Breaking News

16 May, 2012

ZONA BEBAS


by Cani Casmara
Si Kancil anak nakal,  suka mencuri mentimun ayolah kasih kurung jangan diberi ampun.....
Ada yang hapal dengan lagu itu, pastilah semua hapal ya, kadang saya  menyanyikannya untuk anak saya sampai sekarang, dan juga saya suka bercerita tentang kenakalan Si Kancil buat anak saya.
Cerita ini saya kenal sejak saya berada SD, sudah lama sekali ya..pastilah ibu-ibu yang seangkatan dengan saya tahu lagu dan cerita Si Kancil ini.
Jadi tema zona bebas malam adalah tentang cerita atau dongeng favorit kita, sewaktu kita masih TK atau SD, sumbernya bebas, darimana saja, bisa aja kita kenal cerita atau dongeng itu dari ibu kita, atau dari guru SD kita, bisa juga dari buku atau majalah favorit kita waktu kecil.
Saya bawa ibu-ibu semua ke zaman baheula yaaa, zaman yang indah dan penuh dengan tawa dan canda, masa kanak-kanak..
Oke mari kita ramaikan zona bebas ini, zona bebas mulaiiii..^^

Yuk! Beri Buku ^^


by Siti Nuraida
Hari Jumat kemarin di sore yang sejuk, aku, suami dan anakku kembali menghabiskan waktu di toko buku.
Niat awal sekadar melihat-lihat. Niat yang hanya bertahan sekejap.  Setelahnya, bermunculan banyak mumpung; mumpung bukunya bagus, mumpung  diskon, mumpung masih ada uang dan masih banyak mumpung lainnya.
Sejujurnya, selalu ada alasan dan pembenaran bagi kami untuk membeli buku; sepailit apapun keuangan kami.

Benar saja, kami kembali kalap. Uang kembali menipis. Namun semuanya  impas saat sensasi 'menjadi orang paling kaya dan beruntung sedunia'  kembali kami sesap saat melihat beberapa buah buku bagus sukses kami  bawa pulang.

Tiba-tiba, sebuah pemandangan mengusikku saat aku hendak membayar buku di depan kasir.

Di seberang tempatku berdiri, seorang pengemis cilik tengah asik  menonton sebuah kartun di pojok penjualan cd diskon. Sesekali anak  tersebut terbahak.

Kuperhatikan seksama pengemis cilik berbaju dekil tersebut. Usianya kira-kira 9tahun.

Aku dan suamiku berpandangan sesaat. Tanganku langsung merogoh tas.  Aku terbiasa menyimpan biskuit dan beberapa kotak susu untuk anakku. Dan  juga untuk kami berikan pada pengemis dan pengamen cilik yang kami  jumpai.

Saat sekotak susu coklat sudah berada di genggaman, aku melihat sebuah pemandangan menarik.

Disela-sela tawanya menonton film kartun, mata pengemis cilik itu  sesekali melihat buku-buku yang bertebaran di seluruh ruang pameran. Ada  jeda dan binar disana.

STORYCAKE for MOMPRENEUR


by Ari Kurnia
Bismillah….
Setelah melalui proses yang cukup mendebarkan, membolak-balik naskah, menimbang dan memilih… akhirnya tersaring naskah-naskah cantik dari para mompreneur.
Dalam penyaringan ini, ada rasa yang tercampur aduk. Ingin rasanya saya meoloskan semua naskah, namun hal itu tidaklah mungkin. Terkadang saya menemukan naskah yang bagus ceritanya namun kurang nikmat dibacanya. Beberapa naskah cukup nikmat dibaca namun isinya tidak sejalan dengan misi visi yang saya usung dalam  STORYCAKE for MOMPRENEUR.
Untuk beberapa naskah yang lolos, telah saya edit agar selaras dengan misi visi yang saya usung, tanpa mengurangi “isi” dari naskah. Jadi mohon kerelaan para pemilik naskah.
Selamat bagi Anda yang lolos versi saya (selaku penanggung jawab) dan agensi naskah (Indscript Creative). Semoga penerbit (GPU) pun meloloskannya.
Bagi yang belum lolos, jangan berkecil hati. Setiap peristiwa ada hikmahnya. Dan di IIDN ini akan banyak audisi menulis buku antologi yang menanti Anda.

SESUATU PADA DINI HARI


by Bunda Lahfy


Si Mbok... Begitu dia menyebut dirinya, dan aku pun memanggilnya dengan sebutan itu. Umurnya mungkin mendekati 70 tahun, aku tak tahu pasti. Beberapa giginya sudah ompong dimakan usia. Jelas terlihat kalau dia sedang tertawa. Tapi mata dan telinganya masih sempurna. Kakinya berjalan dengan terseok-seok tanpa alas kaki. Sedikit terpincang-pincang. Tak pernah aku sangka kalau di Jakarta masih ada orang yang tidak pernah menggunakan alas kaki. Si Mbok tinggal disekitar kompleks rumahku, hanya berjarak sekitar 50 meter saja dari rumahku. Ya... Si Mbok adalah tetanggaku.Pakaiannya selalu terlihat lusuh tak disetrika sekalipun dia baru saja bertukar pakaian. Kerudung polos dengan warna yang sudah memudar menutupi kepalanya.
"Aku ora tau tuku klambi, ini dinei karo bu RT "(aku ngga pernah beli baju, ini dikasih sama bu RT)
Bahasa Jawanya tak bisa dia lepaskan sama sekali. Bukan bahasa halus, dia tak mengerti itu.

Dia dan suaminya berjualan kopi dan rokok di sebuah sudut kompleks rumahku. Tentu saja warung yang tak ada ijinnya, yang berdiri asal saja dengan resiko penggusuran. Disitu pula dia dan suaminya tinggal. Sempit dan kumuh. Anaknya bekerja sebagai penyapu jalan di Dinas Kebersihan. Tidak tinggal bersama mereka. Suaminya bekerja sebagai pesuruh disebuah sekolah dasar.

SEPOTONG TAHU ISI


By Sri Rahayu
Pagi ini aku bangun kesiangan.  Padahal aku harus menyiapkan sarapan untuk anak dan suamiku tercinta.  Ohhh...bagaimana mungkin ini terjadi?  Waktu sudah menunjukkan pukul 05.15, padahal suamiku harus sudah berangkat pukul 05.30, belum lagi si kecil yang selalu rewel menagih sarapan di pagi buta.

Rasanya aku seperti sedang mengejar kereta saja pagi ini.  Bergegas kusiapkan susu dan secangkir teh panas untuk suamiku.  Tapi...aku lupa, kulkasku tak berpenghuni! Duh teledor sekali aku ini.  Akibat hujan yang turun semalam rencanaku belanja kebutuhan gagal total karena kehujanan.  Gimana ini???

Oh....iya , aku ingat!  Kebetulan salah seorang tetanggaku berjualan tahu isi.  Sepertinya ini bisa aku jadikan alternatif sarapan di pagi hari.  Ya..ya..ya..  Tergesa aku pergi menuju rumah tetanggaku untuk membeli beberapa potong tahu isi dan pisang goreng.

Setelah mendapatkan apa yang kucari, aku pun segera kembali pulang. Oh tidaak... rupanya suamiku sudah bersiap di atas sepeda motor jadulnya.  Akupun memintanya untuk sejenak turun dan memakan tahu isi untuk pengganjal perut.  benar-benar aku merasa bersalah, dan sepertinya suamiku dapat menangkap perasaan itu.  Dia pun tersenyum seraya berkata, " Ngga apa sayang, aku ngerti kok betapa lelahnya kamu semalam.  Tak usah kamu merasa bersalah.  Begini aja, berhubung hari telah siang, kubawa aja tahu isi ini untuk bekalku di bis, okay?  Selamat Hari Kartini Sayang!  semoga kau selalu menjadi Kartiniku"

Duh...malunya aku.  suamiku begitu pengertian kepadaku.  Beruntungnya aku memilikinya.  Tapi paling tidak aku tak khawatir lagi suamiku masuk angin karena ada tahu isi yang menemani perjalanannya.

Sepasang Sayapmu, Teman ...


by Lygia Pecanduhujan
Aku  rindu kamu. Rindu seperti apa ? entahlah, rindu seorang teman kurasa.  Rindu yang biasa-biasa saja. Bukan rindu menggebu-gebu yang membuatku  ingin selalu bertemu. Bukan juga rindu mendebarkan yang membuatku  menginginkan pertemuan. Tapi rindu yang membuatku tertawa mengingat  hari-hari yang telah dilewati bersama.

