Breaking News

13 December, 2013

Menulis di Media, Gimana, Ya?

Oleh : Rika Tjahyani

        

Tidak semua tulisan yang dimuat di media termasuk karya jurnalistik. Jadi, yang bagaimanakah?
            Jurnalistik. Apa, sih, itu ? Kita tak usah pusing-pusing berteori, berdefinisi. Yuk, ambil mudahnya saja. Koran, majalah, tabloid, radio, televisi sampai banyak website berita di internet adalah sekian contoh dari media jurnalistik.
            Tapi, tak semua tulisan yang dimuat di media cetak, website, tayangan yang tampil di televisi tergolong sebagai karya jurnalistik. Tulisan-tulisan fiksi seperti cerita pendek, cerita bersambung yang dimuat di koran, majalah atau tabloid (ada nggak ya, di tabloid?) tidak masuk dalam golongan karya jurnalistik. Begitu pun dengan tayangan serial teve atau sinetron dan film yang tampil di layar kaca juga cerita dongeng wayang golek di radio.

Syarat 5 W + 1 H
            Karya jurnalistik umumnya berupa informasi nyata yang terjadi di masyarakat. Bisa di dalam negeri juga di luar negeri. Informasi tersebut disampaikan ke masyarakat luas demi kepentingan orang banyak. Kata lain, info tersebut berguna atau bermanfaat,gitu lhoo…! (Karena itulah muncul perdebatan bahwa gosip-gosip kehidupan pribadi selebriti di televisi dianggap bukan karya jurnalistik).
            Berita-berita yang  dimuat di koran atau portal berita kebanyakan berupa hard news. Maksudnya, berita yang terjadi di dunia ini diinformasikan secara singkat, padat, sesuai kejadian. Tidak direka-reka apalagi dikhayal-khayal. Termasuk ditambah-tambahkan opini. Karena itulah dalam jurnalistik rumus 5W (What, Who, When, Where, Why) + 1 H (How)) adalah syarat mutlak yang harus dipegang.

Hard news, apa itu?
            Hard news umumnya disampaikan kepada masyarakat luas lewat media secara cepat. Bisa dalam hitungan detik atau menit (biasanya media yang paling memungkinkan untuk mengirimkan informasi dengan kecepatan seperti ini adalah  portal berita yang bisa diakses lewat internet, televisi, radio). Untuk Koran, majalah biasanya lebih lambat. Hitungannya adalah jam untuk koran atau hari bahkan minggu untuk majalah. Kenapa begitu? Karena Koran dan majalah mengalami proses percetakan yang memerlukan waktu lebih panjang. 
            Contoh hard news yang belakangan paling hot adalah ditetapkannya Miranda Gultom dan Angelina Sondakh sebagai tersangka korupsi oleh KPK. Atau, kecelakaan dahsyat yang menewaskan 9 orang di daerah Tugu Tani, Jakarta. Dan yang terbaru, berita kecelakaan beruntun oleh bus di Cisarua, Puncak, Bogor, Jawa Barat yang menelan korban 14 orang.
            Coba Anda perhatikan, dalam berita yang disampaikan tersebut, pasti ada unsur 5 W + 1 H, bukan? Kalau kurang satu saja, bukan tak mungkin bibir Anda spontan  berkomentar, ”Berita, kokgak jelas ginisih!” Buntutnya, Anda mungkin malas mengakses berita dari media tersebut. Untuk media, ini adalah kerugian. Selain kehilangan kepercayaan masyarakat, juga ditinggalkan pelanggan setia yang bisa berimbas pada menurunnya pendapatan.
            Unsur 5W + 1 H memang menjadi salah satu tolak ukur masyarakat untuk memercayai media penyampai informasi yang dipilih. Karena itu, media berusaha untuk tidak menyampaikan berita bohong, info karangan dan sejenisnya. Para jurnalis atau pekerja media pun dituntut untuk menjunjung tinggi kebenaran, kejujuran.

