Breaking News

06 February, 2012

TUHAN, LIHATLAH PERBUATAN SETAN (part two)


  Assalamualaikum,


Do you know I am weak if seeing your eyes..?
Do you know I am speechless if listening your speech..?
Do you know I am useless if accepting your help..?
Just because I love you so much..!
(..PIET..)



February,
Saya datang kembali ke klinik sakit jiwa di kawasan bogor.. Hal ini kulakukan untuk sekedar mengingatkan diriku sendiri bahwa saya tidak sendiri di dunia ini yang memiliki permasalahan, dan patut bangga bahwa aku masih bisa mengatasi semua permasalahan itu, walau dengan diiringi linangan air mata, degub jantung yang kencang serta renungan-renungan pada malam hari. Alhamdulillah Allah masih memberiku kekuatan untuk tidak mengotori pikiranku dengan pikiran yang kotor dan tidak mengotori tanganku dengan hal yang dilarang Allah..

“ Jangan pegaang.. aku tidak mau disini, aku mau anakku.. dasar lelaki kurang ajar.. “ tiba-tiba terdengan teriakan yang lumayan kencang, membuyarkan lamunanku. Ternyata yang berteriak adalah seorang wanita muda berusia awal 20 tahunan, cantik, badan proporsional dan berkulit bersih. Badannya sedang dipegangi 2 orang perawat agar tidak memberontak, dibelakangnya ada sepasang laki-laki dan wanita paruh baya, mungkin orang tuanya. Wanita paruh baya itu terlihat sedang menangis terisak-isak. Aku langsung bergidik ketika tanpa sengaja melihat ada bekas luka sayatan di lengan wanita muda itu. Astaghfirullah, seberat apakah masalah orang itu sampai berani melukai badannya sendiri, apalagi sampai mau mengakhiri hidupnya.

Sejam kemudian, pasangan suami istri tersebut keluar dari ruangan dan duduk di ruang tunggu, terlihat sekali gurat keletihan dan kesedihan di wajah keduanya. Bisa ditebak, mereka pasti tidak akan mengira bahwa putri yang mereka cintai ternyata kejiwaannya terganggu hingga harus dititipkan di klinik ini. Ya Allah, saya berdoa sekali lagi, mohon kemurahan hatimu agar meringankan beban mereka, berikanlah mereka kekuatan untuk mengatasi masalahnya..

Akhirnya, saya memberanikan diri untuk menyapa mereka, “Assalamualaikum pa, bu..” Mereka melihat saya dengan ramah dan sang istri langsung menjawab “Waalaikum salam mbak..” Awalnya saya hanya basa-basi berbicara dengan mereka, sampai akhirnya sang istri berkata kepada saya, “ mbak sudah berkeluarga..?” “Alhamdulillah sudah bu, dengan 2 orang anak..” Sang istri menghela napas dan berbicara lagi kepada saya, “hmm.. anak-anak sekarang benar-benar harus dijaga dengan ketat mbak, karena sekarang jamannya lain dengan jaman kita dulu.. Sekarang jaman edan, jaman kebebasan yang akhirnya kebablasan..”  Saya terdiam mendengar ucapan sang istri, memang benar, sekarang jaman edan, yang mengusung reformasi tapi kebablasan. Perampokan, perkosaan, korupsi sudah menjadi hal biasa di negeri ini. Sang istri tiba-tiba menangis pelan, sambil mengelap air matanya, dia bercerita kepada saya tentang peristiwa yang membuat putri tercintanya yang ternyata baru berusia 23 tahun itu harus mendapat perawatan di klinik ini, demi untuk menata kembali masa depannya.

Putri (nama samaran) adalah anak satu-satunya pasangan suami istri yang belakangan ku ketahui bernama bapak dan ibu Aryo. Si bapak adalah Kacab di salah satu bank swasta terkenal di negeri ini dan si ibu hanya ibu rumah tangga. Putri berusia 23 tahun, dia baru saja lulus SARJANA HUKUM dari salah satu perguruan swasta (juga terkenal) dan mendapat gelar CUM LAUDE dari kelulusannya. Menurut si ibu, Putri anak yang baik, pintar dan tingkahnya pun normal, dan menurut si ibu pula, sudah dididik secara agama dan demokrasi di rumah. Saat Putri berusia 15 tahun di SLTP, Putri dekat dengan salah seorang teman sekolahnya, kita sebut saja namanya Putra. Putra anak dari keluarga berada dan selama berteman dekat dengan Putri, tidak ada kelakuan aneh dan mencolok darinya, hingga pacaran cinta monyet itu direstui oleh orang tua Putri.

Ternyata cinta monyet itu berlanjut hingga mereka melanjutkan ke sekolah tingkat atas dan bangku perkuliahan. Tapi lagi-lagi orang tua Putri tidak terlalu mengontrol kegiatan mereka berdua, karena memang kelihatannya gaya berpacaran mereka berpacaran normal-normal saja, tidak ada yang aneh. Hingga pada 1 tahun lalu, Putri dan Putra terlihat bertengkar di dalam mobil Putra, yang kebetulan diparkir di depan rumah Putri, namun orang tua Putri menganggap itu hanya pertengkaran orang yang berpacaran biasa. Putri langsung keluar dari mobil Putra dan mengunci diri di kamar.

