Breaking News

23 February, 2012

Hari Ketika Ayah Datang

  
             “Aku kangen Ayah…” kataku sambil menghampiri Ibu yang sedang duduk di depan      jendela. Ibu sedang memandangi hujan di luar sana. Jendela yang berembun segera menarik perhatianku. Kusentuh kaca yang berembun dengan ujung jariku, dan segera sebentuk wajah tergambar di sana.
            ”Sedang apa Ayah sekarang, Bu? Kenapa Ayah tidak pulang?” tanyaku lagi. Ibu hanya tersenyum sambil mengelus kepalaku lembut.
            ”Maaf sayang... Ayah tinggal jauh sekarang, jadi kita tidak bisa sering bertemu Ayah.”
            ”Tapi, aku ingin Ayah tinggal di sini lagi seperti dulu. Aku ingin ketemu Ayah setiap hari, Bu...” aku mulai merajuk. Kulihat mata Ibu berkaca-kaca, tapi aku sungguh kangen Ayah.
            Rasanya, baru saja kemarin aku masih bisa melihat senyum Ayah, tertawa bersama ketika Ayah membelikanku es krim di hari ulang tahunku. Saat itu, senyum Ibu pun masih sering kulihat. Lalu, entah dimulai sejak kapan aku sering bermimpi di waktu malam, Ibu menangis diam-diam. Kadang kurasa mimpiku menjadi nyata, ketika kulihat mata Ibu yang bengkak di waktu paginya. Lalu perlahan, senyum Ibu pun mulai menghilang dari wajahnya. Begitu juga senyum Ayah. Hingga kemudian, aku pun mulai menyadari, Ayah juga menghilang dari hari-hariku.
            Hingga suatu hari, Ayah datang. Setelah berbicara sebentar dengan Ibu, Ayah mengajakku pergi jalan-jalan. Kulihat mata Ibu basah karena air mata, tapi Ibu tetap tersenyum dan melambai kepadaku. Perjalanan saat itu cukup panjang. Tapi, aku senang karena bisa duduk di sebelah Ayah, melihat Ayah mengemudikan mobilnya. Hingga akhirnya kami sampai di sebuah rumah. Rumah yang mungil tapi cantik, dan ada sebuah kolam ikan di halaman depannya.
            Aku bertanya pada Ayah, rumah siapa ini? Ayah hanya tersenyum. Lalu aku melihat seorang wanita berdiri di pintu rumah, tersenyum kepada Ayah. Wanita itu kemudian memandangku, tapi aku memilih bersembunyi di belakang kaki Ayah.
            ”Cinta, ayo cium tangan Bunda...” kata Ayah padaku. Bunda? Siapa dia, Ayah? Aku tidak mengerti. Wanita yang harus kupanggil Bunda itu tersenyum, dia menjulurkan tangannya ingin meraihku. Tapi, aku keras memegang celana Ayah. Ayah mengalah, kemudian menggendongku memasuki sebuah kamar tidur.
           ”Cinta tidur di sini ya malam ini. Ini kamar Cinta. Bagus kan...?”
           ”Cinta boleh tinggal di sini. Cinta mau kan tinggal dengan Ayah?” suara Ayah terus terdengar di telingaku. Tapi, aku hanya ingat Ibu. Ibu yang membantuku menyikat gigi dan menggantikan bajuku sebelum tidur. Ibu yang membimbingku membaca doa sebelum aku terlelap. Tiba-tiba saja aku ingat air mata Ibu ketika aku pergi tadi. Malam itu, sendiri di dalam kamar, aku menangis hingga tertidur karena lelah. Aku kangen Ibu.

Temanku, Baru

“Siapa sih dia?” tunjuk seseorang padanya.

“Dia yang mana?” tanya sebelahnya penasaran.

Tiba-tiba mendarat kapur di wajah kedua lelaki usil bin jahil itu. Heran kenapa melihatnya sepertinya hebohnya bukan main. Main gaplek kek, catur juga ok, apalah daripada iseng dan repot ngurusin dia.

“Ya baik anak-anak sekarang bapak minta untuk mengerjakan soal halaman sekian sampai sekian dan tidak mengerjakan hal lain termasuk celingak-celinguk seperti Badu.” Ucap Pak Dimas.

Badu anak terjahil dan hobinya mengganggu teman, tak peduli teman lama maupun baru, teman sedari kecil ataupun baru kenal. Ada saja tingkahnya. Tapi memang sih temanku yang baru ini luar biasa barunya.

Dia berjalan begitu anggun, semerbak harumnya begitu menggoda, bukan bau kemenyan dan bunga melati seperti biasa kami pakai. Rambutnya mengayun indah di sapu angin malam, sesekali dikibaskan poninya agar tak salah jalan dan kesandung batu temaram.

“Hai, boleh kenalan,” sapaku di waktu istirahat malam.

Dia hanya tersenyum begitu mempesona, jantungku yang entah masih bergerak atau tidak memainkan iramanya. Lain lagi, dengan kaki serta tanganku ingin kulepas dari balutan ini tapi kalau kupaksa berubahlah bentuknya. Kami berbicara saling mengenal, sebab aku sendiri merasa dunia baru di kelasku.

Obrolan kami berlangsung seru, sesekali dia tertawa sembari menyeringai, sesekali juga rambutnya dikibaskan mungkin karena kepanasan dan aku tetap setia bersamanya hingga kelas berakhir. Dia bercerita bagaimana tragis hidup yang dijalani, tak beribu sejak dilahirkan, sang bapak tak memberinya ampun sedikit pun setiap habis mabuk-mabukkan.

Tiap kali dia di perkosa mulut disumpal dengan botol minuman yang baru ditegak bapaknya, setelah itu dia diseret ke kamar mandi untuk berkeramas. Makanya rambutnya begitu indah, begitu sering diperlakukan seperti itu maka sesering itu rambutnya dikeramas. Sungguh malang nasibnya, dia selalu menanyakan padaku hal yang aneh tapi aku tak bisa menjawab. Yasudahlah kami akan terus berteman.

