Breaking News

16 May, 2012

Healing Bullied: #6


by Rhaudhah Kaala
Sore.

Nenek Annete sedang menyuapi Annete dengan bongkahan kecil keju warna putih. Aku tidak mau. Rasanya aneh. Aku makan kue saja. Namanya lidah kucing. Padahal sama sekali tidak mirip lidah kucing.
“Nek, Leo digigit anjing tadi siang.”
“Oh ya? Leo yang tinggal disana?” telunjuknya menunjuk komplek dekat rumah.
“Iya.”
“Lalu bagaimana?”
“Sekarang ngga tau nek. Tadi siang, Leo lagi main sama anak bu Halim, trus, ada anjing datang, gigit kaki Leo. Kaki leo ditarik-tarik nek. Leo teriak-teriak, nangis-nangis, trus, anjingnya dilempar batu sama bu Halim.”
Selagi aku bercerita, nenek Annete memandangiku. Mendengarkan.
“Bu Halim yang menjual bubur tinotuan disitu?” wajahnya berubah khawatir.
“Iya. Yang disitu, nek.” Ku tunjuk warung kecil diseberang rumahku.
“Leo sudah dibawa ke dokter?”
“Ngga tau, nek.”
“Semoga sudah dibawa ke dokter ya.”
“Nek, anjing yang gigit Leo lucu deh.”
“Lucu kenapa?”
“Dia makan sabun.”
“Sabun?”
“Iya. Di mulutnya ada busanya. Dia makan sa…”
“YA TUHAN!!” lalu nenek bicara dalam bahasa Belanda. Ngga tau bicara apa. Aku dan Annete sama-sama memandangi nenek sambil makan. Aku makan kue lidah kucing, Annete makan keju. Aku ngga ngerti nenek bicara apa, Annete tau artinya, tapi bingung kenapa neneknya misuh-misuh.




‘Ya Tuhan’ itu masih terus digumamkan nenek.
“Sudah dibawa ke dokter?”
“Ngga tau. Emang kenapa nek?”
“Itu anjing gila!” nenek geleng-geleng kepala.
“Kenapa dia gila?”
“Itu penyakit ya. Ada kena virus.”
“Virus apa?”
“Aduh, nenek lupa nama virusnya.”
“Kenapa virusnya nyerang anjing nek? Anjingnya kan ngga salah?”
“Ah, hahaha… ya, ya… anjingnya memang tidak salah. Tapi, virus itu tidak pilih siapa yang akan dijangkiti.”
“Dijangkiti itu apa?”
“Dijangkiti itu di buat sakit.”
“Kalo dijangkiti virus, jadi sakit?”
“Iya.”
“Gila itu sakit?”
“Ya. Tandanya  pada anjing, mulutnya berbusa. Kalau tidak cepat diobati, Leo bisa sakit juga.”
“Oh…” aku mengangguk-angguk. “Nek, itu,” kutunjuk seorang perempuan yang duduk dipinggir torotoar dekat warung bu Halim. Setiap sore dia ada disana. Duduk, bicara sendiri, marah-marah ke… entahlah, ke siapa saja sepertinya. Kadang diam, lalu nangis. “Kata bu Halim, dia gila. Dia kena gigit anjing gila?”
“Wah, itu lain ya. Bukan gila karena digigit anjing gila, itu sakitnya disini.” Nenek menunjuk kepalanya.
“Kepalanya kenapa?”
“Syarafnya ada sakit. Harus menemui psikiater.”
“Psi itu apa?”
“Psikiater, itu dokter sakit jiwa.”
“Sakit jiwa itu apa?”
“Sama dengan gila.”
“Dia kan gila nek.”
“Ya, makanya harus dibawa ke dokter sakit jiwa.”
“Kalo dia dibawa ke dokter sakit jiwa, dia ngga sembuh dong nek? Kan dokternya gila juga?”
“Hahahaha… tidak begitu ya. Namanya saja dokter sakit jiwa. Artinya, dokter yang menghandle orang-orang yang sakit jiwa.”
“Menghandle itu apa?”
“Yang mengobati orang yang sakit jiwa.”
“Oh… Nek, nek, syarafnya kenapa nek?”
“Ada masalah ya.”
“Masalahnya dimana?”
“Nah, itu yang harus diperiksa oleh dokter. Nenek tidak bisa memeriksa.”
“Oh begitu.” Lalu aku teringat. “Nek, nek, hari ini Jasmine hari ini masuk sekolah.”
“Oh ya?” pupil matanya melebar. “Bagaimana disekolah? Senang?”
“NGGA SENANG!” aku manyun.
“Lho, kenapa? Kan banyak bertemu teman?”
“Bukan temennya nek. Jasmine ngga suka sama bu guru. Bu guru ngga mau dengerin cita-cita Jasmine. Kata bu guru, cita-cita jasmine itu bukan cita-cita karna ngga dapet uang.”
“Maaf?”
“Maaf kenapa nek?”
“Kenapa bu guru bilang begitu? Penulis itu cita-cita! Wah, wah…” lagi, nenek misuh-misuh dalam bahasa Belanda. “Itu verbal abuse, namanya.”
“Apa itu nek?”
“Itu…” nenek berfikir sebentar, mencari kata-kata. “Itu menyakiti orang lain dengan kata-kata. Itu tidak baik ya. Tidak boleh ibu guru seperti itu. Tidak boleh mencela impian anak-anak.”
“Mencela itu apa?”
“Mencela itu mengejek.”
“Kalo perenang, itu cita-cita, nek?”
“Ya! Jelas itu juga cita-cita. Perenang itu atlet.”
“Atlet itu apa?”
“Atlet itu ahli olah raga renang.”
“Itu pekerjaan?”
“Tentu saja! Atlet tu pekerjaan. Sangat membanggakan untuk Negara.”
“Dibayar?”
“Tentu. Tentu saja.”
“Yang bayar siapa?”
“Pemerintah yang bayar.”
“Siapa itu nek?”
“hmm… orang-orang yang mengurus Negara ini.”
“Oh.”
“Guru Jasmine kenapa bisa bicara seperti itu ya? Tidak boleh seperti itu. Jahat itu.”
“Jahat nek?”
“Ya. Menyakiti orang lain dengan kata-kata itu jahat. Kalau di Belanda, itu bisa dihukum.”
“Dihukum apa?”
“Bisa dipenjara. Karena yang dijahati bisa melapor pada polisi dan menghukum orang itu.”
“Jasmine juga bisa, nek?”
“Ah, Jasmine belum bisa ya.”
“Kenapa?”
“Jasmine masih kecil. Kalau sudah cukup umur, baru boleh.”
“Sampai berapa sudah cukup, nek?”
“Kalau sudah tujuh belas tahun.”
“Umur Jasmine baru lima, nek. Masih kurang berapa lagi?” aku merentangkan kedua tanganku, menghitung umurku. Nenek membantuku menghitung umurku sampai tujuh belas. “kurang dua belas!” teriakku senang. “Dua belas itu sampainya kapan, nek?”
Nenek mengelus kepalaku. “Dua belas tahun lagi. Itu tidak lama ya.” Matanya berpindah pada cucunya. “Jasmine akan cepat besar, Annete juga. Nenek masih bisa lihat kalian, tidak ya?”
“Masih nek. Mata nenek kan masih ada. Kalo ngga bisa lihat, nenek pake kaca mata aja.”
Terkekeh. “Sini.” Nenek memangkuku. “Dengar, Jasmine, mungkin, saat ini, nenek hanya bisa bicara saja. Hanya bisa mendo’akan kebaikan untuk Jasmine dan Annete.

