Breaking News

13 December, 2013

[TIPS] Mengatasi Kejenuhan Dalam Menulis

Oleh  : Nunik Utami Ambarsari

Ternyata, ada masanya penulis merasa bosan menulis. Mungkin sebagian orang bingung. Bukankah menulis itu suatu hobi? Bukankah melakukan segala sesuatu yang merupakan hobi, tidak akan dilanda bosan?

Banyak penulis yang berangkat dari hobi. Namun, setelah sering menulis, apalagi sampai kewalahan menerima order, lama kelamaan menulis bukan lagi sekadar hobi, melainkan menjadi pekerjaan. Sama halnya ketika menggeluti pekerjaan lain, penulis juga pernah merasa jenuh dengan kegiatan menulisnya.

Merasa bosan boleh saja. Tapi, ketika kita telah memilih menulis sebagai suatu pekerjaan, rasa bosan itu harus segera diatasi.

Bagaimana mengatasi kejenuhan dalam menulis?

Membuat Tulisan Lain
Apabila kamu menulis naskah dengan genre yang sama dalam jangka waktu lumayan lama, wajar jika kamu merasa bosan. Sebagai contoh, kamu harus menyelesaikan dua naskah nonfiksi. Ketika selesai mengerjakan satu naskah, ambillah jeda. Buatkah tulisan lain dengan genre yang berbeda. Misalnya, cerpen anak. Tidak perlu terlalu banyak. Cukup 3-5 halaman. Tujuannya adalah untuk menyegarkan pikiranmu, sebelum melanjutkan naskah nonfiksi berikutnya.

Jalan-Jalan
Kejenuhan dalam menulis bisa disebabkan oleh mata yang lelah. Pusing, mata berkunang-kunang, dan kelopak mata yang pegal, membuat kita ingin menjauh dari kegiatan menulis. Maklum, selama menulis, kita tidak menyadari telah “menyiksa” indera yang satu ini untuk menatap layar komputer atau laptop selama berjam-jam. Agar mata lebih segar, berjalan-jalanlah ke luar ruangan. Biarkan mata memandang objek yang agak jauh. Yang perlu diingat, saat mengistirahatkan mata dari layar komputer, jangan justru memegang ponsel. Hal ini akan membuatmu tergoda menatap layar ponsel yang akan membuat matamu batal beristirahat.

Tinggalkan Tugas Sejenak
Kalau hal-hal di atas sudah dilakukan tetapi kamu masih jenuh, cobalah tinggalkan sejenak kegiatan menulismu. Sehari semalam cukup untuk membuat otak segar kembali. Jangan lebih dari itu, sebab kamu akan terlena untuk berleha-leha, padahal pekerjaan sudah menunggu.

2 komentar:

Jeffer Shen said...

Of the six haut-de-gamme rose gold Reverso models rolex replica constructed to help JLC watchmakers “relearn” complications lost during the Quartz Crisis, the caliber 829 rolex replica Reverso Chronograph ranked among the most challenging to design. That landmark watch, a rarely seen edition replica watches uk of 500 units, lends its "heart" to the Gran’Sport Chronograph. For an unassuming used watch bargain, the Gran'Sport Chronograph boasts an impressive pedigree. The caliber 859's complication operates with the crisp action of a classical column-wheel replica watches uk chronograph, and the novelty value of watching two parallel dials replica watches operating independently is great fodder for conversation with fellow watch fans. Due to the limited rolex replica sale distribution network of pre and early-Richemont Jaeger-LeCoutre watches, the owner of a replica watches sale Gran’Sport Chronograph is guaranteed to enjoy a measure of exclusivity.

Ika Arianti said...

keren banget tulisannya ... bisa dicoba nih
Harga Update Terbaru

Post a Comment