Oia, dia baru saja meninggal dan tersesat di depan kelasku dan kenalkan, dia bernama Perempuan. Bagi kami para tuyul dan pocong tak pernah melihat sosoknya yang ayu dan memakai daster putih. Tawanya begitu menyayat hati dan merogoh jiwa. Dia akan selalu tampak indah di mata kami, karena dia mahluk pertama yang pernah kami temui yang berbeda jenis. Pertanyaannya yang tak bisa kujawab yaitu “Bagaimana dia bisa meninggal sementara dia yang memegang pisau saat bapaknya pulang?”

Sabil Ananda -

Bidadari dalam Rumah Tangga

True Story by : Naqiyyah Syam

Akhir Februari 2005 yang  kelabu.
Ta’arufku gagal lagi. Ini untuk kedua kalinya proses menjelang pernikahanku kandas di tengah jalan. Allah, sedih itu pasti ada. Siapa sih yang tak ingin menikah dengan lelaki sholeh? Menjadi bidadari dalam rumah tangga yang berlandaskan dakwah? Sungguh, impian setiap akhwat berusia 25 tahunan sepertiku.
Hati lalu bertanya? Mungkin aku belum pantas menjadi bidadari dunia untuk seorang lelaki sholeh itu ya?

Namun pernikahan begitu indah kudengar
Membuatku ingin segera melaksanakan
Namun bila kulihat aral melintang pukang
Hatiku selalu maju mundur dibuatnya
(Suara Persaudaraam: Hasrat Hatiku)

Waduh, nasyid itu indah sekali, mengedor naluriku. Aih, pengen banget! Aku iri melihat para ummahat yang demo sambil gendong anak. Wajah mereka cerita, walau berpanas-panasan mengendong anaknya. Kadang tak cuma mengendong, tapi juga mengandeng tangan anaknya yang lain.

Dari Murobiyahku, aku dan teman liqoanku sering menjadi baby sitter para ummahat yang sedang rapat atau mengisi pengajian. Wah, senangnya! Mendapat pelajaran praktek dengan gratis! Menimang, menidurkan, bermain dengan anak-anak balita itu penuh cerita. Semakin membuatku ingin segera menikah!

Tapi, proses menikah itu tak mudah! Aku selalu terganjal. Dan selalu pihak ikhwan yang memutuskannya. Aih, benarkah aku tak pantas jadi bidadari dalam rumah tangga para lelaki sholeh itu? Aku pun segera bermuhasabah. Mungkin aku belum ‘dewasa’, belum mampu mengemban tugas-tugas dakwah seorang ummahat jika telah menikah kelak. Aku bertanya pada diriku.

“Sudah berapa banyak hapalanmu?”
“Berapa kelompok binaanmu?”
“Apa persiapan ilmu menjadi seorang istri dan seorang ibu?”
Akupun mantap membidadarikan diriku sendiri sebelum menikah!
Akhirnya aku segera tersadar
Hanya pada Allah lah tempat aku bersandar
Yang akan menguatkan hatiku yang terkapar
Insya Allah azzamku akan terwujud lancar
(Suara Persaudaraam: Hasrat Hatiku)

Jakarta, 26 Maret 2005
Aku bertemu dengan buku Agar Bidadari Cemburu Padamu karya Salim A. Fillah. Wow,bukunya keren banget! Benar-benar buku yang kucari! Menjawab kegelisahanku selama ini.
Kenapa bidadari cemburu pada wanita dunia? Semua terjawab di buku ini.
Aku pun tenggelam dengan kesibukkan baru. Menambah hapalanku, memperbaiki manajemen pembinaanku, aktif di organisasi keislaman dengan serius dan fokus. Aku all out menyelesaikan ujian skripsi yang terus tertunda karena berbagai masalah. Pelan-pelan aku bisa tersenyum dengan ceria dan semangat lagi. Soal pernikahan, aku simpan dengan harapan, aku lebih siap jika dan matang.

Ternyata Allah menjawab doaku dengan sangat cepat. Seorang ikhwan dari Lampung akan ber-ta’aruf ke Bengkulu pada tanggal 6 April mendatang. Duu, aku grogian! Rasanya seperti mimpi! Baru saja aku menangis karena ta’arufku yang gagal, tapi kini sudah ada jawabannya! Ta’aruf singkat itu akhirnya sampai ke pelaminan. Kami menikah di tanggal 24 April 2005 dengan penuh bahagia. 




Situ Beli Gw Jual (Bagus gak?)

“Ya Allah Lela.. hari gini lo masih molor aje..” teriakan emak mengagetkanku dari mimpi ketemu Justin Bieber semalem dan akhirnya..

“Gedubrak,” bunyi badan gembrot gw yang bisa dibilang kembar sama sapi tetangga.

“Nah kan elo jatoh mulu dah kebanyakan ngebo sih lo.” Emak bukannya nolongin aye masih aje ceramah kayak ustad Jefri.

“Ah Emak, lagi asik-asik ngimpi juga, diteriakan pake toak,” kesalnya hati gw gagal sudah mau dicium sama JB.

“Lela, Lela bangun udah siang ini masih aja lo ngedon di tempat tidur.”

“Iye mak nanti ngapah sih. Masya Allah. Susah banget dah ngeliat anaknya seneng.” Terpaksa gw bangun dan kembali duduk di meja makan.

“Eh, lo tu ye musti belajar noh ma Zaenab, pagi hari udah bangun bantu Emaknye jaga warung. Nah elo siang aja masih kayak Kebo.”

“Tu kan Emak lagi-lagi nyamain aye sama Zaenab, yang anak Emak tuh die ape aye Mak?” wajah bertekuk tujuh saking keselnya sama emak yang tak kunjung selesai orasinya.

“Karena elo anak Emak gw kasih tau kalo’ lo anak tetangga mah gw diemin aje peduli amat gw.”
Lama-lama bisa pusing gw dengerin emak, mending jg gw ke kamar mandi dah atau tidur lagi?