Dunia ini ada dua sisi. Ada sisi yang baik, ada juga yang tidak baik. Ketika Jasmine berbuat baik, orang lain juga akan melakukan hal baik juga pada Jasmine. Ketika Jasmine melakukan hal yang tidak baik, itu akan kembali pada Jasmine.

Ketika Jasmine melakukan hal yang baik, belum tentu orang lain membalas dengan kebaikan.
Tapi, jangan marah.

Hal tidak baik yang dilakukan orang lain, itu akan kembali pada orang itu.

Jangan balas kebaikan orang lain dengan menjahati. Jangan balas menjahati orang lain hanya karena dia menjahati Jasmine lebih dulu.

Yang Jasmine lakukan, seperti Jasmine menanam pohon. Kalau yang Jasmine tanam hal yang baik, akan tumbuh pohon yang baik. Dahannya, rantingnya, buahnya, baik semua. Kalau yang Jasmine tanam hal yang tidak baik, pohonnya juga jadi tidak baik. Mungkin tidak berbuah, tidak ada ranting, tidak ada dahan. Hanya batang mati. Tidak ada manfaatnya untuk Jasmine.

Jasmine, tanam pohon yang baik ya. Lakukan hal yang baik. Kebaikan dalam tingkah laku jasmine, cermin dari hati Jasmine

Jangan balas kata-kata tidak baik bu guru dengan menjahati bu guru ya.

Bu guru melakukan itu karena bu guru tidak tau kalau itu salah.

Bu guru tidak tau, kalau itu dikembalikan padanya, itu akan menyakiti hatinya sendiri.

Percaya pada diri Jasmine. Jasmine mau jadi penulis, jadilah penulis yang baik. Jasmine mau jadi ninja, jadilah ninja yang baik. Bahkan, kalau Jasmine mau jadi atlet, jadilah atlet yang baik, melakukan yang terbaik.”

Aku mendengarkan suara nenek. Menatap matanya yang kehijauan. “Jadi anak baik, ya.” Tangannya kembali mengelus kepalaku.

Nek, kenapa wajah nenek sedih?

0 komentar:

Post a Comment