Breaking News

16 May, 2012

Healing Bullied: #5


by Rhaudhah Kaala
Hari ini aku masuk TK. Namanya Al Achaerat.

Aku sekolah di akhirat, padahal tempatnya ngga jauh dari rumah. Tepat disebelah bioskop yang selalu muterin film India.

Pagi-pagi aku sudah bangun. Mandi. Lalu dipakaikan seragam kemeja putih, dan baju luar selutut berwarna biru tua. Topinya juga warna biru, semodel topi tukang somay. Kaos kaki putih diatas mata kaki. Sepatu hitam dengan tali. Sepatu ini baru kemarin dibeli. Setelah belajar membuat simpul tali sepatu dari mama, sepatu kujejerkan di ruang tamu, disamping pintu masuk.
Hitam. Bersih. Itu sepatuku.
Sekarang sepatu hitam ini berpindah. Dari samping pintu masuk, ke kakiku.
Jam delapan.
Ayo ma, kita berangkat.
Dengan tas slempang warna biru berisi buku tulis yang masih kosong, pensil,  sekotak bekal makanan dan botol minum, aku digandeng mama berjalan kaki ke sekolah.
Senang.




Sebelum masuk kelas, aku dan teman-teman yang belum kukenal berbaris di dekat pintu masuk kelas. Satu persatu mencium tangan bu guru dan ibu kepala sekolah, lalu masuk ke dalam kelas. Kursi yang kupilih berwarna biru juga. Meja yang kupilih… ah, tidak bisa pilih meja. Tadi, kata bu guru, kursinya ngga boleh dipindahin ke meja warna biru.
“Kalo mejanya yang dipindahin, boleh?”
“Nanti boleh.”
“Kapan?”
“Nanti ya, waktu istirahat.”
Ibu guru ini aneh. Kenapa ngga aku dan kursiku aja yang pindah ke meja biru?

Nama saya Jasmine. Umur saya lima tahun.
“Jasmine, cita-citanya apa?”
Ah, cita-cita! Aku sangat senang. Nenek disebelah rumah tau cita-citaku.
“Jadi penulis bu.”
“Penulis?” dahinya mengerenyit. “Itu bukan cita-cita.”
“Itu cita-cita bu.”
“Kata siapa?”
“Kata nenek disebelah rumah.”
Bu guru memandangiku dengan pandangan aneh. Lalu, merubah pertanyaannya. “Jasmine, nanti besar mau jadi apa?”
“Mau nulis.”
“Jadi penulis?”
“Iya.”
“Jasmine,” bu guru mendekatiku, merendahkan tubuhnya sampai sejajar denganku. “Penulis itu bukan cita-cita.”
“Kenapa bukan?”
“Penulis itu pengkhayal. Tukang mimpi. Tidak menghasilkan.”
“Kenapa?”
“Mau dapat uang dari mana? Penulis itu bukan pekerjaan.”
“Pekerjaan itu apa?”
“Pekerjaan itu… yang menghasilkan uang.”
“seperti apa bu?”
“Dokter. Atau insinyur, atau guru, seperti ibu.”
“Kalo ninja?”
“HAH?” matanya membelalak seolah aku menyebut sebuah kata yang tak pantas disebut anak kecil berumur lima tahun.
“Ninja.”
“Ninja?!”
“Ninja.”
Mata bu guru meneliti wajahku. Lalu, “Jasmine, kembali ke tempat duduk.”
“jasmine belum selesai cerita bu.”
“Duduk.” Telunjuknya mengarah ke kursiku.
“Cita-citanya belum selesai.”
“JASMINE, DUDUK.”
Aku kembali ke tempat duduk.
Bu guru jahat.
Aku ngga suka.

Aku ngga suka sekolah disini.

Katanya harus memperkenalkan diri dan kasih tau cita-citaku, tapi belum selesai, sudah disuruh duduk. Kenapa bu guru ngga mau mendengarkan sampai aku selesai? Kalo ada yang cita-citanya dokter, insinyur, polisi, dan guru, bu guru langsung mengajak seluruh kelas tepuk tangan, lalu bilang, ‘hebat sekali, ya.’, ‘luar biasa.’, wah, itu cita-cita yang hebat!’. Tadi, ada yang bilang cita-citanya perenang. Bu guru ngga puji dia. Kata bu guru, cari cita-cita yang bisa dapat uang saja. Karna, besar nanti, kita harus bekerja untuk dapat uang.

Nenek Annete bilang, kalo di Belanda, penulis itu pekerjaan. Ya sudah, nanti besar, aku kerja jadi penulis di Belanda saja. Aku bisa ketemu nenek Annete terus. Bisa makan kue terus.

Setelah perkenalan, bu guru mengajari kami lagu ‘pelang-pelangi’. Aku ngga mau ikut nyanyi sama bu guru. Aku hanya diam. Mataku memperhatikan bibir bu guru yang bersuara, komat kamit menyanyikan lagu ‘pelangi-‘pelangi’. Mataku beralih ke jam diatas papan tulis. Jarum pendek di Sembilan, jarum panjang hampir ada di angka dua belas.

Sebentar lagi.

Istirahat.

Ibu kepala sekolah berjalan keluar ruangannya menuju samping kelas kami. Menuju benda bulat seperti gong. Mengambil tongkat pendek disamping gong, lalu dipukulnya.

TENG!

TENG!

TENG!

Tiga kali.

Bu guru berhenti bernyanyi. Semua anak yang berdiri bersiap berlarian keluar kelas terpaksa duduk kembali ketika mendengar aba-aba duduk dari bu guru.
Boleh main di luar. Kata bu guru. Lalu bu guru pergi ke ruang guru disebelah kelas.
Sebelum semua berlarian keluar kelas, aku mencegat dua orang sebayaku, keduanya perempuan.
Tukeran meja.
Boleh.
Asyiik…
Mereka berdua membantuku mengangkat meja biru mereka ke depan kursiku. Meja oranyeku sudah berpindah juga ke depan kursi mereka.

Ayunan, penuh. Bahkan banyak yang ngantri.
Jungkat jungkit juga penuh.
Seluncuran ngga bisa dipakai. Ada tulisan ‘rusak’ disana. Memang ada satu anak tangga yang hampir lepas.
Jadi, mau main apa?

Kembali ke kelas. Main balok kayu saja. Dua orang anak laki-laki yang sedang main balok juga, mau berbagi balok mainannya denganku. Mereka hanya berdua laki-laki di kelasku. Aku buat rumah-rumahan dari balok.
“Kamu buat apa?”
“Rumah. Kamu buat apa?”
“Mobil. Tapi mobilku belum jadi.”
“Kenapa?”
“kurang balok yang kecil. Aku ngga punya. Kamu punya?”
Aku mencari balok kecil dikumpulan balokku. “ini?” tunjukku.
“Iya. Aku boleh pakai?”
“Boleh. Ini.”
“Terima kasih.”
 “Sama-sama.”
Anak laki-laki itu tersenyum, laki kembali pada mainannya.
Aku senang. Dia baik. Mau berbagi mainan. Dia mau pinjam baik-baik.
Aku senang main sama dia.