Breaking News

18 December, 2013

[TIPS & TRIK] MENGIKUTI PROYEK ANTOLOGI

Oleh      : Lygia Pecanduhujan 

Horeeee… Makin lama, proyek-proyek antologi makin banyak bertebaran di seluruh penjuru dunia maya. Dengan tema-tema yang makin beragam dan unik, seluruh proyek itu makin seru dan makin menantang untuk ditaklukkan oleh seorang Antologi Mania seperti kita-kita :-).

Mengapa banyak orang yang berminat untuk mengikuti sebuah proyek antologi ? Well, ada beragam alasan dan sebagian besar diantaranya tentunya hanya kita pribadi yang tahu. Namun salah satunya mungkin bisa dibilang adalah untuk ajang pembuktian jati diri sebagai seorang penulis atau calon penulis. Betul tidak ? *memandang kepada seluruh hadirin yang hadir*

Sebagai seorang pemula dalam hal kepenulisan, banyak orang yang begitu tertarik untuk mencoba mengikuti setiap proyek antologi yang diadakan. Bagaimana tidak, untuk menguji dan mengasah kemampuan menulis, mengirim satu tulisan terbaik untuk bukuantologi dengan jumlah halaman antara 3-8 halaman cukuplah untuk berlatih. Selain untuk mengasah kemampuan, mengikuti sebuah proyek antologi dan dinyatakan lolos tentu akan membuat kita lebih percaya diri untuk menulis, bukan ?

Hmm, sebelum kita mulai mencari-cari info tentang proyek-proyek antologi apa lagi yang sedang diadakan dalam waktu dekat, saya ingin berbagi tips & trik kepada teman-teman dalam rangka mempersiapkan diri untuk mengikuti proyek antologi tersebut. Tertarik ? Silahkan dilanjut bacanya ya … 
TEMA
Saat hendak mengikuti satu proyek antologi tertentu, jangan lupa perhatikan TEMAnya. Pilihlah tema-tema antologi yang memang betul-betul sesuai dengan kita dan kita kuasai betul. Minimal, kita pernah mengalami apa yang ditentukan oleh tema tersebut. Biasanya, antologi (selain antologi cerpen dan puisi) kebanyakan adalah berupa kumpulan kisah nyata yang menginspirasi. FYI, tidak harus kita yang mengalami, mungkin ada kerabat atau orang terdekat kita yang pernah bersinggungan dengan tema tersebut, mungkin teman-teman atau orang yang setiap hari kita jumpai, dan kita tertarik untuk menuliskan kisahnya.


PENYELENGGARA
Perhatikan siapa penyelenggara proyek antologi tersebut. Apakah perorangan, komunitas, Grup, Penerbit, yayasan, Lembaga dan lain-lain. Penyelenggara proyek antologi yang sudah dikenal dan punya nama baik biasanya bisa dijadikan  salah satu bahan pertimbangan bagi kita untuk mengikuti proyek antologi tersebut atau tidak. Sebab sangat banyak pula proyek-proyek antologi yang “tidak jelas” siapa penyelenggaranya, hendak diterbitkan di mana, apa tujuannya, dan lain sebagainya. Tak jarang, ada pula yang ujung-ujungnya hanya berniat menipu, entah itu menipu dengan cara menarik sejumlah uang pendaftaran dari peserta lantas kabur, ataupun lebih parah lagi, setelah naskah masuk ke panitia, mereka menghilang begitu saja, dan ide-ide luar biasa kita bisa saja dimanfaatkan dengan tidak semestinya oleh mereka.

 TELITI PERSYARATAN
Setelah TEMA kita pelajari dan sesuai dengan kriteria kita, mulailah MEMBACADENGAN TELITI seluruh persyaratan yang diminta dalam proyek antologi tersebut. Penuhi seluruh persyaratan tersebut tanpa kecuali dan tanpa tawar menawar. Persyaratan biasanya terdiri dari dua jenis yaitu syarat Umum dan syarat Khusus. Teliti dengan seksama seluruh point yang ada dalam kedua jenis persyaratan tersebut. Jangan sampai ketidaktelitian kita merugikan diri kita sendiri.


