Breaking News

16 May, 2012

KATA HATI_SIRIH BELANDA_AGNES BEMOE


by Agnes Bemoe
Minta izin sekali lagi kepada Mbak Firmawaty Sutan, jam 11.00 ternyata saya ada kegiatan. Saya curi waktu di jam ini ya, untuk post-kan tulisan non-fiksi saya. Makasih^^

===================================================

SIRIH BELANDA (Versi Asli)

Dia mengamati daun-daun sirih belanda yang menjulur memenuhi taman kecil di belakang rumahnya. Dia sungguh tak menyangka tumbuhan itu akan bertahan hidup.
Beberapa waktu yang lalu, tumbuhan itu tertimbun bahan bangunan. Ya, ia harus merenovasi rumahnya. Akibatnya, beberapa tanaman kesayangannya harus dikorbankan, termasuk sirih belanda itu. Dia merasa sayang sebenarnya. Sirih belanda itu hadiah dari sobatnya sendiri.
Di suatu pagi yang cerah ia melihat keajaiban yang tak berani diharapkannya: sepucuk kecil sirih belanda muncul dari sisa-sisa bahan bangunan. Sirih belanda itu ternyata tidak mati! Berikutnya, pucuk-pucuk kecil yang lain bermunculan dari balik sisa bahan bangunan itu.

Dia menghela napas. Sangat dalam. Sirih belanda pemberian sahabatnya itu bertahan di bawah tekanan sisa bahan bangunan. Namun, persahabatannya tidak.

Dia teringat ketika masa suram itu datang menimpanya. Ia diberhentikan dengan semena-mena dengan tuduhan bermacam-macam: koruptor, pencuri, penghasut, dan lain sebagainya. Semuanya itu karena ia tidak mau ikut-ikutan bermain kotor di kantornya. Ganjarannya adalah pengucilan sampai dengan pemecatannya.
Saat itu adalah saat yang sangat gelap buatnya. Namun, yang lebih membuatnya terkejut adalah ketika menyadari bahwa orang-orang di sekelilingnya ternyata tidak seperti yang diduganya. Sahabatnya itu, ikut-ikutan juga melempar batu kepadanya ketika ia sedang jatuh terpuruk.
Kenyataan di depannya itu telak menampar kepercayaannya selama ini. Selama ini ia yakin, tidak mungkin hal-hal duniawi mengalahkan nilai-nilai persaudaraan dan persahabatan. Ternyata, ia keliru. Bila disuruh memilih, orang ternyata lebih suka pada pilihan pragmatis. Sahabatnya itu harus ikut-ikutan melempar batu, atau kehilangan jabatannya.



Sekarang, bila sedang sendirian di taman belakangnya itu, mau tak mau ia teringat kembali semuanya. Ia sudah kehilangan semuanya, termasuk sahabatnya.  Namun, rimbun sirih belanda di sana seolah membisikkan sesuatu yang lain. Sebenarnya ia telah mendapat ganti yang luar biasa. Ia mendapat pelajaran hidup dari tanaman hijau segar itu: hidup adalah melanjutkan perjuangan. (db)

Pekanbaru, 9 Pebruari 2012
 Agnes Bemoe

0 komentar:

Post a Comment