Yang tergolong karya jurnalistik
            Selain hard news atau berita, karya lain di media yang tergolong sebagai karya jurnalistik antara lain tulisan features (kalau di media cetak) atau tayangan features yang kadang-kadang ada yang menyebut sebagai ‘teve magazine’. Contohnya, tulisan atau tayangan tentang profil seseorang (bisa tokoh yang dikenal masyarakat atau bukan). Biasanya sang jurnalis mewawancarai langsung nara sumber. Tulisan atau tayangan disajikan berdasarkan hasil wawancara. Ada yang diramu dengan hasil pengamatan penulis, ada pula yang berupa tanya jawab.
            Contoh lain tulisan features adalah tulisan tentang perjalanan (wisata jalan-jalan hingga kuliner); artikel kesehatan. Di majalah femina tempat kerja saya dulu, artikel yang termasuk dalam features antara lain: Liputan Khas (liputan utama); Kisah Sukses, Kisah Sejati, Kisah Cinta, Profil (biasanya bukan orang terkenal), Selebriti, Omong-omong, Oleh-oleh (wisata), Karier, Diet dan Nutrisi, Anda dan dia (psikologi atau relationship); Rupa-rupa, Jujur Saja; Gado-gado (nah, yang ini sepertinya tulisan favorit karena termasuk yang paling sering dibaca termasuk oleh beberapa teman di sini.)    
            Contoh tayangan features di televisi antara lain :
-          Kick Andy di Metro TV (bentuknya wawancara langsung dengan beberapa narasumber yang berhubungan dengan tema yang kali itu tayang); Jelajah hinggaPetualangan Si Bolang dan Laptop Si Unyil.
            Bagaimana dengan Cerpen, Cerber di Koran atau majalah, apakah bisa dianggap sebagai karya jurnalistik? Jawabannya tidak. Cerpen dan cerber tidak memegang rumus 5W + 1 H tadi. Tulisan itu pun umumnya dibuat berdasarkan imajinasi, rekaan meski ada juga yang terinspirasi dari kisah nyata. Cerpen dan cerber lebih tepat dikategorikan sebagai karya sastra. 

TANYA JAWAB.
Berikut adalah jawaban pertanyaan yang sempat masuk ke saya :

  1. Anna Permatasari wow, keren..Mbak Rika...mau nanya: sebenarnya apa perbedaan antara artikel dgn features? oya, sy suka baca Intisari, Tarbawi dan Trubus... December 14, 2011 at 9:26am.

      JAWABAN:
      Dear Mbak Anna, semoga resume di atas bisa menjawab ya… Artikel adalah tulisan yang dimuat di media cetak. Features sendiri adalah jenis karya tulisan yang ditampilkan di media cetak

2. Arin- Murtiyarini Iya, Mba Ety Abdul, latar belakang penulis gak nyambung dg yg ditulis gmn ya ? Kadang interest kita berubah pasca kuliah..dsb.

            JAWABAN: 
            Mbak Arin, tidak sedikit jurnalis membuat tulisan yang bertolak belakang dengan latar belakang pendidikan mereka. Saya termasuk salah satu contohnya, hehe... Latar belakang pendidikan saya teknologi pangan. Ketika menjadi jurnalis, saya pernah harus menulis tentang pil KB, HIV-AIDS, gangguan stroke, kekerasan dalam rumah tangga, tata kota, gadget hp terbaru sampai poligami dan masih banyak lagi.
            Sebagai jurnalis, kita harus mau dan mampu menambah wawasan, ilmu sendiri secara kilat. Karena jurnalis selalu dikejar-kejar setan, eh maksudnya deadline, ‘bercumbu’ dengan tenggat. Femina adalah majalah mingguan (satu-satunya majalah wanita mingguan di Indonesia). Waktu itu (bahkan sampai sekarang kalau dapat order tulisan), ya harus ngebut belajar sendiri hal baru sampai ngerti, paham. Kalau tidak paham, bagaimana kita bisa menuliskan, menjelaskannya untuk orang lain?
            Semua itu bisa dilakukan asalkan mau belajar. Caranya, ketika wawancara dengan sang ahli kita sudah menyiapkan bahan pertanyaan. Kalau gak ngerti, jangan malu, gengsi, bertanya ulang. Misalnya, ״Gimana, tadi penjelasannya, Dok ?″ Yang lebih penting lagi, sebelum berangkat wawancara, kita harus punya bekal dulu tentang topik yang akan dibahas. Cari literaturnya di internet, baca di koran dan sejenisnya.