DEADLINE
Perhatikan tanggal DEADLINE nya. Jangan biasakan mengirim tulisan kita mepet deadline karena itu akan merugikan kita sendiri. Apa saja kerugiannya ?

1.      Panitia/Penanggung Jawab Antologi akan kesulitan membaca sekian puluh bahkan ratusan naskah yang masuk bersamaan saat deadline tiba. Itu akan menyebabkan mereka akan setengah
hati membacanya dikarenakan waktu yang sangat mepet atau mata yang terlalu lelah membaca satu persatu, bukan pekerjaan mudah lho … Bisa jadi naskah yang bagus malah terlewat oleh mereka, dan naskah yang kurang bagus malah dianggap bagus. Jelas merugikan bukan ?

2.      Kebiasaan mengirim tulisan bertepatan dengan waktu deadline juga akan membuat kita tidak memiliki waktu untuk memperbaiki kesalahan dalam naskah kita. Jangan lupa, seandainya kita mengirim naskah saat masih di awal-awal, Panitia/PJ akan bisa dengan tenang membaca naskah kita, dan ketika juri melihat bahwa naskah kita bagus namun ada beberapa persyaratan yang kurang, dengan baik hati mereka akan mengingatkan kita untuk melengkapinya. Bagaimana kalau kita mepet ? begitu Deadline datang, juri menerima ratusan bahkan puluhan email, mereka akan berlaku tegas untuk memudahkan pekerjaan. Naskah yang masuk tapi kurang persyaratannya misalnya tidak ada biodata, dll, akan menyebabkan naskah itu langsung didiskualifikasi.

3.      Selalu ingat akan kemungkinan-kemungkinan tak terduga seperti : mati lampu, hujan deras, koneksi lambat, tiba-tiba habis pulsa, kuota mendadak semaput, dan berbagai kendala lainnya yang diluar perkiraan kita. So, Biasakan kirim naskah dari jauh-jauh hari dan jangan tunggu deadline.

KELENGKAPAN NASKAH
Sebenarnya ini bisa masuk ke point kedua, yaitu TELITI. Hanya saja disini akan dijabarkan apa saja kelengkapan naskah antologi yang biasanya diminta oleh panitia/PJ. Kelengkapan naskah tersebut biasanya adalah :

1.      Judul Naskah
Ini poin penting yang biasanya seringkali terlewat dengan alasan kelupaan. Jangan pernah lupa, tulis naskah dengan ketentuan Font Times New Roman 12, spasi 1,5,
biasanya menggunakan ukuran kertas A4, dan perhatikan jumlah halaman.

2.      Nama Lengkap atau Nama Pena
Tuliskan nama di bawah Judul Naskah.


3.     Isi Naskah

Tuliskan naskah anda tanpa melanggar jumlah halaman yang telah ditentukan oleh panitia/PJ. Hindari pemakaian kata-kata yang menyinggung SARA, mengandung pornografi, bahasa kasar, dan bahasa alay. BACA ULANG NASKAHMU dan lakukan SELF EDIT sebelum mengirim naskah. Hal ini dilakukan untuk menghindari kesalahan penulisan/typo dan EYD. Jika kita merasa asyik membaca naskah kita, artinya kemungkinan besar orang lain juga akan enak membacanya. Tapi kalau kita sendiri pusing membaca naskah kita karena berantakan di sana sini, tentunya orang lain juga akan merasakan hal yang sama bukan ?

4.      Biodata
Setelah naskah selesai diketik, di bagian paling bawah masukkan biodata kita sesuai permintaan Panitia/PJ. Biodata ada dua jenis : Biodata detail atau Biodata Deskriptif.

