Breaking News

16 May, 2012

Healing Bullied: #7


by Rhaudhah Kaala
Sudah berapa minggu ya, aku terus bilang sama mama, kalo aku ngga mau ke sekolah lagi.
“Kenapa ngga mau ke sekolah lagi?”
“Bu guru ngga baik.”
“Ngga baiknya kenapa?”
“Bu guru pilih-pilih.”
“Pilih-pilih?”

Aku tidak menjawab lagi.

Aku ngga suka sama bu guru. Bu guru kalo lagi bicara sama aku ngga pernah lihat aku. Bu guru melihat kearah lain. Kalo aku lagi cerita, bu guru suka motong, trus ngomong sama Tika. Ajak Tika main. Waktu bu guru tanya, siapa yang tau warna kapur yang bu guru pegang, aku langsung tunjuk tangan pertama kali. Tika ngga tunjuk tangan, tapi bu guru tunjuk Tika buat jawab pertanyaan. Aku bilang, kalo aku yang tunjuk tangan duluan, bu guru ngga perhatiin aku. Tika jawabnya salah, bu guru bantu perbaiki jawaban, trus puji-puji Tika.




Kesel.


Aku ngga suka sama bu guru.

Secara tidak sadar, bu guru mengajari aku untuk tidak menyukai perilaku itu.

Tapi, mama bilang, aku tetap harus pergi sekolah.

Waktu istirahat, aku tidak lagi keluar kelas. Karna semua mainan pasti penuh. Pasti ngantri seperti hari-hari sebelumnya. Aku berjalan sendiri ke ruang berukuran dua kali tiga berisi prakarya. Berbagai bentuk origami beraneka warna tertempel di papan. Berbagai bentuk binatang dari plastisin. Rumah-rumahan dari balok. Bunga dari tali rafia yang dikepang. Dan, satu baris beraneka cangkang kerang, keong, kuda laut, bintang laut dan beberapa yang aku tidak tau namanya. Aku suka bagian ini. Setiap istirahat, aku selalu datang kesini. Ada dua cangkang keong yang bersebelahan. Aku mengambil cangkang keong kecil. Yang kecil cukup ringan. Yang besar agak berat. Setiap kali aku meletakkan cangkang keong ditelingaku, terdengar suara ombak laut. Aku pernah lihat laut di film power rangers. Mereka berkelahi dengan musuh dipinggir laut. Pernah, aku berusaha melihat kedalam cangkang keong, ingin melihat laut didalamnya. Ku bolak balik, kucari lubang-lubang kecil untuk mengintip kedalamnya.

Tidak terlihat apapun.

Ketika mendengar suara ombak didalam cangkang keong, mataku melihat jam dinding di ruangan ini. Jarum kecilnya terus bergerak. Jarum panjangnya berpindah sesekali. Jarum pendeknya berpindah agak lama. Sudah sepuluh menit, aku masih belum bosan mendengar suara ombak.

Sampai…

Cangkang ditanganku direbut.

Tika.

Aku rebut lagi. “Jasmine lagi pakai.”
Tika merengek. Aku ngga ngerti dia ngomong apa. Lalu bu guru masuk.
“Jasmine, kenapa buat Tika nangis?”
“Tika nangis sendiri. Jasmine ngga buat dia nangis.”
Tika menunjuk cangkang keong yang ku pegang. “Jasmine, kasih pinjam Tika dong. Jangan egois.”
Apa itu egois? Ngga tau. “Jasmine main duluan bu. Tika rebut ini.”
“Ya gantian kan bisa.”
“Itu ada satu lagi.”
Bu guru mengambil cangkang keong yang besar. “Tika main yang ini ya?” Tika merengek lagi, mau cangkang keong yang ada ditanganku. “Jasmine, kasih keongnya ke Tika ya.”
“Ngga mau. Jasmine lagi main ini. Tika main yang itu aja.”
“Tika mau yang Jasmine pegang.”
“Kan lagi Jasmine pakai?”
“Main sama-sama ya.” Bu guru mengambil keong ditanganku. Padahal aku belum bilang iya. Cangkang keong berpindah ke tangan Tika. Aku memandangi bu guru. Bu guru balas memandangiku. “Ngga boleh egois, ya.”
Egois itu apa? Ah, nanti aku tanya sama mama saja. Aku ngga mau tanya bu guru.

