Breaking News

16 May, 2012

Ibu dan Mimpi-Mimpinya


by Lygia Pecanduhujan
Pukul 11 malam. Tanpa sengaja memindahkan channel TV ke TV Kabel dan mulai
memilih-milih film yang mungkin bagus diantara 12 channel khusus film. Pilah pilih
pilah pilih. Tibalah di channel HBO Family. Film baru dimulai. Film jadul,
kukira produksi tahun 80-an. Tanpa tahu apa judulnya, aku paksakan diri untuk
menonton, bukan karena tayangan lain tidak ada yang menarik. Ternyata film
berdurasi 2 jam tanpa iklan tersebut mampu menyihirku untuk tetap menatap ke layar kaca tanpa menyentuh remote control.




Dan inilah kisahnya.


Seorang pria berusia 40 tahunan yang baru saja mengalami kegagalan dalam pernikahan
keduanya di kota lain, memutuskan untuk pindah kembali ke rumah ibunya yang
memang sudah tinggal sendiri di sebuah kota kecil. John, demikian nama si anak
sulung tersebut, kembali pulang dengan membawa kegagalan. Pernikahannya hancur,
kariernya sebagai penulis novel fiksi ilmiah tidak mengalami kemajuan yang
berarti. Novel-novelnya yang sudah terbit masih bisa dihitung dengan jari dan itupun tidak best seller.


Awalnya sang ibu –Beatrice, 65 tahun- menerima John kembali meski dengan sejuta
pertanyaan di kepala. John pulang, membongkar gudang dan mendekorasi kamarnya
persis seperti sedia kala saat ia masih SMA. Dengan seluruh barang masa lalu yang selama ini tersimpan berdebu.


Di luar negeri, seorang anak usia dewasa yang kembali tinggal bersama orangtua
merupakan hal yang janggal dan dianggap sebagai beban. Itulah yang dirasakan Beatrice.
Ia malu kepada seluruh tetangga dan penduduk di kota mereka karena John yang
seharusnya sudah mandiri dan punya kehidupan sendiri memilih pulang dan menumpang di rumahnya.



Hal tersebut membuat Beatrice sibuk memberitahukan kepada setiap kenalan yang ia
temui di kota, di pusat berbelanjaan dan dimanapun, bahwa John tinggal
bersamanya karena anak sulungnya itu bercerai, gagal dalam hidupnya, dan
tinggal di sana tidak untuk waktu lama. John sangat malu karena sang ibu yang
gembar gembor kesana kemari menceritakan kegagalannya.



Ternyata, hubungan antara ibu dan anak sulungnya ini memang tidak harmonis sejak lama. John
adalah anak sulung dari dua bersaudara. Adiknya, Jeff, yang tinggal di kota
lain adalah seorang pengusaha sukses dengan istri yang cantik dan anak-anak
yang hebat. Sejak kecil, John selalu merasa bahwa sang ibu selalu membedakan
antara ia dan adiknya. Jeff selalu mendapat perhatian yang utama, Jeff selalu
menjadi anak kesayangan ibu, dan John hanyalah pemeran figuran dalam kehidupan mereka.



Karena itulah, ditambah dengan dua kali kegagalan dalam rumah tangga, John memutuskan
untuk pulang kembali ke rumah saat resmi bercerai. Ia ingin lebih dekat dengan
ibu, dan mencari tahu tentang rahasia yang selama ini selalu membuatnya  penasaran dan bertanya-tanya : “Mengapa Ibu selama ini seolah membenciku ?”


Sekian lama John menumpang di rumah ibunya, selama itu pula mereka selalu terlibat
perdebatan yang tak habis. Meski satu sama lain berusaha tetap menjaga sikap
dan mencoba untuk tidak saling berteriak. Tapi suasana kaku begitu terasa. Perdebatan
dalam hal kecil dan sederhana, seperti misalnya ketika berbelanja, John merasa
ibu seharusnya membeli selai kualitas nomer satu sementara Beatrice menentang
karena merasa cukup puas dengan selai murahan meski kualitas nomer sekian. Mereka  selalu sibuk berdebat setiap saat.


Sementara itu, hubungan Beatrice dan Jeff anak keduanya justru sangat harmonis. Setiap hari
mereka saling berkirim kabar lewat telepon. Jeff seolah tak bisa hidup tanpa
ibu dan itu membuat John  marah. Ia ingin melewatkan banyak waktu juga bersama sang ibu yang selama ini sangat jarang ia rasakan.


