Breaking News

02 February, 2012

Telur Asin

 
Sebagai sepasang kekasih, seperti biasa kami selalu mempunyai topic untuk diobrolkan kapan saja di mana saja. Dari mulai politik dunia, agama, bisnis, travelling, kebudayaan, nasi, sayur sampai dengan lauk. Bahkan kadang sampai hasil akhir dari nasi dan lauk itu pun kami obrolkan hehhehe.
Suatu ketika, saat kami sedang berada di stasiun untuk mudik naik kereta, kami ngobrol tentang salah satu jenis lauk yaitu telur. Bukan sembarang telur tapi telur asin. Kereta yang akan kami tumpangi kali ini adalah kereta Taksaka 2 yang berangkat cukup malam. Kami sampai di stasuin kira-kira 1 jam sebelum jadwal keberangkatan sehingga kami mempunyai cukup banyak waktu untuk ngobrolin soal telur asin itu. Bukan tentang cara pembuatannya, bukan juga tentang nutrisi di dalamnya atau betapa lezatnya telur asin jika disandingkan dengan rawon. Kami membicarakan tentang warna telur asin. Ya warna telur asin.
Topiknya memang sesederhana itu, hanya tentang warna telur asin. Saya berkeras bahwa warna telur asin adalah biru, pacar saya saat itu (yang sekarang sudah menjadi suami saya) berkeras bahwa warna telur asin adalah hijau. Sungguh luar biasa bukan, menyadari bahwa bahkan sepasang kekasih yang berpacaran sudah selama 2 tahun tetap memandang suatu benda kecil bernama telur asin dengan hasil yang berbeda? Kami terus beradu argument bahwa masing-masing memiliki mata yang lebih sehat sehingga pendapatnyalah yang benar. Kami menyamakan warna telur asin dengan warna-warna lain yang saat itu berlalu lalang di depan kami. Masing-masing berusaha secerdik mungkin untuk meyakinkan yang lainnya bahwa pandangannya adalah yang benar. Sudah layaknya debat public yang sering ada di TV.
Merasa sedikit capek dengan perdebatan ini, kami memutuskan untuk mendekati perdebatan ini dengan mencari sekutu. Semakin banyak orang berpendapat sama dengan kita artinya itulah kebenaran umumnya. Jadi, kami sepakat untuk menghubungi teman-teman yang kami berdua kenal untuk menanyakan tentang warna telur asin. Saya sudah sangat pasti menghubungi keempat teman dekat saya. Dan pacar saya menghubungi teman-teman yang dia anggap dekat sekaligus kenal dengan saya. Hal ini dilakukan supaya tidak terjadi bias pendapat hehehehhe.
Masing-masing dari kami mengirimkan sms dengan pertanyaan yang sama yaitu “Apa warna telur asin?” kami tidak boleh menceritakan latar belakang pertanyaan kami tersebut. Lagi-lagi supaya tidak ada konflik kepentingan dari si penjawab. Satu teman saya menjawab biru (yang ini anak Teknik), satu lagi menjawab hijau (yang ini anak Capricorn, satu rasi bintang dengan pacar saya), yang lain lagi justru bingung, katanya “Ya, bisa biru, bisa juga hijau. Oh iya, ada juga telur asin yang coklat lho” (sepertinya plin plan dan justru iklan hahaha). Dari sisi pacar saya jawabannya tidak kalah aneh, hanya satu yang saya ingat “Oh, itu warnanya turquoise” . Hahahha… saya bahkan tidak tau turquoise itu warna seperti apa, mungkin karena pengetahuan saya kurang dan karena itulah saya ingat jawabannya. Seingat saya dari antara beberapa orang yang menjawab antara biru dan hijua dari kedua kubu pada akhirnya lebih banyak yang biru (lagi-lagi ini seingat saya supaya anda tidak bias pendapat, karena saya memilih biru hihhihihi).

Satu hal yang kami ingat dari perdebatan itu adalah jawaban dari seorang teman saya lulusan Teknik Arsitektur. Kami sepakat bahwa sms dari teman itu akan memvalidasi hasil dari perdebatan kami, karena… anak arsitek tentu saja lebih tahu tentang warna. Dan, tidak seperti dugaan kami sebelumnya, jawaban teman saya itu “Warna telur asin ya robin egg. Ada kok warna itu. Coba aja browsing di ….” (saya lupa alamat web-nya yang jelas web tersebut berisi tentang warna-warna). Membaca sms yang dinanti-nanti tersebut, sontak kami berdua tertawa. Jadi, warna telur asin itu bukan biru, bukan juga hijau, tapi… robin egg hahahaha.
Betapa beragamnya pandangan kita terhadap satu object. Kami yang saat ini sudah menjadi suami istri juga banyak memiliki pandangan yang berbeda. Kalau merujuk pada buku-buku atau kata-kata pembicara terkenal di TV, perbedaan itu bisa dikomunikasikan. Dan, terkadang, jika kita cukup waras untuk melihat sesuatu yang lebih besar dari sekedar perbedaan tersebut, mungkin salah satu di antara kita akan mengalah untuk sesuatu yang lebih baik dan lebih besar.
Akhir tentang kisah telur asin ini, tidak seperti cerita novel atau kisah romantic yang lain. Pacar saya tidak mengalah untuk memuaskan saya, begitu pun saya. Kami tetap memandang berbeda tentang warna telur asin. Saya tetap dengan biru dan pacar (yang sekarang resmi jadi suami)  tetap beranggapan bahwa warna telur asin adalah hijau. Kami sepakat untuk tidak sepakat (ini adalah ungkapan dari seseorang yang saya lupa entah dengar di mana atau baca di mana tapi saya senang sekali dengan ungkapan ini). Dan ini bukanlah kali pertama bahwa kami sepakat untuk tidak sepakat

Jadi, menurut anda, telur asin itu hijau atau biru? Hahahaha (tetep saja usaha)

0 komentar:

Post a Comment