Breaking News

23 February, 2012

Tiga Semester Warna-Warni


Trimester Pertama: Warna Cemas
“Jadi gimana, Tante?”
“Berdoa aja, semoga bayi kamu gapapa. Pengaruh obat ini antara lain bikin efek maskulinitas menonjol pada perempuan dan sebaliknya.” Ya Allah...lemas aku mendengarnya.  Ini kehamilan pertama dan aku mendengar ‘vonis’ mengerikan untuk calon bayiku.
Aku tak pernah mengira diriku hamil pada bulan itu sebab menstruasiku tetap datang. Hanya saja, darah yang keluar sedikit dan jarang. Berupa noda-noda cokelat saja. Cukup membuatku curiga. Sayangnya, kecurigaan itu datang terlambat. Andai aku tahu sejak awal, pasti kuhentikan pemakaian obat-obat asma, Mendengar penuturan tanteku yang seorang dokter umum, membuatku gundah. Akan seperti apa bayiku kelak? Perempuan dengan rambut yang lebat di kaki dan lengan? Atau lelaki tapi kewanita-wanitaan? Sedihnya tak terkira membayangkan berbagai kemungkinan buruk tersebut. Kekhawatiranku akan efek obat asma pada kandunganku pelan-pelan kutepis, kuganti dengan pasrah.
Ketika kuperiksa ke dokter kandungan, ternyata kandunganku telah berusia tiga minggu dan noda-noda cokelat masih terus keluar meski sedikit. Suatu hari, noda cokelat itu berubah menjadi darah segar seusai menunaikan hubungan sebagai suami istri. Membuatku panik dan menangis ketakutan. Ya Allah...ada apa dengan bayiku? Aku yang saat itu berumur 22 tahun dan kurang ilmu, mendapat penjelasan dokter bahwa kehamilan trimester pertama harus dijaga hati-hati, termasuk ketika berhubungan suami istri. Aku pun diberi obat penguat rahim. Noda-noda cokelat pun semakin berkurang dari hari ke hari.
Di trimester pertama ini, suamiku akan pindah kerja ke Singapura. Praktis aku pun ikut ke sana. Tentu saja aku senang bisa mengikuti suami pindah yang berarti kami akan hidup seatap setelah setahun lamanya menjalani long distance love. Aku belum pernah ke Singapura. Belum tahu cuaca di sana, makanan khasnya, gaya hidup penduduknya dan aku akan menjalani semua itu dalam keadaan hamil muda. Alangkah naifnya diriku karena mengira semua akan berjalan baik-baik saja.
Usia kandunganku baru dua bulanan ketika kaki kami menjejak di Singapura. Masa ketika mual, muntah dan pusing masih jadi rutinitas harian. Makanan enak menurut orang sana, terasa aneh di lidahku. Pernah, pemilik rumah yang kamarnya kusewa, menawarkan rendang. Air liurku tak dapat ditahan mendengar kata rendang. Terbayang nikmatnya makan nasi hangat dan rendang. Tapi, baru suapan pertama, rendang yang tadi nampak menggoda justru ‘nyangkut’ di kerongkonganku. Perutku bergejolak ingin muntah. Pernah juga, kolega suami mengundang kami  untuk makan malam bersama. Kami diundang ke sebuah seafood restaurant di East Coast Park. Pusing, mual dan muntah mendadak hilang demi melihat aneka makanan laut terhidang di meja. Aku juga heran sebab bisa memakan semuanya tanpa rasa eneg. Kemana perginya mual muntahku? Keherananku terjawab ketika kami pulang. Di sepanjang perjalanan, mual menyerang lagi. Begitu sampai rumah, toilet adalah tempat pertama yang kusambangi. Di basin, aku muntah-muntah. Alangkah sedihnya hatiku saat melihat isi muntahanku: semua hidangan laut yang tadi kusantap!


