Breaking News

21 February, 2012

Tugas Pertama - Curi-curi Waktu Senggang

By Istiqomah Ps  

     Ayi terduduk lemas di tepian tempat tidurnya. Raut mukanya kusam. Matanya sembab karena hari ini ia menangis lagi. Siang itu, sedang tidak ada orang di rumah. Ibu, ayah, dan kakak lelakinya sudah pergi ke kantor sejak jam tujuh tepat. Jam dinding di ruang tengah berdentang. Ia mengambil handphone dengan malas. Pukul 10.00. "Aku bangun kesiangan lagi", gumamnya. Ayi masih belum akan beranjak dari kamarnya, ketika ia teringat belum menuntaskan sebuah buku berjudul "Tahajud Energi Sejuta Mukjizat". Beberapa bulan terakhir ia memang terbiasa menghabiskan waktunya dengan membaca. Ia tidak hanya membaca, ia juga menelaah sesuatu. Berharap ada pencerahan dalam hidupnya. Ia membaca buku, koran, majalah, artikel di internet, juga notes di facebook. Ia membaca semua itu sepanjang hari hingga larut malam.

     Ayi adalah lulusan sebuah universitas negeri terkenal di Surabaya. Masa studinya hanya 3,5 tahun dengan nilai yang cukup memuaskan dan prestasi yang membanggakan. Dia mendahului hampir seluruh mahasiswa angkatannya untuk di wisuda. Orang tuanya bangga sekali. Sebelum di wisuda ia bahkan sudah mengikuti interview di salah satu bank terbesar. Selepas wisuda ia masih terus mengirimkan surat lamaran kerja ke banyak instansi maupun perusahaan baik via pos maupun surat elektronik. Ia bergabung banyak milis pencari kerja. Ia juga mengikuti beberapa tes CPNS, seperti yang disarankan orang tuanya. Pendek kata, ia hampir telah mencoba semua cara untuk mendapatkan pekerjaan yang sesuai ijazahnya.

     Kini sudah hampir setahun, Ayi menjadi seorang pengangguran. Ia merasa bersalah sekali pada orang tuanya. Dimana diusia yang menginjak 23 tahun, ia masih menjadi tanggungan orang tua. Ia mulai merasa minder. Teman-temannya yang baru saja lulus, justru mendapat pekerjaan semudah membalik telapak tangan. Ia sedih dan semakin sedih. Telah beberapa interview  ia lalui dan tak kunjung ada panggilan kerja. Ayi mulai meragukan dirinya. Ia merasa rendah diri.

     Suatu waktu orang tua Ayi memberikan kesempatan padanya untuk melanjutkan kuliah. Tapi, hal tersebut terasa berat bagi Ayi karena di tahun yang samai ayahnya pensiun. Dan itu berarti akan lebih memberatkan ibunya untuk menyediakan dana kuliah. Ia pun memutuskan untuk tidak menerima tawaran kedua orang tuanya. Ia berkata bahwa dirinya hanya akan kuliah jika ada beasiswa atau kesempatan lain.

     Dua hari yang lalu, ibunya mengetahui bahwa Ayi lebih sering tidur larut. Saat terbangun, beliau mendengar suara isak tangis putrinya. Setelah sholat shubuh, Ayi mendapati ibunya memanggil dan menyarankan Ayi untuk membaca sebuah buku tentang tahajud. "Nduk, berbaik sangkalah pada Allah. Dia selalu punya rencana terbaik bagi tiap hamba-Nya. Sebaiknya, bacalah buku itu agar kau lebih mantap untuk menjalankan tahajud."

     Ayi membuka-buka halaman buku tersebut. Desain sampulnya kurang menarik. Penerbitnya juga tidak terlalu ia kenal. Tapi sepertinya dia pernah mendengar nama penulisnya, Muhammad Thobroni. Ia pernah membaca judul buku lain yang juga di tulis oleh penulis yang sama, di sebuah toko buku langganannya. Tapi, ia masih lemas. Kebiasaannya tidur larut, membuat Ayi agak bermalasan saat pagi hari. Ia pun hanya membaca daftar isi buku, lantas meletakkannya kembali di sebelah bantal. Keesokan harinya juga masih begitu. Ia hanya membaca beberapa komentar pembaca di halaman depan.