***

“Assalam’alaikum, Mak ade Lela?” salam Doel dari luar.

Doel itu sohib karibnya Lela dari zaman masih dalam perut emaknya masing-masing sampe udah gede kayak sekarang. Doel orang yang paling tahu borok-boroknya si Lela mualai dari ngupil sembarangan, kentut sembarang tempat, nguap kagak pernah di tutup, ketawa ngakak, kalau makan udah kayak makan di warteg sampai tidur ngorok pula.

“Noh, lo liat sendiri aja dah kelakuan Lela, seperti biasa ngorok siang bolong,” tunjuk emak ngeliat anak satu-satunya itu tetap kekeuh berselimutkan keringat dalam selimut.

“Eh bagus dah Mak, saya mau ngomong penting sama Emak,” bisik Doel kemudian.

“Emang ade ape Doel?”

“Sini Mak, kite ngomongnye musti pelan-pelan biar gak kedengern sama Lela,” sahut Doel sambil menarik kursi makan.

“Iye, apaan sih horor banget dah.”

“Gini Mak, semalem teman aye telpon tuh dia minta dikenalin sama Lela. Nah tuh cowok suka sama Lela,” wajah antusis dar Doel terpancar ke hati emak.

“Ah nyang boneng lo. Masa sih ada cowok yang demen ma anak gw,” penasarannya bukan main emak dibuatnya.

“Iye, gw aje kagak nyangka Mak. Gw tanya alasannya die kagak mau jawab. Katanya mau ketemu Emak langsung dah.”

“Beneran nih Doel? Cakep kagak orangnya? Lela bakal suka kagak tuh? Namanye siape?”

“Beuuuuhhh, pokoknya Mak guantengnya kagak nahan dah. Kalo’ gw cewek nih ya bisa-bisa gw kelepek-kelepek mulu mandangin wajahnya yang ganteng nan imut itu.” Doel yang masih demen ma cewek itu mempraktekkan kebiasaan para cewek yang ngiler liat tampang cowok ganteng di kampusnya.

“Ah akal-akalan lo doang kali Doel, kagak percaya gw mah. Mana mungkin cowok ganteng suka sama kebo punya Emak itu.”

“Hahahahahhaaaa..” Doel gak berhenti ngakak mendengar penuturan dari emak yang dengan lugunya menyamakan Lela dengan Kebo.

Penasaran menyelimuti emak dan malam ini juga si Doel akan membawa Lela ke pusat kota dan membiarkan emak bertemu cowok itu.

***

“Lela, lelaaaa. Cepetan ngapah sih ude mau jam tuju nih keburu tutup tuh pasar malem.” Teriak Doel gak sabaran nungguin Lela bebenah.

“Sabar Crut, gw lagi ngelipet mukenah bentar kek. Orang sabar pantatnya lebar kayak gw,” jawab Lela asal.

“Ah elo, dandan juga kagak bebenah aje lama banget. Keburu tua nih.” Kesabaran Doel mulai habis tatkala sms Andi mendarat di hapenya.

“Doel, gw udah mau nyampe nih elo udah ngajak Lela kabur belon?”
Andi adalah cowok yang mau kenalan sama emaknya Lela, cowok macho ini benar-benar gentle. Sebelum deketin anaknya kenalan dulu sama orang tuanya.

“bentar lagi Ndi, si Lela masih bebenah. Eh, ni si Lela dah keluar, gw cabut dulu kira-kita lima menit lo langung ke rumahnya aje ye,” bale andi dalam smsnya dan buru-buru dimasukkin hapenya ke saku celana takut ketahuan Lela.

“Emak pamit dulu, Lela pergi dulu yak sama Doel,” sahut Lela dan emak langsung keluar dan berpesan aneh.

“Iye, ati-ati di jalan, pulangnye maleman aja yak.” Emak udah wanti-wanti si Doel biar kagak cepet pulang takut misi mereka ketahuan.

“Assalamu’alaikum.”

“Wa’alaikumsalam.”

****

Lima menit kemudian mobil Andi udah nongol di halaman rumah Lela, dan emak sudah stand by duduk di teras. Saat Andi keluar dari mobil sesaat itu juga jantung emak mau copot, ketidakpercayaannya membuatnya hampir pingsan dibuatnya, omongan Doel benar adanya.

“Assalamualaikum Mak, saya Andi.” Tangan emak langsung digamit untuk dicium sambil memberi salam. Orang tua mana yang tidak tersentuh melihat kesopanan yang pertama kali muncul.

“Wa, wa, waalaikumsalam.” Jawab emak gugup.
Dalam hati emak masih berdecak kagum dengan sosok tinggi, ganteng, rupawan, kurus dan putih di hadapannya. “Ternyata Doel kagak boong ma gw, Masya Allah gantengnya ni bocah.”

“Mak, Mak, apa Mak gak pa pa?” tanya Andi kebingungan yang melihat emak berdiri jadi patung begitu.

“Eh, eh, kagak ngapa. Ayo deh silakan duduk.” Emak mempersilakan Andi duduk dan menawarkan teh hangat.

“Iya Mak makasih. Oya, Emak udah dikasih tau Doel kan kedatangan saya kesini. Saya suka sama anak Emak, Lela. Saya gak berni deketin kalau saya gak minta izin dulu sama orang tuanya. Malah kalau Emak ngizinin saya mau ngelamar Lela.” Runut penjelasan Andi untuk menyampaikan maksud hatinya yang terbilang langka dan gak masuk diakal buat seorang emak yang punya anak perawan ting-ting yang malesnya bukan main dan nihil untuk terjama mata-mata sejernih cowok ganteng itu.

Emak yang dengerin cuma manggut-manggut kayak ayam matok cacing dan angkat bicara dengan nada sedikit galau “Mak sampe detik ni juga kagak percaya sama omongan elo, mana ada cowok kayak lo yang begini ni suka sama anak gw yang kayak kebo bunting yang dandan aja kagak pernah apalagi mau disukain sama cowok macem lo.”

