Breaking News

16 May, 2012

Bagaimana menulis?


by Dewi Ika
"Bagaimana caranya menulis?..." Bingung sendiri kalau ada yang bertanya itu di sini. Termasuk diriku saat memutuskan bergabung di IIDN, mau belajar menulis.

Padahal kan kita sudah  diajarkan menulis sejak masih balita. Krayon atau spidol warna-warni dengan coretan bak cacing kusut. Tapi itu menulis. Banyak cerita si Dede kecil dalam tulisan benang kusutnya. Satu halaman dicorat-coret dengan beragam cerita dibuatnya. Bahkan kadang tak cukup selembar dua lembar. Dinding di sepanjang kamar ikut kena bagian.

Di SD kita mulai diajarkan S-P-O-K. Pada jamanku masih berkisar "Ini ibu Budi. Budi sedang bermain kelereng". Entah sekarang bagaimana para guru mengajar menulis dan membaca. Saat anakku balita, malah dimulai dengan melihat cerita di komik. Huruf-huruf yang dibaca hanya beberapa huruf mati dan sedikit huruf hidup."Bug...Duh...Ouch!...Blang...Bluggh'. Dia membaca huruf-huruf besar di komik. Tidak lagi ada S-P-O-K. Yang kutahu anak-anakku diharuskan membuat karya tulis. Kalaupun mengarang, beberapa kartun diminta untuk di narasikan. Kenyataannya banyak juga anak-anak yang kesulitan membuat cerita dari gambar-gambar. Menulis ternyata memang sulit kali ya..




Tak bedanya denganku sekarang. Begitu banyak tutor di IIDN. Begitu banyak cerita teman-teman menulis dan berhasil menembus media. Sementara, tak satupun tulisanku pernah masuk media. Sekalinya ada cuma sekali dan mendapatkan e-ticket 1 juta kemarin, itu adalah bersama suamiku. Lebih banyak tulisannya, dan aku cuma menambahkan untuk menjadi cerita. Awalnya bukan untuk menjual tulisan. Hanya ingin berbagi bagaimana backpackeran bersepeda di Eropa dengan sepeda lipat yang dibawa dari Jakarta. Makin kubaca tulisan teman-teman di IIDN, makin membuatku ciut. Bisakah aku menulis seperti mereka. Tapi disisi lain, ada beberapa teman yang baru berani bilang menulis. Merasa ada temannya, aku bersemangat lagi. Jadi deh seperti jetcoaster, naik-turun perasaan ini, bisa ngak ya menulis...

Menulis aja kok repot?...Aku pernah baca buku penulis bestseller. Katanya ya menulis aja. Apa yang ada dipikiran ditulis aja. Biarkan tanpa perduli SPOK. Nanti saja kalau sudah memang mau dipublikasi, baru deh di edit. Katanya pikiran yang langsung itu adalah tulisan yang murni. Persis seperti anak balita menulis dengan tulisan cakar ayamnya. Mengalir saja. So, bagaimana menulis....ya nulis aja (hehe benerkah begitu para tutorku yang cantik...Saran membangun dong)

0 komentar:

Post a Comment