Breaking News

21 February, 2012

Ternyata Saya Sangat Perkasa!

Ternyata Saya Sangat Perkasa!

Jujur saja, saya tidak pernah menyadari bahwa kemandirian saya sejak kecil sesungguhnya berdampak luar biasa pada karir dan kehidupan saya di masa dewasa.
Sejak kecil, saya terbiasa membantu mama menyelesaikan berbagai urusan rumahan. Mulai dari membantu mencuci piring, membersihkan rumah, memasak, hingga mencuci baju.
Sejak kecil, saya yang terpaut dua tahun dengan adik bungsu, justru seperti terpaut tahunan beda usia. Saya sangat mengemong adik bungsu, mulai dari memandikannya hingga mencari kutu di rambutnya. Bahkan, jika adik bungsu saya malas mandi, saya akan membujuknya dengan memberikan makanan yang saya miliki untuknya hingga adik bungsu saya bersedia mandi J
Sejak kecil juga, saya punya daftar to do list harian, sehingga setiap hari saya hanya melakukan apa yang dituliskan saja. Kadang-kadang sejenak menghibur diri dengan bermain kesana kemari, tapi tidak pernah menghabiskan banyak waktu.
Ketika remaja, dan harus kehilangan bapak di masa sedang ranum. Sedih saya dicurahkan dalam berbagai kegiatan. Saya aktif di berbagai kegiatan, mulai dari organisasi sekolah hingga dunia penulisan yang saya lakukan secara otodidak. Karya-karya saya mulai dimuat di berbagai media cetak dan Alhamdulillah bisa menghasilkan uang saku yang tidak sedikit.
Cinta monyet, sempat membuat saya goyah. Putus cinta membuat saya hancur lebur! Maklum ya, remaja emosi sangat labil hehehe...Tapi, itulah saya, setelah hancur lebur saya segera menata hidup kembali. “Masa depan di tangan saya sendiri, bukan orang lain!” saya maju terus, melanjutkan hidup, walau masih ada sisa air mata saya bawa dari kehancuran cinta pertama.
Beranjak dewasa, saya semakin mandiri. Saya semakin terbiasa melakukan banyak hal sendirian. Mulai dari hidup yang terpisah dari keluarga, hingga hidup yang terus melanglangbuana ke berbagai belahan Indonesia. Tidak pernah tidak sendiri! Semua merasa khawatir, karena saya perempuan, masa malam-malam pergi sendiri, ke luar jawa sendiri tanpa pendamping, dan stay di satu tempat yang sebelumnya tidak dikenal. Saya tidak gentar! Niat saya hanya satu, bekerja dengan sebaik-baiknya dan mencari ilmu sebanyak-banyaknya.
Saya melakukan banyak hal sendirian, jauh dari keluarga, kewajiban saya sebagai tulang punggung keluarga setelah bapak meninggal ternyata memberikan banyak dampak positif bagi kehidupan saya sebagai wanita yang sangat mandiri.
Pada usia beranjak dewasa, jodoh tak jua datang. Putus sambung dengan lelaki yang sempat menjadi belahan jiwa, pencarian jodoh yang melelahkan membuat saya berpikir satu hal, “Apakah kemandirian sayakah yang menjadi kendala?”
Banyak orang protes pada sikap saya yang termasuk keras, teguh memegang prinsip yang saya anut, serta perfeksionis, tapi ini adalah pilihan bagi saya! Tidak semua orang harus setuju dengan prinsip yang saya anut.
Mama saya sempat khawatir kalau saya akan jadi perawan tua, diam-diam saya pun berpikir hal yang sama. “Apakah saya siap menjadi perawan tua?” pertanyaan itu membuat saya akhirnya menyiapkan diri jika memang akan terjadi hal itu, namun tetap saya berikhtiar mendapatkan tambatan hati, bukan lagi mencarinya tapi memintanya pada Allah. Saya melakukan shalat istikharah untuk meminta jodoh yang saya inginkan padaNya. Daaaan, Allah memberi setelah 2 tahun saya berdoa dengan kesungguhan hati.
Pertemuan saya dengan lelaki itu sebetulnya sudah lama, kami berada di kantor yang sama. Namun, dasar saya memang cuek bebek, saya tidak pernah mengenal siapa dia. Yang saya tahu adalah dia lelaki yang sangat rapih dengan parfum yang luar biasa wangi J
