Breaking News

15 February, 2012

Translation-Gap (tulisan yang ga nyambung saat suhu tubuh juga limbung)




Saya masih harus istirahat (ternyata). Merasa badan sudah sehat pasca typus ternyata salah besar. Merasa sanggup makan apapun asal perut penuh lebih salah lagi. Maka di sinilah saya, terkurung di rumah tipe 27 belum renov, 2 kamar, dan untungnya dikelilingi buku-buku kesayangan. Saya hanya keluar jika mengurus yang berhubungan dengan kampus. Iya, kampus, tempat yang masih harus saya datangi selama 5 bulan ke depan (setidaknya jika langsung lulus, jika tidak berarti lebih lama lagi).

Karena tidur terus itu membosankan, makanya saya tidak selalu melakukannya. Jika suhu badan lumayan stabil, saya akan mandi (kalau tidak cuma ganti baju dan berharap tak ada orang yang mengunjungi karena mungkin dia akan dapat meengendus saya dari jarak 10 meter). Selesai itu, saya akan mengotak-atik laptop; oh, bukan mengerjakan thesis, bukan; saya tidak se-rajin itu (*keluh*), melainkan memeriksa folder berisi puluhan film yang ada di sana. Dan saya akan menonton film sendirian sampai ketiduran (lagi).

Namun film takkan lama, karena buku akan bersifat lebih abadi di tangan saya. Seperti sekarang, saya sedang membaca ulang twilight series karena seminggu ini entah kenapa stasiun TV Star Movies memutuskan untuk menayangkan ulang ketiga film Twilight-New Moon-Eclipse. Maka, tak peduli tanggapan siapapun terhadap saya; karena pernah ada seorang teman menyatakan kekecewaan-nya karena ia tak menyangka saya akan menyukai 'kisah-kacangan' macam twilight. Ah, biarkan sajah .. toh menulis sendiri kisah macam itu juga saya belum sanggup, jadi minimal menyukai dan menikmatinya sudah saya anggap sebagai apresiasi terhadap Stephenie Meyer (penulisnya-FYI).

Speaking of books, yang takkan habis-habisnya kalau dengan saya; saya ternyata mesti mengakui bahwa saya pembaca yang rewel. Saya tidak suka buku yang terlalu bertele-tele, terlalu melodramatis bikin airmata berderai-derai setiap dua halaman (makanya saya ga pernah suka buku Harlequin yang sangat banyak serinya itu), terlalu banyak gambarnya (ini novel apa komik seeh?), terlalu mengada-ada (tanpa riset misalnya kalo tentang fksi ilmiah), dan .. yang paling sering mengganggu adalah ; jika itu buku terjemahan yang terjemahannya GA ENAKEUN.

Kalo ada penulis yang baca ini mungkin langsung memaki-maki saya. Siapa elo? Penulis beneran juga bukan?!! Berani-berani-nya ngeritik orang seenak udel begitu ...
meureun ..

heuheu.

Urusan terjemahan menjadi masalah yang cukup pelik bagi saya (sambil mengerutkan kening untuk membuat efek dramatis yang romantis abis). Saya sampe pernah di suatu masa memutuskan tak mau lagi membaca novel terjemahan jika bukan dari penerbit tertentu. Jika orang mengatakan, "eh novel itu bagus loh", saya nunggu dulu sampe saya lihat penerbit mana yang terbitkan itu buku, jika bukan penerbit yang 'itu', udah deh saya ga akan lirik lagi.

Abisnya, saya sudah sering kecewa.

Dulu ada sebuah novel karangan James Redfield (kalau tak salah) judulnya Celestine Prophecy (juga kalo tidak salah). Orang bilang itu buku bagus banget, sampe saya bela-belain pinjem ke taman bacaan kesayangan jaman saya kuliah. Pas saya baca, Onde Mande, jangankan bagus, ngerti aja kagak. Saya sampe bingung. Susunan kata-kata disana tak ada yang salah, tak ada yang cetakannya ngacak atau ada huruf-huruf yang hilang. Dan saya bukan penderita disleksia. Jadi apa pula ini?