Sampai sejauh itu, pekerjaan John mandek. Naskah yang ia tulis tak selesai-selesai dan
sang ibu tak pernah bosan menyindir tentang hal tersebut. Beatrice mengusulkan
John untuk mencoba menulis genre yang berbeda, tidak hanya fiksi ilmiah, tapi John menolak keras.


Di suatu akhir minggu, Beatrice yang seharusnya punya jadwal untuk mengunjungi Jeff dan
keluarga, memutuskan untuk membatalkan kunjungan tersebut karena ingin menemani
John. Tak disangka, hal tersebut membuat Jeff murka dan uring-uringan di rumah.
Hingga terbukalah fakta bahwa selama ini istri dan anak-anaknya merasa bahwa
Jeff yang tak pernah bisa hidup sehari pun tanpa mendengar kabar ibu kali itu sudah sangat keterlaluan.



“Bedakan antara akrab dengan ibu, dan tak bisa hidup tanpa ibu”, demikian seru Cherryl, istri Jeff saat mereka bertengkar.


Satu fakta baru terkuak, ternyata saat ini, Beatrice sedang menjalin hubungan dengan seseorang yang tinggal di luar kota. Setiap akhir pekan dikala Beatrice tidak sedang mengunjungi Jeff, kekasihnya tersebut selalu datang ke rumah dan mereka pergi kencan. Tak terkecuali saat itu. Berhubung sang ibu merasa risih jika mereka berkencan sementara anak laki-lakinya yang berusia 40 tahun ada di dekat  mereka, akhirnya ia memutuskan mengajak kekasihnya makan malam di luar.

Saat sang ibu dan Charles kekasihnya kencan, tanpa sengaja John menemukan sebuah
kotak di gudang yang berlabel “Essay and Stories”. Dengan penasaran, ia
mengambil kotak tersebut, membawanya ke kamar dan mulai membuka isinya.


Olala, ternyata kotak tersebut berisi tumpukan file yang diketik rapi dengan mesin tik
manual. Di sampulnya tertulis judul-judul dan penulisnya yang tak lain dan tak
bukan adalah Beatrice. Ada begitu banyak cerita-cerita anak. Beberapa cerita
remaja dan dewasa, beberapa essay, dan John begitu terpesona membaca semua
cerita tersebut yang menurutnya sangat bagus.


John heran, karena ia sama sekali tak menyangka bahwa ibunya ternyata bisa menulis
sebagus itu. Bahkan lebih bagus dari dirinya.


Ketika sang ibu pulang dan menemukan John yang asyik membacanya, sang ibu marah luar
biasa. Ia menuduh John sudah lancang membuka-buka barang privasinya. Ia sangat tidak suka. Akhirnya mereka berdebat sepanjang malam.


John berkata jujur kepada Beatrice, “Aku tidak menyangka kau bisa menulis”.

  “Aku memang bisa menulis. Apa urusanmu ?"

“Sejak kapan ibu bisa menulis ? dan kapan semua cerita itu ibu tulis ?”


Beatrice tertawa sinis.



"Itulah
anak-anak. Mereka selalu berpikir bahwa orangtua baru hidup ketika melahirkanmereka. Padahal kami, hidup jauh lebih lama dari itu, Sayang”.




“Lantas
kenapa ibu berhenti menulis ?”


“Karena ayahmu tidak suka. Karena menurutnya itu bukan hal baik, karena ibu sudah
melahirkanmu, ibu harus fokus sebagai ibu rumah tangga dan jangan menyia-nyiakan waktu untuk melakukan hal-hal bodoh”.


John terlonjak.


“Aha ! sekarang aku tahu ! Selama ini ibu membenciku karena begitu aku lahir, ibu
terpaksa harus berhenti melakukan sesuatu yang sangat ibu cintai, yaitu
menulis. Itu yang membuat ibu merasa bahwa akulah penyebab ibu gagal menjadi
seorang penulis. Seumur hidup ketika ibu membesarkanku, ibu selalu ingat kegagalan itu. Dan itu membuat ibu membenciku !”