  “Jangan genit melulu,”  cercamu kala itu. Ho ho ho, segenit apakah aku dimatamu ? genit karena  banyak teman lelaki yang aku hadiahi senyum ? ataukah genit yang  tersirat dari status-statusku yang  lugas apa adanya ? tapi itulah kamu,  dan semua hal tentangmu yang membuatku makin merindu.  Kamu yang apa  adanya, mencela, mengejek, memarahiku habis-habisan, melontarkan sekitar  seribuan kalimat sinis tentang sikapku yang selalu salah di matamu.  Namun disanalah kutemukan kehangatan itu. Aku dan kamu, kamu dan aku,  kita bagaikan Tom and Jerry, tampak saling tak suka namun sesungguhnya  saling menyayangi.

Aku nyaman bersamamu. Ketika kita  berbincang dengan banyak orang bersama-sama dan kau membisikiku di  belakang mereka, “Ini gak asyik. Kita jauh lebih asyik..” aha ! dan kamu  memonopoli waktuku dari hari ke hari, minggu ke minggu hingga tak  terasa bulan kedua kita lalui. Tanpa sadar, kau telah memiliki waktuku  jauh lebih  banyak dari siapapun. Tapi monopoli ini adalah monopoli yang  asyik. Monopoli yang akan kurindukan mungkin sekian puluh tahun ke  depan.

Perhatianmu sungguh luar biasa. Mencecarku hingga  kehabisan udara. Menghujaniku bukan dengan kalimat-kalimat manis yang  mampu menekuk lutut para gadis. Kemampuanmu membuatku tertawa saat  datang airmata, membuatku tergugu dan hanya bisa membisu. Terbuat dari  apakah dirimu ?

SEKEPING DIRHAM PANAS


by Candra Nila Murti D
            Dahlan Iskan Marah besar, ditendangnya kursi pada loket pintu Tol. Gubrak!!!.    ”Kenapa loket ini tak ada yang jaga? Tahu tidak dari sejak subuh, pengguna tol sudah berpacu dengan waktu. Mereka mengantri mengular, buka Cuma banyaknya volume kendaraan, tapi diperparah dengan ketidakdisiplinan petugas loket. Saya saja sebagai Mentri sudah disiplin untuk segera pergi kekantor..”
            Mentri BUMN itu benar-benar murka. Jasa Marga sebagai salah satu bidang jahahannya, telah torehkan ‘perih’ didadanya. Sedang Ia berkali-kali sebagai tameng untuk jawab pertanyaan rakyat ketika tarif tol akan naik, begitu naik tak diimbangi servis yang sempurna  Seperti ia mendesah, saat amanah diusung, saat itu juga sebenarnya beban berat telah disangga. Ia sangat paham.
            Sebenarnya, saya bukan penggemarnya menteri yang low profile ini. Soalnya berjibun pejabat; polanya sama, banyak tak amanah, bikin bête, pekerjaan yang tak benar, tak melayani rakyat, malah sebaliknya suka banget dilayani. Namun beberapa saat yang lalu banyak ‘tingkahnya’ memaksa untuk dilirik. Naik ojek, ketika jalanan ibulota macet. Tiba-tiba ada diatas kereta api, Bus Trans-Jakarta, bikin kelimpungan para pejabat setempat yang sungguh tak siap dengan kedatangannya mendadak.

Refleksi Hidup


by Lygia Pecanduhujan
Hidup memang luar biasa. Unpredictable. Kita bahkan tak tahu kaki kita akan melangkah ke mana esok hari. Waktu, bahkan terkadang mencandai  kita dengan menyembunyikan realitas dalam lipatan-lipatannya.

Akan bertemu siapakah kita esok hari, bulan depan, atau tahun depan ? Akan mengalami kejadian apakah kita kelak di kemudian hari ?

Apakah segala cobaan yang kita hadapi saat ini adalah cobaan terberat ? Ataukah justru hanya kerikil kecil sementara di depan sana bisa jadi akan ada cobaan yang jauh lebih dahsyat untuk kita ? We never know ...

Hidup memang penuh kejutan. Dengan awal dan akhir yang sama sekali TAK PERNAH terduga. Seperti hujan yang tak tahu kapan harus berhenti membasahi bumi, kita juga tak tahu mau jadi apa kita kelak, akan ada di mana, dan  apa kontribusi yang pernah atau akan kita lakukan untuk sekitar kita.

Bagaimana cara kita menghadapi sebuah kejutan ? Kalau kita tidak siap, kita akan sangat terkejut. Mungkin shock, dan bahkan mengalami hal yang lebih parah,misalnya depresi,  hanya karena kita tidak siap menghadapi kejutan itu.

Jadi, bersiaplah,

Pergilah menghirup udara segar dan perhatikan hal-hal kecil disekitar kita. Kemudian, mulai saat ini kita persiapkan diri sebaik-baiknya untuk menghadapi segala kemungkinan apapun yang terjadi dalam hidup. Bersiap menerima realita bahwa terkadang hidup tak dapat berkompromi dengan kita. Kita boleh lemah dan terjatuh, namun waktu tak akan menunggu kita hingga kita menjadi kuat. Waktu memang tak akan pernah bisa menunggu ...

Ah, Mari kita mulai nikmati hari dengan secangkir teh, kopi atau coklat panas. Apapun pilihan kita, akan selalu ada kejutan disetiap teguknya.

Ah, hidup memang luar biasa indah. karena hidup selalu mempunyai cara terindah untuk kita menjadi kuat. Terima kasih, sahabat. Karena telah menemaniku menghadapi setiap kejutan dalam perjalanan ini.

NB : Setiap kita adalah MOTIVATOR bagi diri kita sendiri...

Reality Bites, Ouch!


by Sri Andarini Litaningtyas
Hari ini harus kembali melepas kepergian seorang teman.Mau tak mau, ingatanku melayang padamu. So far away, so out of reach, please be alright, honey. Jantung berdegup kencang tak henti.
Setiap melihat perpisahan seperti ini, seolah mengingatkan bahwa aku juga harus selalu siap jika harus mengalaminya. Tapi apakah kita akan pernah siap menghadapi perpisahan seperti ini? We never know the answer, I guess, till finaly we faced the reality.
Kenyataannya, kita lahir ke dunia seorang diri, dan harus siap menjalani hidup seorang diri pula. Karena pada akhirnya, semua yang kita lakukan akan dipertanggungjawabkan seorang diri. Ketika itu barulah kita tersadar, bahwa hanya pada kasih sayang-Nya kita berserah diri, berbekal keyakinan bahwa Ia takkan pernah meninggalkan hamba yang mencintai-Nya, maka kita pun harus melanjutkan hidup.
Sungguh rapuh manusia, hanya dengan belas kasih-Nya ia datang dan pergi dari dunia yang hanya sementara. Yang walau pun hanya sementara, namun betapa kita menggantungkan seluruh cinta dan upaya kita pada kehidupan ini. Dunia yang betapa pun erat kita berusaha mempertahankan apa yang kita miliki, pada akhirnya kita harus pasrah dan ikhlas jika harus melepaskan.
Pelajaran hari ini, memiliki berarti harus siap melepaskan, walau seakan meluluhlantakkan segenap daya hidup. Betapa pun pahit, semua adalah skenario Allah untuk menjadikan kita lebih mulia.
Boleh jadi kau menyukai sesuatu padahal itu tidak baik untukmu, boleh jadi kau tidak menyukai sesuatu padahal itu baik untukmu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui.

Surabaya, 16 Mei 2011
Usai pemakaman Kak Dodik Prasetya
Gudep Surabaya 611 Pangkalan Kampus ITS

PEREMPUAN YANG CERDAS MENGHADAPI BENCANA


by Candra Nila Murti D
 (TULISAN INI DIMUAT DI MAJALAH "POTRET" ACEH, MENGINGATKAN KITA BAHWA BENCANA BISA TERJADI SETIAP SAAT, MOGA MANFAAT)

            Suatu hari saya memaksakan diri untuk mengirim SMS kepada rekan yang kebetulan menjadi Ketua Komite Sekolah, Isinya adalah kegalauan Saya terhadap bencana yang baru saja terjadi, yakni gempa besar di Padang, yang merenggut ratusan nyawa, yang sebelumnya Gempa hebat landa kota kelahiran saya, Yogya dan berimbas pada kota-kota sekitarnya, bahkan sampai Solo tempat domisili saya sekarang. Saya minta pada Beliau, yang kebetulan seorang Ibu, untuk tanggap terhadap anak-anak yang belajar di Sekolah, khususnya sekolah anak-anak kami, yang kebetulan merupakan gedung dengan 4 lantai. Sangat rawan bila musibah gempa hebat melanda kota kami, tak terbayang banyak korban yang berjatuhan bukan karena tertelan gempa bumi, namun berdesakan dengan temannya sebab tak ada komando yang tepat dari para guru, dan anak-anak tak terkendali karena tak pernah ada latihan menghadapi gempa bumi atau bencana alam lainnya.

