Breaking News

16 May, 2012

Kematian Tak Dapat Ditolak


by Dewi Laily Purnamasari
Tepat 1 April 2010 … (bukan  april yang lain loh!), tiba-tiba kucing yang biasa mondar-mandir di  halaman rumah kejang-kejang. Tak berselang sepuluh menit kucing itu  lemas dan mati di jalan masuk rumah. Ya Allah … padahal kucing itu  kelakuannya lucu sekaligus ‘nyebelin’. Kucing itu juga tidak sempurna  seperi kucing lainnya : matanya kecil sebelah, ekornya sangat pendek  nyaris tak berekor, tubuhnya kecil kurus, bulunya jarang … tapi ingatlah  bahwa pasti Allah SWT menciptakannya tidak sia-sia. Aku juga bukan  manusia sempurna. Benar kan ?
Tak lama setelah penguburan mayat kucing di kebun depan rumah, ada kabar  dua orang famili meninggal dunia. Famili-ku tinggal di kota berbeda  Cirebon dan Sukabumi, namun di waktu yang sama. Subhanallah … memang  manusia semua akan meninggalkan duniaKadang dunia sangat dicintainya.  Namun, cinta sesungguhnya tentu harus kepada yang telah menciptakan dan  memiliki seluruh jiwa dan raga ini. Innalillahi wa inna ilaihi rojiun.



Sore hari sambil bermain dengan si kecil, seorang tetangga baik hati  mengajak melihat penggalian tanah di rumah sebelah. Entah mengapa?  Obrolan malah membahas galian kubur kita kelak tak lebih besar dari  galian septik tank tempat pembuangan kotoran. Oh … Astaghfirullah … Ya  Allah … ampuni segala dosa hamba di dunia ini, apalah arti segala  keangkuhan, kesombongan, dan segala macam godaan dunia … kelak kembali  ku dalam tanah, sendirian, gelap … hanya ditemani amal-amal shalih yang  Engkau terima, doa-doa anak shalih - shalihah, ilmu-ilmu yang diamalkan,  dan harta yang dimanfaatkan di jalan-Mu Ya Allah …
Esok harinya libur panjang … sepanjang pagi aku di rumah saja. Kegiatan  ku bukan berupa jalan-jalan ke luar kota, wisata kuliner di  restoran, atau eye shopping di mal. Tiba-tiba di sore hari,  suhu tubuh si kecil lebih dari 39,5 derajat celcius. Pereda panas tak  mampu menurunkannya, tubuhnya lesu, kulit dan bibirnya memerah, matanya  terpejam terus. Padahal, gadis mungil ini biasanya lincah, ceria, senang  bernyanyi dan mengoceh, bermain sepeda dan berlarian di taman, membaca  buku dan tertawa gembira. Dia bilang … “Bu, aku gak bisa jalan … kepala  ku sakit”. Lalu meluncurlah kami berdua saja ke UGD.
Ssungguh tak terduga, kedatangan kami bersamaan dengan kedatangan korban  kecelakaan. Tempat tidur anakku bersebelahan dengan tempat tidur korban  yang harus menjalani tindakan berupa gips dan jahitan hampir satu jam.  Anakku harus di cek darah agar diketahui apakah terkena DBD? Kembali  dari laboratorium dengan hasil negatif (Alhamdulillah …).
Di UGD kami konsultasi dengan dokter untuk menentukan obat yang harus  dikonsumsi anakku. Belum selesai dokter menulis resep, pintu UGD terbuka  dan seorang ibu berambut putih terbujur kaku di dorong masuk.  Jenazah  tepat berhenti di belakang kami, karena ruang untuk pacu jantung sedang  ada pasien lain. Ya Allah … dalam waktu yang sangat berdekatan telah  Engkau limpahkan kepada ku ayat-ayat kauniyah-Mu.

Bersyukurlah atas nikmat sehat.
Bersabarlah atas sakit yang diderita.
Bertaubatlah atas musibah yang menimpa.
Berdoalah khusnul khatimah sebelum ajal menjemput.
Ya Allah … aku semakin yakin bahwa rezeki tidaklah harus berupa uang.  Sehat, selamat, senang, sejahtera, dan segala karunia-Mu di dunia ini  adalah rezeki-Mu yang harus di syukuri dengan semakin tunduk dan patuh  kepada segala perintah-Mu dan menjauhi segala larangan-Mu.
Kusadari, betapa aku sering mengingatkan anak-anak untuk siap  menempuh ujian, terlebih ujian sekolah. Lebih heboh lagi saat menjelang  ujian akhir sekolah dan ujian akhir nasional. Belajar … belajar …  belajar … Ada pendalaman materi, les privat, bimbingan belajar, latihan  soal, try out. Ya … macam-macam cara ditempuh agar siap menempuh ujian.
Namun, aku  sering lupa mempersiapkan diri kita sendiri untuk menempuh  berbagai ujian kehidupan. Persiapan ku tak sepadan dengan apa yang  ditempuh anak-anak. Aku ‘cuma’ biasa-biasa saja belajar, bahkan lupa tak  belajar sama sekali. Ujian kehidupan beragam bentuknya. Ada ujian  kemiskinan, kesakitan, kehilangan, atau di caci-maki, di fitnah, di  tipu, di permalukan. Bisa juga ujian kekayaan, kesehatan, kekuatan, di  beri pangkat dan jabatan, di beri peluang dan kesempatan. Alhamdulillah  …  Allah Yang Maha Pemberi Karunia, melimpahkan petunjuk-Nya agar  aku berlaku sama dengan anak-anak. Belajar … belajar … belajar terus  menerus agar mampu menempuh segala macam ujian dan lulus dengan nilai  terbaik.

Insya Allah … apapun ujian yang harus kita tempuh akan kita hadapi dengan predikat S3 :
sabar … sabar … sabar …
syukur … syukur … syukur …
semangat … semangat … semangat …
Sebagaimana Allah SWT berfirman : “(Mereka berdoa), ‘Ya Tuhan  kami, janganlah Engkau condongkan hati kami kepada kesesatan setelah  Engkau berikan petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami  rahmat dari sisi-Mu, sesungguhnya Engkau Maha Pemberi”. (QS. Ali ‘Imran 3 : 8).
Allah SWT pun mengingatkan :  ”Dan Dialah yang menjadikan kamu  penguasa-penguasa di bumi dan Dia meninggikan sebagian kamu atas  sebagian (yang lain) beberapa derajat, untuk mengujimu tentang apa yang  diberikan-Nya kepadamu. Sesungguhnya Tuhanmu amat cepat siksa-Nya, dan  sesungguhnya Dia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al An’aam 6 : 165)
(Tulisan ini sebagai kado untuk diriku sendiri : Dewi Laily  Purnamasari yang sedang memupuk cita-cita menempuh pendidikan S3 dan  mendapatkan beasiswa BPPS tahun 2012 … Semoga Allah SWT mengabulkan  cita-citaku ini, amin …)

0 komentar:

Post a Comment