Aku keluar dari ruang prakarya, menyapa Miko dan Hendi yang selalu main dengan balok sejak hari pertama masuk sekolah. Boleh ikut main? Boleh, kata Miko. Hendi mengangguk. Buat apa? Kastil.
Kastil. Aku pernah lihat waktu nonton ABC di tv. Di kastil ada prajurit pakai seragam. Mereka bawa tombak. Ada yang bawa pedang. Mereka pergi kemana-mana dengan kuda. Kalau pangeran, kudanya warna putih. Ada kereta yang ditarik kuda. Yang naik putri-putri. Mereka pakai baju yang roknya mengembang.

Miko dan Hendi memberi pengarahan bagaimana aku harus meletakkan balok-balok di atas menara supaya kastilnya tidak runtuh.

Aku belum meletakkan balok kecil diatas menara, tiba-tiba kastil runtuh. Tanganku berhenti diudara. Mataku langsung melirik Miko dan Hendi yang tampak kaget. Kupikir, aku yang meruntuhkan kastil mereka. Pandangan Miko dan Hendi berbalik ke belakang kami.

Tika.

Kastil mereka dilempar cangkang keong.

Tika merengek lagi. Menunjukku. Bu guru membimbing Tika duduk dilantai, disampingku. “Jasmine, main sama Tika ya.” Bujuk bu guru.
“Ngga mau.”
“Kalo Jasmine ngga mau main sama Tika, ayah Jasmine dipecat.”
Aku menoleh. Memandangi wajah bu guru. “Dipecat itu apa?”
“Ngga boleh kerja lagi. Ngga digaji.”
“Digaji itu apa?”
“Ngga dibayar.”
“Emang ayah Tika temen ayah Jasmine?”
“Iya. Ayah Tika bosnya ayah Jasmine.”
“Bos ayah bukan ayahnya Tika.”
“Tau dari mana?”
“Bos ayah pernah datang kerumah. Bicara sama ayah diruang tamu.”
“Bos ayah sudah diganti. Jadi ayahnya Tika.”
“Ayah tika kerja dimana?” bu guru menyebutkan instansi tempat ayah Tika bekerja. “Ayah Jasmine kan ngga kerja disana.”
“Ayah Jasmine kerja dimana?” aku menyebut nama kantor ayah. “Kan kantornya sama.”
“Ngga sama.”
“Sama.”
“Ngga sama!.”

Aku berdiri, meninggalkan bu guru dan Tika. Aku berdiri dekat ayunan. “Boleh gantian main?” aku tanya anak perempuan yang duduk diayunan paling dekat denganku. Dia mengangguk. Aku naik ke ayunan dan mulai mengayun tubuhku. Lalu, aku mendengar suara rengekan seperti sebelumnya. Tubuhku terangkat dari ayunan, mendarat berdiri di samping ayunan. Muka bu guru didepan mukaku.
“Mainnya gantian ya.” Ayunan terisi Tika.
“Jasmine baru main bu.”
“Ya, gantian.”

Wajah bu guru tidak mempedulihan kekesalanku. Aku diam. Pindah ke mainan lain saja. Jungkat jungkit masih ada yang kosong.

Bagian tengah.

Aku minta ijin untuk ikut main. Empat anak di jungkat kanan bilang boleh, empat anak di jungkit kiri juga bilang boleh. Aku memanjat naik ke bagian tengah jungkat jungkit. Tidak duduk. Aku berdiri, tubuhku menyeimbangkan gerakan ke kanan dan kiri ketika jungkat jungkit naik turun. Angin lembut menerpa wajahku. Sejuk…

Kembali, mataku menangkap Tika yang berlari kecil kearah jungkat jungkit. Bu guru berteriak ‘turun!’ padaku. Langkahnya menjajari Tika. Aku langsung loncat begitu saja ke rumput. Bu guru marah lagi.