5.      Surat Pernyataan
terkadang ada panitia/PJ yang mensyaratkan naskah dilengkapi dengan surat pernyataan yang isinya menyatakan bahwa naskah yang diikutsertakan dalam proyek antologi tersebut adalah benar naskah milik kita dan belum pernah dipublikasikan dimanapun. Jika surat pernyataan itu harus dibuat terpisah, buatlah dengan terpisah. Namun jika tidak, surat pernyataan juga bisa dibuat di
bawah naskah sesudah mencantumkan biodata.

6.      Kirim
Setelah seluruh persyaratan khusus tersebut dipenuhi, simpan file dalam bentuk .doc dan file dikirim melalui email dalam bentuk lampiran/attachment email dan bukan di badan naskah. Begitu juga Surat Pernyataan yang dibuat terpisah.


PERHITUNGAN ROYALTI
Urusan royalty adalah hal terpenting sekaligus paling sensitif dalam hubungannya
dengan proyek-proyek antologi yang kita ikuti.

Perhatikan dengan seksama urusan royalty ini (biasanya ada di bagian bawah undangan audisi antologi). Yang perlu diingat, dalam sebuah proyek antologi, biasanya Panitia/PJ adalah pemilik/pencetus IDE dan TEMA antologi tersebut. Merekalah  yang akan berhubungan dengan penerbit. Begitu pun dalam hal penandatanganan kontrak. Jadi Panitia/PJ (dan terkadang bersama dengan penerbit) yang akan memutuskan sistem royalty seperti apa yang akan diberlakukan dalam proyek antologi tersebut.

Ada beberapa macam jenis pembagian dan perhitungan royalty ini, antara lain :


1. Naskah dibeli putus oleh panitia/PJ.

 Panitia/PJ akan menentukan berapa honor yang akan di dapat oleh kontributor (mereka yang naskahnya lolos dalam antologi tersebut). Biasanya jika diberlakukan sistem ini, maka para kontributor akan langsung dibayar begitu buku selesai dicetak, dan mereka tidak akan mendapat royalty apapun lagi. Jumlah fee kontributor bervariasi tergantung berapa halaman naskah yang diminta, dan berapa jumlah yang ditawarkan oleh Panitia/PJ. Kelebihan dari sistem beli putus ini adalah : Jika buku tidak laris di pasaran alias gagal total, kontributor tidak mengalami kerugian apapun karena naskah mereka sudah dibayar dimuka.


2. Royalti dari penerbit dibagi rata

 Biasanya, royalty yang diberikan oleh penerbit ada di kisaran 7-13% tergantung kebijakan di masing-masing penerbit. Ini masih harus dipotong Pajak Penghasilan dahulu (30% jika PJ tidak memiliki NPWP dan 15% jika PJ memiliki NPWP), jika antologi tersebut diterbitkan melalui pihak ketiga yaitu agensi naskah, royalty masih akan dipotong lagi sebesar 3% paling banyak dari jumlah royalty yang diterima oleh pemilik naskah. Fee tersebut digunakan sebagai ongkos editing, layout dan lain sebagainya sebelum dikirimkan kepada penerbit.

Baru setelah seluruh biaya diperhitungkan, keuntungan bersih dari royalty itu akan dibagi
dibagi rata antara PJ dengan kontributor yang lain.


3. Seluruh royalty yang didapat disumbangkan untuk kegiatan atau badan/lembaga tertentu.

Tak jarang, penyelenggara sebuah proyek antologi tidak memberikan apapun kepada para kontributornya karena disepakati bahwa seluruh royalty yang didapat kelak, akan disumbangkan untuk kegiatan amal tertentu, malam dana, untuk sumbangan kepada badan/lembaga sosial dan lain sebagainya.