            “Bila ada dua ratus saja anak yang ingat dari sosialisasi tentang gempa dan bencana alam dari sekitar seribu murid yang bersekolah disitu, tentu ini akan membantu menolong diri sendiri dan mungkin turut membantu menenangkan temannya, tentu saja ini InsyaAllah mengurangi jumlah korban, apabila musibah benar-benar terjadi, ,..” kata saya seolah minta pengertian rekan saya ini, agar mengadakan sosialisasi bencana alam disekolah. Jawabnya pendek, dari SMS panjang itu: “ Ya, bu InsyaAllah akan saya pertimbangkan dan rapatkan dalam rapat pengurus Komite Sekolah,…”

Menghargai Pengalaman


by Mira Arfiani
Di mana-mana ketika akan membuat karya ilmiah, kita akan dibimbing oleh dua orang pembimbing. Begitu pun dengan aku yang merupakan mahasiswa bahasa Jepang. Pembimbing pertama bertugas membimbingku menulis materi yang dibahas di dalamnya dan pembimbing kedua membimbingku menerjemahkannya ke dalam bahasa Jepang.

Ketika aku menjalani masa bimbingan karya ilmiah di kampusku, pembimbing pertamaku tak pernah mempermasalahkan materi yang aku tulis. Beliau hanya memberi masukan-masukan berupa hal-hal yang kurang dan harus aku tambah dalam karyaku tersebut.

Suatu kali aku ditegur keras oleh beliau karena menurutnya apa yang aku kerjakan sama sekali tak sesuai dengan apa yang diminta. Saat itu aku memang sempat tertegun dengan ucapan beliau. Aku pikir aku sudah mengerjakan sesuai dengan permintaan beliau, namun apa yang salah? Aku sangat depresi dan menganggap diriku tak becus dalam mengerjakan apa yang harusnya aku buat. Seakan-akan waktu satu minggu yang kupakai untuk mengerjakan bab yang kuserahkan pada hari itu, terbuang percuma begitu saja. Sehingga, saat itu aku tidak dibimbing sama sekali. Beliau langsung membimbing  temanku yang juga anak bimbingannya. .

Menata Dapur Mungil Sehat di Rumah


by Ita Puspitasari
Dapur menjadi ruang favorit bagi bunda, dari ruang inilah bunda dapat memberikan asupan gizi bagi keluarga tercinta. Kegiatan menyiapkan bahan makanan, meracik bumbu, memasak, dan mempersiapkan hidangan lezat dilakukan di ruang ini. Untuk itu, ada baiknya dapur di rumah ditata sesuai dengan alur aktivitas yang ada. Biasanya para desainer ketika akan menata dapur mengacu pada kegiatan sang ibu di dapur, yaitu menyimpan, menyiapkan, dan memasak makanan. Ketiga hal tersebut disebut dengan segitiga kerja. Manfaatnya agar mudah dalam penataan zona dan terhindar dari kegiatan yang bertentangan. Misalnya, menyimpan makanan, bisa di area penyimpanan seperti kulkas. Area kerja memasak, tersedia kompor atau oven.
Faktor lainnya yang dapat membuat dapur di rumah adalah cahaya, sirkulasi udara,dan  kebersihan dapur. Untuk pencahayaan di dapur, optimalkan pencahayaan alami di siang hari dan pencahayaan buatan seperti lamu di malam hari, terutama ketika Anda harus melakukan kegiatan menyiapkan makanan yang berhubungan dengan memotong makanan misalnya. Setelah pencahayaan, sirkulasi udara menjadi hal penting lainnya agar dapur menjadi sehat, pastikan dapur memiliki ventilasi udara berupa jendela, agar terjadi pertukaran udara. Namun, bila ruangan tidak memungkinkan, gunakan cooker hood sehingga asap yang muncul di dapur dapat dibuang melalui ventilasi di atap. Selain cahaya dan sirkulasi, kegiatan membersihkan dapur secara berkala dapat membuat tampilan dapur tetap awet dan sehat dari jamur. Untuk itu, rajinlah membersihkan dan membuang sampah yang terdapat di dapur.

Ita Puspitasari
Sambil ngemall sambil sharing + IIDN di sini ^^

MEMBACA CEPAT UNTUK MENULIS CEPAT


by Afin Murtiningsih

Dear ibu-ibu cantik….Assalammu’alaikum. Sharing pagi ini tentang menulis cepat membuat saya berpikir tentang perlunya membaca cepat. Seorang penulis akan lebih lancar dalam menorehkan kata-kata ketika pikirannya dipenuhi oleh berbagai pengetahuan, pengalaman, dan keterangan tentang buku yang sedang ditulisnya. Tentu saja hal tersebut kemungkinan besar bisa didapatkan dengan banyak membaca. Dengan banyak membaca berbagai buku tentu wawasan penulis menjadi luas dan penuh warna, hal tersebut sangat membantu untuk bisa menulis dengan cepat.


Share yuk, bagaimana cara ibu-ibu cantik membaca dengan cepat? Kalau saya biasanya saya lihat dulu sinopsisnya di bagian belakang buku, kemudian beranjak dengan melihat daftar isi, lalu membaca dua sampai tiga halaman di depan dan di belakang per bab-nya. Cara demikian sudah cukup untuk membaca keseluruhan isi buku secara garis besar. Ketika waktu memungkinkan maka kita ulangi lagi membacanya, biasanya ketika akan mengawali tidur di malam hari. Bagaimana dengan pengalaman ibu-ibu?

KERINDUAN CINTA


by Sri Rahayu
   Hari ini aku terbangun dari tidurku dengan hati yang berbunga-bunga tak menentu. Bahagia dan penasaran.  Yah mimpiku semalam telah membuatku merasa betapa bahagianya dicintai, dihujani dengan perhatian, ditaksir, dirayu dengan sejuta sindiran indah dari seseorang yang belum kita miliki.  Padahal aku bukanlah seorang gadis belia, aku adalah seorang  istri dan ibu dari dua orang anak.  Suamiku juga sangat menyayangiku dengan caranya, dia sangat bertanggungjawab meski kami hanya bertemu seminggu sekali.  Namun... suamiku bukanlah tipe lelaki yang romantis, dia jarang sekali ingat ulangtahunku, makanan kesukaanku ataupun hal-hal yang tidak kusukai.  Padahal sebagai wanita aku rindu keromantisan.

            Pernikahan kami diawali tanpa cinta, karena sebenarnya kami adalah sahabat yang sama-sama memiliki cinta yang bertepuk sebelah tangan.  Berawal dari sebuah canda dan keisengang kami pun menjalani hubungan hingga ke jenjang pernikahan. Sayangnya dahulu waktu kami pacaran suamiku pernah selingkuh dengan adik tingkatnya.  Luka ini membekas dalam hatiku, meski sebenarnya aku pun tidak pernah menutup hati untuk pria yang kucintai.

Delapan tahun sudah kami menikah, banyak suka duka kami lalui.  Kami berusaha saling memahami.  Suamiku berusaha keras menepati janjinya tuk membuatku bahagia, mencintaiku dan menyayangiku, namun rupanya itu belum cukup buatku.  Kesalahannya di masa lalu membuatku selalu ragu akan perasaannya.  Aku tidak bisa merasakan cinta yang kuimpikan.  Meski aku tidak pernah selingkuh, tetapi aku selalu memimpikan sosok yang lain yang selalu membuatku penasaran tuk mendapatkan cinta sesuai gambaranku.  Padahal anak-anak kami adalah bukti cinta anak-anak kami adalah bukti cinta kami.

Kematian Tak Dapat Ditolak


by Dewi Laily Purnamasari
Tepat 1 April 2010 … (bukan  april yang lain loh!), tiba-tiba kucing yang biasa mondar-mandir di  halaman rumah kejang-kejang. Tak berselang sepuluh menit kucing itu  lemas dan mati di jalan masuk rumah. Ya Allah … padahal kucing itu  kelakuannya lucu sekaligus ‘nyebelin’. Kucing itu juga tidak sempurna  seperi kucing lainnya : matanya kecil sebelah, ekornya sangat pendek  nyaris tak berekor, tubuhnya kecil kurus, bulunya jarang … tapi ingatlah  bahwa pasti Allah SWT menciptakannya tidak sia-sia. Aku juga bukan  manusia sempurna. Benar kan ?
Tak lama setelah penguburan mayat kucing di kebun depan rumah, ada kabar  dua orang famili meninggal dunia. Famili-ku tinggal di kota berbeda  Cirebon dan Sukabumi, namun di waktu yang sama. Subhanallah … memang  manusia semua akan meninggalkan duniaKadang dunia sangat dicintainya.  Namun, cinta sesungguhnya tentu harus kepada yang telah menciptakan dan  memiliki seluruh jiwa dan raga ini. Innalillahi wa inna ilaihi rojiun.