Tak lama setelah itu (setelah saya memutuskan si Redfield tanpa belas kasihan), saya ngobrol dengan salah seorang sahabat (yang menurut saya salah satu orang paling cerdas yang pernah saya temui). Ia memuji buku Redfield dan membuat saya bengong karena ia sanggup menceritakan isi sebenarnya dari buku itu.

Busyeet ..
Sempat saya mengalami "ketersinggungan-intelektualitas", halaah. Masa sih saya sebodoh itu sampai tidak bisa memahami buku itu. Penasaran coba saya cari bukunya lagi dan kebetulan dapet yang original versi aslinya. Dan alhamdulillah pemirsa, sedikit demi sedikit terkuak juga itu belenggu 'intelektualitas'. Hehe.

Mungkin akan banyak orang mengganggap saya sombong karena sering mengaku tidak memahami bahasa sendiri. Seperti banyak sahabat saya di tempat kerja yang ngeledek mati-matian soal itu. Tapi mau gimana lagi? Saya memang sering mengalami 'translation-gap' padahal jadi penerjemah yang bagus juga belum saya teh.

Terakhir, waktu orang-orang ribut mengenai The Alchemist-nya Paulo Coelho, hal yang sama terjadi. Saya sampe pusing memikirkan 'oh mungkin memang daya logika-ku belom nyampe situ', tapi lagi-lagi setelah membacanya dalam versi inggris, karena versi aslinya konon bukan berbahasa Inggris, baru deh saya dikasih hidayah lagi.

Hingga kini, jika berkesempatan, saya suka membuka Al-Qur'an terjemahan Inggris yang dihadiahkan seseorang pada saya. Membaca terjemahan surat Al-Ikhlas saja sudah bisa bikin saya merinding dan ingin nangis rasanya. Saya tak tahu bagaimana menggambarkannya, namun yang saya rasakan adalah terkadang memang bahasa 'orang lain' cenderung lebih kaya dan lebih dalam jika menggambarkan segala sesuatu.

Mungkin orang bisa menyebut saya tidak-nasionalis, yang memang tidak-benar. Saya menyukai bahasa Indonesia dan salut sama para ahli bahasa Indonesia yang hingga hari ini masih berusaha mengembalikan 'kejayaan' bahasa Indonesia ke arah yang tidak 'alay' dan 'lebay' (jadi teringat teks panjang-panjang yang suka muncul di soal ujian). Namun mungkin yang ingin saya soroti di sini adalah masalah 'gap' yang terjadi antara dua bahasa. Menerjemahkan satu bahasa ke bahasa lainnya tidak cukup hanya dengan menerjemahkan per kata, seperti yang dilakukan oleh software terjemahan. Lebih luas lagi, menerjemahkan berarti mentransfer seluruh gagasan penulis ke bahasa lainnya sekaligus juga memadankan unsur 'bentrok-budaya' yang terjadi antara dua bahasa tersebut.

Ah, suatu saat saya ingin menulis mengenai budaya-dalam-terjemahan ini. Betapa sebenarnya kita tak semena-mena begitu saja menerjemahkan sebuah frasa ke dalam bahasa lain, semisal:
"Waktu saya datang ke rumah Bapak, tidak ada siapa-siapa"
diterjemahkan menjadi:
When I go to your house, there is no who who

(yang di atas betulan terjadi, kapan-kapan saya ceritakan)

Duh teman (jika ada yang berkenan membaca), maafkan saya, jika tulisan ini terlalu panjang dan hanya berisi keluh kesah saja. Tapi sudah lama saya ingin menulis mengenai ini. Mohon maaf juga bila ada yang tersinggung.

Saya selalu seperti ini. Tulidan nge-gantung ga jelas.
Tapi sekarang teh saya mesti istirahat lagi. Suhu badan saya menghangat lagi.
Mungkin kalau di komplek tetangga sedang ada vampir, sebentar lagi saya berubah jadi werewolf.
*masih-terpengaruh-twilight-series-beuuh*

Salam.


0 komentar:

Post a Comment