Breaking News

16 May, 2012

Sepasang Sayapmu, Teman ...


by Lygia Pecanduhujan
Aku  rindu kamu. Rindu seperti apa ? entahlah, rindu seorang teman kurasa.  Rindu yang biasa-biasa saja. Bukan rindu menggebu-gebu yang membuatku  ingin selalu bertemu. Bukan juga rindu mendebarkan yang membuatku  menginginkan pertemuan. Tapi rindu yang membuatku tertawa mengingat  hari-hari yang telah dilewati bersama.

  “Jangan genit melulu,”  cercamu kala itu. Ho ho ho, segenit apakah aku dimatamu ? genit karena  banyak teman lelaki yang aku hadiahi senyum ? ataukah genit yang  tersirat dari status-statusku yang  lugas apa adanya ? tapi itulah kamu,  dan semua hal tentangmu yang membuatku makin merindu.  Kamu yang apa  adanya, mencela, mengejek, memarahiku habis-habisan, melontarkan sekitar  seribuan kalimat sinis tentang sikapku yang selalu salah di matamu.  Namun disanalah kutemukan kehangatan itu. Aku dan kamu, kamu dan aku,  kita bagaikan Tom and Jerry, tampak saling tak suka namun sesungguhnya  saling menyayangi.

Aku nyaman bersamamu. Ketika kita  berbincang dengan banyak orang bersama-sama dan kau membisikiku di  belakang mereka, “Ini gak asyik. Kita jauh lebih asyik..” aha ! dan kamu  memonopoli waktuku dari hari ke hari, minggu ke minggu hingga tak  terasa bulan kedua kita lalui. Tanpa sadar, kau telah memiliki waktuku  jauh lebih  banyak dari siapapun. Tapi monopoli ini adalah monopoli yang  asyik. Monopoli yang akan kurindukan mungkin sekian puluh tahun ke  depan.

Perhatianmu sungguh luar biasa. Mencecarku hingga  kehabisan udara. Menghujaniku bukan dengan kalimat-kalimat manis yang  mampu menekuk lutut para gadis. Kemampuanmu membuatku tertawa saat  datang airmata, membuatku tergugu dan hanya bisa membisu. Terbuat dari  apakah dirimu ?



Kau dan aku, kita berdua seperti orang yang  sedang jatuh cinta. Padahal sungguh tidak. Kau selalu mengingatkanku  bahwa kelak, akan datang Petir yang berbeda dari petir-petir yang lain  untuk melengkapi hujanku. Petir yang akan membuatku bangun dari  mimpi-mimpi masa remaja. “Kau tidak akan kemana-mana. Tetap di sana,  bertemu seseorang dan hidup bahagia selamanya. Seperti dongeng masa  lalu, tapi kupertaruhkan reputasiku untuk itu,”

  Luar biasa  betapa kau mampu menularkan sikap optimismu itu kepadaku yang terkadang  seperti seorang pesimis sejati. Selalu mengeluh di hadapanmu. Tapi  percayalah, hanya di depanmu aku mampu begitu. Karena aku tahu, kamu  akan mendengarkan. Ya, cukup dengarkan aku. Tak perlu kita  memperbincangkan segala kesakitan itu.

Ingatkah bahwa suatu  ketika kau pernah berkata, mungkin kelak kebutuhan kita akan jadi candu ?  ketika aku mulai terbiasa mendengarkan bisikan-bisikanmu  di telingaku  saat aku terbaring dalam sakit. Kuat, kuat dan selalu kuat, begitu  bisikmu lembut. Selalu khawatir tentang aku. Mencemaskanku dalam diam.  Memperhatikanku dari atas awan tak terjangkau, dengan doa-doa yang  berjatuhan dari setiap jemari tangan yang kau tangkupkan sebelum  tertidur.

  “Kalian terlihat begitu dekat, kalian saling  mencintai ?” tanya seorang teman. “Bukankah itu gunanya teman ? menjadi  bagian terdekat dari diri kita ? sesuatu yang patut disyukuri setiap  detiknya ?” jawabku tanpa ragu. Ya , aku mencintaimu. Aku nyaman  bersamamu. Kau tak pernah menawarkan lebih karena kau tau pasti apa yang  aku butuhkan dalam hidup ini. Aku butuh teman, dan kau selalu ada saat  itu. Masih kurangkah itu ? bagiku, cukup. Sungguh luar biasa.

  Ya.  Aku tahu kau rindu karena aku juga begitu. Meski bukan rindu yang  membuatku tak bisa tidur karena selalu mengingatmu. Bukan rindu yang  membuatku cemburu dan gelisah ingin bertemu.  Bukan rindu yang membuatku  ingin memilikimu seutuhnya hanya untukku saja. Aku menyayangimu dan  selalu berdoa untuk kebahagiaanmu. Mencintaimu dan membuktikannya di  setiap waktuku. Meski katamu aku seolah tak perlu, meski ujarmu aku  seolah tak peduli. Tapi tahukah kau, kubawa namamu dalam setiap sujud  malamku dan doa-doa panjangku ?

  Hujan, senja, purnama,  sebaris awan berbentuk sisik, sebuah bintang yang lebih terang dibanding  yang lain, lagu-lagu lawas yang kita nyanyikan bersama dengan penuh  semangat dan tawa, semua itu mampu membuatku makin mensyukuri  kehadiranmu, temanku. Kelak, ketika kita bertemu, akankah kau masih akan  memanggilku : TEMAN ?

  ( Untuk seorang sahabat yang sungguh luar biasa indah, terima kasih. Tetaplah kembangkan sayapmu untukku... )

0 komentar:

Post a Comment