geluti. Yang penting amanah dan selalu jaga kepercayaan konsumen dan layani mereka dengan cepat dan ramah. Modal itu dulu, rasanya sudah cukup. Ga terlalu butuh modal karena kerjasama dengan suplier dengan modal komunikasi efektif bisa melancarkan usaha ini. Kalau mau penjualan pas-pasan yaa promosilah seadanya via jejaring sosial atau apapunlah itu. Kalau ingin penjualan melesat, maka kita juga harus rajin promosi. Tapi kalau dianggurin terus, yaa tinggal menunggu rezeki turun dari langit aja deh.

--------------
Bkt,270314

#WomenpreaneurChecklist

"I Wanna Be a Womenpreneur

Oleh  :  Sri Mulyani

Kesulitan hidup di masa lalu menempa sahabatku yang satu ini berjiwa ulet dan tahan banting.Bakat bisnisnya juga sudah terasah sejak masih zaman kanak- kanak.Lahir dan menghabiskan masa remaja di sebuah desa yang bernama Kuta Cane lama Aceh Tenggara,Mardiani remaja tidak mengenal saat bersantai menikmati cerianya usia belia.Dia harus berjuang keras membantu orang tua mencari rupiah demi mencukupi mimpi - mimpi sederhananya,bisa berpakaian layaknya gadis- gadis lainnya.