Andi hanya tertawa kecil menanggapinya, wajar saja jika ketidakpercayaan itu muncul lantaran dia baru juga nongol langsung mau melamar anak orang. Andi mulai menjelaskan alasannya sampai bisa menyukai sosok Lela.

“Saya suka Lela karena dia jujur seperti anak bayi, tak peduli berapa banyak cewek yang mengejar saya tapi sosok Lela lebih menarik untuk saya. Dia bicara apa adanya dan tidak dibuat-buat, jadi dirinya sendiri itu yang saya suka.”

Emak mulai paham dengan maksud baik kedatangan Andi, tapi apa mungkin Lela mau tiba-tiba nikah sama cowok yang baru datang itu. Harus cari akal bagaimana biar Lela mau nikah sama Andi. Obrolan itu mengalir begitu saja, berhubung emak satu-satunya orang tua Lela otomatis emak juga yang harus mengambil keputusannya bareng Andi.

Keputusan akhir dicapai, Emak akan berpura-pura nangis di depan Lela dan mengatakan Babe pernah punya utang sama keluarganya Andi dan mereka harus membayarnya dengan menikahkan Lela dengan Andi. Ketika esok paginya rencana itu berjalan dengan baik, Lela yang kebangun lantaran denger suara emaknya yang nangis meraung-raung.

“Hadoooh Emak kenape lagi sih pagi-pagi begini udah nangis? Ayam tetangga kagak berkokok? Sapi Doel kagak mau diperes? Atau Emak abis diperkosa?” tanya Lela gak henti-henti dengan pertanyaan bodoh yang bikin emak mau mati ketawa nahannya.

“Le kenape sih lo kagak pernah serius dikit, Emak lo lagi nangis masih aje lo becandain.”
Singkat cerita si emak menceritakan maksud hati kenapa tadi dia mendung, gerimis dan hujan begitu hebatnya. Gantian Lela yang tersambar petir dan bengong kayak ayam mati kelindes. Ouch! Dia kagak nyangka emak tega ngejual anaknya demi bayar utang babe, terpaku dan tergugu menghadapi petir di siang bolong.

Namun begitu Lela tahu cowok yang mau dijodohin sama dia bukan main girangnya, binar mata itu berubah menjadi lecutan kembang api berwarna-warni. “Ya Allah Engkau baik sekali padaku, cowok ganteng nan rupawan macam Andi mau menikahi daku,” ucap Lela sok berpujangga menatap langit yang malu-malu menemani mentari siang itu.

“Tapi ada syaratnya, elo musti ngurusin badan lo yang gendut itu. Bisa kagak lo kalo’ gak nih rumah bakal disita seisi-isinya termasuk elo.” Seru emak memadamkan percik kembang api yang sempat bersinar tadi.

“What? Gw musti kurus kayak tiang listrik? Aduh, syaratnya kagak ada yang lebih memungkinkan untuk gw jalani tuh Mak?” pinta Lela kemudian.

Mulai sejak itu Lela daftar aerobik, fitnes sampai lempar galah. Gak mau kalah sama yang namanya syarat, untuk sebuah piala yang bernama Andi, dia rela ngorbanin waktu untuk berolahraga dan gak kalah hebatnya dia mulai belajar dandan. Semangat itu membara seperti tersulut percik api yang berkobar dan sulit untuk padam.

Orang sekampung yang notabenenya masih sodare dari emak, babe, ncang, ncing, semua mendukung Lela 100% saking kepengennya bermantu cowok tulen gantengnya itu. Merubah keturunan lebih tepatnya. Tiap pagi di depan jendela Lela udah ribut kentongan yang dipukul-pukul buat jadi alarm Lela biar lekas bangkit dan lari pagi. Ajib kan??

***

Pernikahan pun tiba, Lela sudah berhasil menurunkan 10 kilo berat badannya plus tambah cantiklah rupanya, ibarat kata itik menjelma angsa. Aduhai, lelaki mana yang tidak kepincut. Pesta ala betawi bukan main meriahnya, segala ondel-ondel, tanjidor sampai mercon ikut meramaikan suasana. Ondel-ondel sebagai lambang betawi kagak pernah absen dari peradabannya, apalagi kalau yang nikah bukan Lela mungkin dia yang jadi ondel-ondelnya, badannya pas. Pas masuk kagak bisa keluar. Cakep.

Tanpa ribet undangan buat ngundang sodara-sodaranya, Lela cuma ngumumin pernikahannya lewat mic di masjid sebelah rumah. “Woy sodare-sodare sebangsa dan setanah aer, aye mau nikah ni Minggu besok, pada dateng yak, jangan lupa bawa kado dan angpao nya.” Pesan Lela tak lupa terucap wanti-wanti yang pada datang lupa bawa amplop tibang gocapan juga Alhamdulillah dah.

Keluarga Andi datang tepat pada waktunya, berasa ngeliat acara ulang tahun Jakarta kalau nikah sama orang betawi rame, rempong tapi kagak ade matinyeee. Pas roti buaya mau dimakan sama maminya Andi “Auw, aduh.”

“Kenapa Mi?” tanya Andi bingung ngeliatin mami beraduh-aduh ria megangin roti buaya itu.

“Ndi, ini roti alot bener. Copot nih gigi palsu Mami.”

Sabil Ananda, April 26

Menjadi Orang Yang Bahagia Jauh Lebih Besar daripada Sukses


            Setiap orang pada hakikatnya ingin sukses, akan tetapi banyak orang yang menyalahartikan kesuksesan itu seperti apa. Bagi sebagian orang beranggapan bahwa sukses adalah suatu keberhasilan atau keberuntungan karena telah mendapat sesuatu seperti memiliki kekayaan yang berlimpah, kedudukan atau jabatan yang tinggi, menjadi orang yang terkenal dan lain sebagainya. Pernahkah kita berpikir bahwa kesuksesan itu tidak bisa membeli suatu kebahagiaan? Kita bisa membeli mobil mewah atau rumah besar tapi kenyamanan, ketentraman dan kebahagiaan itu tidak bisa kita beli dengan uang yang kita miliki.

