Breaking News

16 May, 2012

HEALING BULLIED


by Rhaudhah Kaala
  Fresh from the oven.
Roti kepang isi coklat kacang manis buatan mama.
Hangat. Manis. Gurih. Enaaaakkk….

Roti ini sama dengan rambutku. Kepang tiga. Betul-betul kepang tiga. Satu kepang dikanan kepala. Satu kepang di kiri kepala. Satu lagi dibelakang kepala.

Mama suka marah kalo aku minta dikepang tiga. Malu katanya. Nanti diketawain orang.

“Ngga ada orang yang dikepang tiga begini.”
“Ngga pa pa ma. Aku suka.”
“Dikepang dua aja.”
“Ngga mau. Mau kepang tiga.”
“Orang-orang dikepang dua.”
“Aku ngga mau sama kaya’ mereka.”
“Nanti jasmine diketawain. Mama kan malu.”
“Ma, yang dikepang kan aku.”
“Jasmine ngga malu?”
“Ngga.”
“Ngga ada orang yang kepang tiga.”
“Mau kepang tiga.”
“Kalo ditanya kenapa mau kepang tiga, jawabnya apa?”
“Biar sama kaya’ roti ini. Kepang tiga.”




Mama menyerah. Mungkin mama ngga tau, ada lho, orang-orang yang kepangannya lebih banyak dari aku. Tapi waktu itu, aku juga belum tau…

Sekarang aku duduk diteras sambil makan roti. Sesosok kepala melongok kearah teras dari rumah sebelah.

Neneknya Annete.

“Jasmine, main sini yuk?”
Aku melompati tembok pembatas setelah sebelumnya bilang ke mama kalo neneknya Annete ngajak kesebelah. Ada sepeda kecil roda tiga warna pink di teras. Annete menarikku untuk mencoba sepedanya. Aku bilang tidak mau. Aku mau duduk dikursi saja.
“Kenapa tidak mau?” Annete seperti neneknya. Kata-katanya lebih sering dengan kata-kata baku.
“Ngga mau. Warnanya merah jambu.”
“Kalau tidak merah jambu, mau?”
“Kalau warna biru, mau.”
“Tapi, mencoba kan tidak apa-apa?” nenek duduk di kursi dengan liukan besi dibagian punggung.
“Ngga mau.”
Nenek hanya tertawa lalu mengajakku duduk di kursi didekatnya. Annete ikut duduk disebelahku. Nenek Annete menyodorkan piring kecil padaku. Isinya berbagai macam kue kering yang pernah aku lihat di toples-toples besar diruang keluarga nenek Annete.

Kue buatan nenek wangi. Lembut. Gurih. Enaaaakk…. Namanya… kue keju. Kaastengel, kata nenek.  Ngga Cuma itu. Ada yang coklat, ada yang rasa jahe dan berbentuk seperti boneka, ada yang bertabur buah kering…

Tapi lebih enak roti coklat kacang manis buatan mama.

Annete ngga makan kue. Dia sedang disuapi nasi. Sesekali neneknya nyanyi dalam bahasa Belanda. Lagu tentang bunga anggrek. Annete ngga mau makan kalau sendirian. Itu neneknya Annete yang bilang.
“Kenapa?”
“Annete mau ada teman. Kalau ada teman, Annete mau makan.”
“Kenapa harus ada teman?”
“Hmm… kesepian ya.”
“Kan ada nenek?”
“Annete mau bisa bermain bersama.”
“Main sama nenek?”
“Annete suka ajak nenek main sepeda, tapi kan nenek tidak bisa.”
“Nenek tidak bisa naik sepeda?”
“Hahaha… bukan tidak bisa, tapi tidak muat.”
“Tidak muat?”
Nenek masih tertawa. “Badan nenek kan besar…”
“Nenek ngga usah naik disitu.” Aku menunjuk tempat duduk disepeda. “Dorong dari belakang aja.”
“Oh, iya ya…”

