Breaking News

16 May, 2012

IT'S ABOUT IDE DAN INSPIRASI.


by Dheavannea Dhea
Mari bicara tentang ide dan inspirasi.

Bener kata salah seorang cerpenis senior bahwa  ide bisa datang dari mana aja. Cerpen terbaruku di HAI berjudul "ANGEL  EYES" edisi 9 April 2012 karena bete ngeliat hubby ku yang bolak balik  bengkel ngurusin pemasangan Lampu Angel Eyes untuk mazda 2 yang gak  beres-beres juga. Lampunya nyorot menyilang alias membentuk diagonal.  Bukan lurus. Sialnya, hal itu baru terlihat jelas ketika dibawa malam  hari.  Ada temen juga bilang, buatlah cerita sederhana dari ide yang sederhana, lalu poleslah jadi cerita yang menarik.  Selain itu pembicaraanku tentang 'mata' seseorang yang suka memendam kesedihan dengan teman yang lainnya juga turut menginspirasi. Kenapa tidak menggabungkan kedua pengertian konotatif dan denotatif dalam satu cerita?  Selain itu, aku juga tertantang seorang teman yang bilang tokoh dalam cerpenku yang pernah aku share tentang kisah remaja cowok kurang terasa 'cowok banget'.  Apalagi saat itu ada temanku  baru dimuat cerpen di HAI. Aku jadi pengen bikin  cerpen yang POVnya cowok banget. Lahirlah cerpen ini. Ayolah kita  tangkap ide sederhana di sekitar kita dan buatlah jadi cerita yang  memikat.  Cuplikan:



Buset ini bengkel apa kuburan sih? Sepi amat. Batin Rhino memandangi beberapa mobil yang berada di sana. Matanya tertumbuk pada sepasang kaki yang terjulur muncul dari balik sebuah mobil semi sport berwarna putih metalik. Pasti ini si Idrus yang kemaren masang lampu gue nggak beres nih.
            “Permisi, sampurasuuun, kulonuwun!!” Rhino setengah berteriak diantara deru las yang bising. Tetap tak ada jawaban. Dengan sebal, Rhino menendang kaki di balik mobil putih itu.
            “Woi, Bang Idrus!! Emang Lo jaga bengkel ini sendirian ya? Pada ke mana semua orang sampe gue dicuekin begini. Gue mo complain, nih. KOMPLAIN!!”
            Sang pemilik kaki mulai terusik. Menggeser badannya keluar dari kolong mobil. Badannya terbungkus overall berwarna orange yang membuat pandangan Rhino makin silau. Matanya tertutup safety glasses dan kepalanya memakai topi baseball. Perlahan dia membuka topinya. Rhino mulai tercengang. Rambut panjang si montir tergerai lepas melampaui bahunya. Semerbak wangi chamomile berpadu dengan bau oli. Pipi putih kemerahan tercoreng oli sehingga terlihat seperti Suku Asmat.
            “Ya, Mas? Ada perlu apa ya? Ada yang bisa dibantu? Maaf saya tadi sedang asyik kerja.” Perlahan suara lembutnya terdengar lembut dan mendayu.
            Hati Rhino berdebar-debar. Mukanya memerah. Mengapa mendadak dia merasa gugup? Rhino menganga seperti kambing amnesia. Perlahan, montir bengkel membuka safety glasses yang menyembunyikan matanya. Rhino tercekat. Waktu seolah berhenti berputar. Debar jantung Rhino makin gila. Mata montir itu bening, sedikit berair, sendu tapi memancar tegas. Matanya seolah memantulkan cahaya matahari. Suara montir, tepatnya wanita itu, melelehkan hatinya.
            “Mas? Hei?” Cewek itu melambaikan tangannya.
            “Oh God Those eyes.” Rhino berkata putus asa.
            “Maaf?”
            “Oh ya ma ma maksudnya eyes. Iya Eyes.” Rhino tergagap.
            “Angel eyes. Aku mau komplain angel eyes mobilku. Engg…cahayanya miring membentuk diagonal.” Susah payah Rhino menyelesaikan kalimatnya.
            “Ok. Tinggalin aja mobilnya di sini dulu, Mas…..siapa namanya? Mas Idrus dan yang lain lagi makan siang.”
            “Rhino. Namamu siapa?”
            “Nirmala. Tapi panggil aja Mala.”
            “Oke deh saya titip mobil ini dulu ya bilang aja Rhino. Saya buru-buru soalnya. Tuh temen saya nungguin.” Rhino menunjuk Clara yang sedang menunggunya di mobilnya.
            “Oke deh. Salam ya ama pacar Mas. Cantik.” Mala tersenyum.
            Rhino tersenyum kecut. Iya. Clara emang pacarnya. Tepatnya seminggu yang lalu saat Clara menerima pernyataan cintanya. Rhino perlahan menjauh meninggalkan bengkel itu. Tapi mengapa seolah hatinya tertinggal di sana? Those angel eyes really stole my heart. Hati Rhino sakit rasanya.
 Mau tau kelanjutannya? Beli aja HAI terbaru tanggal 9 April 2012.  Cerpen pertamaku di media. Better late than never. Setelah 6 bulan mulai  kirim ke media, akhirnya cerpenku tembus juga. Yang di HAI ini kukirim  tanggal 4 Maret 2012. Makasih HAI :) Nggak sia-sia baca HAI dari SD n  ngembat punya 2 kakak cowokku :) Jadi kepada semua yang masih berjuang  seperti daku, Never never never GIVE UP.