Breaking News

16 May, 2012

KERINDUAN CINTA


by Sri Rahayu
   Hari ini aku terbangun dari tidurku dengan hati yang berbunga-bunga tak menentu. Bahagia dan penasaran.  Yah mimpiku semalam telah membuatku merasa betapa bahagianya dicintai, dihujani dengan perhatian, ditaksir, dirayu dengan sejuta sindiran indah dari seseorang yang belum kita miliki.  Padahal aku bukanlah seorang gadis belia, aku adalah seorang  istri dan ibu dari dua orang anak.  Suamiku juga sangat menyayangiku dengan caranya, dia sangat bertanggungjawab meski kami hanya bertemu seminggu sekali.  Namun... suamiku bukanlah tipe lelaki yang romantis, dia jarang sekali ingat ulangtahunku, makanan kesukaanku ataupun hal-hal yang tidak kusukai.  Padahal sebagai wanita aku rindu keromantisan.

            Pernikahan kami diawali tanpa cinta, karena sebenarnya kami adalah sahabat yang sama-sama memiliki cinta yang bertepuk sebelah tangan.  Berawal dari sebuah canda dan keisengang kami pun menjalani hubungan hingga ke jenjang pernikahan. Sayangnya dahulu waktu kami pacaran suamiku pernah selingkuh dengan adik tingkatnya.  Luka ini membekas dalam hatiku, meski sebenarnya aku pun tidak pernah menutup hati untuk pria yang kucintai.

Delapan tahun sudah kami menikah, banyak suka duka kami lalui.  Kami berusaha saling memahami.  Suamiku berusaha keras menepati janjinya tuk membuatku bahagia, mencintaiku dan menyayangiku, namun rupanya itu belum cukup buatku.  Kesalahannya di masa lalu membuatku selalu ragu akan perasaannya.  Aku tidak bisa merasakan cinta yang kuimpikan.  Meski aku tidak pernah selingkuh, tetapi aku selalu memimpikan sosok yang lain yang selalu membuatku penasaran tuk mendapatkan cinta sesuai gambaranku.  Padahal anak-anak kami adalah bukti cinta anak-anak kami adalah bukti cinta kami.



Sejak saat itu aku hidup dalam dunia mimpi. Tidur menjadi saat-saat yang kutunggu. Pria itu selalu hadir tuk menghibur hatiku yang galau, seolah dia tahu bahwa aku tidak merasakan kebahagiaan dalam pernikahanku.  Tatapan matanya mampu membuatku tersipu malu.  Tiba-tiba...dia menciumku dengan mesra.  Membuat darahku mendesir panas.  Tubuh ini tak mampu bergerak.  Wajahku memerah layaknya kepiting rebus.  Dadaku bergejolak, dan aku pun terbangun karena rasa bahagia.

Mimpi itu datang silih berganti, dengan tokoh yang sama dan kisah yang semakin membuatku melambung.  Aku semakin hari semakin merasakan bahwa aku tidak mendapatkan cinta tulus dari suamiku.  Siang malam aku selalu merindukan sosok itu.  Sosok yang tidak kumiliki.
Aku utarakan semua perasaan dan mimpiku, berharap suamiku mau melakukan semuanya untukku.  Tapi ternyata..., bagai petir di siang bolong...dia memberi kesempatan bagiku tuk menemukan cinta yang kucari dan aku bisa kembali kalau aku tidak menemukannya.  Apakah ini artinya...talak ?  Selama seminggu aku memikirkan kebijakkan suamiku, merasakan hari-hari tanpanya, berfikir bagaimana tuk memberi penjelasan pada anak-anak. Sanggupkah???
Sebagai seorang suamiku dia merasa telah memberikan segala yang dia mampu untukku, sehingga dia memberi kebebasan padaku, untuk mencari cinta yang kumaksud, sementara aku?? Terlalu sibuk memikirkan cinta yang mungkin tidak ada.  Kini aku menyadari bahwa apa yang aku cari sudah aku miliki lebih dan aku akan kehilangan karena ulahku sendiri.  Memang cinta tidak dapat digeneralisir.  Dia mencintaiku dengan caranya...dengan pemahamannya akan cinta, sementara aku ingin dicintai dengan pemahamanku akan cinta.

0 komentar:

Post a Comment