            Tak jarang kita melihat banyak orang yang melakukan penyimpangan untuk mendapatkan kesuksesan itu sendiri dengan menghalalkan berbagai cara sehingga mental orang tersebut dapat berubah menjadi egois, mementingkan dirinya sendiri daripada orang lain. Bahkan demi mengejar kesuksesan itu, banyak yang sampai mengorbankan keluarga, teman atau rela menyerahkan kehormatannya. Ia menjadi orang yang mengabaikan keluarganya sendiri sehingga kehidupan rumah tangganya menjadi tidak harmonis dan dipenuhi perasaan was-was atau gelisah. Padahal mereka adalah orang-orang yang paling bermakna dalam hidup.

            Dasar dari kesuksesan itu berasal dari kebahagiaan yang tiada henti diperoleh, kebahagiaan itu tidak hanya dinikmati sendiri tetapi dapat dinikmati oleh banyak orang. Ketika kita mendistribusikan keberhasilan yang kita miliki kepada orang-orang disekeliling kita dan melihat mereka sukses, maka di situlah terdapat kebahagiaan. Ketika kita berkarya untuk orang lain yang manfaatnya berdimensi lama dan dirasakan oleh banyak orang, disitulah makna kesuksesan dan kebahagiaan yang benar. Seperti yang pernah saya alami yaitu teman saya memberi sepotong kue kepada saya, ketika kue itu habis maka kebahagiaan itu pun sirna. Akan tetapi, ketika saya pernah memberikan hadiah bros jilbab kepada teman saya, ia merasa sangat senang banget dengan wajah penuh senyuman yang khas, hal tersebut membuat saya bahagia hingga sekarang dan tidak pernah pudar seiring berkurangnya waktu karena kami menjadi sahabat sejati.

            Mahatma Gandhi mengatakan: “Kebahagiaan tergantung pada apa yang kita berikan, bukan pada apa yang kita peroleh”. Hal tersebut juga merupakan salah satu wujud syukur kita kepada Tuhan Yang Maha Esa sehingga Dia akan membalas kebahagiaan kita dengan nikmat yang lain jauh lebih besar dari kesuksesan itu sendiri. Diantaranya adalah keseimbangan hidup. Jika hidup kita telah seimbang maka kita dapat mengatur waktu kita menjadi lebih efektif sehingga menghasilkan satu hal yang luar biasa, menjadikan kita senantiasa menjaga kecenderungan nafsu, emosional, dan terbebas dari berbagai masalah.

            Hubungan kita dengan Allah juga semakin kuat, perasaan menjadi tentram dan membuat proses aktualisasi diri semakin konsisten untuk mencapai cita-cita yang mulia. Hal itu dapat terlihat dari berkembangnya potensi yang dimiliki seseorang dari hari ke hari karena ada upaya yang optimis untuk selalu mengasahnya. Seperti seseorang yang berpotensi ingin menjadi seorang penulis atau akuntan maka ia terus meningkatkan kemampuannya dibidang menulis atau ilmu akuntansi. Walaupun cita-cita telah berhasil didapatkannya, ia terus tumbuh sampai akhir hayatnya dan memberikan manfaat bagi orang lain bagaikan air yang mengalir tanpa henti. Menjadi orang yang bahagia jauh lebih tenang, damai buat kita, bukan sekedar menjadi orang yang sukses atau menjadi orang besar. Oleh sebab itu, marilah kita bersama-sama menuju titik yang kita harapkan tersebut yakni mencapai kebahagiaan dalam hidup ini sehingga memperoleh ‘akhir’ yang baik.

Gara-Gara Tiket Kosong

By Evi Andriani  
[Real Story] Gara-Gara Tiket Kosong

            “Vi, lo mau tiket murah. Harganya berkisar Rp 300.000,00 hingga Rp 400.000,00 untuk penerbangan ke Sumatera,” kata Ardi (bukan nama sebenarnya) sedang menawarkan tiket pesawat super murah padaku di kampus.

            Aku pun langsung percaya saja apa yang dikaatakan Ardi karena ia adalah teman sekelasku. Suasana liburan panjang menjadi ajang pemanfaatan bagi sebagian orang untuk lahan bisnis, terutama kepada anak-anak yang merantau di luar kota.

            Aku memesan tiket ke Medan untuk beberapa orang temanku. Siapapun pasti akan terpikat jika harga tiket yang ditawarkan berbeda jauh dari harga tiket biasanya. Kadang tersirat dibenakku, mengapa harga tiket bisa semurah itu pada suasana arus balik lebaran? Benar-benar di luar akal logika jika kita memikirkannya dengan kenyataan yang biasa terjadi.

            “Aku mau pesan juga lah buat ibu pacarku di Yogya. Beliau mau pulang ke Medan juga,” jawab teman kos yang ingin pesan tiket padaku karena ikut tergiur dengan informasi adanya tiket murah.

            Akhirnya aku telpon temanku itu dengan penuh semangat berharap dapat tiket dalam waktu yang dekat, sesuai dengan jadwal keberangkatan diriku dan sahabat-sahabatku ke Sumatera.

            “Di, aku mau pesan 4 tiket dunk ke Medan. Tapi jadwal keberangkatan dari Jakarta berbeda. Bisakah cari yang murah?” tanyaku pada Ardi dengan optimis.

            “Bisa Vie, lo tenang aja. Ntar kupesan tiketnya ama temanku. SMS-kan saja nama dan tanggal berapa keberangkatannya. Okey....”
***
            Satu minggu telah berlalu...

            Akhirnya aku menghubunginya dan Ardi mengatakan bahwa tiket tersebut belum dapat yang murah. Mulailah aku khawatir karena jadwal keberangkatan sudah sangat dekat.

