Breaking News

16 May, 2012

SESUATU PADA DINI HARI


by Bunda Lahfy


Si Mbok... Begitu dia menyebut dirinya, dan aku pun memanggilnya dengan sebutan itu. Umurnya mungkin mendekati 70 tahun, aku tak tahu pasti. Beberapa giginya sudah ompong dimakan usia. Jelas terlihat kalau dia sedang tertawa. Tapi mata dan telinganya masih sempurna. Kakinya berjalan dengan terseok-seok tanpa alas kaki. Sedikit terpincang-pincang. Tak pernah aku sangka kalau di Jakarta masih ada orang yang tidak pernah menggunakan alas kaki. Si Mbok tinggal disekitar kompleks rumahku, hanya berjarak sekitar 50 meter saja dari rumahku. Ya... Si Mbok adalah tetanggaku.Pakaiannya selalu terlihat lusuh tak disetrika sekalipun dia baru saja bertukar pakaian. Kerudung polos dengan warna yang sudah memudar menutupi kepalanya.
"Aku ora tau tuku klambi, ini dinei karo bu RT "(aku ngga pernah beli baju, ini dikasih sama bu RT)
Bahasa Jawanya tak bisa dia lepaskan sama sekali. Bukan bahasa halus, dia tak mengerti itu.

Dia dan suaminya berjualan kopi dan rokok di sebuah sudut kompleks rumahku. Tentu saja warung yang tak ada ijinnya, yang berdiri asal saja dengan resiko penggusuran. Disitu pula dia dan suaminya tinggal. Sempit dan kumuh. Anaknya bekerja sebagai penyapu jalan di Dinas Kebersihan. Tidak tinggal bersama mereka. Suaminya bekerja sebagai pesuruh disebuah sekolah dasar.



Sebetulnya aku sudah lama dan sering melihat sosoknya. Tapi aku mengenalnya lebih dekat baru beberapa bulan ini. Dan semakin aku mengenalnya, semakin aku melihat bahwa si Mbok adalah orang tua yang punya semangat hidup dan prinsip yang luar biasa. Tidak... Mbok tidak pernah bercerita panjang apalagi memberikan nasehat dan petuah hidup padaku. Dia pasti merasa tak pantas melakukannya. Padahal kalaupun itu dilakukannya, aku akan menghargai dan berterima kasiih padanya, sebab aku tak pernah memandangnya dengan sebelah mata. Justru aku yang banyak bertanya tentang kehidupan dia, keluarganya, kesehariannya. Dan obrolan itu kami lakukan diatas sepeda motorku. Aku memberikan boncengan kepadanya. Heran...?? Baiklah... aku ceritakan.

Awalnya aku sering bertemu dia justru di pasar tradisional tempat aku biasa belanja kebutuhan kantin. Setiap sehabis sholat subuh aku selalu berangkat ke pasar. Mulanya aku hanya bertegur sapa dengannya. Lama-lama aku perhatikan ternyata dia kalau berangkat naik metro mini dari ujung kompleks, turun sekitar 50 meter dari lokasi pasar, berjalan terpincang-pincang menuju pasar (jalur metro mininya tidak lewat persis depan pasar). Lalu dia pulang memakai ojek. Luar biasa semangat si Mbok. Sudah sebegitu umurnya tapi tak mau berdiam diri. Tetap berusaha untuk tidak merepotkan anaknya. Dia sudah sering sakit-sakitan tanpa tahu penyakitnya. Tapi tetap berusaha bangun dan berangkat kepasar berbelanja kebutuhan warungnya.

"Mengko nek wis aku mati nembe aku meneng. Isih urip isin nek njaluk maring anake. Wis ben urip dhewek-dhewek. Aku ya wis ora bisa ngenei apa-apa meng anakke" (Nanti kalau aku udah mati baru aku diam. Masih hidup malu kalau minta sama anakku. Biarinlah hidup sendiri-sendiri. Aku juga udah ga bisa ngasih apa-apa buat anakku).

Mengamati itu aku berfikir, berapa ongkos yang dia keluarkan tiap hari? Terbayang warungnya yang hanya sedemikian jualannya, apa nggak habis buat ongkos? Lalu aku mulai menawarkan boncengan motorku. Si Mbok menyambut gembira ajakanku. Singkat cerita akhirnya tiap pagi aku punya penumpang. hehehehe.... Itulah makanya kami biasa ngobrol di atas sepeda motor sepanjang perjalanan ke dan dari pasar.

Tadi pagi seperti biasa si Mbok menungguku diujung kompleks. Sambutan tawa tak bersuara selalu diberikannya padaku. Tapi pagi tadi aku tak ingin banyak bicara padanya, sebab aku mendengar ada rencana penggusuran warung-warung ditempat si Mbok. Aku takkan tega dengan cerita rencana penggusuran itu. Tapi tanpa aku tanya si Mbok berkata

"Ora sida digusur kok bu, aku karo warung-warung liane wis ngewei duwit maring kantib, rongatus seket ewuan. Ana 5 warung, dadi kabehan olih siji setengah juta". (Ngga jadi digusur kok bu, aku sama warung-warung lainnya udah ngasih uang sama kantib, dua ratus ribuan. Ada 5 warung, jadi total 1 setengah juta).

