Breaking News

06 February, 2012

Wanted !!!Mantu Ideal


  “Ini mantu saya yang paling baiik sama saya..”
Seorang nenek memeluk wanita disebelahnya, sambil mengacungkan jempol.
Sang wanita hanya tersenyum dan berkata “amiiin..makasi ya bu.” Sambil balas memeluk sang nenek.

Hmmm..saya senyum senyum melihat pemandangan itu, pemandangan yang menurut saya jarang sekali saya temui.
Mereka bisa bercanda, ngobrol ngalor ngidul,diskusi saat hendak membeli barang.
Wow..it’s amazing.

Atau, sebut saja namanya rani, kakak ipar sahabat saya ini, selain asyik jadi kakak ipar, ternyata sukses dengan statusnya sebagai mantu dikeluarga. Pembawaannya yang luwes, mau bergaul dan berusaha dekat dengan keluarga suami, membuatnya selalu dibanggakan sang mertua. Rani bukan tipikal mantu kuper, yang hanya mau ditegur saat berada dilingkugan keluarga suami, bukan pula mantu kaku, yang ngintil suami saat berada ditengah keluarga, bukan pula mantu intovert, yang kerjanya mengunci pintu dikamar saat merasa tak nyaman dengan keluarga suami. Sifatnya yang ringan tangan menjadikannya selalu diandalkan.

atau, cerita sahabat saya, yang hidup diantara kecemburuan sang mertua perempuan, yang kerap menerima cercaan, kata-kata pedas, teguran yang bukan karena kesalahannya. Mendengarkannya bercerita, seolah menonton sinetron. Hampir selalu tidak pernah melawan, dia dengarkan dan telan semua ocehan dan omelan sang mertua. kondisi seperti itu, bukan alasan untuk menarik diri dari lingkungan keluarga suami, justru sebaliknya, 5 tahun menikah dan tinggal bersama mertua,  membuatnya teramat dekat dengan ipar dan  sepupu-sepupu suami. Simpati dari merekalah yang kadang membuatnya selalu tersenyum dan kuat. Kesabarannya yang luar biasa, mengantarkannya menjadi seorang wanita tangguh.

                                                                        ****
 Pengalaman berinteraksi dengan manusia yang berjudul mertua (perempuan), menurut skala normatif biasanya seringkali menghasilkan pengalaman-pengalaman yang kurang menyenangkan. (Paling tidak menurut pengalaman orang-orang terdekat saya.) alasannya pun beragam.

Apa pasal??

Menurut Anna Surti Ariani, psikolog keluarga, kecintaan kita pada seseorag, biasanya tidak satu paket dengan mencintai orangtuanya.

 "Ketika kita mencari seorang pasangan, biasanya kita melihat seluruh kualitas orang tersebut. Tapi biasanya kita tidak memikirkan kualitas orang tuanya.
Betulkah begitu??

Saat kita beriteraksi dengan mertua, terutama mertua perempuan dan keluarga suami, biasanya ada stigma penilaian yang mengintai seluruh gerak gerik kita. Takut dinilai inilah, takut dinilai begitulah, pada akhirnya muncullah ketidaknyamanan, dan ketidaknyamanan inilah awal penentu kesuksesan seseorang dalam interaksinya dengan keluarga suami (ini menurut saya).

Saat mendengar komentar yang kurang enak ditelinga, itu merupakan suatu kewajaran.
Saat menerima sikap tak hangat dari keluarga suami, itu merupakan suatu keawajaran.
Saat menerima teguran, omelan, bahkan cacian, itu pun merupakan suatu kewajaran.

Lha..ko wajar semua??

Ya memang..saat menikah dan berinteraksi dengan keluarga suami, semua hal yang tidak enak, mau tak mau harus ditelan, maka tak ada kata lain, selain mewajarkan segala hal. Mewajarkan segala hal dengan maksud menggembleng  kesabaran. Tak ada sabar yang berbatas..maka tak ada batas pula dalam mewajarkan kondisi yang terlahir dalam ketidaknyaman.

Begitulah beradaptasi, sukses atau tidaknya tergantung kita sabar dan tangguh. Butuh waktu menerima kehadiran oranglain dalam bagian hidup kita, budaya, pola asuh, perangai yang berbeda menjadikan interaksi menantu-mertua bak pelangi.

Meski tak dapat dipungkiri sulit sekali mencari titik temu antara menantu dan mertua perempuan, namun  bukan alasan bagi kita tak berusaha merubah ketidaknyamanan. Jangan terlalu berharap suami mampu menjadi pendamai saat kita bermasalah dengan mertua perempuan, atau ipar, karena saat itulah dia merasa terjepit antara posisinya sebagai anak dan suami. So, mau ga mau, suka ga suka, ketidaknyamanan harus didobrak dengan usaha kita sendiri. Caranya :
  1. Mulailah berdamai dengan diri sendiri
Menciptakan suasana tenang, dengan mengadukan diri pada sang pemilik kehidupan adalah solusi tepat.

  2. Muhasabah diri
Setelah hati tenang, dan pikiran buruk hilang, mulailah bermuhasabah, mengapa mertua, ipar berlaku demikian pada kita, Tanyakan pada diri sendiri apakah selama ini kia selalu mencari pembenaran atas segala tindakan yang kita lakukan terhadap mertua daripada melihat suatu masalah secara obyektif? Tidak adakah hal-hal positif atau masa-masa indah yang telah dilalui bersama? Apakah untung ruginya  jika terus-terusan bermasalah dengan mertua/menantu?tidakkah terpikir posisi suami yang sedemikian menderita melihat istri, kakak, dan ibunya selalu berseteru?

Memang sulit bagi kita yang ketika single dulu selalu membentak orangtua saat kita marah, menghentakkan kaki saat kemauan kita tak dipenuhi, cemberut dan menekuk wajah, saat tak menyukai suatu hal, namun sekali lagi itu bukan merupakan alasan besar untuk tak mampu mendobrak segala ketidaknyaman yang terjadi.

  3. Mulailah belajar untuk memahami perbedaan budaya dan pola asuh keluarga yang bertolak belakang, budaya keluarga, pola asuh membentuk karakter sikap dan pembawaan yang berbeda dalam keseharian kita.

  4. Curhat sebagai katarsis pada orang-orang yang betul-betul kita percayakan.

Ya...memang tidak mudah mecari titik temu antara menantu dan mertua perempuan, tapi ingatkah kita, bahwa dari rahim mertua kitalah lahir seorang laki-laki yang teramat bertanggung jawab pada diri kita dan anak-anak kita??dari tangan dan belaiannyalah suami kita tumbuh menjadi laki-laki penyayang dan menjaga kita serta anak-anak kita sepenuh hati. Pernahkah terpikir demikian??

dibutuhkan kerendahan hati dan kesabaran untuk menyadari, mengakui, dan menerima kekurangan-kekurangan diri sendiri, serta mengerti dan menerima kekurangan-kekurangan orang lain.  Yang pasti, semua proses ini membutuhkan waktu yang tidak sebentar. Sehingga kita mampu menjadi rani-rani lain yang sukses dengan status menantu sekaligus ipar ideal.

Bintaro City  23 agustus 2011 / 23 ramadhan 1432 H


tips dari E-piskologi.com dengan sedikit modifikasi.


0 komentar:

Post a Comment