     Tetapi, siang itu. Meski dalam kondisi yang lemas dan mata yang sembab, ia merasa begitu berminat menuntaskan isi buku yang diberikan ibunya. Ia bergegas mandi dan sarapan. Ia sudah siap untuk membaca buku tersebut. Azan dzuhur di masjid sudah mulai diperdengarkan, saat Ayi sampai pada halaman terakhir. Yah, saat sebuah tulisan itu cukup menarik, semua orang pasti akan memahami sesuatu dengan mudah. Demikian pula yang terjadi pada Ayi. Buku yang sebelumnya terlihat biasa saja, ternyata berisi hal-hal yang luar biasa. Tentu saja, ia mampu menyelesaikannya dengan cepat. Selepas membaca, ia segera berwudhu dan sholat dzuhur. Ia berdoa, meminta pada-nya agar memberinya kesempatan untuk bangun tahajud. Meski ia sadar harus mencuri waktu yang biasa ia gunakan untuk membaca dan menelaah.

     Menit berganti jam. Siang berubah menjadi malam. Ayi pun tidur lebih awal. Ia meninggalkan aktifitas rutinnya, membaca hingga larut malam. "Ini semua demi diriku sendiri. Tak ada yang mampu menolongku selain Allah. Semoga Allah meridhaiku bangun untuk bertahajud malam ini", doanya menjelang tidur.

     "Tiitt..Tit..Tiitt..Tit..", Ayi terbangun oleh alarm handphone miliknya. Waktu menunjukkan pukul dua petang. Ia bergegas bangun. Kali ini ia harus benar-benar bisa bertahajud. Ayi pun segara pergi berwudhu sebelum rasa malas menggelayutinya. Ia membeber sajadah dan melaksanakan sholat tahajud. Tidak banyak, hanya dua rokaat saja malam itu. Ia lantas menutupnya dengan sholat witir dan membaca beberapa ayat Al-qur'an, sesuai yang dianjurkan dalam buku yang ia baca siang tadi.

     "Subhanallah, wahai Allah, ampunilah dosa-dosa hamba. Bimbinglah hamba senantiasa menuju jalan-Mu yang lurus yang Kau ridhai. Hamba mohon petunjuk dan pertolongan-Mu yaa Rabb atas tiap-tiap urusan hamba", air matanya mulai meleleh. Ia mengingat semua hal yang telah terjadi dan menelaahnya satu-persatu. Ia merasakan betapa lalai dirinya selama ini. Seharusnya dalam kondisi apapun, dirinya harus tetap bersyukur. "Bukankah kesehatan, kasih sayang dari keluarga selama ini adalah nikmat dari-Mu yaa Rabb? Mengapa aku lalai untuk bersyukur? Allah, Engkau bahkan memberikan nikmat itu dalam kurun yang lebih lama, ketimbang cobaan yang kualami kini", Ayi tertunduk. Ia tak mampu membendung luapan batinnya. Ia merasa begitu lepas malam itu.

     Selepas sholat ia merasa lebih tenang. Ia teringat isi buku yang ia baca. "Benar adanya yang disampaikan penulis buku itu, bahwa justru ketenangan macam ini yang kubutuhkan", gumamnya. Keesokan hari, Ayi pun merasa lebih segar. Tidak masalah baginya untuk mencuri waktu untuk melaksanakan tahajud kembali. Ayi benar-benar merasakan manfaat dari tahajud. Ia yakin bahwa ia pasti mampu melewati segala coban dari-Nya, asalkan terus berdoa dan berikhtiar. Ia berjanji untuk memperbaiki kelalaiannya selama ini. Ia pun menghadapi hari-harinya lebih optimis sambil terus berharap kasih sayang Allah.(by istiq'11)

0 komentar:

Post a Comment