Breaking News

16 May, 2012

Jangan Lagi Tuhan. Tidak di Acehku.


by Rainy Safitri Inge
Oleh-oleh gempa Aceh, 11 April 2012
*****

Sore  itu, cuaca panas. Aku berangkat ke sekolah Hilmy, anak sulungku,  untuk  mengurus administrasi persiapan pendaftaran ke SMA.  Nada ikut untuk  berangkat les seperti biasanya.  Nail sudah pasti tak pernah mau  ketinggalan.  Belum sampai lima menit mobil melaju, di pinggir jalan  orang-orang nampak ramai.

"Ada yang kecelakaan ya Bu?" tanya supirku.

"Kayaknya nggak ada, kenapa ya orang kok heboh begitu?" Aku balik bertanya.

Tiba-tiba, mobil terasa seperti digoyangkan ke kiri dan ke kanan.  Orang-orang berhamburan ke jalan. Masya Allah!  Gempa!

Seketika  supirku menghentikan mobil.  Beberapa saat kami terdiam dan  terombang-ambing di dalam mobil. Saat itulah aku teringat, adikku  sendirian di rumah.  Segera kuminta supir memutar arah, menjemput adik  di rumah.
Hilmy segera kutelpon, namun sulit tersambung.  Begitu juga suamiku.  Ya Allah, lindungi mereka, bisikku.



Sesampai  di rumah goyangan sudah tak terasa.  Segera kami nyalakan radio di  mobil, dan mendapat informasi bahwa gempa ini berpotensi tsunami.   Kucoba kembali menelpon suami, dan Hilmy, tapi tak juga tersambung.  Tak  berapa lama Hilmy datang diantar kawannya dengan sepeda motor. Segera  kuajak semua naik dalam mobil. Pikiranku hanya satu, menemui suami di  kantor.  Berkumpul di sana apapun yang terjadi.

Mobil  berjalan menuju kantor.  Rupanya suamiku pun khawatir dan menggunakan  mobil kantor hendak ke rumah. Untunglah kami berpapasan di muka mesjid,  kemudian memarkir kendaraan di sana.  Saat itu tepat waktunya shalat  Ashar.  Mesjid sudah penuh dengan warga yang cemas.  Shalat Ashar sore  itu padat oleh warga yang shalat berjamaah, padahal biasanya mesjid  Meuketop hanya penuh dengan anak-anak yang mengaji di sore hari.

Hari  itu sungguh berbeda. Seorang bapak dengan kepanikan yang menggantung di  matanya, sibuk menelpon.  Seorang Ibu tak kuasa menahan airmatanya,  bercerita tentang luka dikakinya akibat tsunami 2004 lalu.  Di jalan  seorang Ibu menuntun tiga orang anaknya menyeberang jalan.  Matanya  menyiratkan kecemasan luar biasa, tak dilihatnya lagi kendaraan yang  melintas.  Mungkin satu-satunya yang difikirkan hanyalah lari sejauh  mungkin. Entah kemana.

Kemacetan  mulai terjadi di jalan Teuku Umar.  Semua menuju ke arah yang sama,  Mata Ie, Lambaro, dan Blang Bintang.  Orangtua, saudara, dan para  sahabat ramai menanyakan keadaan kami., bahkan Ibu menangis, karena  khawatir.  Sungguh  suasana yang begitu mencekam.  Terselip keharuan di  sela kecemasan.  Betapa perhatian dan doa senantiasa menyertai kami di  saat-saat sulit itu.  Saat itu juga semua berdoa untuk Aceh. Bayangan  Tsunami 2004 menghantui pikiran semua orang di berbagai daerah, tidak  hanya warga Aceh.

Setelah  shalat, kami berkumpul di kantor.  Kami sempat berkeliling dengan  mobilkantor melihat situasi di kota.  Suasana begitu mencekam.  Mesjid  Baiturrahman menjadi pusat berkumpulnya warga masyarakat.  Selama  perjalanan itu, yang terbayang di pelupuk mataku adalah pemandangan  Tsunami 2004.   Tuhan, jangan biarkan itu terjadi lagi.  Di jembatan  Peunayong nampak orang-orang yang memandangi air sungai.  Mereka  menandai air.  Jika air sungai tiba-tiba surut, maka itulah saatnya  mencari tempat yang tinggi.  Pengalaman Tsunami 2004 lalu membuat  masyarakat lebih tahu keadaan, tahu apa yang harus dilakukan. Hanya saja  masih ada sebagian warga yang panik dan berlarian tak tentu arah,  sehingga menyebabkan kemacetan.

Kami  kembali ke kantor.  Menunggu kabar selanjutnya mengenai status Tsunami.  Tiba-tiba bumi kembali bergoncang.  Berbagai kalimat dzikir meluncur  begitu saja.  Kami berkumpul di halaman kantor.  Nail hanya bengong, dan  merasakan kecemasan kami.  Gempa ini sama besar dengan yang pertama  tadi.  Menyusul pengumuman kembali bahwa gempa tersebut berpotensi  Tsunami.  Kami memutuskan mencari tempat yang tinggi.  Tujuannya ke arah  Lambaro.