Kelas Cerpen : Memilih Latar Tempat Sebuah Cerpen


by Indah Hanaco
Dear Perempuan Keren,

Salah satu kekuatan cerita adalah setting atau latar. Latar yang tepat dan digambarkan dengan indah, akan membuat cerita juga bergulir cantik. Latar menjadi unsur sebuah cerita, tidak bisa diabaikan begitu saja. Meskipun untuk sebuah cerpen yang panjangnya hanya beberapa halaman. Hari ini kita akan mengulas tentanglLatar tempat.

Namun adakalanya kita terjebak saat membuat latar. Entah karena tidak bervariasi, atau karena penulis kurang menguasai apa yang ditulisnya. Idealnya, penulis harus tahu pasti apa yang sedang ditulisnya. Menguasai latar tempat yang menjadi tulang punggung cerita.

KEINGINAN DARA


by Sri Rahayu
Aku terdiam dalam kebisuan.  Anganku melayang pada peristiwa 20  tahun yang lalu.  Hangat kurasakan belai lembut tangannya yang kokoh,  yang mendekapku penuh kerinduan.  Tapi semua kini sudah berbeda, aku  bukan lagi miliknya.  Aku telah melepasnya karena keegoisanku sendiri.   Sanggupkah aku menerima undangannya?
Ohh…….hati ini rasanya sesak sekali.  Perasaan ini tak dapat kupungkiri,  aku…masih…amat…mencintainya.  Mampukah aku menahan gejolak dada yang  membuncah?  Mungkinkah aku dapat menahan aliran air mata kerinduanku?   Tuhan ….tolong aku! selamatkan aku dari kehancuran yang dalam.
 Hari itu aku datang untuk memperbaiki hubungan kami, yang telah retak  lima tahun yang lalu.  Kerinduan anakku pada sosok ayahnya telah  menghancurkan tembok keegoisanku.  Perasaan seorang ibu yang tak ingin  melihat airmata menetes di pipi anak gadisnya yang mulai ranum, telah  memporak porandakan batu kecongkakan yang ada.  Aku terduduk jatuh,  meratapi semua ini.  Kulihat…dia telah bersanding dengan seorang wanita  yang anggun, wanita yang halus tutur katanya dengan pandangan teduh yang  menyejukkan.
Tuhan…manalah mungkin aku bisa bersaing dengannya.  Sosok wanita yang  jauh lebih sempurna dariku, wanita yang mampu memberinya kebahagiaan  lahir dan batin?  Sementara, siapa aku??  Wanita yang telah durhaka  kepada suaminya, yang menjual kebahagiaan demi sebuah karir dan  jabatan.  Tidak!  Aku tak lagi pantas untuknya.

Keinginan Bapak


by Hidayah Sulistyowati
Masih tentang Ide dan Inspirasi Menulis.Silahkan dibaca cerpen islami yang dimuat di majalah Paras.  Kejadian sehari-hari dan ada di lingkungan kita.  Nggak rumit dan susyeh, hihi....

KEINGINAN  BAPAK
            Sudah hampir seminggu bapak berdiam di dalam kamar tidurnya.  Tak banyak lagi aktivitas yang dilakukan beliau.  Keluar kamar hanya untuk mandi dan makan.  Padahal, biasanya bapak rajin sekali jalan pagi mengelilingi kompleks perumahan usai sholat Subuh.
            “Kita harus telepon Bondan.  Dia perlu tahu  kejadian ini, mas,” cetus Wiwid.
            “Ya sudah telepon adikmu sekarang.  Jangan sampai kita disalahkan nantinya,” jawab Kamal.
            Bondan tinggal tak jauh dari rumah mereka.  Meski tidak setiap hari, tapi dia dan istrinya acap menyambangi rumah ini.  Untunglah Bondan sedang di rumah.  Dia berjanji akan berkunjung malam ini usai sholat Maghrib.
            Seperti biasa bapak sudah masuk ke kamarnya usai sholat Maghrib.  Bondan dan Dewi tiba tak lama kemudian.   Mereka berempat memilih duduk di teras agar bapak tidak mendengarkan pembicaraan itu.
            Wiwid mengutarakan keresahannya.  Perubahan sikap dan perilaku sang bapak yang terjadi beberapa hari ini membuat dirinya merasa tak berguna sebagai anak.  Mereka jarang berbincang lagi.  Padahal usai jalan pagi, bapak akan duduk di teras dan menemani dirinya yang tengah menyiram tanaman.  Mereka bisa mengobrolkan dari hal sepele seperti mbok Muji, bakul jamu yang suka menggoda satpam di komplek, hingga demo mahasiswa yang menentang pemerintahan SBY.  Bapak tidak suka duduk menganggur.  Karena kadang bapak turut membersihkan rumput liar yang tumbuh di sela rumpun bunga, atau di pot.  Itu kegiatan rutin yang sering mereka lakukan pada pagi hari, ketika kedua putri dan suaminya sudah berangkat ke tempat tujuan masing-masing.

KATA HATI_SIRIH BELANDA_AGNES BEMOE


by Agnes Bemoe
Minta izin sekali lagi kepada Mbak Firmawaty Sutan, jam 11.00 ternyata saya ada kegiatan. Saya curi waktu di jam ini ya, untuk post-kan tulisan non-fiksi saya. Makasih^^

===================================================

SIRIH BELANDA (Versi Asli)

Dia mengamati daun-daun sirih belanda yang menjulur memenuhi taman kecil di belakang rumahnya. Dia sungguh tak menyangka tumbuhan itu akan bertahan hidup.
Beberapa waktu yang lalu, tumbuhan itu tertimbun bahan bangunan. Ya, ia harus merenovasi rumahnya. Akibatnya, beberapa tanaman kesayangannya harus dikorbankan, termasuk sirih belanda itu. Dia merasa sayang sebenarnya. Sirih belanda itu hadiah dari sobatnya sendiri.
Di suatu pagi yang cerah ia melihat keajaiban yang tak berani diharapkannya: sepucuk kecil sirih belanda muncul dari sisa-sisa bahan bangunan. Sirih belanda itu ternyata tidak mati! Berikutnya, pucuk-pucuk kecil yang lain bermunculan dari balik sisa bahan bangunan itu.

Dia menghela napas. Sangat dalam. Sirih belanda pemberian sahabatnya itu bertahan di bawah tekanan sisa bahan bangunan. Namun, persahabatannya tidak.

Dia teringat ketika masa suram itu datang menimpanya. Ia diberhentikan dengan semena-mena dengan tuduhan bermacam-macam: koruptor, pencuri, penghasut, dan lain sebagainya. Semuanya itu karena ia tidak mau ikut-ikutan bermain kotor di kantornya. Ganjarannya adalah pengucilan sampai dengan pemecatannya.
Saat itu adalah saat yang sangat gelap buatnya. Namun, yang lebih membuatnya terkejut adalah ketika menyadari bahwa orang-orang di sekelilingnya ternyata tidak seperti yang diduganya. Sahabatnya itu, ikut-ikutan juga melempar batu kepadanya ketika ia sedang jatuh terpuruk.
Kenyataan di depannya itu telak menampar kepercayaannya selama ini. Selama ini ia yakin, tidak mungkin hal-hal duniawi mengalahkan nilai-nilai persaudaraan dan persahabatan. Ternyata, ia keliru. Bila disuruh memilih, orang ternyata lebih suka pada pilihan pragmatis. Sahabatnya itu harus ikut-ikutan melempar batu, atau kehilangan jabatannya.

Jika Ibu-Ibu Doyan Nulis Mengikuti Acara Tabligh Akbar, Ini Ceritanya….


by Rima Farananda
Jeng Candra Nila Murtin D, aku sebenarnya kepengen bisa spt jenengan, menulis sesuatu yang berbau agama ba'da acara tabligh akbar, tetapi yang tercipta kog malah tulisan ini yo jeng?....he2

Jika Ibu-Ibu Doyan Nulis Mengikuti Acara Tabligh Akbar, Ini Ceritanya….
Oleh : Rima Farananda

       Hari Jumat yang lalu saya menghadiri acara tabligh akbar di salah satu masjid yang terletak di salah satu kompleks perumahan dekat  dari rumah dimana kami sekeluarga tinggal. (baca: mengontrak…). Tabligh akbar tersebut diisi dengan ceramah oleh salah satu ustadz yang kebetulan cukup terkenal dan sering mengisi acara siraman rohani di berbagai stasiun televisi di tanah air.

  Wah, rupanya nama beken seorang ustadz merupakan magnet penarik yang super ampuh untuk mengumpulkan massa (peserta tabligh) dalam jumlah besar. Saya mengatakan demikian karena sudah beberapa bulan terakhir ini saya selalu menyempatkan diri untuk mengikuti secara rutin acara pengajian, ceramah ataupun tabligh yang diadakan di masjid tersebut. Selama beberapa bulan saya menjadi jamaah semua acara pengajian di masjid itu, belum pernah terjadi pengumpulan jamaah sebanyak  pengunjung yang ada pada saat itu.