Nenek Annete tanya, kenapa rambutku dikepang tiga.
Aku bilang, supaya sama dengan roti kepang yang aku makan tadi.
“Ngga takut diketawain?”
“Ngga.”
Nenek memandangiku. “Jasmine cita-citanya apa?”
“Cita-cita itu apa?”
“Besar nanti mau jadi apa?”
“Dokter.”
“Kenapa? Karna bisa mengobati orang?”
“Ngga. Karna bisa nulis.”
Sebentar nenek terdiam. “Jasmine mau jadi penulis?”
“Mau jadi dokter.”
“Dokter pekerjaannya mengobati orang.”
“Jasmine mau nulis.”
“Itu namanya penulis.”
“Namanya dokter, nek.”
Nenek tertawa. Suaranya melembut. “Jasmine, Jasmine pernah lihat, dokter bisa menulis resep?”
“Resep?”
“Obat?”
“Iya.”
“jasmine mau menulis resep obat?”
“Ngga. Jasmine ngga suka obat.”
“Kenapa?”
“Paiiiiittt…” mukaku mengerut mengungat pahit rasa puyer yang pernah diresepkan dokter.
Nenek mengangguk-angguk. “Jasmine mau menulis apa?”
“Mau nulis cerita.”
“Cerita apa?”
“Seperti di Bobo.”
“Oooh… begitu ya?” nenek Annete bergeser. “Sini, duduk disamping nenek.” Aku pindah tempat duduk. Nenek meletakkan mangkuk nasi Annete di meja. “Jasmine, kalau Jasmine mau menulis cerita seperti di Bobo, itu namanya penulis.”
“Bukan dokter?”
“Bukan. Dokter bekerja untuk mengobati orang lain, menulis resep.” Nenek tersenyum. “Kenapa Jasmine mau jadi penulis?”
“Karna bisa  nulis.”
“Lalu?”
“Karna bisa nulis.”
“Selain bisa nulis?”
“Bisa di baca di Bobo.”
Nenek terkekeh. “Cita-cita yang bagus ya.” Nenek sering diam sebentar seperti berfikir.”Jasmine mau buat buku?”
“Buku? Untuk apa?”
“Buku, novel. Atau, biografi… Kalau di Belanda, penulis bisa menulis buku, dibayar dan jadi pekerjaan.”
“Dibayar pakai apa?”
“Pakai uang. Kalo disini, dibayar pakai uang Rupiah.”
“Uangnya untuk apa?”
“Bisa untuk ditabung. Kalau Jasmine mau beli mainan, juga bisa.”
“Jasmine ngga mau mainan.”
“Maunya beli apa?”
“Kalo ke Jepang, pakai uang?”
“Iya. Beli tiket pesawat dulu.”
“Belinya dimana?”
“Di agen tiket ya. Jasmine mau ke Jepang?”
“Iya.”
“Mau apa?”
“Mau jadi ninja. Ninja yang putih. Yang baik.”
“Ninja?” kening nenek berkerut. “Kenapa?”
“Supaya bisa bantu Power Ranger.”
“Oh…” nenek tersenyum. sama sekali tidak mentertawakan. “Mau menolong orang lain ya?” nenek mengangguk-angguk. “Itu bagus ya. Jadi penulis dan jadi ninja?”
“Jadi Ninja sama penulis.”
“Hmm… bagus ya. Penulis bisa bekerja dirumah ya…”
“Ngga ke kantor nek?”
“Tidak. Bekerja sebagai penulis tidak harus di kantor.”
“Kantornya dimana?”
“Bisa dimana-mana. Bisa dirumah. Bisa di café. ”
“Café itu apa?”
“Café itu tempat orang datang, makan, minum, kadang-kadang mendengarkan music, ada band yang main. Di Indonesia mungkin ada, ya, tapi nenek tidak tahu dimana.”
“Band itu apa nek?”
“Itu, orang-orang yang main alat music bersama-sama, nanti ada yang menyanyi. Tapi, di Indonesia, jadi penulis tidak bisa diandalkan untuk menjadi pekerjaan ya. Mungkin nanti, suatu saat nanti… Suatu saat nanti, ketika penulis sudah jadi pekerjaan di Indonesia, nenek sudah tidak ada lagi ya.”
“Nenek mau pulang ke Belanda?”
“Hahaha… mungkin lebih jauh dari Belanda.”
“Kenapa?”
Nenek tidak menjawab. “Jasmine, kalau nanti Jasmine menulis buku, kasih nenek satu ya.”

Kujawab dengan anggukan. Seakan aku mengerti.

0 komentar:

Post a Comment