Semua  ada dalam satu mobil menuju Lambaro, tiba-tiba saja aku teringat kisah  seorang teman saat Tsunami 7 tahun silam.  Saat itu ia dan keluarganya  berada dalam satu mobil, dan hanya dialah satu-satunya orang yang  selamat dalam tragedi itu.  Ya Allah, semua terjadi atas kuasa-Mu. Namun  ijinkan aku meminta, jangan timpakan lagi kesedihan dan luka itu pada  tanah Aceh. Bagi mereka yang pernah mengalami bencana dahsyat itu, hari  ini pasti sangat mengerikan rasanya.  Semua luka yang sudah cukup lama  tersimpan terkorek ke luar.  Luka yang dalam yang hari ini berdarah  lagi. Mataku berkali-kali menghangat melihat mereka yang berkumpul di  lapangan, mesjid dan pinggir jalan dengan wajah cemas.

Ironisnya,  gempa ini terjadi selang dua hari dari kemenangan Partai Aceh dalam  pemilihan gubernur.  Bencana adalah bencana, namun bukankah Allah  memberikan suatu kejadian untuk dipetik hikmahnya.  Mungkinkah saat itu  Allah sedang mencoba mengingatkan kita tentang satu hal. Bahwa  perdamaian dan pembangunan yang terjadi di Aceh saat ini dibayar oleh  ribuan nyawa yang melayang 7 1/2 tahun silam.  Bahwa Tsunami 2004 tidak  hanya menyisakan luka mendalam, tapi juga kemajuan dan terbukanya Aceh  dalam pembangunan.  Mungkin Allah berusaha mengingatkan para pemimpin  kita, bahwa tak perlu lagi Tsunami yang lain untuk mendamaikan Aceh.   Mungkinkah Allah sedang mengingatkan kita, bahwa kemajuan dan  pembangunan ini tidak seharusnya membuat kita melupakan-Nya.  Sudah  seharusnya kemudahan yang diberikan Allah tidak membuat kita  meninggalkan perintah-Nya dan mendekati larangan-Nya.

Dampak  pembangunan yang terlihat dimana-mana, berpengaruh besar tidak hanya  pada pembangunan fisik, namun juga moral.  Saya teringat, selang dua  hari sebelum gempa ini, saya membaca notes seorang kawan mengenai razia  di pantai.  Pasti Allah sedang mengingatkan kita akan satu hal, atau  bahkan banyak hal.  Kita terlena, lupa dengan segala kenikmatan yang  Allah turunkan. Padahal, dengan kehendakNya, sekejap saja semua yang  kita miliki bisa musnah.

Selama  ini aku hanya menjadi saksi bencana di Aceh melalui televisi.  Sore  itu, aku berada di sana.  Menyaksikan kepanikan, kecemasan, dan turut  merasakan kegetiran masyarakat Aceh.  Berada di sana, membuat aku  merasakan dengan nyata kengerian yang dialami rakyat Aceh tujuh tahun  silam.  Ungkapan kekhawatiran dari berbagai daerah, bahkan dari negara  lain pun mengalir untuk Aceh.  Doa yang tulus untuk Aceh pun memenuhi  Arsy dan Allah mendengar doa kita semua.

Allah  mendengar doa setiap orang yang tak ingin luka itu tercipta lagi.   Cukuplah sudah untuk Aceh.  Cukuplah sudah rakyat Aceh menderita tak  berkesudahan. Ini adalah saatnya bangkit.  Jika pun Allah menyentil kita dengan  gempa kemarin.  Itu mungkin karena selama ini kita lalai.  Segala  perhitungan dan pengetahuan manusia kadang membuat kita melupakan satu  hal.  Kuasa Allah ada di atas segalanya.  Satu hal yang kurasakan saat  mengalami gempa sore itu. ternyata sisi hatiku tak rela bila Aceh yang  begini indah dihancurkan.  Namun, kehancuran itu tak hanya Allah yang  ciptakan.

Pertanyaannya  sekarang, apakah kita diam saja melihat kehancuran menggerogoti tanah  Aceh?  Kehancuran moral yang mulai terlihat di setiap bibir pantai.   Saat orang yang mengaku beriman mengingkari amanahnya, saat manusia  sudah merasa berhak atas nyawa manusia lainnya. Tidak. Kita tak bisa  diam saja.  Setiap kita wajib berperan menghentikan kehancuran itu.   Dengan cara yang paling sederhana sekalipun.  Jika demikian, bolehlah  kita dengan lantang meminta pada-Nya. Jangan lagi Tuhan.  Tidak di  Acehku ini.

Sore yang mendung
Banda Aceh, 13 April 2012

0 komentar:

Post a Comment