            “Apa yang harus kukatakan kepada semua sahabat-sahabatku jika tiket itu tidak ada, bisa jadi kami semua tidak pulang ke Medan karena tiket habis atau terpaksa beli tiket yang lebih mahal,” aku berkata dalam hati penuh rasa takut dan cemas. Kegelisahan terus mendera jiwa ini karena amanah yang dipegang begitu banyak. Aku tidak mau dikenal sebagai pembohong, apalagi aku sebagai wanita muslimah.

            Hari demi hari berlalu begitu saja. Semua yang pesan tiket padaku mengatakan, “Bagaimana ada tiketnya Vie, kalau tidak ada maka aku akan pesan kepada travel yang lain”. Hatiku semakin was-was. Karena persahabatan kami sudah mulai agak renggang gara-gara tiket tersebut.
***
            Alhamdulillah, keesokan harinya Ardi berhasil mendapatkan tiket dari travel temannya dan aku pun mentransfer sejumlah uang sesuai dengan harga dari beberapa tiket tersebut. Ardi memberikan tiketnya via email beserta kodekode booking dari tiket tersebut. Biasanya sekarang dikenal dengan sebutan ticketing (tiket elektronik). Akhirnya kukirimkan tiket elektronik itu semua teman-teman yang memesan tiket padaku.

            Saat ibu dari pacar temanku mau check-in di bandara, tiba-tiba petugas maskapai penerbangan bilang bahwa dirinya belum terdaftar menjadi penumpang pesawat tersebut. Tapi pihak maskapai bingung, bagaimana bisa tiket itu diprint dan memiliki kode booking sementara ia belum terdaftar. Dia pun mengadu sama pacarnya.

            “Say, gimana nih tiketnya. Kata pihak maskapainya, ibuku belum terdaftar. Bagaimana sih ini? Sejak kapan jadi penipu? Buat orangtuaku malu saja. Ibuku mau berangkat nih. Ya udah, aku belikan ibuku tiket dulu. Minta aja uangnya kembali. Nanti transfer ya uang tiket yang batal itu.”

            Lalu temanku sms dan menceritakan apa yang terjadi. Sejak saat itu mulailah aku menyelidiki kasus ini. Ternyata semua tiket yang aku pegang adalah tiket kosong dan tiket yang dimiliki oleh Ardi juga tiket kosong.

            Aku langsung meminta pertanggungjawaban dari Ardi tentang hal ini dan berharap uangku diganti.

            “Maaf Vie, aku tidak bisa mengganti uangmu. Karena aku juga rugi sepuluh juta rupiah lebih,” kata-kata Ardi dalam SMS-nya seperti sedang stress juga.
***
            Seminggu kemudian aku menyelidiki travel yang Ardi percayai selalu untuk mendapat tiket murah. Aku langsung datang ke luar kota tempat travel itu berada--kota itu terkenal sebagai kota pelajar dan menyimpan sejarah seni budaya candi. Alhamdulillah di kota tersebut, aku bertemu senior alumni waktu kuliah di Medan dan menemaniku mencari ‘Si Penipu Tiket Kosong’ itu. Akan tetapi, kami tidak berhasil ketemu dengan pembuat tiket kosong itu. Karena masalah ini, hubungan persahabatan aku dan teman-temanku menjadi renggang. Sahabat kosku itu diputusin ama pacarnya. Uangku hilang hampir dua juta rupiah.

            Beberapa bulan kemudian ada berita di TV menangkap beberapa orang pemalsu tiket. Ternyata yang mengalami penipuan tiket elektronik itu bukan hanya kami saja, banyak juga masyarakat yang mengalaminya. Untuk dapat menge-print tiket elektronik itu, pemalsu bekerjasama dengan pihak maskapai. Di zaman sekarang ini sulit sekali mencari mendapatkan orang yang jujur. Demi uang semuanya dijalani walaupun harus berbuat salah dan dosa. Semua kejadian ini aku ambil hikmahnya agar lebih berhati-hati dalam melakukan sesuatu dan tidak tergiur dengan sesuatu yang serba murah. Alhamdulillah setelah ini tidak pernah mengalami penipuan dan juga dapat membeli tiket yang murah melalui promo-promo yang diadakan setiap maskapai penerbangan

Tips dalam membeli tiket pesawat agar tidak ditipu:
1.      Telpon pihak maskapai penerbangan resmi yang diinginkan penumpang
2.      Untuk booking tiket atau melihat harga penerbangan bisa melalui internet sesuai dengan maskapai yang diinginkan
3.      Jangan tergiur dengan harga murah
4.      Teliti lebih dahulu dalam membeli tiket
5.      Memiliki sikap tegas untuk menolak jika kita tahu ada sebuah penipuan
6.      Hati-hati dalam memilih teman dan bergaul
7.      Jangan terlalu percaya dengan ucapan teman, apalagi orang asing.
8.      Jangan menjadi orang yang cupu, lugu, polos
9.      Tingkatkan wawasan dan pengetahuan dalam pemesanan tiket elektronik atau tidak
10.  Memberi saran kepada teman yang punya masalah dalam membeli tiket

Medan, 31 Desember 2010

Tetap Cerdas Walau Dijuluki ‘Ratu Chatting’