Setelah kami sama-sama meninggalkan kantor lama, kami dipertemukan di kantor yang baru. Dia menjabat sebagai manager keuangan dan saya sebagai manager marketing. Otomatis, kami saling bersinggungan. Tapi, lagi-lagi saya merasa tidak perlu mengenalnya lebih jauh.
Hingga suatu hari, ulang tahun saya diselenggarakan di kantor dan semua sahabat meminta saya mengucapkan wishes di hari ulang tahun. Apa wishes saya?”Saya ingin menikah!”. Dan, tak lama kemudian lelaki rapih dan wangi itu melamar. Penjajagan kami hanya 2 minggu dan 1 minggu persiapan menikah!
Karakter kami jauh berbeda. Suami saya sangat rapih, saya cenderung berantakan hehehe. Suami saya sangat teliti sedangkan saya sedikit sembrono. Suami saya tidak suka jajan, saya jajanholic. Suami saya bukan tipe petualang, saya adalah tipe petualang sejati. Kami berbeda dan perbedaanlah yang menyatukan kami.
Di awal pernikahan kami, perbedaan itu sangat kentara.  Salah satunya adalah suami saya adalah orang yang selalu meminta dilayani mulai dari makan, membuat kopi, memilihkan pakaian kerja, dan buat saya itu bukan sesuatu yang harus dilakukan. “Apa yang bisa dikerjakan sendiri, kenapa harus meminta istri?”  Kemandirian yang salah kaprah ya? Pelan-pelan suami memberikan pengertian pada saya tentang hak dan kewajiban seorang istri. Hasilnya? Saya memutuskan total mengabdikan hidup saya pada keluarga! Kemandirian saya membutakan! J
Kini, saya harus menyesuaikan suami bahwa mandiri ada batasannya, bukan?
Namun, di sisi lain harus saya syukuri kemandirian saya juga yang membuat keluarga kami tumbuh tegak berdiri. Setelah menikah, kami berdua komitmen untuk memisahkan diri dari rumah keluarga dan melakukan segala hiruk pikuk pernikahan berdua dalam rumah kontrakan yang hanya 2 kamar saja. Kami mandiri merancang masa depan kami berdua, mulai mengafirmasi pencapaian di masa depan, dan saya secara mandiri membangun bisnis Indscript Creative ketika suami memilih tetap bekerja di luar rumah.
Saya mulai melakukan segalanya sendirian, mulai dari membersihkan rumah, mengasuh anak, hingga mengurus bisnis.  Dalam segala keadaan saya tidak pernah mengeluh, justru suami yang sering tanya, “apa kamu capek?”, saya hanya menjawab.” Nggak, saya justru senang!”
Kemandirian yang paling puncak adalah ketika saya hamil anak kedua, hingga hamil besar, saya masih sibuk kesana kemari membawa serta putri kecil saya, kami selalu bersama kemana-mana. Hingga, suatu saat saya ke bidan, bidan kaget, “Bu, ini udah pembukaan tiga, nggak kerasa?” tanya bidan dengan kagetnya. “Oh ya?” saya malah senyum-senyum aja. Sudah tahu pembukaan tiga, saya tetap minta izin bidan untuk makan di luar dengan suami dan suami sebelum nanti malam lahiran. Dan, bidan mengizinkan sambil geleng-geleng kepala. Jam 10 malam saya datang ke bidan diantar suami dan mertua, tidak juga terasa sakit. Kami malah tertidur lelap, hingga jam 4 subuh sebuah bunyi dalam perut mengagetkan “bletuk!” olala, ketubanku pecah saat suami terlelap, mertua tidur nyenyak, penunggu bermimpi indah. Saya bangun dari tidur dan mulai jalan-jalan di sekitar ruangan untuk melancarkan. Jam 6 subuh saya memanggil suster, “Suster, kayaknya saya akan melahirkan nih...kepala bayi udah di bawah.” saya lalu dipapah suster menuju ruang melahirkan dan 3 kali ngeden si  jagoan lahir. Semua bersyukur, proses melahirkan yang sangat lancar!
Ketika akikah si jagoan, seminggu setelah dia lahir, saya sudah segar, sudah memakai celana panjang, dan nyaris tidak terlihat baru seminggu melahirkan. Semua sahabat yang datang terkaget-kaget dan mau tahu apa kata suami saya? “Istriku memang PERKASA!”
Oh ya, ternyata saya sangat perkasa ya? :)
� o : �� � � ine-height:29.55pt'> 
[My True Story]

Kisah ini dibuat sebagai contoh kecil buat ibu-ibu berlatih menulis 

0 komentar:

Post a Comment