Hhh… satu anak turun dari jungkat jungkit dengan kesal. Posisi kosong itu berganti dengan Tika.

“Mau main puter-puteran?” tanyaku pada Wina yang juga masih kesal. Wina mengangguk. Puter-puteran itu semacam merry go round, dengan putaran besi dibagian tengah. Aku segera naik ke puter-puteran yang ku maksud. Wina segera naik dan ikut duduk diseberangku.
“Jasmine yang puter ya?”
“Iya.” Kedua tanganku bersiap di besi putar. “Putar yang kenceng?”
Wina belum menjawab. Tika muncul dari atas. Bu guru mengangkat Tika, lalu mendudukkan tika diantara aku dan Wina.
“Main sama-sama, ya.” Langkah bu guru kemudian menjauhi kami. Menghilang ke ruang guru. Aku dan wina sama-sama diam.
“Ayo, putar yang kenceng.” Wina memecah pandanganku dari Tika.
“Siaaaappp??” tanyaku pada Wina.
“Siaaaaappp!!” jawab Wina semangat.
Aku memutar besi putar ditengah kami sampai putar-putaran yang kami naiki berputar kencang. Aku dan Wina bergantian memutar besi putar. Angin kencang menerpa kami. Semakin kencang angin, semakin kencang aku memutar besi putar.

Benda yang kami naiki berhenti.

Tiba-tiba.

Tika meringkuk berpegangan pada bangku besi yang didudukinya.

Tangisnya memekakkan telinga.

Wajah bu guru sangar. Marah. Matanya melotot padaku.
Diangkatnya Tika. Dipeluk dalam gendongannya.
“NAKAL!!” suara bu guru keras.

Tangan-tangan kami bersidekap didepan dada. Bersiap pulang.
“Slaaaamaaat siiiiaaaaaang buuuuu….” Itu kalimat terakhir sebelum bu guru memilih siapa yang duduk paling rapi, dan boleh pulang.
Aku tidak dipilih. Karna, yang terakhir duduk dikelas tidak perlu dipilih lagi.

Aku pulang paling akhir.


Sore. Dirumah.
“Yah, egois itu apa?”
“Egois itu mau menang sendiri. Misalnya, Jasmine tidak mau berbagi sama abang.”
“Kalau rebut mainan orang lain?”
“Itu egois juga. Tidak baik. Tidak boleh merebut mainan orang lain.”
“Itu jahat?”
“Ya. Siapa yang seperti itu?”
“Tika. Dia rebut keong Jasmine.”
“Dia mau main sama-sama?”
“Dia rebut keong yah…” ayah duduk disofa ruang tamu. Tehnya masih mengepul. “Yah, ayah kerja, dibayar sama siapa?”
“Sama bos ayah.”
“Bos ayah siapa?”
“Pak Andi. Jasmine pernah ketemu, kan?”
“Yang pakai kacamata yah?”
“Tu inget…”
“Ayah bukan dibayar sama ayahnya Tika?”
“Ayahnya tika siapa?”
“Ngga tau.”
“Kerjanya dimana? Aku menyebutkan tempat kerja ayah Tika yang tadi pagi disebut bu guru. Ayah tertawa. “Lain dong… ayah Tika ngga kerja dikantor ayah kalo gitu. Ayah ngga dibayar sama ayahnya Tika.”
“Yang bayar ayahnya Tika siapa?”
“Ya bos ayahnya Tika.”
“Ayah Tika punya bos?”
“Punya. Ayah punya bos, ayahnya Tika punya bos.”
“Mereka temen, yah?”
“Kenal aja. Tapi bukan temen.”
“Ko’ ayah tau?”
“Ayah tau temen-temen bos ayah. Kalo sama bos ayahnya Tika, Cuma kenal aja.”
“Bu guru bohong dong, yah?”
Ayah senyum. “Jasmine tau, bohong itu ngga baik?”
“Tau yah.”
“Jasmine, jadi anak jujur ya.”
“Jujur itu apa yah?”
“Ngga bohong.”
“Iya, yah.”