Breaking News

16 February, 2012

A Television For All


 
A Television For All
Oleh : Rima Farananda

            Bagi sebagian orang, pesawat televisi mungkin  sudah dianggap bukan sebuah barang mewah (lagi). Di banyak kota di Indonesia, kita dapat menemukan keberadaan barang elektronik yang satu ini di hampir setiap rumah. Banyak rumah malah memiliki lebih dari satu pesawat televisi, satu diletakkan di ruang keluarga (biasanya yang berukuran paling besar), dan satu atau dua lagi diletakkan di masing-masing kamar tidur penghuni rumah.
            Pendek kata, pesawat televisi bukanlah lagi sebuah barang yang masuk dalam daftar barang mewah yang hanya dapat dimiliki oleh sekelompok orang tertentu saja.
             Tetapi tahukah anda, bahwa nun jauh di sana, di satu kota kecil yang bernama Padang Sidempuan, yang terletak di daerah Tapanuli Selatan, memiliki sebuah pesawat televisi sampai sekarang masih dirasakan sebagai sebuah kenikmatan hidup yang hanya dapat dirasakan oleh sekelompok orang tertentu?.
            Ya, pesawat televisi masih berada dalam daftar barang mewah, yang hanya dapat dimiliki oleh masyarakat mampu.
            Letak geografis Kota Padang Sidempuan yang dikelilingi oleh pegunungan  memang mengakibatkan sinyal siaran televisi tidak dapat ditangkap oleh antenna televisi biasa seperti yang pada umumnya kita gunakan.
            Untuk dapat menerima siaran televisi yang jelas dan baik kualitas gambarnya, maka penduduk Kota Padang Sidempuan harus menggunakan sebuah antenna parabola, yang tentu saja harganya berkali-kali lipat lebih mahal dari harga sebuah antenna biasa. Hingga untuk memiliki satu paket yang terdiri dari sebuah pesawat televisi dan antenna parabolanya, setiap orang harus mengeluarkan sejumlah uang dalam jumlah yang cukup besar.
            Karena itulah sampai saat ini, memiliki sebuah pesawat televisi di rumah masih menjadi suatu kebanggaan tersendiri di kalangan masyarakat Kota Padang Sidempuan. Paling tidak, keluarga anda tidak akan dimasukkan ke dalam kelompok masyarakat kurang mampu alias miskin.
            Karena tahukah anda, di Kota Padang Sidempuan, salah satu kriteria yang dapat  memasukkan anda ke dalam golongan masyarakat tidak mampu alias miskin adalah : tidak memiliki pesawat televisi!.
            Ini bukan olok-olok. Dalam setiap kegiatan pembagian bantuan pemerintah, jelas-jelas tertulis, kriteria penduduk yang dapat dimasukkan ke dalam golongan keluarga miskin yang berhak mendapat bantuan, salah satunya adalah, tidak memiliki pesawat televisi di rumahnya.
            Jelaslah sudah, kehadiran sebuah pesawat televisi dapat dijadikan satu indikator status sosial seseorang di dalam masyarakat Kota Padang Sidempuan.
            Ketika saya berkesempatan untuk menetap selama lebih kurang tiga tahun (dari tahun 2007-2010) di Kota Padang Sidempuan, sekelumit kisah mengenai pengalaman berbagi kenikmatan dalam hal menonton acara televisi bersama para tetangga sampai saat ini masih meninggalkan kesan mendalam di benak saya.
             Saat itu kami sekeluarga baru saja tinggal di sebuah rumah kontrakan di Kelurahan Sidangkal, salah satu daerah miskin di Kota Padang Sidempuan. Di Kelurahan Sidangkal, keluarga kami menjadi satu dari sedikit keluarga lain di sana yang kebetulan memiliki pesawat televisi.
            Pesawat televisi kami yang selebar dua puluh satu inchi itu menjadikan rumah kami sebagai tempat acara nobar alias nonton bareng warga Kelurahan Sidangkal. Empat-lima keluarga yang tinggal berdekatan dari rumah kontrakan kami dan kebetulan memang tidak memiliki pesawat televisi di rumahnya, sering ikut menumpang nonton teve bersama di rumah kami.
            Acara nobar ini dimulai dari pagi hari. Jika kebetulan saya yang hendak  berangkat kerja membuka pintu pagar depan rumah kontrakan kami, maka sekumpulan anak-anak tetangga yang masih balita (dan belum bersekolah) biasanya langsung menghambur masuk, bergabung menonton teve bersama dua orang anak balita saya yang sedang sarapan .
            Sepulang saya dari kantor di siang hari, peserta nobar di rumah kami biasanya sudah berganti, menjadi sekumpulan anak usia sekolah dasar, teman-teman anak sulung saya, yang baru pulang dari sekolah masing-masing dan menghabiskan waktu siang menjelang sore dengan menonton acara televisi di rumah kami.
            Nah, biasanya acara nobar ini akan mengambil masa jeda (istirahat) dari jam empat  sampai jam lima sore. Karena saya bersikeras agar anak-anak peserta nobar di rumah kami pulang, sholat ashar dan mandi, untuk sementara waktu rumah kami pun kosong dari para peserta  nobar.
            Begitu jarum jam menunjukkan angka pukul lima tepat, wah…tanpa bisa dihalangi lagi, serbuan peserta nobar yang terdiri dari anak-anak usia TK sampai SD ditambah beberapa ibu rumah tangga yang mungkin sudah selesai dengan pekerjaan rumahnya langsung memadati ruang tamu merangkap ruang keluarga merangkap ruang menonton teve di rumah kontrakan kami yang mungil.
            Kegiatan nobar untuk satu hari pun berakhir di pukul 18.30 WIB, seiring dengan terdengarnya suara azan maghrib dari masjid yang terletak di ujung jalan Kelurahan Sidangkal.
            Sampai saya dan keluarga pindah dari Kota Padang Sidempuan dan meninggalkan Kelurahan Sidangkal di tahun 2010 begitulah rutinitas nobar di rumah kami, berjalan sebagaimana cerita saya di atas. Pesawat televisi 21 inchi kami benar-benar telah menjadi “a television for all”, paling tidak buat 4-5 keluarga  yang rumahnya dekat dari rumah kontrakan kami.
            Saya hanya berharap, sepeninggal kami, mudah-mudahan para tetangga saya sudah menemukan rumah lain sebagai ganti tempat acara nobar mereka.

Cibubur, Januari 2012

0 komentar:

Post a Comment