Breaking News

23 February, 2012

Tetap Cerdas Walau Dijuluki ‘Ratu Chatting’

By Evi Andriani  

            Delapan tahun yang lalu ada sebuah kenangan unik yang tidak akan pernah aku lupakan. Kisah klasikku semasa SMU bersama teman-teman di ‘kelas unggulan’. Mungkin kedengaran aneh ya, karena zaman sekarang jarang ada yang memakai cara penempatan siswa berprestasi dalam satu ruangan kelasdianggap terlalu diskriminatif.
            Ketika memasuki kelas tiga, guru membagikan siswa-siswanya ke dalam beberapa kelas di mading pengumuman. Saat membaca pengumuman itu, aku terkejut karena terpilih masuk di kelas III IPA 1kelas yang terdiri dari siswa-siswa berprestasi dengan segala kelebihan yang mereka kuasaisungguh membuatku terpukau. Aku seperti bermimpi memasuki taman surga yang cantikpenuh dengan bunga-bunga yang harum. Suasana rapi, ruangan besar dan indah sehingga nyaman untuk belajar di dalamnya.
            Suatu kebanggaan bagiku bisa meraih posisi tersebut dan ketemu dengan orang-orang hebat alias pintar dan cerdas. Awal memasuki kelas sangat terasing bagiku. Karena kemampuanku hanyalah biasa-biasa saja. Tapi mereka semua kelihatan sangat baik dan mulailah kita bertegur sapa.
            “Nama saya, Evi. Kamu siapa?”
            “Aku, Herna”
            Begitu seterusnya saling memperkenalkan diri. Setiap siswa memiliki kesukaan pelajaran yang berbeda-beda. Bahkan cita-citanya juga berbeda-beda. Aku pun mengatakan hobi suka chatting kepada teman-teman di kelas. Ternyata yang hobi chatting masih kurang peminatnya. Bahkan ada teman yang memberi nasehat padaku.
            “Vie, buat apa sih kamu main chatting. Nggak ada manfaatnya. Berteman semu di dunia maya, nggak menarik. Buang-buang waktu saja”
            Sedih kurasakan saat itu, bukan hanya satu atau dua orang saja yang mengatakan tentang keburukan dunia maya tapi berpuluh orang mengatakannya dan mengolok-olok diriku. Aku kadang menangis dalam kesendirian. Akan tetapi aku selalu percaya pada Allah bahwa Dia akan memberikan yang terbaik padaku. Dia akan memberikan aku banyak sahabat dari Sabang hingga Merauke. Bahkan sampai ke luar negeri. Aku tak pernah bosan untuk selalu berdo’a pada Allah terutama pada shalat di sepertiga malam terakhir agar aku diberikan banyak teman, diberikan ilmu yang bermanfaat dan dierat tali persaudaraan yang indah dari tiap-tiap umat beragama. Mungkin aku termasuk salah satu orang yang kecanduan internet tapi tak pernah melupakan kewajiban dan melakukan hal-hal yang bermanfaat. Rasulullah mengajarkan kepada umat untuk menjalin silaturrahmi dan selalu optimis dalam berbuat kebaikan bagi semua orang. Itulah yang selalu kuterapkan dalam hidupku. Alhamdulillah do’aku terkabul dan aku diberikan banyak sahabat dari dalam negeri maupun mancanegara.
***
            Karena aku sangat gemar berinternet ria maka pulang sekolah kusediakan waktu satu jam untuk mampir ke warnet. Dulu aku belum mengenal yang namanya modem. Aku juga belum memiliki handphone yang bisa GPRS untuk berinternet ria seperti sekarang ini. Handphone-ku hanya bisa terima telpon dan SMS saja. *Gaptek banget ya diriku*
            “Vie, mau ke mana?”
            “Mau ke warnet?” jawabku dengan wajah senyum
            “Tapi nanti jam tiga balik ke sekolah lagi ya. Kita ada bimbingan les dengan guru matematika. Kan kamu suka matematika, jangan lupa hadir, OK.” Temanku terlihat cemas dan selalu mengingatkanku karena takut aku lupa ada jadwal belajar bersama guru sekolah ketika keasyikan chatting di warnet.
