Breaking News

16 May, 2012

Apa Saja, Asal Bukan Putus Asa


by Anggrek Nosarios
Konon, penolakan itu rasanya kecut-kecut pahit. Sangkut di kerongkongan,  susah ditelan, masuk ke hati, berat dilupakan. Membuat orang enggan  mengulang.
Mengajukan proposal, mengajukan lamaran, mengajukan permintaan pertemanan,  mengirimkan tulisan, mengajukan pinjaman, bahkan menyapa orang... dan...  DITOLAK! Meski si penolak minta maaf, rasanya masih saja hati ini dongkol. Ada  orang yang memilih untuk langsung menutup buku dan buka lembaran baru. Atau  memutar arah. Atau, cari alternatif. Apapun, asal tidak putus asa.
Ketika tulisan saya ditolak (seringnya begitu) saya inginnya memanjakan diri  dengan perasaan, "apalagi salah gue, coba?" berhari-hari, sebelum kemudian  bersungut-sungut memulai lagi. Atau memperbaiki yang sebelumnya. Sekali lagi,  apapun, asal bukan putus asa.
Kemudian, saya belajar dari putri saya, Yasmin.



Saya sedang bersandar di jendela, mengawasi anak-anak yang sedang bermain di depan rumah. Anak-anak itu begitu riuh bermain. Sesekali bola tendangan mereka menyasar jendela saya. Anak-anak perempuan terlihat berkumpul memainkan boneka atau semacamnya. Saya dimandatkan untuk sesekali bertepuk tangan atau berteriak ala mama jika kerusuhan mulai tak terkendali.
Akhirnya, putri saya yang berusia tiga tahun memutuskan untuk bergabung dengan teman-temannya.  Dia berjalan dengan langkah mantap menuju sekelompok anak seusianya.  Tiba-tiba, dua dari anak-anak itu berdiri dan menghadangnya, khas anak-anak.
"Kamu nggak boleh ikutan main!"
 Langkah putri saya terhenti. Sementara, di jendela, ada yang meremas jantung  saya di dalam sana... ngilu.
Saya menahan diri untuk melihat 'pelajaran' anak saya hari itu, yang di  kemudian hari saya tahu adalah pembelajaran buat saya pula. Apakah anak saya akan  menangis, pulang sambil mengamuk..
Kira-kira hanya tiga detik kemudian putri saya meneruskan langkahnya, dengan  kepala sama tegak, melewati kelompok anak-anak itu. Lalu dia berputar tanpa  ragu, tanpa mempercepat langkahnya, menuju rumah.
Saya menanti di pintu, menelan kuat-kuat dorongan hati untuk mencecarnya  dengan pertanyaan dramatis. Dalam hari terburuk mungkin saja saya mengatakan,  "biarin, besok mereka juga nggak boleh main di sini!" oh well, saya bahkan tak  berani bermimpi mengatakannya.
"Sudah pulang, Nak?" Saya mencari-cari cemberut atau ekspresi sedih lainnya  di wajah mungil itu.
Dia menggeleng, "(mereka) lagi nggak mau main sama Aku," katanya datar dan  meneruskan langkah, mulai membongkar mainan baloknya. Saya memeluknya dan  berkata, "mungkin sudah cukup orang, besok Insya Allah giliran Yasmin."
Lima menit setelah saya bermain balok dengannya, terdengar ketukan di pintu  dan panggilan ramai, "Amiiii, main yuuukkk!" ah...children...
Tanpa dendam, putri saya membuka pintu dan menjawab, "Ami lagi main sama  Bunda, besok aja datang lagi ya!"
Dari Yasmin, saya belajar...
bahwa kadang kita memang ditolak, meski tanpa alasan yang bisa kita mengerti.  It could be anything.
bahwa tak ada alasan untuk melunglaikan bahu dan menundukkan kepala sambil  merutuki bumi, meski kita ditolak.
bahwa ditolak bukan berarti harga diri kita terbuang di tempat sampah,
bahwa kita tidak bisa memaksa orang menerima kita. No means No. Tak usah  memaksa...
bahwa kita bisa menyembuhkan luka penolakan, dengan memperbaiki diri dan  mengambil peluang lain yang datang.
Karena pernah ditolak, kita belajar jika suatu hari harus menolak, maka  menolaklah tanpa menyakiti.
Selama kita tidak berputus asa, akan terus datang kebaikan-kebaikan baru,  dalam waktu dan bentuk yang bahkan tak kita duga.
Penolakan itu rasanya seperti rujak. Asem, pedas... agak seru.
Tak ada yang bisa kapok karena makan rujak, jangan syok karena ditolak!;)
Maka, janganlah berputus asa dari Rahmat Allah, besok coba lagi! ^^

0 komentar:

Post a Comment