                   Untuk berpakaian seragam yang pantas saja Mardiani dan adik- adiknya ( enam bersaudara,dia anak tertua) sering menunggu pemberian tetangganya yang kaya berganti seragam baru,dengan demikian seragam lama mereka akan diberikan kepada Mardiani yang memang kebetulan rumahnya berseberangan.Sedih dan malu sebenarnya,tapi tak dapat berbuat apa- apa.
                  Mardiani remaja tidak mau tinggal diam,perasaan malu membuatnya berfikir keras harus merubah nasib.Sepulang sekolah,tanpa mengenal istirahat,Mardiani berangkat ke hutan milik saudara untuk memetik buah kemiri.Pada masa itu,tahun 80an sekilo buah kemiri dihargai Rp. 100.Setiap hari itu dikerjakannya,uang hasil penjualan kemiri dikumpulkan.Ditabung untuk biaya sekolah dan sedikit sisanya untuk kebutuhan lain.Orang tua hanya menyediakan makan 3x sehari hanya dengan sayur yang dipetik dari kebun sendiri.Lauk..? Jangan berfikir untuk terpenuhi setiap hari,bisa seminggu hanya sekali merupakan satu kebahagiaan buat keluarga mereka.
                 Meski dengan segala kesulitan,Mardiani bisa menyelesaikan SMAnya.Tidak berfikir untuk melanjutkan kuliah,dia hanya berfikir untuk bisa cepat menghasilkan uang.Obsesi masa lalunya memang hanya bisa berpakaian bagus/ layak.Sederhana sekali memang .
                 Setamat SMA,Mardiani merantau ke Medan.Bekerja pada sebuah perusahaan asing yang bergerak di bidang elektronik.Untuk ukuran anak yang berasal dari kampung,itu pencapaian yang sudah menggembirakan.Bekerja tidak pernah mematikan naluri bisnisnya.Mungkin memang sudah bakat pada dunia bisnis ya,besar maupun kecil tetap saja hati selalu cendrung untuk bisa berjualan.Sambil bekerja,pada jam- jam istirahat dia menyempatkan diri menawarkan barang dagangannya pada teman- temannya.Ya biasanya kesempatan itu hanya pada jam istirahat atau sebelum dan sesudah bubar jam kerja.Barang dagangannya tak jauh - jauh dari pakaian.Karena pangsa pasarnya pada waktu bekerja adalah usia muda ( teman kerja banyak yang belum menikah) ,barang yang dijualnya berupa celana jeans,pakaian casual gaya anak mudalah.Dan itu pun dengan modal kepercayaan dari saudara calon suaminya (calon suami teman kerja ).
                    Tiga tahun bekerja mereka memutuskan menikah.Keluarga suami termasuk dalam golongan keluarga berada,otomatis cara berpakaiannya pun beda dengannya.Dan hal ini menjadikan hobby berpakaian bagus semakin tumbuh subur.Kebetulan keluarga suami penyuka busana muslim bermerk Robbani.Mardiani terikut bergaya busana seperti mereka,masalahnya pakaian merk Robbani memang harganya lebih mahal dibanding gamis- gamis biasa kan, dan memang sesuai dengan kwalitasnya.
                    Bersinggungan dengan gaya busana yang beda dengan sebelumnya,semakin membuatnya berfikir keras bagaimana untuk memenuhi hobby tersebut tanpa merusak uang belanja yang memang sudah ada loketnya masing- masing.Tidak mungkin juga kan hobby itu malah merugikan? Dari berlangganan dengan agen Robbani itu,menimbulkan ide baru di kepalanya,bagaimana dia menjadikan dirinya sendiri sebagai model dari barang yang dia dagangkan.Lagi- lagi masih dengan modal percaya dari pemilik toko dia diperbolehkan membawa pakaian- pakaian bermerk Robbani itu untuk ditawarkan pada orang- orang yang dikenalnya.Jika barang laku terjual dia diberikan komisi sebesar 15% / itemnya.Dan kepercayaan yang diberikan oleh pemilik toko terus dijaganya,berdasarkan hubungan yang baik inilah kami memberanikan diri membuka toko yang menjual barang merk Robbani pada suatu hari.
                   Ya..pada 7 tahun yang lalu,Aku,Mardiani dan empat orang lain sahabat kami memberanikan diri patungan untuk membuka sebuah toko.Tapi tepatnya kami menyebutnya kedai.Uang yang kami kumpulkan berenam itu hanya untuk biaya menyewa kedai dan peralatan penunjangnya,sementara barang yang kami jual dari agen Robbani tadi.Tapi kami tidak menamakan kedai kami dengan Robbani juga,karena kedai yang kami rintis bersifat menyediakan jasa.Kami hanya mendapatkan komisi,sama seperti yang berlaku pada Mardiani dulu.
                  Tahun pertama berjualan,kami tidak mengambil keuntungan dari kedai,keuntungan kami putarkan lagi untuk mengembangkan dagangan..
                 Memasuki tahun kedua,usaha mulai terguncang.Ada beda pendapat dari teman yang lain.Mereka ada yang tidak setuju keuntungan tidak dibagi terlebih jika harus menambah modal lagi.Sementara barang dagangan kan harus ditambah,belum lagi untuk membayar sewa kedai.Semakin hari keadaan semakin meruncing.Memasuki tahun kedua itu kami sudah terseok- seok.Begini memang jika ada banyak kepala,akan ada banyak ide yang beda- beda dalam menjalankan usaha,perlu menyamakan misi dan visi dulu seharusnya.
                 Dengan keadaan kedai seperti ini yang paling terbebani adalah Mardiani.Kami merasa sungkan dan sangat tidak enak hati untuk mengembalikan barang- barang merk Robbani tadi.Akhirnya Mardiani memutuskan untuk mengambilalih kedai.Dia yang akan menjalankan bisnis ini.Akan tetapi dia meminta kami untuk bersabar dalam pengembalian modal.Aku paham keadaan ini,segera kami menghitung aset yang masih tersisa.Setelah dihitung keseluruhan,didapatlah berapa biaya yang harus dikembalikan kepada kami masing- masing / orangnya.
                 Mardiani berhasil menyewa sebuah toko di dalam pasar Marelan.Di situlah dia menjual sisa dagangan dari kedai  muslim kami.Sedikit demi sedikit isi toko bisa ditambah dengan barang merk lainnya. Pelan tapi pasti,Mardiani bisa mengembalikan modal kami meskipun dengan cara dicicil.Dia juga diberi keringanan oleh agen Robbani itu untuk membayar barang- barang yang sudah masuk ke kedai dengan cara mencicil pula.
                  Memiliki sebuah toko pakaian agaknya memang sudah menjadi cita- citanya.Letak toko yang cukup strategis dan di dalam lingkungan pasar tradisional memudahkannya memasarkan barang -barang dagangannya.Toko tidak hanya diisi oleh satu merk tertentu saja,apa yang sedang trend harus disediakan.Ini salah satu kejelian Mardiani dalam membaca situasi.Untuk mendapatkan barang dagangan dia pergi berbelanja sendiri ke pusat Pasar,Pasar Ikan Lama,kadang berburu barang sale di mall- mall.Untuk musim lebaran dia mengkhususkan belanja ke Jakarta atau Bandung,barang sudah distok sebelum bulan puasa.Berjualan pakaian memang memiliki musim tertentu,hanya masa menjelang lebaran Idul Fitri toko pakaian mengeruk keuntungan yang berlipat- lipat dari hari biasa.
                    Menurutnya,berjualan di toko dalam lingkungan pasar perputarannya cepat.Pangsa pasarnya banyak,tidak terbatas untuk orang- orang tertentu saja.Namun bukan berarti juga tidak memiliki masalah,pelanggan tetap yang biasanya dari sesama pedagang malah kadang mengesalkan hati.khusus sesama pedagang memang Mardiani menjalankan sistem cicil,perharinya ada yang Rp.5000 atau Rp. 10.000,mereka kadang mengulur- ulur waktu saat dikutip,dengan berbagai alasan,belum laku jualannyalah..besok dibayar dobel..begitu besoknya dikutip..bayarnya satu,dan banyak lagi model- model tingkah pelanggan,semuanya itu memang lika- liku dunia bisnis.
                     Meski berada dalam lingkungan pasar, Mardiani tetap menjaga kualitas barang dagangannya.Barang- barang yang sudah hampir habis trendnya akan diobral,hal itu tidak menyebabkan penumpukan barang lama.Sehingga pelanggannya juga sudah tahu,jika belanja di toko Mardiani barangnya lebih bagus dibanding toko lainnya.