Jejak


oleh Nani Asmarani

Yang sepertimu banyak
bukan satu,
 membuatku haru
hingga retak seluruh tulangku
karena pilu di matamu
dan rapuhnya senyummu


sempat ku berpaling
namun jejak kurusmu
selalu ada menari-nari
hingga merampas mimpiku…

Mei 2012

Jangan Lagi Tuhan. Tidak di Acehku.


by Rainy Safitri Inge
Oleh-oleh gempa Aceh, 11 April 2012
*****

Sore  itu, cuaca panas. Aku berangkat ke sekolah Hilmy, anak sulungku,  untuk  mengurus administrasi persiapan pendaftaran ke SMA.  Nada ikut untuk  berangkat les seperti biasanya.  Nail sudah pasti tak pernah mau  ketinggalan.  Belum sampai lima menit mobil melaju, di pinggir jalan  orang-orang nampak ramai.

"Ada yang kecelakaan ya Bu?" tanya supirku.

"Kayaknya nggak ada, kenapa ya orang kok heboh begitu?" Aku balik bertanya.

Tiba-tiba, mobil terasa seperti digoyangkan ke kiri dan ke kanan.  Orang-orang berhamburan ke jalan. Masya Allah!  Gempa!

Seketika  supirku menghentikan mobil.  Beberapa saat kami terdiam dan  terombang-ambing di dalam mobil. Saat itulah aku teringat, adikku  sendirian di rumah.  Segera kuminta supir memutar arah, menjemput adik  di rumah.
Hilmy segera kutelpon, namun sulit tersambung.  Begitu juga suamiku.  Ya Allah, lindungi mereka, bisikku.

IT'S ABOUT IDE DAN INSPIRASI.


by Dheavannea Dhea
Mari bicara tentang ide dan inspirasi.

Bener kata salah seorang cerpenis senior bahwa  ide bisa datang dari mana aja. Cerpen terbaruku di HAI berjudul "ANGEL  EYES" edisi 9 April 2012 karena bete ngeliat hubby ku yang bolak balik  bengkel ngurusin pemasangan Lampu Angel Eyes untuk mazda 2 yang gak  beres-beres juga. Lampunya nyorot menyilang alias membentuk diagonal.  Bukan lurus. Sialnya, hal itu baru terlihat jelas ketika dibawa malam  hari.  Ada temen juga bilang, buatlah cerita sederhana dari ide yang sederhana, lalu poleslah jadi cerita yang menarik.  Selain itu pembicaraanku tentang 'mata' seseorang yang suka memendam kesedihan dengan teman yang lainnya juga turut menginspirasi. Kenapa tidak menggabungkan kedua pengertian konotatif dan denotatif dalam satu cerita?  Selain itu, aku juga tertantang seorang teman yang bilang tokoh dalam cerpenku yang pernah aku share tentang kisah remaja cowok kurang terasa 'cowok banget'.  Apalagi saat itu ada temanku  baru dimuat cerpen di HAI. Aku jadi pengen bikin  cerpen yang POVnya cowok banget. Lahirlah cerpen ini. Ayolah kita  tangkap ide sederhana di sekitar kita dan buatlah jadi cerita yang  memikat.  Cuplikan:

Ibu Hebat di Ranjang Sebelah


by Dewi Laily Purnamasari
Tangis anak yang agak aneh terdengar dari ranjang  sebelahku. Baru sejam lalu ranjang itu kosong ditinggal penghuninya yang  telah sehat kembali ke rumahnya. Aku terbangun jam menunjukkan pukul  11.00 malam, lamat-lamat terdengat lagi bunyi nafas tersengal yang juga  kurasa agak aneh.
Rasa penasaranku ‘kumat’ … Aku bangkit perlahan dari  ranjang karena khawatir anakku, Kindi terbangun. Ia sedang tertidur  pulas dengan selang dan botol infus tergantung di sebelah kanannya.
Kulangkahkan kaki menuju kamar mandi dan harus melewati ranjang sebelah.  Seorang ibu sedang memangku anak berusia kira-kira setahun (ternyata  aku salah sangka : keesokkan harinya aku tahu anak itu berusia dua  tahun). Devan, namanya. Ia dikaruniai kebutuhan spesial. Di usianya  kini, Devan belum bisa berbicara dan berjalan. Gerakannya tak  terkendali. Makannya bubur saring. Kini ia terbaring tak berdaya dan  sering tiba-tiba menangis disertai demam yang tak kunjung reda.

Ibu dan Mimpi-Mimpinya


by Lygia Pecanduhujan
Pukul 11 malam. Tanpa sengaja memindahkan channel TV ke TV Kabel dan mulai
memilih-milih film yang mungkin bagus diantara 12 channel khusus film. Pilah pilih
pilah pilih. Tibalah di channel HBO Family. Film baru dimulai. Film jadul,
kukira produksi tahun 80-an. Tanpa tahu apa judulnya, aku paksakan diri untuk
menonton, bukan karena tayangan lain tidak ada yang menarik. Ternyata film
berdurasi 2 jam tanpa iklan tersebut mampu menyihirku untuk tetap menatap ke layar kaca tanpa menyentuh remote control.

Hilang Dalam Malam


by Novi Sudarman
Have you ever fight for love? For us?
Have you ever fight to had my love?
No, you never fight for us or for the love in your heart
You give up too soon
You throw away all we had

Katanya cinta tapi tak berani melangkah
Katanya sayang tapi takut dan menghilang
Kenangan manis yang tersisa berubah menjadi kelam
Rasa yang begitu dalam sirna menjadi dendam

Kau tak pernah berjuang demi cinta
Kau pengecut terburuk seantero dunia
Pergi tanpa pesan dan menghilang ditelan malam kelam
Lalu kembali dengan pengakuan saat semua sudah terlambat

Healing Bullied: #8


by Rhaudhah Kaala
Siapa bilang, Ibu kepala sekolah hanya diam duduk diruangannya?

Pagi ini, aku dan Wina dipanggil ibu kepala sekolah.

Karena? Kemarin kami buat Tika nangis. Bukan kami, aku, tepatnya.

Bangku panjang didepan kantor kepala sekolah kami duduki. Wina ditanyai. Aku juga.
“Bu, Jasmine yang putar. Bukan Wina.” Wina boleh pergi masuk kelas. Kepala sekolah pandangi aku, senyum. “Kenapa Jasmine jujur bilang Jasmine yang putar? Bilang saja Wina yang putar.”
“Yang putar Jasmine, bu…”
“Yang putar, Jasmine?”
“Iya. Yang putar Jasmine.”
“Jasmine tidak bohong?”
“Ngga boleh bohong bu.”
“Yang bilang tidak boleh bohong, siapa?”
“Ayah. Mama juga.”
“Kenapa ngga boleh bohong?”
“Kata ayah, kalo Jasmine bohong, trus tuduh orang lain, yang dimarahi orang lain. Padahal dia ngga salah. Itu bohong. Ayah bilang, bohong itu ngga baik.”
“Oh, begitu…” beliau menggeser duduknya menghadapku. “Jasmine, bisa cerita, kemarin kenapa Tika nangis?”
Lalu aku cerita. Wanita setengah baya disampingku mendengarkan. Sesekali menggangguk. Paham maksud ceritaku. Matanya baik. Bibirnya senyum.

Healing Bullied: #7


by Rhaudhah Kaala
Sudah berapa minggu ya, aku terus bilang sama mama, kalo aku ngga mau ke sekolah lagi.
“Kenapa ngga mau ke sekolah lagi?”
“Bu guru ngga baik.”
“Ngga baiknya kenapa?”
“Bu guru pilih-pilih.”
“Pilih-pilih?”

Aku tidak menjawab lagi.

Aku ngga suka sama bu guru. Bu guru kalo lagi bicara sama aku ngga pernah lihat aku. Bu guru melihat kearah lain. Kalo aku lagi cerita, bu guru suka motong, trus ngomong sama Tika. Ajak Tika main. Waktu bu guru tanya, siapa yang tau warna kapur yang bu guru pegang, aku langsung tunjuk tangan pertama kali. Tika ngga tunjuk tangan, tapi bu guru tunjuk Tika buat jawab pertanyaan. Aku bilang, kalo aku yang tunjuk tangan duluan, bu guru ngga perhatiin aku. Tika jawabnya salah, bu guru bantu perbaiki jawaban, trus puji-puji Tika.

Healing Bullied: #6


by Rhaudhah Kaala
Sore.