By Evi Andriani  

            Delapan tahun yang lalu ada sebuah kenangan unik yang tidak akan pernah aku lupakan. Kisah klasikku semasa SMU bersama teman-teman di ‘kelas unggulan’. Mungkin kedengaran aneh ya, karena zaman sekarang jarang ada yang memakai cara penempatan siswa berprestasi dalam satu ruangan kelasdianggap terlalu diskriminatif.
            Ketika memasuki kelas tiga, guru membagikan siswa-siswanya ke dalam beberapa kelas di mading pengumuman. Saat membaca pengumuman itu, aku terkejut karena terpilih masuk di kelas III IPA 1kelas yang terdiri dari siswa-siswa berprestasi dengan segala kelebihan yang mereka kuasaisungguh membuatku terpukau. Aku seperti bermimpi memasuki taman surga yang cantikpenuh dengan bunga-bunga yang harum. Suasana rapi, ruangan besar dan indah sehingga nyaman untuk belajar di dalamnya.
            Suatu kebanggaan bagiku bisa meraih posisi tersebut dan ketemu dengan orang-orang hebat alias pintar dan cerdas. Awal memasuki kelas sangat terasing bagiku. Karena kemampuanku hanyalah biasa-biasa saja. Tapi mereka semua kelihatan sangat baik dan mulailah kita bertegur sapa.
            “Nama saya, Evi. Kamu siapa?”
            “Aku, Herna”
            Begitu seterusnya saling memperkenalkan diri. Setiap siswa memiliki kesukaan pelajaran yang berbeda-beda. Bahkan cita-citanya juga berbeda-beda. Aku pun mengatakan hobi suka chatting kepada teman-teman di kelas. Ternyata yang hobi chatting masih kurang peminatnya. Bahkan ada teman yang memberi nasehat padaku.
            “Vie, buat apa sih kamu main chatting. Nggak ada manfaatnya. Berteman semu di dunia maya, nggak menarik. Buang-buang waktu saja”
            Sedih kurasakan saat itu, bukan hanya satu atau dua orang saja yang mengatakan tentang keburukan dunia maya tapi berpuluh orang mengatakannya dan mengolok-olok diriku. Aku kadang menangis dalam kesendirian. Akan tetapi aku selalu percaya pada Allah bahwa Dia akan memberikan yang terbaik padaku. Dia akan memberikan aku banyak sahabat dari Sabang hingga Merauke. Bahkan sampai ke luar negeri. Aku tak pernah bosan untuk selalu berdo’a pada Allah terutama pada shalat di sepertiga malam terakhir agar aku diberikan banyak teman, diberikan ilmu yang bermanfaat dan dierat tali persaudaraan yang indah dari tiap-tiap umat beragama. Mungkin aku termasuk salah satu orang yang kecanduan internet tapi tak pernah melupakan kewajiban dan melakukan hal-hal yang bermanfaat. Rasulullah mengajarkan kepada umat untuk menjalin silaturrahmi dan selalu optimis dalam berbuat kebaikan bagi semua orang. Itulah yang selalu kuterapkan dalam hidupku. Alhamdulillah do’aku terkabul dan aku diberikan banyak sahabat dari dalam negeri maupun mancanegara.
***
            Karena aku sangat gemar berinternet ria maka pulang sekolah kusediakan waktu satu jam untuk mampir ke warnet. Dulu aku belum mengenal yang namanya modem. Aku juga belum memiliki handphone yang bisa GPRS untuk berinternet ria seperti sekarang ini. Handphone-ku hanya bisa terima telpon dan SMS saja. *Gaptek banget ya diriku*
            “Vie, mau ke mana?”
            “Mau ke warnet?” jawabku dengan wajah senyum
            “Tapi nanti jam tiga balik ke sekolah lagi ya. Kita ada bimbingan les dengan guru matematika. Kan kamu suka matematika, jangan lupa hadir, OK.” Temanku terlihat cemas dan selalu mengingatkanku karena takut aku lupa ada jadwal belajar bersama guru sekolah ketika keasyikan chatting di warnet.
            Kulihat jam menunjukkan pukul 14.30, aku pun berhenti internet ria. Saat kumenuju sekolah, teman sebangku aku telah menanti kehadiranku di depan pintu gerbang sekolah.
            “Ada apa, Dila? Aku udah tiba tepat waktu ke sekolahkan. Jadi tak usah cemaskan aku. Macem kamu nggak tau aku saja,” kilahku pada sahabat karibku di sekolah
            “Ya, aku tahu. Aku takut kamu lupa karena keasykan chatting”
            Chatting, email dan mencari ilmu pengetahuan sudah mendarah daging di tubuhku. Pagi, siang, malam aku sempatin ke internet 1 jam.
            Tapi semua itu tidak mempengaruhi nilaiku. Aku masih tetap masuk 5 besar bahkan pernah meraih 4 besar. Walaupun waktu di kelas dua aku memperoleh peringkat rangking satu. Tapi inilah persainngan bersama orang-orang cerdas. Itu sudah cukup membanggakan bagiku.
            Ah ... lagi-lagi UAN (Ujian Akhir Nasional) menjadi boomerang bagi teman-temanku. Mereka selalu bertanya kepadaku.
            “Evi, nilai kamu kok bisa berada pada posisi aman trus ya. Padahal kamu tiap hari chatting bahkan kamu kami juluki ‘Ratu Chatting’, bagi dunk kiat-kiatnya?” tanya temanku.
            Aku membalasnya dengan senyuman kembali, “Gini frend, Evi biasanya membagi waktu sesuai jadwal dengan tepat baik les di sekolah, les di lembaga bimbingan maupun aktivitas organisasi lainnya. Aku pun sering menjawab soal-soal di rumah sebelum pelajaran di mulai di sekolah. Semua Lembar Kerja Siswa (LKS) telah kujawab. Soal-soal pelajaran fisika, matematika telah kubahas dengan tentor-ku di bimbel sebelumnya. Jadinya aku tinggal santai di kelas. Di suruh guru jawab soal maka kujawab.”
            “Oh begitu ya”
            Saat ujian UAS tiba, hatiku nyantai saja. Pulang sekolah seperti biasa mampir ke warnet sebelum beraktivitas lainnya. Karena dahulu aku bercita-cita ingin puny abanyak teman dari berbagai provinsi dari sabang sampai merauke. Ntah mengapa teman yang kuperoleh semuanya baik-baik. Belum lagi saat chat, aku sering bertausiah, ibaratnya berdakwahlah dikit-dikit J.
            Begitu juga saat UAN tiba, hatiku riang gembira, tiada ketakutan yang terjadi. Santai dan tenang. Karena sebelum hari H, aku sudah belajar mencicil satu persatu.
            Teman-teman pada tidak percaya dengan aktivitas semuku. Mereka bilang bahwa teman dari dunia maya itu tidak ada yang benar bahkan semua palsu penuh kebusukan. Ntah mengapa aku berhasil buktikan pada mereka bahwa sahabat-sahabtku di luar kota banyak dan bagus-bagus. Aku tunjukkan surat-suratku dengan temanku dari berbagai provinsi dan belahan dunia. Bahkan kadang-kadang teman-temanku membantu menyelesaikan tugas-tugasku. Sejak saat itu seluruh teman percaya bahwa dunia maya tidaklah semua buruk. Mereka idak lagi mencaciku bahkan memujiku karena aku masih bisa berprestasi. Aku masih bisa berkarya. Aku mendapat banyak ilmu pengetahuan dan wawasan.
            Seperti apa kita hari ini adalah buah dari mimpi kita kemarin. Bagaimana kita besok, adalah gambaran dari mimpi kita hari ini, dan seterusnya. Mimpi/cita-cita kita akan membentuk cara dan jangkauan fikiran kita, cepat dan kesungguhan gerakan kita, dan seterusnya dan seterusnya. Semakin besar mimpi/cita-cita kita, semakin besar dan jauh yang kita fikirkan, yang kita lakukan, dan usahakan. Mari memulai segalanya dari sebuah mimpi/cita-cita besar, untuk menjadi kreatif, serius dan total dalam menjalani hidup mengemban tugas kekhalifahan dari-Nya.
            Aku ingin menjadi mutiara yang indah sepanjang masa dan terus berkarya

