Breaking News

16 May, 2012

Healing Bullied: #8


by Rhaudhah Kaala
Siapa bilang, Ibu kepala sekolah hanya diam duduk diruangannya?

Pagi ini, aku dan Wina dipanggil ibu kepala sekolah.

Karena? Kemarin kami buat Tika nangis. Bukan kami, aku, tepatnya.

Bangku panjang didepan kantor kepala sekolah kami duduki. Wina ditanyai. Aku juga.
“Bu, Jasmine yang putar. Bukan Wina.” Wina boleh pergi masuk kelas. Kepala sekolah pandangi aku, senyum. “Kenapa Jasmine jujur bilang Jasmine yang putar? Bilang saja Wina yang putar.”
“Yang putar Jasmine, bu…”
“Yang putar, Jasmine?”
“Iya. Yang putar Jasmine.”
“Jasmine tidak bohong?”
“Ngga boleh bohong bu.”
“Yang bilang tidak boleh bohong, siapa?”
“Ayah. Mama juga.”
“Kenapa ngga boleh bohong?”
“Kata ayah, kalo Jasmine bohong, trus tuduh orang lain, yang dimarahi orang lain. Padahal dia ngga salah. Itu bohong. Ayah bilang, bohong itu ngga baik.”
“Oh, begitu…” beliau menggeser duduknya menghadapku. “Jasmine, bisa cerita, kemarin kenapa Tika nangis?”
Lalu aku cerita. Wanita setengah baya disampingku mendengarkan. Sesekali menggangguk. Paham maksud ceritaku. Matanya baik. Bibirnya senyum.



Setelah itu?
Beliau tidak marah.
Berteman dengan yang lain ya. Kalau Jasmine tidak suka ada yang jahat, bilang baik-baik. Kalau masih ada yang tidak baik, bilang Ibu, ya. Ibu bantu Jasmine beri tau mereka baik-baik.
Iya.

Kepala sekolah tidak marah.

Hari ini, saat istirahat, aku membuat benteng dari balok bersama Miko dan Hendi. Satu balok persegi melanting dekat pintu kantor kepala sekolah. Ketika hendak mengambil balok, tak sengaja, aku mendengar kepala sekolah bicara dengan bu guru di ruang kepala sekolah.

“Mereka masih anak-anak. Yang harus ibu pahami, tiap anak itu berbeda. Sifatnya berbeda-beda. Karakternya tidak sama. Kemampuan mereka memahami tidak sama. Latar belakangnya tidak sama. Kecerdasan mereka pun berbeda-beda. Lasak itu bukan nakal. Itu bentuk dari kecerdasan.

Kalau ibu memarahi anak seperti itu, jangan salahkan anak kalau dia nantinya jadi perusak. Sebaiknya di arahkan dengan baik. Pakai cara, kata, sikap yang baik dan positif. Jadi, anak bisa paham suatu hal baik atau tidak, tau alasannya juga.

Kita ini pendidik, bu. Harus sabar menghadapi berbagai karakter anak-anak. Kita punya tanggung jawab membimbing mereka, walau mereka bukan anak-anak kita. Jangan anggap ini bekerja. Anggap ini cara Tuhan menginginkan kita membimbing anak-anak yang masih belum paham banyak hal. Kalau dalam bimbingan ibu mereka jadi orang yang baik, Alhamdulillah. Kalau ibu tidak sabar, ibu membimbing mereka hanya karena ini pekerjaan, ketika mereka memdapat pemahaman sang salah, itu tanggung jawab kita, bu. Dunia akhirat.”

Bu guru duduk, menundukkan kepalanya didepan kepala sekolah. Kepala sekolah tidak marah. Beliau bicaranya baik-baik. Bu guru dipeluk.

“Tidak apa-apa, bu. ini pelajaran yang baik. Guru yang baik, mau belajar dari kesalahan. Cepat memperbaiki diri, betul?” bu guru mengangguk.

Kasihan bu guru. Nangis.
Aku mengambil balok, lalu kembali menbuat benteng dengan Miko dan hendi.

“Bu Lia, tidak ada anak yang nakal. Kita, orang dewasa yang mencap mereka nakal. Anak yang selalu ingin tau, selalu aktif, selalu banyak bertanya, selalu ingin mencoba, selalu melakukan eksperimen, selalu melakukan hal-hal yang menurut orang lain aneh, itu bentuk dari kreativitas anak.

Pahami anak-anak, bu. Mereka bertindak secara spontan. Sedangkan kita, orang dewasa, bertindak dengan banyak pertimbangan. Kita berfikir tidak sesederhana mereka.
Bu Lia, ibu memang masih muda. Emosi ibu masih meluap-luap. Sejak pertama kali ibu bilang ingin mengajar, saya pertimbangkan baik-baik. Terkait emosi ibu dalam menangani anak-anak. Tapi, saya pikir, mungkin, dengan member ibu kesempatan mengajar, ibu juga bisa belajar mengendalikan emosi ibu.

Tenangkan hati ibu. Kita yang tidak sabaran ini, dulu pernah menjadi anak-anak dan membuat orang lain hilang kesabaran.”

Kepala sekolah berjalan menuju jendela dan menyingkap tirai kremnya. Memandangi anak-anak yang sedang bermain, termasuk Jasmine yang sedang makan setengah roti isi moka dari hendi.
Memandangi anak-anak, seperti yang selalu dilakukannya setiap istirahat.