Nenek Annete sedang menyuapi Annete dengan bongkahan kecil keju warna putih. Aku tidak mau. Rasanya aneh. Aku makan kue saja. Namanya lidah kucing. Padahal sama sekali tidak mirip lidah kucing.
“Nek, Leo digigit anjing tadi siang.”
“Oh ya? Leo yang tinggal disana?” telunjuknya menunjuk komplek dekat rumah.
“Iya.”
“Lalu bagaimana?”
“Sekarang ngga tau nek. Tadi siang, Leo lagi main sama anak bu Halim, trus, ada anjing datang, gigit kaki Leo. Kaki leo ditarik-tarik nek. Leo teriak-teriak, nangis-nangis, trus, anjingnya dilempar batu sama bu Halim.”
Selagi aku bercerita, nenek Annete memandangiku. Mendengarkan.
“Bu Halim yang menjual bubur tinotuan disitu?” wajahnya berubah khawatir.
“Iya. Yang disitu, nek.” Ku tunjuk warung kecil diseberang rumahku.
“Leo sudah dibawa ke dokter?”
“Ngga tau, nek.”
“Semoga sudah dibawa ke dokter ya.”
“Nek, anjing yang gigit Leo lucu deh.”
“Lucu kenapa?”
“Dia makan sabun.”
“Sabun?”
“Iya. Di mulutnya ada busanya. Dia makan sa…”
“YA TUHAN!!” lalu nenek bicara dalam bahasa Belanda. Ngga tau bicara apa. Aku dan Annete sama-sama memandangi nenek sambil makan. Aku makan kue lidah kucing, Annete makan keju. Aku ngga ngerti nenek bicara apa, Annete tau artinya, tapi bingung kenapa neneknya misuh-misuh.


Healing Bullied: #5


by Rhaudhah Kaala
Hari ini aku masuk TK. Namanya Al Achaerat.

Aku sekolah di akhirat, padahal tempatnya ngga jauh dari rumah. Tepat disebelah bioskop yang selalu muterin film India.

Pagi-pagi aku sudah bangun. Mandi. Lalu dipakaikan seragam kemeja putih, dan baju luar selutut berwarna biru tua. Topinya juga warna biru, semodel topi tukang somay. Kaos kaki putih diatas mata kaki. Sepatu hitam dengan tali. Sepatu ini baru kemarin dibeli. Setelah belajar membuat simpul tali sepatu dari mama, sepatu kujejerkan di ruang tamu, disamping pintu masuk.
Hitam. Bersih. Itu sepatuku.
Sekarang sepatu hitam ini berpindah. Dari samping pintu masuk, ke kakiku.
Jam delapan.
Ayo ma, kita berangkat.
Dengan tas slempang warna biru berisi buku tulis yang masih kosong, pensil,  sekotak bekal makanan dan botol minum, aku digandeng mama berjalan kaki ke sekolah.
Senang.

HEALING BULLIED


by Rhaudhah Kaala
  Fresh from the oven.
Roti kepang isi coklat kacang manis buatan mama.
Hangat. Manis. Gurih. Enaaaakkk….

Roti ini sama dengan rambutku. Kepang tiga. Betul-betul kepang tiga. Satu kepang dikanan kepala. Satu kepang di kiri kepala. Satu lagi dibelakang kepala.

Mama suka marah kalo aku minta dikepang tiga. Malu katanya. Nanti diketawain orang.

“Ngga ada orang yang dikepang tiga begini.”
“Ngga pa pa ma. Aku suka.”
“Dikepang dua aja.”
“Ngga mau. Mau kepang tiga.”
“Orang-orang dikepang dua.”
“Aku ngga mau sama kaya’ mereka.”
“Nanti jasmine diketawain. Mama kan malu.”
“Ma, yang dikepang kan aku.”
“Jasmine ngga malu?”
“Ngga.”
“Ngga ada orang yang kepang tiga.”
“Mau kepang tiga.”
“Kalo ditanya kenapa mau kepang tiga, jawabnya apa?”
“Biar sama kaya’ roti ini. Kepang tiga.”

Hadiah Manis Dari Suami


by Lygia Pecanduhujan
Suamiku tahu aku maniak membaca. Suamiku tahu aku tak bisa hidup tanpa buku. Dan, suamiku tahu aku paling gak bisa betah duduk diam atau terbaring tanpa sedikitnya membaca dulu beberapa halaman. Oleh karenanya, meski ia dan aku terpisah jarak karena aku di Bandung dan dia di Semarang, dia selalu punya cara untuk membuatku tetap merasa nyaman meski dalam kondisi bedrest. Banyak cara yang ia lakukan, mengirimkan sms-sms lucu, menelepon, hingga mengirimkan paket buku yang bisa aku nikmati tanpa pernah merasa bosan.

Berikut judul-judul buku yang aku terima (untuk memenuhi janji dengan teman-teman IIDN, siapa tahu ada yang tertarik bacanya juga). Blurb ada yang aku ambil dari back cover, ada juga yang dari internet karena aku belum khatam bacanya ^^ :



1. CATATAN ICHIYO (Rei Kimura), Penerbit : Gramedia Pustaka Utama




Ichiyo Higuchi adalah gadis Jepang biasa. Ia terlahir dengan nama Natsuko Higuchi, sebelum mengambil keputusan besar untuk mengganti namanya menjadi Ichiyo Higuchi. Ia menjalani hari-hari yang sulit dan melelahkan. Berpindah-pindah dari rumah yang satu ke rumah yang lain karena kondisi keluarga yang miskin.
  Sepeninggal ayahnya, yang paling berpengaruh bagi bakat sastranya, Ichiyo menjadi anak yang paling bertanggung jawab untuk menjaga keluarganya. Pekerjaan apa pun ia lakukan demi semangkuk nasi, sup miso shiro, dan acar bagi keluarganya. Mulai dari menulis cerpen dan novel, berdagang, hingga pekerjaan seperti mencuci dan menjahitkan kimono orang lain.
  Perjalanan hidup mengarahkan Ichiyo menjadi penulis. Menjadi penulis perempuan pada zaman Meiji adalah hal yang hampir mustahil, namun tekad dan semangat Ichiyo akhirnya membawanya menjadi salah satu penulis yang paling diperhitungkan di Jepang. Sayang, kesehatan yang terus memburuk akibat penyakit tuberkulosis yang menggerogoti Ichiyo mengantarnya pada ajal di usia belia, 24 tahun.
  Di akhir hidupnya, barulah sajak dan novel-novelnya dibaca dan dihormati oleh warga Jepang. Beratus-ratus tahun kemudian wajahnya diabadikan pada mata uang kertas 5.000 yen Jepang. Sebuah penghormatan dan kedudukan yang tak pernah dicapai oleh perempuan Jepang mana pun.

"Garage Book Sales"@Pasar Minggu


by Dewi Ika
Pusing sudah cari pojokan untuk simpan buku tapi dibuang sayang? Punya buku kebanyakan dan mau dilungsurin? Mau jual buku lama untuk tambahan beli buku baru? Mau berbagi saja buku yang sudah tak terpakai? Mau share isi buku bagus yang dimilki saking senengnya manfaat buku itu? Mau jual murah buku-buku bekas hanya untuk sesama wanita senasib dan sepenanggungan? Mau beli buku bagus dan murah dari saudara di IIDN? Mau ngobrol dan temu darat sambil santai baca buku, dan bersama anak-anak?

Gadis Dalam Angkot


by Mira Arfiani
Saat ini sekitar jam sembilan tiga puluh pagi, cuaca bagus, berawan dan tidak panas.

Aku seorang ibu dari dua anak yang sudah dewasa. Aku sedang di angkot, selain aku ada dua orang ibu yang juga menjadi penumpang..

Angkot berhenti, dan naiklah seorang anak gadis yang penampilannya menarik; yang otomatis  kami tertarik untuk memperhatikannya; yang tentulah dengan cara tidak terlalu mencolok. Dia memakai gaun dengan warna dasar hitam berbunga putih dengan potongan yang sopan, dengan anak baju bertangan pendek berwarna hitam. Sepatunya berhak rendah berwarna hitam. Tali tas tersampir di bahunya, sedang tas yang cukup besar terletak di pangkuannya.

Beberapa waktu kemudian angkot berhenti lagi untuk menurunkan salah seorang ibu tadi, dan tinggallah kami bertiga.

Cerpen LELAKI MEMANG TAK PERNAH TUA* (dimuat di Kedaulatan Rakyat, 2009)


by Cahyaningrum Dewojati
CERPEN



LELAKI MEMANG  TAK PERNAH TUA*

Cahyaningrum Dewojati



Lelaki memang tak pernah tua.


Begitu kata ibuku, dulu, kala
memberitahu bahwa ayah akan segera punya istri baru. Yang kuingat, sontak aku
menangis, saat aku tahu istri baru ayah adalah teman sekelasku. Hasanah, nama santriwati
itu, adalah karibku. Gadis cerdas, periang dan sesegar embun. Mutiara yang
selalu berpendar dan berkederap. Sahabat yang hangat.

