Breaking News

16 May, 2012

Menghargai Pengalaman


by Mira Arfiani
Di mana-mana ketika akan membuat karya ilmiah, kita akan dibimbing oleh dua orang pembimbing. Begitu pun dengan aku yang merupakan mahasiswa bahasa Jepang. Pembimbing pertama bertugas membimbingku menulis materi yang dibahas di dalamnya dan pembimbing kedua membimbingku menerjemahkannya ke dalam bahasa Jepang.

Ketika aku menjalani masa bimbingan karya ilmiah di kampusku, pembimbing pertamaku tak pernah mempermasalahkan materi yang aku tulis. Beliau hanya memberi masukan-masukan berupa hal-hal yang kurang dan harus aku tambah dalam karyaku tersebut.

Suatu kali aku ditegur keras oleh beliau karena menurutnya apa yang aku kerjakan sama sekali tak sesuai dengan apa yang diminta. Saat itu aku memang sempat tertegun dengan ucapan beliau. Aku pikir aku sudah mengerjakan sesuai dengan permintaan beliau, namun apa yang salah? Aku sangat depresi dan menganggap diriku tak becus dalam mengerjakan apa yang harusnya aku buat. Seakan-akan waktu satu minggu yang kupakai untuk mengerjakan bab yang kuserahkan pada hari itu, terbuang percuma begitu saja. Sehingga, saat itu aku tidak dibimbing sama sekali. Beliau langsung membimbing  temanku yang juga anak bimbingannya. .



Saat beliau sedang membimbing temanku itu, aku memasukkan berkas yang terkesan tak ada gunanya ke dalam map plastik yang aku bawa. Ketika sedang memasukkan semua ‘kertas-kertas sampah’ itu, aku melihat berkas-berkas yang telah beliau koreksi di minggu-minggu sebelumnya. Aku baru ingat kalau aku selalu membawa semua berkas itu setiap kali datang untuk bimbingan dengan beliau. Hal itu aku lakukan sejak awal karena kakakku yang sudah pernah menjalani ‘kehidupan S2’ dan ayahku yang merupakan seorang dosen menyarankan itu kepadaku. Awalnya aku juga kurang mengerti apa maksud mereka mengatakan itu. Namun, karena aku masih awam, jadi perkataan mereka aku turuti saja. Ternyata hal tersebut terbukti berguna pada saat itu. Maka tanpa pikir panjang aku langsung mencari berkas yang sama dengan yang aku serahkan pada hari itu.

Pada saat menemukannya, di berkas tersebut aku melihat catatan beliau. Di sana tertulis bahwa aku harus memperbaikinya. Ketika membaca berkas yang aku bawa untuk diserahkan pada hari itu, aku melihat bahwa apa yang aku buat sudah sesuai dengan yang beliau minta. Namun, apalagi yang salah?

Karena egoku tak bisa menerima disalahkan begitu saja, maka begitu beliau selesai membimbing temanku, aku langsung menanyakan kesalahan apa yang aku buat.  Beliau pun menjawabnya, “Cara kamu menulis salah. Seharusnya beberapa hal yang kamu tulis di sana seharusnya tidak ditulis dalam bentuk deretan kalimat, tapi ditulis dalam bentuk poin-poin!”. Saat mendengar jawaban itu, aku kaget. Di berkasku yang lama (yang telah beliau koreksi di minggu sebelumnya), aku menulis dalam bentuk poin-poin. Namun, pada catatan koreksi yang tertulis di sana, beliau meminta tulisan itu diubah menjadi deretan kalimat. Diriku memaklumi bahwa sebagai seorang dosen, banyak sekali hal yang membebani pikirannya. Selain itu, banyak sekali mahasiswa yang sedang menulis karya ilmiah yang dibimbing olehnya. Suatu hal yang wajar kalau bisa saja beliau lupa akan permintaannya sendiri kepadaku yang merupakan salah satu dari puluhan bahkan ratusan mahasiswa yang dibimbingnya.

Maka pada saat itu aku memberanikan diri untuk memprotesnya, “Cara saya menulis di sini sudah sesuai dengan koreksi Bapak yang tertulis disini.”. Terkesan tak mau kalah, beliau meminta bukti dari perkataanku dengan nada bicara yang terdengar galak.

“Mana?!!!”

Tanpa ragu aku pun menyerahkan berkas itu kepadanya. Setelah ia membacanya, ia tampak langsung mengingatnya. Melihat hal itu, beliau terdiam sejenak. Tak lama ia mengatakan, “Ya sudah! Kamu langsung lanjutkan saja menulis bab selanjutnya!”. Beliau menggerutu panjang sambil menulis buku bimbingan dan sesekali memelototiku dengan galaknya.

Melihat beliau seperti itu, aku hanya tersenyum menahan perasaan ingin tertawa. Tak lama buku bimbinganku yang telah ditandatangani pun dikembalikan. Setelah menerimanya, aku berterimakasih dan permisi pulang.

Dalam perjalanan pulang, dalam hati aku tersenyum dan tertawa riang.

Legaaaaa rasanya….!!

Aku sangat berterimakasih pada kakak dan ayahku yang telah menyarankanku untuk menyimpan dan membawa semua berkas yang telah dikoreksi oleh pembimbing. Kalau tidak, bisa jadi aku harus mengulang pekerjaan yang sama dengan yang telah kukerjakan sebelumnya dan tidak bisa meneruskan ke bab selanjutnya.
Setelah melalui beberapa kali pertemuan dengan pembimbing pertama, akhirnya tugasku menyusun karya ilmiah dalam bahasa Indonesia pun selesai. Sehingga, masa bimbinganku dengan beliau pun selesai.

9/4/2012

0 komentar:

Post a Comment