4. Pembayaran royalty dikonversi menjadi buku.
Inti dari poin ini sama dengan poin pertama yaitu naskah dibeli putus. Hanya saja dengan perhitungan efisiensi waktu dan lain sebagainya, diputuskan bahwa fee yang diterima oleh kontributor akan dikonversi menjadi buku sejumlah uang yang didapat oleh kontributor. Misalnya naskah dibeli putus Rp.100.000,- dan harga jual buku adalah Rp.50.000,- maka kontributor akan mendapat 2 buah buku sebagai konversinya. Hal ini biasa dipakai untuk memudahkan penyelenggara dalam membagikan hak dari para kontributor, dan semua tergantung kesepakatan.
Dalam hal royalty ini masih banyak terdapat perdebatan. Yang paling sering terjadi adalah komentar-komentar miring dari banyak orang, misalnya seperti komentar di bawah ini :

1. Bagaimana dengan sistem royalty? Ini dia yang suka bikin ribet. Yang pasti dan paling sering terjadi, penerbit hanya mau berhubungan dengan satu orang, sebutlah dia koordinator biar pun pengisi buku ada 20 penulis. Terkadang disepakati untuk menyerahkan royalty ke lembaga sosial tertentu. Terkadang juga ada yang jadi makelar dan siap membayar semua penulis secara flat misalnya Rp.100.000 per naskah. Ada juga yang menjanjikan pembagian 2 buku setelah terbit.

2.  Yang pasti, bila Anda bergabung dalam proyek penulisan buku antologi yakinkan bahwa Anda tidak sedang diperalat seseorang. Anda capek menulis, orang lain yang menangguk royalty! Bayangkan saja, jika buku antologi itu dicetak sebanyak 3000 eksemplar dan dijual dengan harga 50 ribu, maka jumlah royalty yang akan diterima oleh PJ adalah : 3000 x 5000 = 15 juta ! bayangkan, panitia enak-enakan mendapat 15 juta bersih masuk kantong mereka, sementara para kontributor hanya mendapat 100 rb saja !


3. Jangan mau menulis antologi Cuma dibayar buku !

Duh, enaknya panitia/PJ/penyelenggara kalau memang fakta yang terjadi adalah seperti yang ada di poin kedua di atas. Kaya mendadak !   



Tapi mari kita menarik nafas dan mau memperhatikan hal-hal kecil yang mungkin terlewatkan oleh kita saat berpendapat demikian :

Kasus :
sebuah buku antologi diterbitkan oleh 1 orang PJ dan 40 orang Kontributor,
dicetak sebanyak 3.000 eksemplar dan dijual dengan bandrol
Rp.50.000,-/eksemplar. Dua kemungkinan sistem pembagian royalty :

1. Naskah dibeli putus dan seluruh royalty dikuasai oleh PJ/Panitia/penyelenggara
terkesan poin ini merugikan kontributor dan menguntungkan pihak PJ tentu saja.

Faktanya :
Saat naskah dibeli putus (dengan modal dari penyelenggara/PJ dan bukan makelar seperti pendapat miring di atas), ketika buku tidak laku di pasaran, siapa yang akan rugi ? kontributorkah ? tidak ! karena yang akan merugi adalah si penyelenggara alias PJ tadi.

Mari kita hitung :
Biaya yang harus dikeluarkan dimuka oleh PJ adalah 40 org kontributor @ Rp.100.000,-
(misalnya) = Rp. 4.000.000,-

Ternyata, buku yang laku di pasaran hanya 500 eksemplar saja, itu artinya royalty yang
didapat oleh PJ adalah 500 eksemplar x (10%) Rp.50.000,- = Rp.2.500,000,-.  Itu belum dipotong pajak dan biaya-biaya lain. Artinya PJ merugi, tapi kontributor tidak rugi apapun karena naskahnya tetap masuk dan fee nya dibayar dimuka, laris ataupun tidak buku tersebut di pasaran.

2. Seluruh royalty dibagi rata antara PJ dan kontributor
ini baru perhitungan yang adil dan bijaksana bagi kepentingan orang banyak. Masa ?

