Breaking News

22 February, 2012

Tanah Airku


Teman,ada tiga orang temanku bercerita.

Yang pertama, seorang wanita muda nan elok rupa.  Dia datang ke Jepang kurang lebih 4 tahun yang lalu, boyongan, setelah menikah dalam usia masih belia. Temanku ini mendapat ide kembali ke tanah air, karena dia ingin melanjutkan kuliah yg terbengkalai. Suami temanku itu melanjutkan studi sambil tetap bekerja di negri sakura ini. Sepi. Itulah kira-kira yang menjadi faktor utama.Diantar suami, mereka kembali ke Indonesia.

Suatu hari, saat sang suami sedang mengendarai sepeda motor di salah satu ruas jalan di kota mereka, sebuah truk terbalik. Truk itu terjungkal ketika berusaha menyalip sebuah kendaraan, TEPAT di depan mata kepalanya! Setelah kejadian itu sang suami berkata kepada temanku. ”Kembaliii ke Jepang!”.

Yang kedua, seorang ibu yang elok rupa juga, agak pendiam, namun bisa diandalkan. Ibu muda ini baru melahirkan bayi perempuan lucu lagi jelita. Berniat ingin memperlihatkan si bayi kepada neneknya di kampung halaman, mudiklah sang teman dengan keluarga kecilnya. Kepulangan mereka ini, semacam pepatah ’sambil menyelam minum air.’ Sang suami juga sekalian menghadiri seminar di salah satu kota di tanah air.

Namun malam itu, selesai seminar, suaminya yang akan pulang ke rumah mertua dengan menumpang kereta api, terlambat hingga dini hari. Kereta api yang dia tumpangi, TABRAKAN MAUT! Kereta api itu menabrak kereta api lain yang sedang ngetem, di jalur yang sama. Dia diselamatkan Allah, dengan menumpang di gerbong belakang. Usut punya usut, sang masinis, mengantuk. Berita ini sempat menjadi head line news di media Indonesia medio September tahun lalu.

Teman saya yang ketiga, adalah seorang muslimah muda yang energik. Cerdas, tangkas dan baik hati. Terbiasa di Jepang menyandang tas punggung tanpa harus waspada,  sewaktu pulang ke tanah air kemaren, untuk seminar juga, kecopetan aiphone kesayangannya. Hghf.

Namun...

Libur akhir pekan lalu, kami sekeluarga pergi ke Tokyo Sea Life Park. Taman dengan aquarium-aquarium besar ini cocok untuk tempat melonggarkan syaraf yang mulai tegang. Suamiku sedang menginginkan suasana lain. Beliau lelah dengan laboratorium dan laptop. Baiklah...

Di sana, setelah mengobservasi hewan-hewan laut beraneka rupa, kami makan siang dan sholat zuhur di taman. Berikutnya anak-anakku asyik dengan teropong yang disediakan di koen* untuk menikmati pemandangan laut. Mereka tertawa-tawa gembira. Sambil menemani mereka dan memotret sana sini, aku bertemu pandang dengan seorang bapak Nihonjin* yang tampak sudah cukup tua. Beliau tersenyum- senyum kepadaku, sambil tertawa-tawa kecil memperhatikan serunya anak-anak. Disamping beliau, istrinya yang juga sudah tidak muda lagi, melakukan hal yang sama.

” Dari Maraysia*.....?” tanya si bapak, ramah.
”Bukan, Indonesia kara*”, balasku.
”Oo,” beliau mangut-mangut.
”Anak perempuan kami, bekerja dan tinggal di Maraysia,” si ibu sekarang yang berbicara. ” Bulan Desember nanti, kami akan mengunjunginya,” tambah beliau sambil tersenyum bangga.
”Oo ya....?” balasku  sambil tersenyum.juga. Orang tua manapun, tentu akan bangga kalau anaknya sukses.
”Indonesia dan Malaysia, dekat. Hanya satu jam dengan pesawat. Ongkosnyapun murah. Kalau ibu-bapak punya waktu, mampirlah ke Indonesia,” promosiku.
”Oo ya ya,” mereka mengangguk-angguk sambil tetap tersenyum.

Teman, entahlah. Di rembang petang itu, ketika berjalan kaki meninggalkan taman menuju eki*, aku merasa ingin sekali bersenandung. Lamat-lamat, keluarlah sebuah lagu dari mulutku. Lagu Tanah Airku, ciptaan Bu Sud.
............................................................
............................................................
............................................................
............................................................
Walaupun banyak negri kujalani........
Yang masyhur permai dikata orang...
Tetapi kampung dan rumahku............
Di sanalah kurasa senang..................
Tanahku tak kulupakan.....................
Engkau kubanggakan.......................(end)


Note:
Koen     : taman
Nihonjin  : orang Jepang
Maraysia  : Malaysia (orang Jepang tidak bisa mengucapkan huruf L).
Kara     : dari
Eki       : stasiun kereta api


0 komentar:

Post a Comment