Aku merasa terkhianati.


Kala itu, ibu  hanya memandangku nyaris  tanpa ekspresi. Kulihat urat wajahnya begitu
beku. Sebagai istri kiai  yang berkarisma
dan sekondang ayahku, dimadu hanyalah menunggu waktu. Para orang tua santri
tiap hari menyodorkan  anak gadisnya
seperti menjajakan kue bolu.  Betapa
bangganya punya menantu, berbesan, atau berkerabat dengan kiai. Berkah dan
rejeki pun konon akan begitu mudah mengalir dalam pundi-pundi. Semua karena
berkah kiai..

Cerita Dibalik Megahnya Masdjid Nurul Huda


by SurYa Sang
Terpaku aku, tatkala memandangi rumah mungil yang berdiri di suatu sudut di samping sebuah mesjid nan megah. Terkenang aku pada masa yang lalu, rumah yang jauh dari sederhana itu, kini telah berubah! Dulu, itu hanyalah sebuah gubuk yang berdindingkan anyaman bambu dan berlantaikan tanah. Namun sekarang gubuk itu telah menjelma menjadi rumah gedong. Perlahan aku susuri jalan di samping rumah itu, menuju ke arah masjid dan berharap dapat bertemu kembali dengan sang pemilik masjid. Kenangan sesosok seorang pria sederhana yang memiliki hati begitu tulus. Sungguh aku rindu untuk bertemu dengan sosok pria paruh baya itu. Namun alangkah terkejutnya aku, manakalah mendengar bapak H. Syamsudin – begitu beliau dikenal – telah berpulang ke pangkuan sang Pencipta. Perlahan aku lafadzkan, “Innalilahhi wainnalillahi rojiun..” Perasaan sedih seketika menyergap serta menyelimuti hatiku.

BOCORAN TEMA UNTUK STORYCAKE FOR BACKPACKERS


by Lygia Pecanduhujan

1. Tentukan Perjalananmu

 Meski berencana jalan-jalan ala backpacker, tidak ada salahnya merencanakan terlebih dahulu secara matang perjalanan tersebut. Dalam bab ini akan ditulis kisah-kisah yang berisi tentang kehebohan menentukan destinasi jalan-jalan ala backpackeran, rencana yang disusun dengan matang, dan segala persiapan yang terjadi saat seseorang mulai tertarik untuk melakukan perjalanan ala backpacker. Banyak kisah seru saat masih baru saja merencanakan backpackeran. Mungkin saja perjalanannya malah tidak jadi terwujud ?

Blog & Iklan


by Ima Emaknya Alif
Hai, ibu-ibu sekalian... Apa kabar?
Beberapa hari yang lalu saya sempat kepikiran, kenapa ya pembaca blog malas meng-klik iklan yang ada di blog.  Padahal, penulis blog kadang-kadang cukup banyak menelurkan beberapa informasi yang cukup menarik.

Ada teman yang bilang, katanya dia malas meng-klik iklan di blog seringkali kena "jebakan maut", hahahaa... apaan tuh ya? Tapi memang seringkali kita suka lihat blog yang isinya iklan mulu samapi bingung tulisannya nyambung kemana.

Kalau menurut ibu-ibu bagaimana?

Salam blog, keep your hand moving & be happy
Ima

Being A Teacher For An Hour


by Rima Farananda
Buat para anggota IIDN yg kebetulan berprofesi sebagai Ibu Guru, tulisan  ini saya persembahkan buat kalian...para wanita hebat!!  :)

Being a Teacher for an Hour
Oleh : Rima Farananda

Menjadi ibu dari tiga orang anak yang berada di usia sekolah membuat saya selalu memiliki  hubungan yang intens dengan sekolah dan segenap civitas akademikanya (kalau boleh disebut demikian). Beratnya beban kurikulum pada sistem pendidikan kita, ditambah kemampuan akademis anak pertama saya yang tidak stabil (terkadang melejit mempesonakan, terkadang terpuruk membuat saya kelimpungan). Sifat anak bungsu saya yang super pemalu juga membuat saya harus pandai-pandai menjalin hubungan dengan pihak sekolah.

Hubungan yang dimaksud di sini adalah, dengan aneka permasalahan yang berputar silih berganti mulai dari si sulung, si tengah dan si bungsu, saya kerap memerlukan kerjasama dari pihak sekolah (dalam hal ini para guru) untuk menolong  saya memecahkan permasalahan yang sedang dihadapi anak-anak saya.

Bagaimana menulis?


by Dewi Ika
"Bagaimana caranya menulis?..." Bingung sendiri kalau ada yang bertanya itu di sini. Termasuk diriku saat memutuskan bergabung di IIDN, mau belajar menulis.

Padahal kan kita sudah  diajarkan menulis sejak masih balita. Krayon atau spidol warna-warni dengan coretan bak cacing kusut. Tapi itu menulis. Banyak cerita si Dede kecil dalam tulisan benang kusutnya. Satu halaman dicorat-coret dengan beragam cerita dibuatnya. Bahkan kadang tak cukup selembar dua lembar. Dinding di sepanjang kamar ikut kena bagian.

Di SD kita mulai diajarkan S-P-O-K. Pada jamanku masih berkisar "Ini ibu Budi. Budi sedang bermain kelereng". Entah sekarang bagaimana para guru mengajar menulis dan membaca. Saat anakku balita, malah dimulai dengan melihat cerita di komik. Huruf-huruf yang dibaca hanya beberapa huruf mati dan sedikit huruf hidup."Bug...Duh...Ouch!...Blang...Bluggh'. Dia membaca huruf-huruf besar di komik. Tidak lagi ada S-P-O-K. Yang kutahu anak-anakku diharuskan membuat karya tulis. Kalaupun mengarang, beberapa kartun diminta untuk di narasikan. Kenyataannya banyak juga anak-anak yang kesulitan membuat cerita dari gambar-gambar. Menulis ternyata memang sulit kali ya..

Apa Saja, Asal Bukan Putus Asa


by Anggrek Nosarios
Konon, penolakan itu rasanya kecut-kecut pahit. Sangkut di kerongkongan,  susah ditelan, masuk ke hati, berat dilupakan. Membuat orang enggan  mengulang.
Mengajukan proposal, mengajukan lamaran, mengajukan permintaan pertemanan,  mengirimkan tulisan, mengajukan pinjaman, bahkan menyapa orang... dan...  DITOLAK! Meski si penolak minta maaf, rasanya masih saja hati ini dongkol. Ada  orang yang memilih untuk langsung menutup buku dan buka lembaran baru. Atau  memutar arah. Atau, cari alternatif. Apapun, asal tidak putus asa.
Ketika tulisan saya ditolak (seringnya begitu) saya inginnya memanjakan diri  dengan perasaan, "apalagi salah gue, coba?" berhari-hari, sebelum kemudian  bersungut-sungut memulai lagi. Atau memperbaiki yang sebelumnya. Sekali lagi,  apapun, asal bukan putus asa.
Kemudian, saya belajar dari putri saya, Yasmin.

Anggrek Nosarios


Malem Ibu-Ibuuu :)
Saya numpang cerita ya. Saya sedang menulis cerita dengan memakai latar kampus saya dulu. Ada satu jenis pohon, yang buat saya memorabel banget. berbunga sangat indah pas musim hujan datang. saya mau menuliskannya di cerita saya, tapi tiba-tiba sadar, saya nggak tahu nama pohon itu! rasanya aneh kalau saya menuliskan, "Pohon di seberang jalan" atau "pohon-pohon berbunga ungu yang berderet..." kesannya kok saya nggak tau apa yang saya tulis.
Maka, mulailah saya mencari tahu nama pohon tersebut. Mulai dari bertanya ke teman sekampus, siapa tahu ada yang punya bakat botanikal. Nihil. Karena saya sudah pindah ke pulau lain, saya juga tidak mungkin mendatangi kampus demi melihat papan nama si pohon. Saya minta tolong ke asik saya untuk dilihatkan, dan dia bilang apa coba? "idiiih, apa kata orang aku melototin papan pohon?" maklum, anak muda.
Di perpustakaan sekolah tempat saya tinggal juga tidak ada ensiklopedia tanaman Indonesia.
Dengan rasa penasaran yang masih hot, saya buka Google. Saya mengetikkan kata kunci "Pohon berbunga ungu" lalu meminta Google menelusuri bagian gambar saja. toh, saya nggak tahu namanya. Saya pelototi itu gambar yang banyaaak banget. Nihil. pohon saya tidak ketemu.