3.   Sri Widiyastuti, mungkin bisa ditambahkan berapa karakter tulisan untuk mengirim ke media? December 14, 2011 at 11:23am ·

            JAWABAN:
            Mbak Sri, kalau maksud pertanyaannya berapa panjang tulisan, kita bisa perhatikan kebiasaan media tersebut. Misalnya, berapa halamankah? Untuk majalah femina, sekarang biasanya artikel features kecuali Liputan Khas, ditampilkan secara singkat padat. Umumnya dua halaman majalah. Kalau diketik di komputer (MS word) menggunakan huruf ARIAL, ukuran huruf 12, biasanya maksimal sekitar 3 – 4 halaman, spasi tunggal.
            Untuk artikel Gado-gado : panjang tulisan maksimal 2 halaman (arial 12, spasi tunggal. Setahu saya ini pakem yang masih dipakai femina sampai sekarang).
            Kalau pertanyaan karakter berupa bentuk, gaya tulisan, nanti akan dibahas di BAGAIMANA MENEMBUS MEDIA.Boleh ya..?? Jadi disimpen dulu pertanyaannya  

4.   Arin- Murtiyarini, Mba Rika, mgk dg alasan trust itu juga ya majalah XX mengubah tulisan kiriman pembaca jd bentuk wawancara dg si pengirim tsbt tp penulis yg tampil si redaktur. Begitukah ? maksudku tulisan dr pembaca tampil dg nama redaktur, atas hasil wwcr dg pembaca tsbt..pdhl tulisannya sih gak jauh dr yg dikirim tadi.. Ini ada bbrp kasus mba Rika, dimuat, editan tidak banyak, tapi nama yg tampil adalah redaktur. Penulis seolah-olah sbg narasumber. December 14, 2011 at 11:25am 

                   JAWABAN:
            dear Arin, Editor di majalah biasanya memang akan mengedit tulisan dari luar. Namun biasanya tulisan yang diedit diusahakan tidak merombak banyak. Kalau banyak yang dirombak, pengalaman saya, biasanya, sih, tulisan itu sudah pasti gak bakal saya loloskan. Kalau memang topiknya menarik, tapi tulisan perlu tambahan, penulis bisa dihubungi oleh sang editor untuk merevisi. Dengan catatan, kalau editornya rajin, gak lagi sibuk, gak dikejar deadline. Kebanyakan sih, tulisan yang dikirim itu akhrnya jadi tidak lolos terbit. Alias, maaf, masuk tempat sampah.
            Kalau tulisan itu akan dirombak, atau di rewrite oleh editor, etikanya sang editor ikut mencamtumkan nama penulis naskah kiriman tersebut di sebelah namanya. Jadi, menjadi penulis bersama. Naskah kiriman dianggap bahan tulisan, dan penulisnya ikut diakui sebagai penulis dengan ikut dicantumkan namanya dan selanjutnya diberi honor J
            Kalau hanya editing susunan bahasa, mengubah atau memperbaiki judul,catcher, sub judul, atau sedikit redaksional (misalnya kurang dari 10 kalimat), pantasnya,sih, yang dicantumkan adalah nama penulis, bukan nama editor. Sebagai editor, malu,dongngaku-ngaku tulisan orang lain sebagai tulisan diri sendiri. Itu etikanya. February 8 at 11:40am ·

Semoga bermanfaat. Salam, rika :)

Resume Diskusi Online Jurnalistik IIDN
14 Desember 2012
(Update 15 Februari 2012)

0 komentar:

Post a Comment