Faktanya :

Mari kita hitung : 3.000 eksemplar (diasumsikan seluruhnya habis terjual)

Maka jumlah royalty yang diterima adalah :
3000 eksmplar x (10%) Rp.50.000,- = Rp. 15.000.000,-

Pajak penghasilan : Tanpa NPWP : 30% x Rp. 15.000.000,- = Rp.4.500.000
Dengan NPWP : 15% x Rp.15.000.000,- = Rp.2.250.000

Taruhlah kita ambil yang dengan NPWP, maka royalty yang diterima PJ adalah :

Rp.15.000.000 – Rp.2.250.000 = Rp.12.750.000

Royalty sebesar Rp. 12.750.000 dibagi rata 41 orang (1 PJ dan 40 Kontributor) maka
masing-masing akan mendapat royalty sebesar kurang lebih Rp. 310.000,-

Kelihatannya jauh lebih besar ya daripada naskah dijual putus ?

Tapi sadarkah kita :

1.      Royalty tidak dibayarkan sekaligus, melainkan 2x setahun (atau bahkan setahun sekali)
tergantung kebijakan penerbit . Jika buku itu laku terus dan habis seluruhnya dalam waktu 2 tahun saja, maka royalty yang dibagikan tiap kali adalah 310.000 : 4x = 77.500. kebayang gak ,PJ, tiap kali pembagian royalty, harus pusing mentransfer uang sejumlah itu kepada 40 nomor rekening yang berbeda-beda ? berapa kali antri ? belum lagi kalau Banknya beda-beda. Siapa yang akan menanggung biaya transportasi dari rumah ke ATM 1, Bank A, Bank C dll ?

2.      Saya rasa, siapapun penyelenggara/PJ dari proyek antologi tersebut, mereka berhak mendapatkan fee yang lebih besar daripada para kontributor, dengan alasan :

a.       PJ yang mempunyai ide dan tema dari buku antologi tersebut.
b.      PJ yang bekerja keras mulai dari menyusun outline, menyusun pengumuman audisi antologi, membuat email baru untuk keperluan antologi, menyebarkan informasi, berhubungan bolak balik dengan pihak penerbit (termasuk negosiasi dan lain sebagainya), mengecek bolak balik email yang masuk, memeriksa seluruh kelengkapan naskah, membaca SATU PERSATU naskah yang masuk (biasanya sampai ratusan naskah!) untuk kemudian PJ harus MEMILIH naskah-naskah terbaik yang berhak lolos audisi, mengumumkan, mengedit naskah sebelum diserahkan kepada
penerbit, bolak balik merevisi atas permintaan penerbit, dan ketika buku terbit, ia juga memiliki tanggung jawab untuk membantu promosi dan launching (kalau ada). Sementara tugas kontributor hanyalah : membaca pengumuman, menuliskan kisahnya, mengirim naskah dengan melengkapi syarat-syaratnya, merevisi tulisan (kalau ada) dan menunggu pengumuman lolos/tidaknya. Pfyuuuh, beda jauh ya tugasnya ? jadi salahkah saya kalau saya berpendapat bahwa PJ yang sudah bekerja sangat keras demi terwujudnya antologi tersebut berhak
mendapatkan lebih daripada kontributor ? (dengan catatan : kalau buku laku di pasaran).

3.  Satu pertanyaan terakhir : Kalau buku tidak laku dipasaran, dan PJ tidak mendapat apa-apa, apakah para kontributor tidak merasa rugi karena naskahnya juga tidak mendapat apa2 ? (jangankan dapat royalty, dapat buku gratisnya aja nggak).

So, bagaimanapun perhitungan royalty yang diberlakukan oleh para penyelenggara/PJ
dari proyek antologi tersebut, tentu sudah melalui perhitungan yang matang. Karenanya, pilihan tinggal jatuh dan ada di tangan para calon kontributor. Apakah mau ikut atau tidak ?

