Breaking News

16 May, 2012

Jika Ibu-Ibu Doyan Nulis Mengikuti Acara Tabligh Akbar, Ini Ceritanya….


by Rima Farananda
Jeng Candra Nila Murtin D, aku sebenarnya kepengen bisa spt jenengan, menulis sesuatu yang berbau agama ba'da acara tabligh akbar, tetapi yang tercipta kog malah tulisan ini yo jeng?....he2

Jika Ibu-Ibu Doyan Nulis Mengikuti Acara Tabligh Akbar, Ini Ceritanya….
Oleh : Rima Farananda

       Hari Jumat yang lalu saya menghadiri acara tabligh akbar di salah satu masjid yang terletak di salah satu kompleks perumahan dekat  dari rumah dimana kami sekeluarga tinggal. (baca: mengontrak…). Tabligh akbar tersebut diisi dengan ceramah oleh salah satu ustadz yang kebetulan cukup terkenal dan sering mengisi acara siraman rohani di berbagai stasiun televisi di tanah air.

  Wah, rupanya nama beken seorang ustadz merupakan magnet penarik yang super ampuh untuk mengumpulkan massa (peserta tabligh) dalam jumlah besar. Saya mengatakan demikian karena sudah beberapa bulan terakhir ini saya selalu menyempatkan diri untuk mengikuti secara rutin acara pengajian, ceramah ataupun tabligh yang diadakan di masjid tersebut. Selama beberapa bulan saya menjadi jamaah semua acara pengajian di masjid itu, belum pernah terjadi pengumpulan jamaah sebanyak  pengunjung yang ada pada saat itu.



Peserta acara tabligh akbar benar-benar membludak. Bangunan masjid sampai tidak mampu menampung semua jamaah yang mayoritas (99,9 %) nya adalah kaum ibu. Padahal masjid di kompleks perumahan itu adalah salah satu dari beberapa masjid terbesar yang ada di daerah tempat tinggal kami.

Saya yang melihat akumulasi massa dalam jumlah sedemikian besar, mau tak mau merasa cukup takjub dengan daya tarik nama beken sang ustadz muda. Terus terang, walaupun saya cukup sering mengikuti acara siraman rohani di teve, tapi sebenarnya saya tidak “ngeh” jika ternyata ustadz penceramah pada acara tabligh akbar saat itu adalah “beliau” yang sering tampil di teve. Kebetulan saya hanya kenal wajah sang ustadz, dan tidak hafal dengan namanya, sehingga ketika mendapat undangan untuk menghadiri acara tabligh akbar tersebut, dimana hanya tertulis nama ustadz penceramahnya tanpa menampilkan foto wajahnya (wah…saya kog jadi mengada-ngada ya…memangnya undangan kawin pake melampirkan foto segala) saya benar-benar tidak tahu jika penceramah di acara tabligh akbar tersebut adalah ustadz yang sudah kondang namanya itu .

                Menjadi kejutan yang cukup menyenangkan bagi saya ketika menjumpai poster pengumuman acara tabligh akbar tersebut di halaman depan masjid yang ternyata melampirkan foto wajah ustadz penceramah yang wajahnya cukup familiar bagi saya (karena sering muncul di teve). Ini pun baru saya ketahui di hari “H” nya, sesampainya saya di masjid tersebut untuk mengikuti acara tablig akbar itu.

    Ooo….jadi yang menyebabkan semua kemeriahan di masjid ini ternyata nama beken ustadz pengisi acara tabligh akbar ini, dalam hati saya membathin. Ya, yang namanya tabligh akbar (besar) tentu saja pengisi acaranya pun haruslah seorang penceramah yang memiliki nama besar juga, bathin saya lagi.

      Acara tabligh dimulai dengan serangkaian acara pembuka rutin yaitu pembacaan kitab suci Al-Quran dan ceramah pendahuluan (atau ceramah pemanasan, diam-diam saya punya istilah sendiri untuk acara ceramah pembuka yang biasa diberikan sambil menunggu kedatangan ustadz yang akan memberikan materi ceramah utama) .

       Hingga tibalah acara puncak yang telah dinanti-nantikan  oleh semua orang (termasuk saya), yaitu ceramah yag akan disampaikan oleh ustadz  keturunan Arab yang sudah sangat dikenal namanya itu.

       Dengan serius saya mendengarkan setiap patah kata yang diucapkan oleh sang ustadz. Demikian juga seluruh jamaah tabligh akbar tersebut. Perhatian kami benar-benar tersedot hanya kepada sang ustadz beserta semua kata-kata yang diucapkannya. Cara berceramahnya beliau, dengan pemilihan kata yang pas, kutipan ayat Al-Quran dan hadist yang dikutip di saat yang tepat, jeda yang memang diperlukan di setiap penggalan bagian-bagian ceramahnya (seperti memulai paragraf baru dalam menulis), dan lelucon halus tapi tetap lucu dan mengena yang disisipkan di sana-sini materi ceramahnya memang membuat seluruh jamaah seperti tersihir. Kami semua ikut larut dalam alur cerita yang berisi materi ceramah beliau tersebut. Ceramah beliau dibagi dalam tiga bagian besar yang sambung menyambung satu dan lainnya dengan apik.

                Tidak terasa waktu satu setengah jam lebih telah habis, dan kami semua para jamaah seperti tersentak tidak percaya ketika ustadz tersebut menyudahi ceramahnya dengan gaya yang …mantap abiez (mengikuti cara berekspresi anak sekarang).

                Di perjalanan pulang ke rumah kemudian, saya masih merenungkan sebagian besar kalimat demi kalimat yang diucapkan ustadz “beken” tersebut.  Perlahan baru saya sadari (setelah terlepas dari jerat pesona kemampuan orasi dan berceramahnya yang luar biasa), sebenarnya isi atau materi ceramah yang disampaikan oleh beliau itu bukanlah sesuatu yang luar biasa. Sudah ada beberapa ustadz yang juga mengupas masalah yang sama seperti yang baru disampaikan oleh beliau. Tetapi cara penyampaian isi ceramah yang “luar biasa” apik, membuat apa-apa yang disampaikannya menjadi begitu mengena di hati, menyelusup jauh ke sanubari untuk menimbulkan pengaruh semangat beramal baik bagi para jamaah.

        Tiba-tiba berkelebat sebuah pemikiran di benak saya.

      Profesi penulis saya rasa kurang lebih juga begitu, maksud saya jika dibandingkan dengan gaya mempesona penyampaian ceramah sang ustadz .

Ide cerita yang sebenarnya biasa-biasa saja, bisa menjadi terasa “luar biasa” dan akan menghipnotis pembaca jika disampaikan dengan cara penulisan yang “luar biasa” juga.

Saya yakin buku dengan “ide biasa” yang ditulis secara “luar biasa” adalah merupakan gambaran “keluarbiasaan” penulisnya, yang pasti memiliki talenta hebat sehingga tanpa harus menceritakan sesuatu yang “wah, berbeda, nyeleneh?, dan seterusnya,  dapat menghasilkan karya-karya yang mempesona para pembacanya.

Jadi mungkin sedikit pelajaran yang saya dapat dari acara tabligh akbar itu (selain ajakan beramal baik) adalah, ceritakan secara mempesona sebuah ide yang sederhana, maka anda akan membuat orang lain (dalam hal ini pembaca) menjadi terpesona.

Ehmm…sebuah hipotesa anggota grup Ibu-Ibu Doyan Nulis yang tercipta setelah mengikuti acara tabligh akbar di masjid kompleks tetangga…..

Cibubur, April 2012.

0 komentar:

Post a Comment