Breaking News

15 February, 2012

URIP MUNG SAK DREMO MAMPIR NGOMBE


 



Assalamu'alaikum semua ibu, emak, mbok, nyak, bunda, ummi...Luamaaa buanget nggak posting tulisan di sini. Agak kagok jadinya. Sudah lama ngendon di tabungan naskah sendiri, kemarin sudah lebih dulu ada postingan tulisan dari  jeng ayune Archa Bella "Life is too short", senada seirama nih kayaknya...gak papa ya friends ? semoga gak ke delete sama suhu Indari Mastuti. hehehe...

URIP MUNG SAK DREMO MAMPIR NGOMBE

Sekonyong-konyong pepatah Jawa nan penuh arti itu melintas dalam pikiran saya.  Pepatah Jawa yang teramat sering diucapkan oleh para kyai, ustadz, ustadzah, sesepuh, pinisepuh, orangtua kita, kalau sedang memberikan nasehat atau  wejangan. Bener banget ! ibarat kita sedang melakukan perjalanan jauh dari satu tempat ke tempat lain, pastilah ada saatnya kita sejenak melepas penat, rehat sejenak mampir di sebuah tempat yang enak buat istirahat.  Sekedar (mungkin) makan, minum, sholat, yang kesemuanya tidak membutuhkan waktu lebih dari setengah hari.  Mung sak kepyaran ! atau  mung sak nyuk’an ! sedhilit tenan ! Setelah badan dan perasaan kita sudah merasakan lumayan enak, pastilah kita akan melanjutkan perjalanan kita yang masih panjang lagi, hingga akhirnya kita akan sampai pada tempat tujuan.

Saya, mungkin kita semua  juga, sudah pasti (terlalu) sering mendengar, bahwa hidup di dunia adalah sementara saja. Ada yang lebih abadi, yaitu hidup kita sesudah mati.

Allah pun sudah mengingatkan dalam FirmanNYA :
"Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kemudian hanyalah kepada kami
kamu dikembalikan. ( QS. Al 'Ankabuut : 57).

Pada akhirnya hanya ada dua tujuan saja, tempat maha indah, taman surgawi yang dijaga Malaikat Ridwan atau tempat yang dalam Qur’an pun diceritakan sebagai tempat yang sanagt sangat mengerikan, yang  dijaga oleh Malaikat Malik. Naudzubilahi min dzalik. Semuanya tergantung pada apa yang sudah kita lakukan di dunia ini.
Hanya Allah yang Maha Mengetahui segala sesuatu,  untuk setiap apapun.  Termasuk kapan waktunya, dan dengan cara bagaimana kita akan dipanggil menghadapNYA. Semua Rahasia Illahi.
Kok jadi merinding ya ?

Saya, yang dari mulai kecil hingga kini, sudah teramat sering menyaksikan orang-orang sekitar, baik tetangga dekat, teman sekolah, adik teman sekolah,  bahkan mamah mertua saya, dipanggil mengahadap Sang Khalik dengan cara yang berbeda-beda. Ada yang melalui sakit sebentar, agak lama, lumayan lama, lama sekali, atau bahkan yang tanpa melalui sakit terlebih dulu. Usia yang juga beragam. Ada yang bayi baru lahir, usia remaja, orang dewasa, atau yang sudah bercucu.  Semua sudah ada ketentuannya. Bahkan untuk kejadian 5 menit ke depan, kita pun tidak akan pernah tahu. Tapi Allah, sudah menyuratkan.

Meskipun saya, juga kita sudah paham betul  dengan kalimat tarji’ Innalillahi wainna ilaihi raaji’uun, Sesungguhnya kita ini adalah milik Allah, dan pasti akan kembali kepadaNYA, tapi tak urung begitu mendengar kabar berita duka sampai ke telinga kita, pastilah reaksi awal adalah kaget, sedikit terhenyak, hingga  kemudian tersadar, mulut kita pun akan mengucapkan kalimat tarji’ itu.
Urip mung sak dremo mampir ngombe. Mung sak nyuk’an thok ! sak kepyaran thok ! Bakalane ana urip sing luwih suwe, sing luwih langgeng.  Pikiran saya melayang sesaat. Kalau kita akan melakukan perjalanan jauh saja, piknik umpamanya, atau mudik pulang kampung, pastilah bekal kita buat cemilan di perjalanan bisa sekantong segede gambreng. Belum air minumnya yang bisa sejrigen.

Selanjutnya yang menjadi pertanyaan adalah, bagaimana  kalau suatu saat, saya  atau kita dipanggil menghadapNYA, dan akan melakukan perjalanan maha panjang di akherat, sudah cukupkah bekal kita ? Padahal jelas dituliskan dalam Al-Qur’an,  bahwa sehari kehidupan di akherat adalah sama dengan 50.000 tahun kehidupan di dunia. Subhanallah…betapa betul-betuuuul urip ning donya  iki mung sak dremo mampir ngombe.  Mana ada  umur manusia  bisa sampai 50.000 tahun. Bisa melebihi usia kanjeng Nabi saja sudah Alhamdulillah wa Syukurillah. Bisa berkesempatan melahirkan, mendidik, mengasuh anak-anak kita dari bayi sampai mereka selesai sekolah tinggi, lebih Alhamdulillah. Bisa menyaksikan mereka menemukan jodohnya, bahkan sampai diberi kesempatan menimang cucu, Rabb…itu doa kami sepanjang waktu.

Wis cukup apa durung sangu kanggo urip ning akherat ? weleh…saya kok merasa  tertampar, sangu atau bekal saya ijik sak ndulit. Ijik sak cuil. Ijik mung sak kuku ireng. Ijik sithiiik banget ! Saya masih merasakan iri sekali dengan orang yang sholat dhuhanya tidak pernah lewat. Saya masih jauuuh dari bisa menyamai rekor orang yang tahajudnya tidak pernah hilang. Belum lagi puasa sunahnya yang tidak pernah putus. Juga sedekahnya yang tiada henti.

Saya sedang mengingatkan diri sendiri. Urip mung sak dremo mampir ngombe. Ora bakalan suwe. Jadi, selayaknya kita musti memanfaatkan waktu yang sangat sempit ini dengan sebaik-baiknya. Mungkin saya sudah harus semakin memperkuat prinsip, berbuat baik kepada semua orang, semampu kita.   Sekedar tersenyum ramah kepada orang lain, atau dengan senang hati berbagi ilmu sedikit yang kita punya. Berbuat sesuatu atau berkarya positif yang bisa membawa manfaat untuk orang banyak, meskipun sesuatu itu sangat sederhana.  Dan tidak lupa selalu berbuat amalan sholeh yang akan dicatat dalam tabungan akherat kelak.

Intinya, apabila saatnya tiba kelak, ketika Allah memanggil kita untuk datang menghadap, Insya Allah akan tertinggal  “jejak kaki “ yang indah, yang tidak akan pernah terhapus oleh waktu di setiap sanubari orang-orang kita ditinggalkan. Aamiin Aamiin Yaa Rabb….
 

1 komentar:

chenlina said...

polo ralph lauren
miami heat jerseys
oakley sunglasses
louboutin pas cher
louis vuitton outlet
kate spade handbags
celine handbags
beats headphones
coach handbags
louis vuitton uk
chenlina20170407

Post a Comment