Breaking News

16 May, 2012

SEKEPING DIRHAM PANAS


by Candra Nila Murti D
            Dahlan Iskan Marah besar, ditendangnya kursi pada loket pintu Tol. Gubrak!!!.    ”Kenapa loket ini tak ada yang jaga? Tahu tidak dari sejak subuh, pengguna tol sudah berpacu dengan waktu. Mereka mengantri mengular, buka Cuma banyaknya volume kendaraan, tapi diperparah dengan ketidakdisiplinan petugas loket. Saya saja sebagai Mentri sudah disiplin untuk segera pergi kekantor..”
            Mentri BUMN itu benar-benar murka. Jasa Marga sebagai salah satu bidang jahahannya, telah torehkan ‘perih’ didadanya. Sedang Ia berkali-kali sebagai tameng untuk jawab pertanyaan rakyat ketika tarif tol akan naik, begitu naik tak diimbangi servis yang sempurna  Seperti ia mendesah, saat amanah diusung, saat itu juga sebenarnya beban berat telah disangga. Ia sangat paham.
            Sebenarnya, saya bukan penggemarnya menteri yang low profile ini. Soalnya berjibun pejabat; polanya sama, banyak tak amanah, bikin bête, pekerjaan yang tak benar, tak melayani rakyat, malah sebaliknya suka banget dilayani. Namun beberapa saat yang lalu banyak ‘tingkahnya’ memaksa untuk dilirik. Naik ojek, ketika jalanan ibulota macet. Tiba-tiba ada diatas kereta api, Bus Trans-Jakarta, bikin kelimpungan para pejabat setempat yang sungguh tak siap dengan kedatangannya mendadak.



            Suatu hari suami cerita, saat hari Jum’at ada serombongan staf dari kementrian Hukum dan HAM bertandang ke Pesantren. Karena tak ada konfirmasi, mereka di sambut ala kadarnya oleh ustadz yang kebetulan tidak liburan, dan terkaget-kaget ada yang mendadak ahadir dipesantren. Suamiku yang cuma melongok pondok ditarik-tarik suruh menemani bicara ustadz yang saat itu kebetulan juga sedang tengok pondok. Salah sendiri, jum’at datang, saat pesantren libur dan tak ada konfirmasi, alhasil cuma air dalam kemasan disuguhkan kepada tamu yang sebenarnya penting itu. Saat ada kesempatan suami langsung ngibrit pulang, “Lha aku disuruh ngapain, soalnya cuma ban serep, daripada cuma bengong aja”.
            Sebenarnya suamiku mungkin agak menyesal, karena tak sabar ada satu “kejutan” satu lagi saat ia pulang dan memutuskan shalat jum’at dirumah. Soalnya saat masuk Shalat jum’at ada tamu penting yang datang diam-diam. Tanpa pengawalan, hanya dengan asistennya. Berwudhu bersama santri, shalat khusuk diantara mereka. Tak ada sesuatu yang istimewa. Ia didaulat naik mimbar, beri tausiyah seusai shalat jum’at, karena direktur pesantren dibisiki, ternyata ada tamu ikut shalat, dan dia bukan wali santri. Ia seorang mentri. Ya, ia adalah Dahlan Iskan. Ia bisa menjelma dimana saja, dipelosok negeri ini. Saya mungkin akan pingsan saat ia tiba-tiba membeli permen diwarung mungilku. He..he.. khayalan yang ngawur saja.
            Saya bayangkan dia bak Umar bin Abdul Aziz, salah seorang khalifah daulah Abbasiyah yang begitu saya kagumi. Dua setengah tahun berkuasa. Bersihkan kotoran negerinya. Ia ubah “sampah” jadi berlian. Mencoba ciptakan surga sungguhnya saat negara berada diujung tanduk. Dua-setengah-tahun: Ayo siapa yang bilang tak mungkin ubah negara yang kacau balau? Umar bisa buktikan! Ia adah seorang yang zuhud tak gila kuasa dan harta. Sebagian besar harta milik keluarganya diberikan pada negara. Ia bisa menangis dengan keras-keras, ketika melihat rakyatnya menderita. Ia sangat berani bersebrangan dengan pejabat atau lawan politnya yang kontra, apalagi kalau ia anggap benar. Semua bidang diperbaikinya, social,politik, budaya, ilmu, militer, kesehatan dan semua hal asal itu untuk sejahtera rakyat. Ada seorang ulama yang sampai bilang, “Seorang penggembala berkata padaku, ini negara siapa gerangan? Sampai srigalapun tak berani makan kambing-kambing itu, karena saking damai dan tentram negeri ini. Dan petugas zakatpun kebingungan mencari para fakir miskin, karena semuanya jadi muzaki. Semua rakyat sejahtera.
Apa Umar dengan mudahnya mengubah negerinya dengan waktu singkat dengan sim salabim? Oh tidak, dengan seluruh jiwa raganya. Ia ingin persembahkan jabatannya hanya untuk Illahi yang janjikan surga padanya, bila jadi pemimpin yang amanah. Ia sangat takut dengan neraka, bahkan bisa pingsan dalam shalatnya ketika harus membaca surat Alqur’an yang berhubungan dengan neraka. Ia sangat berhati-hati jaga negerinya, amanahnya, seperti berhati-hati agar tak masuk ke ranah jahanam.
Terus,..terus,..bagaimana dengan negeri yang semakin tak tentu arah ini? Jangan bilang lagi belum cukup waktu untuk memimpin jadikan negeri ini sentosa. Umar hanya diberi waktu dua-setengah-tahun, dibawah ancaman pembunuhan padanya yang selalu mengintai, saat itu. Bila semua pemimpin takut neraka. Menjadikan jabatan sebagi amanah untuk merengkuh surga, dengan niat untuk perbaiki rakyatnya, tentu bukan hal mustahil era Umar akan kembali terjadi. Saya salut sama Dahlan Iskan sudah memulainya, tanpa kamera, tanpa banyak ucap, ia banyak keliling untuk mencoba perbaiki dengan apa yang bisa dilakukan. Mungkin sesuatu yang sederhana, namun semoga bisa jadi kontribusi tuk perbaiki negeri ini. Paling tidak, sikapnya bak oase ditengah gurun gersang negeri ini.
Akhirnya, ada satu kisah yang bisa jadikan inspirasi. Saat sang Bibi Umar datang untuk minta tambahan uang belanjanya yang sudah ditetapkan negara, saat Umar sedang makan dirumah dengan makanan yang sangat sederhana, seperti yang dimakan rakyat jelata. “Sebentar ya bibi”, kata umar sambil mengambil uang sekeping dirham perak yang kemudian dibakarnya diatas bara api. Lalu dibungkusnya dengan kain, dan diberi pada bibinya.
“Panas….”, teriak bibinya sambil membuang uang itu, dan mengelus tangannya yang melempuh. Dengan santun Umar berkata,”Seperti itulah gambaran bila uang negara yang tak digunakan tidak pada tempatnya. Itu hanya panas api didunia. Saya tidak mau mengajak keluargaku dan kerabatku untuk merasakan api neraka, gara-gara saya selewengkan uang negara..” Semoga yang disana bisa ter “tampar” dengan ucapan Umar,..

Sukoharjo, 4 April 2012

0 komentar:

Post a Comment