Medan, 13 maret 2011


Anak kecil itu …..seorang “pahlawan”

                Sebut saja Abang ( bukan nama sebenarnya )....salah satu siswaku yang usianya belum genap 12 tahun. Tidak terlalu istimewa dimata guru-guru. Satu yang membuatnya berbeda dengan teman-temannya yang lain “ jago menyanyi “.
                 Ini terbukti dalam event lomba yang diadakan oleh salah satu stasiun televisi swasta dia berhasil  meraih juara satu. Tentu saja ini semakin membuat “ gerah ” beberapa guru disekolahku.  Karena label “ Islam Terpadu” disekolahku identik dengan prestasi Al-Qur’annya bukan “ menyanyi”. Yang tentu saja makin membuat abang  dipandang sebelah mata oleh beberapa guru karena makin sering meninggalkan kelas untuk mengikuti berbagai event show,alhasil makin tertinggal di hafalan Al-Qur’an dan beberapa pelajaran yang dianggap “penting”.
                 Hingga pada suatu pagi di hari sabtu, saat aku bersiap meluncur kesekolah untuk pengayaan siswa kelas enamku dengan  motor bututku, ponselku berteriak. Dari nomor   tak di kenal, terdengar suara dari seberang.
                ” ustdzah  ....( begitu panggilan untuk bu guru disekolahku ) .....maaf mengganggu, ini Abang mau bicara “. Ternyata dari bunda si-abang. “Ada apa gerangan ? “ . batinku bertanya.
                   Tak lama terdengar suara seorang anak kecil menangis tergugu, sambil bicara terbata mencoba untuk menjelaskan sesuatu.
                   “ ustadzah..hu..hu.. sebenarnya hari ini aku mau datang ke pengayaan ustadzah…hu...hu...., aku merasa ketinggalan banyak di pelajaran Matematika , padahal senin besok harus try out nasional kan ? aku takut nilaiku kecil , tapi hari ini juga aku ada audisi untuk menyanyi bareng bang Opick. gimana dong ..hu.hu.. .” .
                    Deg.
                    Tersentuh hatiku mendengar tangisan itu. Penilaianku salah selama ini. Abang berbeda. Sekarang dia sedang dihadapkan oleh dua pilihan yang sama-sama penting untuknya, sang bunda sangat menginginkan Abang ikut audisi ini karena sangat jarang kesempatannya, tetapi untuk audisi kali ini dia merasa setengah hati karena keinginannya lebih kuat  untuk datang ke pengayaan.
                     Akhirnya memberikan beberapa penjelasan dengan mencoba bersikap adil, agar bundanya tidak dikecewakan oleh Abang dan Abang juga tidak tertinggal pengayaannya maka aku mempersilahkan Abang datang kerumah untuk pengayaan ditempat tinggalku.
                    Dari situ mulai terjalinlah hubungan kami. Aku jadi banyak tahu tentang Abang.
Ternyata Abang yang seorang yatim , harus ikut membantu Bundanya .
                   ”… Bundaku sudah mulai sakit-sakitan ustadzah, jadi aku kasihan kalau melihat beliau pulang kerja kecapean ” critanya pada suatu hari.
                    Sang bunda “ terpaksa “ berhenti bekerja, disamping harus mendampingi Abang setiap kali ada show, juga karena mulai sakit-sakitan.
                     “.. aku ingin membantu bundaku ...., disamping manyanyi memang hobiku, setiap kali show aku pasti dapat uang dan itu aku tabung untuk persiapan sekolah aku dan adikku nanti. Aku nggak ingin meropatkan bundaku ustazdah ”. Critanya pula suatu sore disela-sela belajarnya.
                   Subhanallah ….ternyata tak sesederhana yang aku pikirkan. Tersentuh hatiku mendengar ceritanya . Sekecil itu sudah punya rasa tanggung jawab terhadap diri bahkan ke adiknya dan lagi keinginan untuk membantu meringankan beban bundanya.
                   Nak…maafkan ustadahmu ini yang kurang peka terhadapmu,selama ini aku menganggapmu menyanyi hanya demi ketenaran semata sampai harus meninggalkan kelas belajar. Ternyata kamu memiliki tujuan yg sangat mulia. Seharusnya aku membantumu,bukan meninggalkanmu dengan ketertinggalanmu. Sejatinya engkau adalah PAHLAWAN …bagi keluargamu…