Breaking News

15 February, 2012

tanpa judul


Tulisan ini ditujukan kepada mbak NAVITA KRISTI ASTUTI
untuk kisah inspiratif kehamilan, persalinan
 kalau sekiranya tidak masuk nominasi, tidak ada salahnya tetep numpang eksis dan narsis di doc IIDN, heheeee...

SUNDULAN
Oleh Lintang Kemukus

Ketika usia Emir, sulungku menginjak 14 bulan, aku dikejutkan dengan hasil testpack “strip dua” pada suatu pagi. Awalnya kaget dan syok, terutama suamiku. Namun, setelah melalui diskusi singkat, akhirnya kami sepakat untuk menerima kehadiran dengan penuh kesyukuran.  Berani berbuat, harus berani bertanggung jawab dong, hehe… Sebetulnya ada rasa rasa takut terselip dalam hatiku dan suamiku. Kami takut Emir merasa cinta orangtuanya berkurang setelah kehadiran adiknya. Karena itu kami sepakat  berusaha memberikan ekstra perhatian untuk anakku, selama adik belum lahir. Tak lupa, kami juga mengagendakan untuk mulai mengenalkan konsep adik kepadanya.

Aku mencari informasi dari berbagai sumber mengenai bagaimana mengenalkan konsep adik kepada anak. Menimba ilmu dari teman-temanku yang memiliki pengalaman hampir serupa, browsing di dunia maya, hingga sharing di jejaring sosial.

Ternyata bukan perkara mudah ketika harus mengenalkan konsep adik kepada anakku. Bagaimanapun dia masih kecil, belum berpikir sedemikian jauh seperti orangtuanya. Dunianya adalah bermain dan bermanja. Ketika perutku mulai membuncit, dia tetap tak mau tahu ibunya hamil. Tetap harus menemaninya bermain, menggendongnya ketika ia ingin, meski itu melelahkan. Pun ketika kuperkenalkan adik di dalam perut, alih-alih mengelus, dia malah memukul perutku.  

Hingga di usia kehamilanku 6 bulan, aku mendapati kenyataan bahwa ternyata kenaikan BB janin kurang. Dokter mengatakan aku kurang istirahat, pola makanku tak teratur, asupan gizi kurang, Hingga dokter kandunganku merasa perlu meresepkan ekstra multivitamin. Aku tercenung.  Mencoba memahami apa yang keliru padaku. Akhirnya kusadari, aku telah lalai. Rasa ketakutanku akan  -perasaan sedih Emir- (yang juga hanya di dalam pikiranku), membuatku terlalu memaksakan diri selalu menemaninya di setiap waktuku, hingga aku melalaikan diriku sendiri, aku pun butuh istirahat, -demi kesehatan janinku-. Aku lupa satu hal yang penting, tetap memberikan perhatian kepada si kakak, dengan tidak melupakan hak “adik”, meskipun masih di dalam rahim.

Setelah itu aku segera mengubah semuanya.. Aku meminta dukungan dari suami. Mengatur ulang jadwal menemani Emir bermain di malam hari bergantian dengan suamiku,  agar aku bisa beristirahat cukup. Mengatur menu makanan, agar tidak selalu mengandalkan persediaan mie instan di lemari makan. Selalu menyempatkan sarapan, entah di rumah, atau di kantin kantor. Say no to coffe, selama kehamilan (aku adalah pecandu kopi), minum banyak air putih. Alhamdulillah, ketika kontrol berikutnya BB janin sudah normal kembali. Dan ketika adik telah lahir, ternyata Emir bisa menerimanya dengan senang hati, masih tetap ceria dan terkadang mengajak adiknya bermain bersama (walau tetap dengan pengawasan ketat, hehehe..).Dan ketakutanku pun tak terbukti. Alhamdulillah...

0 komentar:

Post a Comment