Esok paginya, hingga pukul 8 pagi, Putri tidak terlihat keluar dari kamarnya dan itu membuat khawatir kedua orang tuanya. Si bapak berinisiatif mendobrak pintu kamar Putri dan Astaghfirullahal’adzim.. Putri ditemukan pingsan di kamarnya dengan tangan bersimbah darah, ternyata Putri berusaha membunuh dirinya dengan cara menyayat nadinya sendiri. Orang tua Putri langsung membawa Putri ke rumah sakit, dan menurut diagnose dokter, tidak ditemukan indikasi penyakit apapun, Putri hanya diobati lukanya dan diperbolehkan pulang kerumah dengan catatan harus berobat ke Psikiater/Psikolog.

Sesampai dirumah, Putri langsung diinterogasi oleh kedua orang tuanya. Putri yang tadinya terdiam seribu bahasa, akhirnya mengaku bahwa dirinya telah putus dengan Putra, dan yang lebih parah lagi, 3 bulan yang lalu atas permintaan Putra, Putri telah menggugurkan kandungannya yang berusia 3 bulan. Pengakuan tersebut jelas membuat shock kedua orang tuanya, yang tidak mengira putri semata wayangnya tega berbuat aib yang jelas dilarang oleh agama. Saat itu pula Putra dipanggil untuk dimintai pertanggung-jawaban atas perbuatannya terhadap Putri, namun semua itu terlambat, karena pada pagi hari Putri ditemukan pingsan dikamarnya, Putra langsung terbang ke Malaysia untuk melanjutkan sekolahnya. Ternyata hal ini sudah direncanakan Putra karena dia tidak mau bertanggung jawab atas perbuatannya terhadap Putri. Belakangan hari, ada kabar bahwa Putra memutuskan Putri karena Putra kepincut perempuan lain.

Sepeninggal Putra, Putri mengalami depresi berat, selama 1 tahun itu Putri berulang kali berusaha bunuh diri dan berulang kali pula orang tuanya membawa Putri berobat ke beberapa Psikiater ternama di ibu kota. Tapi Putri tidak kunjung sembuh. Dan yang paling parah, setiap melihat anak bayi yang sedang digendong, Putri langsung merebutnya dan bilang itu adalah anaknya yang hilang.

“ Sejak itu pikiran Putri tidak pernah normal kembali mbak, padahal sudah kami bawa berobat ke Psikiater manapun di Jakarta.. “ ujar sang ibu sambil kembali mengelap air matanya, dan sang bapak menggenggam erat jemari tangan si ibu. Terlihat pula linangan air mata di wajahnya. Si bapak berkata “ sepertinya perpisahan Putri dengan Putra tidak terlalu membuat Putri depresi mbak, yang paling membuat dia depresi adalah penyesalannya karena telah melakukan aborsi. Hampir tiap malam dia berteriak-teriak berkata maafkan aku nak.. Saya benar-benar tidak mengira mereka mampu melakukan hal kotor tersebut, karena kami berulang kali memberikan pendidikan agama dan seks terhadap Putri agar tidak melakukan hal tersebut sebelum menikah, karena itu sangat dilarang agama.. “ Sang bapak menghela napas dan melanjutkan “tapi ternyata cinta dan napsu bisa mengalahkan segala yang telah kami ajarkan.. kami gagal mendidik anak semata wayang kami untuk menjadi wanita soleha..” 5 menit kemudian bapak dan Ibu Aryo pamit kepada saya untuk menjenguk Putri di ruangannya sebelum mereka kembali pulang ke rumahnya. Saya menggenggam erat tangan mereka sambil berkata “ sabar pa, bu.. Allah Maha Melihat, Maha Mendengar dan Maha Pengampun.. Teruslah berdoa untuk kesembuhan Putri, Insya Allah dengan doa dan kasih sayang dari bapak ibu, Putri akan tersadar dari kesalahannya dan sembuh dari segala penyakitnya. Insya Allah bisa menemukan jodoh yang soleh dan bisa menjadi imamnya kelak..”

Sepeninggal mereka, diriku termenung, Ya Allah, sebegitu dahsyatkah perasaan cinta yang katanya bisa mengalahkan segalanya..? Anak-anakku dan juga anak-anakku diluar sana, saya berdoa untuk mu nak, agar hari-harimu selalu terus jauh dari segala godaan syaitan yang terkutuk. Para orang tua, mari kita menjaga anak-anak kita dengan sepenuh hati, kita tanamkan pendidikan agama dan kasih sayang kepada anak-anak kita. Insya Allah mereka akan tumbuh menjadi anak-anak yang soleh dan soleha serta bisa menjaga harkat dan martabat keluarga.. amin.. amin.. amin..


Wassalam,






0 komentar:

Post a Comment