Trimester Kedua: Warna Bandel
Di masa ini, mual muntahku mulai berkurang. Jadi, hampir semua makanan kusantap. Es krim salah satunya. Kenikmatan menjilat es krim setelah sekian lama tak melakukannya, mengalahkan akal sehat bahwa aku harus menjaga dietku agar asmaku tak kambuh. Ternyata, aku harus membayar mahal untuk kebandelanku ini.
Saat itu, aku baru pindah rumah. Lazimnya orang yang pindah rumah, pasti beberes rumah yang berdebu dan berantakan. Di saat seperti itu, seharusnya aku lebih waspada menjaga kesehatanku. Tapi, yang namanya godaan, susah ditepis. Hari itu,  setelah merapikan rumah, aku memanjakan diri dengan makan es krim. Mungkin karena terpapar debu, mungkin karena lelah, es krim memicu pilek dan sesak napas pun menyerangku. Jika sedang tak hamil, mudah saja meng’hajar’ asmaku, cukup telan obat-obatannya. Namun, aku tengah hamil. Tak sebutir obatpun berani kumakan. Dengan sangat terpaksa kuhirup bronchodilatorku. Rupanya, hirupan itu tak menolong sebab bukannya sembuh, serangan asma menjadi-jadi. Aku dilanda panik. Aku tak mengkhawatirkan diriku melainkan janinku. Biasanya, aku merasakan geraknya yang aktif, tapi mengapa sekarang ia diam? Ada apa dengan bayiku? Ketakutan merambati hatiku. Sementara itu, serangan asma tak juga surut.
Aku yang baru beberapa bulan di Singapura, tak tahu sikon, harus ke dokter atau ke rumah sakit. Aku menelepon suami namun suamiku nampaknya tengah sibuk karena tak berhasil kuhubungi. Dalam kepanikan, aku teringat seorang teman baru, sesama warga negara Indonesia yang baru kukenal dua bulan lalu. Tanpa pikir panjang, kuhubungi dirinya dan memohon kesediaannya untuk ke rumahku saat ini juga. Alangkah baik dirinya, sebab tak lama kemudian, ia tiba di rumahku sambil menggendong bocah balitanya. Dengan bantuannya, aku dibawa ke rumah sakit terdekat. Airmata haru mengiringi kepergianku ke rumah sakit (yang justru membuat sesak di dadaku semakin hebat). Ternyata, aku tak sendiri di negeri orang. Pertolongan Allah sampai kepadaku lewat seorang teman baru. Alhamdulillah, suamiku pun bisa dihubungi. Ia pun segera menyusul ke rumah sakit. Pihak rumah sakit sigap menolong. Aku segera didudukkan di kursi roda lalu dinebulizer. Seiring meredanya sesak, aku merasakan gerakan-gerakan lagi di perutku. Diam-diam aku bergumam, “Maafkan Ummi ya, Nak...” karena kedegilanku, bayi dalam kandunganku ikut terkena dampak serangan asma.


Trimester Ketiga: Warna Harapan
Aku semakin enjoy menjalani kehamilan. Meski tak bisa dipungkiri, ada cemas yang menyelip dalam hati mengingat persalinan kelak. Akankah aku melahirkan dengan normal atau caesar? Akankah aku selamat? Juga berbagai pertanyaan lain yang berseliweran di benak. Aku dan suami memutuskan agar aku melahirkan di kampung halaman.
Waktu itu, hampir tujuh bulan usia kehamilanku. Dengan mengantongi surat keterangan dokter, aku melangkah mantap ke maskapai penerbangan yang akan membawaku ke tanah air. Ketika check in, surat itu diperiksa dan dinyatakan tak valid lagi. Aku memang mendapatkan surat tersebut lebih kurang sebulan sebelum hari keberangkatanku ini. O...o, bagaimana ini? Beberapa waktu lagi pesawatku akan lepas landas. Tak ada pilihan, aku dan suami bergegas menuju klinik yang ditunjuk pihak bandara untuk memeriksa kehamilan dan mendapat surat keterangan usia kandungan dari dokter jaga di sana.
 Aku yang tengah hamil besar dan dikejar waktu, berjalan setengah berlari mencari-cari klinik itu. Whuah...capek dan deg-degannya itu, lho. Alhamdulillah, klinik itu pun ditemukan. Ia terletak di basement. Dari hasil pemeriksaan, diketahui usia kandunganku hampir delapan bulan! Hey, bagaimana mungkin dokter kandunganku salah menghitung? Atau aku yang salah menghitung? Entahlah, tak sempat aku memikirkannya. Sebab, yang terpenting saat ini adalah apakah aku boleh terbang?
Hatiku riuh rendah berdoa ketika surat dokter kuangsurkan ke pegawai check in. Rasanya ingin bersorak begitu mengetahui ia mengijinkanku untuk tetap terbang. Tak sia-sia perjuanganku dan suami ngudar-ngider mencari klinik demi mendapatkan surat dari dokter. Harapanku melahirkan di tanah kelahiran akan menjadi kenyataan.
Proses kehamilan pertama yang membuat hidupku berwarna-warni. Sarat hikmah, pesan dan pelajaran. Tapi, sungguh, meski kehamilanku tak terlalui dengan mulus, aku tetap bahagia menanti kehamilan anakku yang kedua lima tahun kemudian.

0 komentar:

Post a Comment