            Kulihat jam menunjukkan pukul 14.30, aku pun berhenti internet ria. Saat kumenuju sekolah, teman sebangku aku telah menanti kehadiranku di depan pintu gerbang sekolah.
            “Ada apa, Dila? Aku udah tiba tepat waktu ke sekolahkan. Jadi tak usah cemaskan aku. Macem kamu nggak tau aku saja,” kilahku pada sahabat karibku di sekolah
            “Ya, aku tahu. Aku takut kamu lupa karena keasykan chatting”
            Chatting, email dan mencari ilmu pengetahuan sudah mendarah daging di tubuhku. Pagi, siang, malam aku sempatin ke internet 1 jam.
            Tapi semua itu tidak mempengaruhi nilaiku. Aku masih tetap masuk 5 besar bahkan pernah meraih 4 besar. Walaupun waktu di kelas dua aku memperoleh peringkat rangking satu. Tapi inilah persainngan bersama orang-orang cerdas. Itu sudah cukup membanggakan bagiku.
            Ah ... lagi-lagi UAN (Ujian Akhir Nasional) menjadi boomerang bagi teman-temanku. Mereka selalu bertanya kepadaku.
            “Evi, nilai kamu kok bisa berada pada posisi aman trus ya. Padahal kamu tiap hari chatting bahkan kamu kami juluki ‘Ratu Chatting’, bagi dunk kiat-kiatnya?” tanya temanku.
            Aku membalasnya dengan senyuman kembali, “Gini frend, Evi biasanya membagi waktu sesuai jadwal dengan tepat baik les di sekolah, les di lembaga bimbingan maupun aktivitas organisasi lainnya. Aku pun sering menjawab soal-soal di rumah sebelum pelajaran di mulai di sekolah. Semua Lembar Kerja Siswa (LKS) telah kujawab. Soal-soal pelajaran fisika, matematika telah kubahas dengan tentor-ku di bimbel sebelumnya. Jadinya aku tinggal santai di kelas. Di suruh guru jawab soal maka kujawab.”
            “Oh begitu ya”
            Saat ujian UAS tiba, hatiku nyantai saja. Pulang sekolah seperti biasa mampir ke warnet sebelum beraktivitas lainnya. Karena dahulu aku bercita-cita ingin puny abanyak teman dari berbagai provinsi dari sabang sampai merauke. Ntah mengapa teman yang kuperoleh semuanya baik-baik. Belum lagi saat chat, aku sering bertausiah, ibaratnya berdakwahlah dikit-dikit J.
            Begitu juga saat UAN tiba, hatiku riang gembira, tiada ketakutan yang terjadi. Santai dan tenang. Karena sebelum hari H, aku sudah belajar mencicil satu persatu.
            Teman-teman pada tidak percaya dengan aktivitas semuku. Mereka bilang bahwa teman dari dunia maya itu tidak ada yang benar bahkan semua palsu penuh kebusukan. Ntah mengapa aku berhasil buktikan pada mereka bahwa sahabat-sahabtku di luar kota banyak dan bagus-bagus. Aku tunjukkan surat-suratku dengan temanku dari berbagai provinsi dan belahan dunia. Bahkan kadang-kadang teman-temanku membantu menyelesaikan tugas-tugasku. Sejak saat itu seluruh teman percaya bahwa dunia maya tidaklah semua buruk. Mereka idak lagi mencaciku bahkan memujiku karena aku masih bisa berprestasi. Aku masih bisa berkarya. Aku mendapat banyak ilmu pengetahuan dan wawasan.
            Seperti apa kita hari ini adalah buah dari mimpi kita kemarin. Bagaimana kita besok, adalah gambaran dari mimpi kita hari ini, dan seterusnya. Mimpi/cita-cita kita akan membentuk cara dan jangkauan fikiran kita, cepat dan kesungguhan gerakan kita, dan seterusnya dan seterusnya. Semakin besar mimpi/cita-cita kita, semakin besar dan jauh yang kita fikirkan, yang kita lakukan, dan usahakan. Mari memulai segalanya dari sebuah mimpi/cita-cita besar, untuk menjadi kreatif, serius dan total dalam menjalani hidup mengemban tugas kekhalifahan dari-Nya.
            Aku ingin menjadi mutiara yang indah sepanjang masa dan terus berkarya

Medan, 13 maret 2011


0 komentar:

Post a Comment