Beatrice terdiam menatap John. “Selama ini belum pernah ada yang mengatakan seperti itu, tapi ... Ya, itulah yang ibu rasakan”.

Kali ini John melompat-lompat bahagia. Ia merasa telah menemukan satu rahasia besar yang seumur hidup dicarinya, tentang alasan kenapa Ibu begitu membencinya.

“Akhirnya ! aku tau kenapa ibu membenciku ! Aku tahu kenapa ibu membenciku !”



************************


Keesokan harinya, John mengemasi seluruh pakaiannya. Ia berpamitan kepada sang Ibu untuk pulang kembali ke Los Angeles.


“Aku pergi, Bu”.


“Mau kemana kamu ?”


“Aku akan kembali ke tempatku. Sekarang aku sudah tahu jawaban yang selama ini aku
cari. Mulai sekarang, kita tidak akan pernah lagi bercakap-cakap sebagai ibu
dan anak. Kita akan berbincang kelak sebagai dua orang dewasa. Dua orang
penulis, yang satu penulis yang buntu dan gelisah, dan satu lagi penulis yang gagal”.

“Well”, Beatrice memandang John penuh tanya, “Dan aku masuk kategori yang mana ?”

John hanya tertawa sambil menepuk pipi sang ibu mesra.

“Buntu dan gelisah”.


John masuk ke mobil, meluncur pergi. Beatrice melambaikan tangan dengan gembira.


Di tengah jalan saat sedang mengisi bensin, tiba-tiba ada seorang wanita cantik yang
menyapa John penuh semangat. Ternyata wanita tak dikenal itu mengenali wajah
John dari foto-fotonya di buku. John merasa kaget, karena si wanita ternyata
adalah salah satu pembaca setia semua buku-buku yang ditulisnya. Akhirnya mereka
merencanakan untuk pergi makan siang bersama dan berbincang. Hmmm, sepertinya John mulai menemukan awal yang baru.

Dan Beatrice ? sepeninggal John yang ternyata sengaja tak membawa serta komputernya
kembali ke LA, Beatrice mulai kembali menulis. Cerita pertama yang ditulisnya
adalah novel yang berkisah tentang kembalinya si anak hilang, yang memutuskan
pulang kepada Ibu ketika gagal, dan alih-alih marah karena menanggung malu,
sang ibu memilih untuk menerima anaknya pulang dengan tangan terbuka dan ternyata akhirnya membahagiakan.


Ya, Beatrice kembali menulis.

TAMAT.


Oh ya, film ini berjudul MOTHER.


Maaf, kalau aku tidak terlalu bagus menuliskan kembali isi cerita film itu, karena
aku langsung gatal untuk mengetik ringkasan cerita ini sebelum aku lupa alurnya (maklum, emak keder).


Satu pelajaran moral yang bisa aku tarik dari film ini (salah satu dari sekian banyak hikmah) adalah :


Jangan pernah biarkan orang lain, siapapun itu, mematikan mimpi-mimpimu. Kita gagal,
karena kita sendiri yang berhenti mencoba. Karenanya jangan mengkambinghitamkan keadaan atau orang lain.


Sebagai seorang ibu yang sangat suka menulis, film ini menohokku. Berapa banyak dari
kita yang mengeluh bahwa kita sangat suka menulis, dan ingin menjadi penulis
namun semua itu terpaksa dikubur dalam-dalam karena sebagai ibu kita terpaksa harus disibukkan dengan urusan-urusan domestik ?


Kelelahan mengurus anak, mengurus suami dan keluarga, mengerjakan pekerjaan sebagai ibu
yang tak ada habisnya, membuat kita merasa menemukan alasan yang tepat untuk mengubur mimpi-mimpi kita sebagai penulis.


Tapi kelak, ketika di suatu masa, mimpi-mimpi itu datang lagi, atau ketika kita
melihat teman-teman kita yang lain telah berhasil meraih mimpinya, siapa yang harus kita salahkan ?


Saat mematikan televisi, menepuk-nepuk bantal dan mencoba untuk tidur, aku bergumam sambil tertawa geli.


“Sayang banget, saat itu belum ada IIDN. Kalau ada, pasti Beatrice sudah gabung di IIDN dan produktif menulis seperti ibu-ibu hebat lainnya di IIDN”.




Good Night, all my friends ... keep dreaming !

0 komentar:

Post a Comment