ANAK ISTIMEWA UNTUK IBU YANG LUARBIASA ISTIMEWA


by Sri Rahayu
Sepulang menemui teh Iin di ajang penganugrahan Kartini Award, aku pulang dengan menggunakan angkutan umum ke kotaku Sidoarjo.  Perjalanan kutempuh dengan tiga kali berganti kendaraan.  Pada pergantian ke tiga, aku bertemu dengan seorang ibu yang duduk tepat dipinggir pintu, dan beliau memintaku untuk masuk ke dalam.  Sedikit kecewa dengan sarannya maka aku meminta dengan sopan agar beliau mau bergeser ke dalam.  Kondisiku yang saat itu membawa dua orang anak kecil dalam keadaan mengantuk dan celah yang sempit tidak memungkinkanku untuk masuk ke dalam.


Ibu itu memandangku dengan sedikit berat, seraya memangku anaknya.  Awalnya aku tidak begitu memperhatikan anak itu.   Beberapa saat kemudian tiba-tiba sang anak tertawa berkali-kali dengan suara yang sangat kencang.  Semua penumpang pun menoleh, ada apa ya? tanyaku dalam hati.   Mau tidak mau akhirnya aku mengamati anak itu.  Ada apa dengan anak ini? Sepertinya ada sesuatu yang spesial di dirinya.  Aku mencoba membuka pembicaraan dengan sang ibu.  Menanyakan arah dan tujuannya.

SHORT TERM MEMORY LOSS SYNDROME


by Skylashtar Maryam
Short Term Memory Loss Syndrome = Berkurangnya daya ingat manusia disebabkan oleh dua hal yakni faktor trauma dan non trauma. Faktor trauma jika penderita pernah mengalami benturan keras di kepala akibat kecelakaan atau peristiwa lain. Sedangkan faktor non trauma jika pembuluh darah penderita mengalami gangguang sehingga tidak bisa menyuplai darah ke otak.

******

Saya kira, lupa di mana letak benda-benda, lupa nama-nama dan wajah orang, lupa jurusan angkot, lupa jalan, dan lupa beberapa peristiwa itu hanya hal biasa. Saya kira semua orang juga pernah mengalaminya dan apa yang terjadi pada saya hanya bersifat sementara. Bahkan tidak berbahaya kecuali kesulitan kecil untuk menemukan benda-benda dan harus sering kali meminta maaf pada orang-orang karena saya lupa nama mereka.

Tapi kemarin, ketika saya berangkat ke toko buku, saya tahu bahwa penyakit lupa yang saya alami bukan hal yang wajar. Tiba-tiba, saya lupa PIN ATM, saya lupa sedang apa di sana dan dengan siapa, membawa apa saja, bahkan saya lupa di mana saya menitipkan barang bawaan saya dan apa saja isinya. Saya ingin menangis, karena semakin keras saya berusaha mengingat, maka semakin lupa lah saya. Berkeliling-keliling di mall seperti orang bingung, mengirimkan sms kepada teman-teman, mencari petunjuk apa yang sebenarnya tengah saya lakukan di tempat itu.

Ini puncak panik saya sepertinya, berjongkok di sudut atm centre, memegangi kepala yang tak bisa berpikir, memandangi kartu penitipan barang yang bahkan saya lupa di mana letaknya. Finally I know, there is something wrong with me.

Saya tidak pernah mengira bahwa benturan di kepala akibat kecelakaan parah hampir lima tahun lalu itu berakibat fatal sampai sekarang. Saya sering bercanda bahwa saya ingin amnesia untuk melupakan segala macam luka dalam hidup saya. Dulu, saya selalu berseloroh tentang itu, tapi sekarang saya tidak merasa hal itu lucu.

Kenangan, sebagaimana pahitnya, akan selalu berharga, meski hanya sebagai kepingan kenangan. Saya baru tahu bahwa ingatan adalah mahluk yang membantu saya untuk sembuh, membantu saya untuk survive, membantu saya untuk tersenyum. Ya, ada wajah Salwa, ada ingatan tentang Najwa, mungkin rasa cinta pertama, dan kenangan-kenangan akan rasa bahagia. Saya tidak ingin lupa. Sungguh, tidak ingin semua itu hilang dari benak saya.

Saya takut, jika suatu hari nanti saya benar-benar lupa segala sesuatu yang terjadi dalam hidup saya. Bukan hanya ingatan-ingatan kecil seperti meletakkan handphone atau menyimpan USB. Tapi bagaimana jika keseluruhan ingatan saya hilang?  Tidak ada lagi kenangan tentang orang-orang yang saya cintai, tentang orang-orang yang mencintai saya, tentang momen-momen berharga dalam hidup saya. Bagaimana jika semua itu menghilang dihisap udara dan waktu. Akan jadi apa saya?

Manusia tanpa ingatan tak akan sanggup melangkah ke depan karena ia tak tahu apa yang terjadi di belakang.

SAYA BERHENTI MENULIS

by Skylashtar Maryam
Ini surat terakhir saya kepada kata-kata.
 
KEPADA KATA; SEBUAH CATATAN PERPISAHAN
Barangkali saja engkau tahu bahwa sejak kita berkenalan bertahun-tahun lalu diriku tergenapkan olehmu.  Entah sudah berapa banyak embrio-embrio pemikiran kutanamkan, melaluimu, hingga mereka menjelma janin-janin.  Aku beranak-pinak, juga melaluimu. 

Apa yang kukatakan tentang menyanggaimu? Bahwa kau bukan sepenuhnya rekreasi dangkal emosi ataupun lenguhan-lenguhan kepenatan kepala dan hati melainkan mimpi-mimpi yang menjantera darah.  Melalui aku, engkau bukan lagi onggokan ingatan, kenangan, dan pemikiran yang melulu bercokol dan berjejal di tengkorak kepala.  Engaku menjelma nyata.  Melalui engkau, aku bukan lagi manusia yang hanya mendedah kefanaan untuk sekadar menempuh perjalanan.   Aku pun menjelma nyata.  Melalui engkau, aku…  ADA. 

Kita sudah puas saling menemukan.  Kau adalah kawan paling setia, teman yang tak pernah menikam meski kerap kali aku karam.  Engkau selalu kembali, mengangkatku dari sunyi, dari sepi, dari sakit, dari apapun yang disasakan hidup.  Bersamamu pula, telah kutemukan kawan-kawan lain, manusia-manusia lain yang di dalamnya berisi engkau-engkau yang lain. 

Tidak ada cinta paling universal kecuali bahasa yang dihantar melaluimu.  Lidahku yang kelu dan berhantu sudah membuktikan bahwa huruf-huruf di dalam tubuhmu tak pernah mengenal kata bisu.  Denganmu, aku berbicara.  Bersamamu, aku menjelma manusia. 

Namun, setiap perjalanan akan selalu bertemu dengan tepian.  Barangkali inilah yang kusebut sebagai akhir perjalanan.   Bahkan setelah kita saling menemukan, setelah kita saling menggenapkan, setelah kita menjadi satu kesatuan, pun pada akhirnya akan selalu ada perpisahan. 

Ketahuilah, cintaku padamu tak pernah mengenal kata padam.  Tapi hidup telah melarungkan begitu banyak layar, begitu banyak kapal-kapal.   Tak dapat dipungkiri, hidupku tak melulu berisi kamu.  Ada manusia-manusia lain dengan bergunung keinginan.  Ada manusia-manusia lain yang juga harus kutemani menempuh jejalan, mengarungi gelombang dan lautan. 

Catatan ini aku buat sebagai bentuk rasa terima kasih dan permintaan maaf.  Bahkan huruf-huruf dari dalam tubuhmu tak sanggup aku susun sehingga membentuk apapun yang cukup menggambarkan bahwa selama ini aku telah berutang banyak padamu.  

Mulai hari ini kita bercerai, tidak, tepatnya aku yang menceraikanmu karena ada hal-hal yang tak sanggup aku hantarkan melaluimu ketika hal lain ikut tercerabut.  Aku akan menjelma manusia yang lain.  Tidak bersamamu, melainkan bersama manusia lain.  Ia mungkin, akan membersamaimu dan engkau akan hidup melaui dirinya.  Agar kelak, kita hanya bisa saling memandang dan mengaku pada diri masing-masing bahwa kita pernah kenal, pernah saling mencintai, pernah saling membersamai. 

Kepadamu, kata, aku ucapkan selamat tinggal.  Aku pernah menjelma ada, aku pun bisa kembali tiada.

(Bandung, 16 April 2012)

  Catatan:

 Mulai hari ini saya Skylashtar Maryam akan berhenti menulis kecuali menulis status dan catatan utang piutang.  Heheheh… apapun yang pernah saya tulis hanya akan jadi jejak perjalanan dan kenangan.  Kepada kalian, teman-teman yang sedang dan masih menggapai mimpi, saya ucapkan selamat.  Tetap semangat!  Saya akan kembali menjadi seorang Susanti Sumpena yang bukan siapa-siapa, bukan apa-apa.

MY DREAM, YOUR DREAM, OUR DREAM