Huuhh... janji apa para petugas itu! Surat penggusuran khan sudah turun dari kecamatan. Ini pasti akal-akalan mereka saja untuk minta uang dari warung-warung itu. Aku yakin penggusuran hanya ditunda dengan alasan yang dibuat-buat dari petugas di lapangan kepada atasannya. Suatu saat, entah kapan, penggusuran itu pasti tetap dilakukan. Tapi memang wajar andai sudut itu dirapikan, karena memang berkesan kumuh. Begitulah kaum urban... seharusnya bisa menjaga kebersihan ditempat yg mereka tinggali, sebab mereka memang tinggal di tempat yang bukan milik mereka, milik umum. Tapi masalahnya... sekarang yang akan mengalami penggusuran itu adalah si Mbok. Sosok yang makin hari makin dekat denganku. Itu makanya aku ikut sedih karenanya. Tapi kelihatannya si Mbok tak banyak berfikir lagi tentang hal itu. Buktinya pagi ini dia tetap semangat belanja seperti biasa. Seolah tak ada yang perlu dikhawatirkan.

Aku sudah selesai dengan belanjaku. Cepat memang. Sebab aku sudah sms malam sebelumnya barang-barang yang aku butuhkan ke pemilik kios kelontong langgananku. Begitu juga dengan kebutuhan yang lain. Jadi tinggal ambil lalu bayar. Makanya aku sering selesai duluan daripada si Mbok. Sambil menunggu si Mbok selesai belanja, aku duduk di bangku panjang penjual nasi uduk. Memesan nasi uduk dibungkus buat anak-anak di rumah, sambil mengobrol dengan penjual nasi uduk dan penjual bawang merah yang berjualan didekatnya.

"Sekarang lagi model yang baru-baru ya mbak...", Kata penjual bawang merah.

"Yang baru-baru...? Apa yang baru?" tanyaku tidak mengerti.

"Hahahaha.... ", sebelum menjawab malah ibu itu tertawa terbahak-bahak.

"Wah, si mbak ketinggalan berita niih...", penjual nasi uduk menimpali.

"Wah..., jadi penasaran... Memangnya di pasar ini lagi ada sesuatu yang baru apa...? Mau dikasih ac ya... atau mau dibikin tingkat..?" kataku bergurau.

"Hahahaha... mimpi kali yeee...", penjual bawang merah menyahutiku.

"Yang baru bukan cuma di pasar ini kok mbak, tapi juga di pasar-pasar lain, di mana-mana. Sekarang lagi model HARGA BARU ...!! Sebentar lagi malah bakalan jadi ngetrend. Hahahaha... harga baru alias HARGA NAIK. Tapi kalau bilang harga naik kayaknya bikin lemes badan dan pikiran. mending bilang harga baru.... biar ngga terlalu nelangsa ngucapinnya. menghibur diri dikit... hahaha....", Penjual nasi uduk menjelaskan padaku sambil tertawa-tawa. Atau tepatnya menertawakan sebuah kekhawatiran.

"Biasanya kalau mau dapat yang baru-baru khan kita seneng. Baju baru, sandal baru, kerudung baru... atau apa sajalah yang baru-baru... tapi baru yang satu ini rasanya bakal bikin pusing tujuh keliling. Liat aja BBMnya belum naik, tapi harga-harga udah naik duluan. Kita ini bisa apa... Bisane manut. Terpaksa manut. Jadi biar ngga nglokro aja kita ga bilang harga naik tapi harga baru.... hahahahaaha...", Penjual nasi uduk melanjutkan sambil tangannya tetap sibuk bekerja membungkus pesananku.

Subhanallah... sebuah pemikiran yang kelihatan sederhana tapi mengandung makna positif yang dalam, menurutku. Jadi ini soal rencana kenaikan BBM tho... Oalah... ngga kepikir olehku. Mereka hanyalah pedagang-pedagang kecil yang mengumpulkan keuntungan yang tidak seberapa dari dagangannya. Sebetulnya mereka cemas dengan apa yang akan terjadi esok hari. Ketidakberdayaan sebagai rakyat kecil membuat mereka berusaha untuk tetap tertawa. Dengan tertawa, dengan berbicara yang bernada positif mereka berharap bisa lebih menguatkan hati mereka. Hidup harus terus berjalan, dan mereka mencoba mempersiapkan mental menghadapi kesulitan-kesulitan yang ada di depan mata. Hanya itu yang bisa mereka lakukan.

Si Mbok keluar pintu pasar dengan langkah khas nya. Terpincang-pincang. Di tangannya ada kantong belanja. Tak seberapa belanjaannya. Dia menghampiriku sambil berkata,"lenga klenthik regane mundhak...." (minyak goreng harganya naik).

Aku hanya tersenyum sambil membayar nasi uduk dan menyiapkan motorku....Kami pulang... Aku membonceng si Mbok mengantarnya sampai ke warungnya. Aku belajar sesuatu pagi ini. Dari semangat si Mbok walau terancam penggusuran, dari warga pasar yang mencoba menyemangati diri mereka dengan pikiran positif. Terima kasih ya Allah... bahkan nilai-nilai kebaikan sudah Kau berikan padaku pada pagi sedini ini. Dan aku memulai hari ini dengan sebuah semangat baru. Semangat yang agak luntur beberapa hari ini.
Alhamdulillah wasyukurillah....

0 komentar:

Post a Comment