Ups, panjang lebar membahas ROYALTI, ada satu yang ketinggalan nih yaitu :

PROMOSI
This is the last but not least. Siapakah yang bertanggung jawab untuk melakukan
promosi setelah buku diterbitkan ? Pihak Penerbit ? Penyelenggara ? Jawabnya
adalah SEMUA PIHAK, baik itu penerbit, penyelenggara maupun para kontributor.

“Ah, tapi kan naskah kita Cuma dibeli putus, ngapain kita ikutan promosi. Toh laku
atau ngga laku buku itu, kita tetap dibayar kan?”

He he he, ini pendapat yang totally wrong alias salah total ! kita mempromosikan buku kita (baik buku solo ataupun buku antologi) tentunya bukan sekedar ingin supaya buku itu laris kan ? well, iya dong, laris juga penting. Tapi yang tak kalah penting adalah supaya nama kita dikenal orang atau penerbit meskipun baru sebatas sebagai kontributor. Betul tidak ? (sebagai catatan : saya memang mulai menulis buku dari antologi. Tapi karena antologi-antologi itu termasuk unik di pasaran dan saya rajin promo habis-habisan, akhirnya pintu untuk buku solo terbuka lebar untuk saya karena pihak penerbit sudah lebih dahulu mengenal nama saya dari buku-buku antologi
tersebut).

Kalau kita ikutan antologi Cuma karena pengen ikut-ikutan saja, kemudian cuek ketika buku itu terbit, bagaimana orang bisa tahu bahwa dalam buku itu ada tulisan kita ? Perlu ditambahkan pula, ketika buku itu laris manis dipasaran dan menjadi best seller, semua yang tergabung di dalamnya pasti akan terkena imbasnya kok.

Mau bukti ? Mungkin dari segi materi Cuma PJ yang dapat royaltinya. Tapi dari segi immateriil
?

ILUSTRASI

Teman             : “Eh, aku kemarin lihat-lihat buku di Toko Buku. Ada buku antologi A, kamu ikutan nulis ya ? gile, keren banget
euy, bukunya best seller !”

Kita                 : *ketawa-tawa gak jelas antara malu sama bangga*


Teman             : “kamu katanya penulis ? udah nulis buku apa aja ?”
Kita (Jawaban alternatif 1)     : “Itu lho, ikutan nulis buku antologi yang judulnya A”
Teman             : “Haaa, buku apaan tuh ? kok belum pernah denger ? di toko buku juga gak ada. Gak laku ya bukunya ?”
Kita                 : “#$%%*#.....*&^&^”

Kita (Jawaban alternatif 2)     : “Anu.. nnngg, anu.. aku ikutan nulis buku Antologi itu lho, yang judulnya B. Masa kamu gak tau sih ? itu kan best seller tauuuu, ada capnya gede-gede di cover : BEST SELLER. Dibaca sama banyak selebritis tanah air, diulas di Koran, masuk Tipi dan majalah. Masih gak tau juga ? Ih, gak gaul deh kamu”

Teman : “Oooh …” *manggut-manggut sambil berusaha keras membayangkan buku yang dimaksud, tapi dengan tekad dalam hati, besok kudu nyari buku itu sampe ketemu!*

Baiklah, sepertinya Tips dan Trik yang harusnya singkat ini malah jadi sangat panjang lebar ya ? Maafkan saya yang mungkin terlalu njelimet. Ini pengaruh insomnia akut, jadi daripada gak bisa tidur dan bengong gak jelas mending bikin dokumen ini. Semoga ada yang bisa mengerti isinya. Karena jujur saja, hitung-hitungan royalty di atas itu kok kayak pelajaran matematika jadinya ya ? he he he, lebih kurang saya mohon maaf. Kesempurnaan itu hanya milik Allah, *Dorce mode on*

Akhir kata, semoga bermanfaat dan …

Missi aaaaaah ….

Tertanda,
Orang yang masih belajar menulis,

Lygia Pecanduhujan