Breaking News

16 May, 2012

KEINGINAN DARA


by Sri Rahayu
Aku terdiam dalam kebisuan.  Anganku melayang pada peristiwa 20  tahun yang lalu.  Hangat kurasakan belai lembut tangannya yang kokoh,  yang mendekapku penuh kerinduan.  Tapi semua kini sudah berbeda, aku  bukan lagi miliknya.  Aku telah melepasnya karena keegoisanku sendiri.   Sanggupkah aku menerima undangannya?
Ohh…….hati ini rasanya sesak sekali.  Perasaan ini tak dapat kupungkiri,  aku…masih…amat…mencintainya.  Mampukah aku menahan gejolak dada yang  membuncah?  Mungkinkah aku dapat menahan aliran air mata kerinduanku?   Tuhan ….tolong aku! selamatkan aku dari kehancuran yang dalam.
 Hari itu aku datang untuk memperbaiki hubungan kami, yang telah retak  lima tahun yang lalu.  Kerinduan anakku pada sosok ayahnya telah  menghancurkan tembok keegoisanku.  Perasaan seorang ibu yang tak ingin  melihat airmata menetes di pipi anak gadisnya yang mulai ranum, telah  memporak porandakan batu kecongkakan yang ada.  Aku terduduk jatuh,  meratapi semua ini.  Kulihat…dia telah bersanding dengan seorang wanita  yang anggun, wanita yang halus tutur katanya dengan pandangan teduh yang  menyejukkan.
Tuhan…manalah mungkin aku bisa bersaing dengannya.  Sosok wanita yang  jauh lebih sempurna dariku, wanita yang mampu memberinya kebahagiaan  lahir dan batin?  Sementara, siapa aku??  Wanita yang telah durhaka  kepada suaminya, yang menjual kebahagiaan demi sebuah karir dan  jabatan.  Tidak!  Aku tak lagi pantas untuknya.



Perlahan …kubalikkan langkahku pulang.  Biarlah kucoba tuk memberi  pengertian kepada anakku.  Namun, sebuah suara menghentikan langkahku, ”  Putri! Kemarilah!”  Kukenali benar suara itu.  Suara Anggoro mantan  suamiku.  Aku berhenti, kuhapus sejenak air mata di pipiku sebelum aku  berbalik.
” Mas!  Maaf, tadinya aku mau kerumah, Dara sangat merindukanmu.  Tapi sepertinya mas lagi sibuk” jawabku datar.
” Masuklah, kita berbincang di dalam!” ajaknya ramah.  Sekuat hati  kutekan perasaan ini, kulangkahkan kakiku masuk ke dalam rumah yang  pernah kutinggali bersama mas Anggoro.  Semua tak ada yang berubah.   Masih seperti saat aku bersamanya.  Rupanya mas Anggoro memperhatikanku  sejak tadi, seolah tahu apa yang ada di pikiranku.
” Semua masih sama, tak ada yang kurubah, begitupun dengan kamar Dara.   Kalau kalian mau, kalian bisa tinggal disini, aku akan mencari tempat  tinggal yang lain ” tutur mas Anggoro.  Aku pun duduk di salah satu  kursi, mencoba untuk menyusun kalimat.  Kuutarakan semua permintaan Dara  padanya.  Tak lupa kusampaikan juga permohonan maaf dan penyesalanku  atas perbuatanku di masa lalu.
Perlahan mas Anggoro mendekatiku, diraihnya tanganku dalam  genggamannya.  Darahku mendesir hangat, jantungku berdetak teramat  kencang, rasanya ingin kerebahkan kepala ini di atas dadanya yang  bidang, seperti saat ku masih bersamanya.
” Putri…aku sudah memaafkanmu sejak dulu, Dara pun sudah menyampaikan  keinginannya langsung padaku.  Sekarang jawab pertanyaanku, bagaimana  perasaanmu? ” tanya mas Anggoro.  Aku pun diam tak mampu berkata-kata.   Apakah masih penting perasaanku, sementara dia sudah memiliki  penggantiku?
Seorang wanita keluar dari dalam.  Senyumnya mengembang, dengan mesra  dikecupnya kening mas Anggoro.  Dia pun mengambil tempat di sebelah mas  Anggoro.  Kerongkonganku tercekat menyaksikan ini, lekas kutarik  tanganku dari genggamannya.  Bagaimana bisa wanita ini tidak marah  melihat suaminya memegang tangan wanita lain.  Aku mulai merasa salah  tingkah dan serba salah.  Ingin rasanya aku menghambur keluar.  Antara  takut, malu dan cemburu.
Tiba-tiba wanita itu angkat bicara, ” Dik Putri, kembalilah demi Dara.   Aku ikhlas kau menjadi maduku .”  Pembicaraan apa ini?  Bagaimana  mungkin seorang istri menyerahkan suaminya pada wanita lain.  Aku didera  keambiguan yang dalam