EDISI PARENTING ====KAKAK SELALU SALAH?===

Oleh  : Meili Damiati

Ketika sedang asyik beraktifitas di dapur, saya mendegar jeritan si dua tahun yang sanggup membuat kening saya berkerut. Spontan saja dari jauh saya berteriak,
"Aliiiii.....jangan bikin nangis adik dooong..."

Ali yang sudah berumur 6 tahun pun lantang menjawab.
"Ga diapa-apain kok Umiii... Zahra aja yang nangis sendiri."
Hufft, dengan tampang kesal, saya beranjak dari dapur sambil ngomel, Duh, Abang... kok ga bisa main sama adik sih?!

Di sudut kamar terliihat Ali sedang asyik bermain dengan mobil-mobilannya. Sementara Zahra tampak sedang merapikan kerudung mungilnya di depan kaca sambil menggerutu.
"Zahra kenapa?" Saya pun bertanya.
"Mbut jaja mpak ni Mi... ga ica macuk.i..ih.." Jawab Zahra kesal.
Oh ternyata si kecil sedang mencoba merapikan kerudungnya dibagian wajah. Tapi karena poninya nongol terus dan tidak berhasil ia masukan dengan tangannya, jadilah dia marah besar, ha..ha...
Saya hanya bisa tersenyum getir mengingat spontanitas tadi yang telah langsung menyalahkan Ali sebagai abangnya. Saya sungguh merasa bersalah sudah mematikan sel-sel anak dengan selalu menyalahkannya tanpa mengecek dulu kebenaran yang ada.

Hingga masa-masa kecil saya pun jadi teringat kembali, saat orangtua memarahi saya karena tangisan adik. Betapa kesalnya saya waktu itu. Karena apa-apa yang membuat adik menangis, pastilah saya yang disalahkan. Hmmm... ternyata enak sekali ya jadi anak bungsu? pikir saya waktu itu agak sedikit sinis.
Suatu hari, disaat Ali beramain dengan Zahra dan merajuk karena mainannya diambil adik, spontan Kakekpun menasehatinya,
"Ali!!! kalau mainan kamu diambil adik, ya biasa. Dia kan adik Ali. Kalau Ali yang merebut mainan adik, itu baru ga boleh!"
Saya hanya bisa menghela nafas untuk menghindari adu argumen dengan ortu. Lagi-lagi saya membatin, 'benar-benar ga adil nih. Enak banget ya yang jadi anak bungsu karena dibela terus.'

Kasus lain,

Suatu hari, di rumah saya kedatangan saudara kampung yang mengadukan tentang tetangganya,
"Si Mina benar-benar ga punya hati. Sudah tau adiknya mau melahirkan, eeh dia malah pergi ke luar kota. Kan kasian adiknya ga ada yang mendampingi. Apalagi Ibunya kan sudah meninggal."
Mendengar keluhan ini, lagi-lagi saya bersimpati kepada orang yang bergelar kakak. Bagi saya ya wajar saja si kakak itu pergi ke luar kota. Pasti ada kepentingannya. Apalagi adiknya itu sudah mau melahirkan anak yang keempat. Dan sudah menjadi tanggung jawab suami, pastinya. Lalu, kenapa lagi harus dengan kakak?!

Dari kasus-kasus ini saya berfikir, sebenarnya sejauh apa sih peran seorang kakak? apakah seorang kakak hanya punya kewajiban tanpa perlu diberikan haknya?
Jika antara kakak dan adik ada sebuah masalah, apakah sebagai orang tua, kita sudah adil menjadi seorang hakim? Karena salah dan benar bukan dinilai dari faktor mana yang besar, mana yang kecil tapi siapa yang benar, siapa yang salah? Jika ternyata si bungsu yang salah, apa tidak sebaiknya mengajarkan dia sedini mungkin untuk meminta maaf atas kesalahan tersebut kepada kakaknya?
Selain itu, jika sebagai orang tua, kita menuntut si kakak untuk sayang kepada adiknya. Apakah kita juga sudah mengajarkan si adik untuk dapat menghormati kakaknya?

Tulisan ini mengajak kita sebagai orang tua untuk melihat kembali semua kebijakan yang telah kita terapkan di rumah. Apakah antara si kakak dan si adik sudah memiliki hak dan kewajiban yang seimbang? Jangan sampai niat kita untuk mendidik kakak agar menyayangi adiknya malah jadi bumerang yang akhirnya menimbulkan dendam tersendiri dalam diri si kakak, gara-gara ia selalu disalahkan dan adiknya selalu dibela.

Ternyata dari rumah, orang tua harus belajar menjadi hakim yang bijak. Tentu saja jika ini sudah dapat kita terapkan, anak-anak akan tumbuh menjadi pribadi-pribadi yang selalu membela kebenaran. Insya Allah.