Breaking News

21 February, 2012

Surat yang tak pernah sampai...


 By Deka Amalia 

Kutitipkan rindu,bang. Pada angin laut yang berkejaran dengan ombak, yang derunya terdengar merdu. Taukah kau,bang…dimanapun kini kau berada, dimalam dingin seperti ini kerinduan padamu semakin memuncak. Saat kedua anak kita telah lelap tertidur, saat sekujur tubuh sakit oleh rasa letih namun aku tetap terjaga. Tak juga mampu kupenjamkan mata. Bayanganmu, suaramu, semua tentang mu selalu hadir begitu lekat. Tak mampu kutepis barang sejenak. Kucoba  tuk rasakan semua yang pernah kita alami bersama. Bertahun lewat tanpa mu, namun kehangatan itu tertinggal dalam sanubari ini.

Ingatkah bang…saat kuantar kau ke dermaga dengan linangan air mata.  Rasa sedih karena perpisahan. Ingin kucoba untuk menghalangi niatmu, namun binar matamu yang menyiratkan tekad bulatmu sudah tak mampu kucegah.  “Aku pasti kembali,dik. Jagalah kedua anak kita. Ingatlah aku pergi untuk masa depan kita yang lebih baik.” Aku hanya mampu memelukmu dan kemudian melepasmu menaiki kapal yang akan membawamu menjauh dariku. Kutatap lekat hingga kapal besar itu bagai setitik hitam di tengah lautan yang luas. Ntah mengapa hatiku berbisik, rasanya aku tak akan pernah melihatmu lagi.

Kalau boleh memilih, aku ingin kita tetap berkumpul bersama. Walau kita hanya tinggal di gubuk sederhana, yang hawa dinginnya begitu menusuk jika malam tiba, Namun cinta kita mampu menghangatkannya.  Ingatkah, setiap kau pulang melaut berapapun hasil yang kau peroleh selalu kita syukuri. Saat menyambutmu datang dan tertawa riang oleh tingkah lucu kedua balita kita, sangat membahagiakan. Kehidupan ini rasanya cukup bagiku, bang. Tak kuimpikan lebih. Kasih sayang dan ketulusan hatimu adalah harta yang tak ternilai. Kehadiran dua anak kita adalaha harta yang berharga.

Tetapi tak kusalahkan kau ketika suatu ketika kau berkata, “ Dik, anak kita harus sekolah tinggi dan memiliki kehidupan yang lebih baik dari kita. Bukannya aku tak menghargai pekerjaanku sebagai nelayan. Tetapi apalah yang bisa diperoleh dari nelayan seperti aku, hanya menjadi buruh karena kita tak punya kapal sendiri.” Aku setuju,bang. Tetapi saat kau meminta ijin untuk bekerja di kilang minyak yang jauhnya ribuan mil dariku, aku tak rela,”aku tak ingin berpisah,bang. Aku bisa membantumu berjualan di pantai. Jangan pergi,bang. Aku takut.”

Kau bersikeras dan tak bisa lagi kucegah. Aku percaya niatmu jika apa yang kau lakukan memang untuk anak-anak kita. Tetapi aku begitu takut, sering kudengar cerita kehidupan di kilang minyak yang begitu keras bagi buruh kasar sepertimu bang. Apa jawabmu ketika itu kuutarakan, “ Semua akan kujalani,dik. Bayangkan saja jika suatu saat anak kita berhasil, semua kerja kerasku akan terbayar.” Kau tak bergeming walau aku memohon dengan berlinang air mata untuk tetap memintamu tinggal.. Begitulah bang, akhirnya kau pergi dan seperti yang kuduga waktu berlalu tanpa kabar berita. Apa yang terjadi padamu,bang. Aku takut membayangkan hal paling buruk terjadi padamu.

Dengan doa yang kuhembuskan setiap saat,bang. Semoga kau baik-baik saja. Membayangkan suatu saat kau kembali membuat aku mampu menjalani hari-hari. Aku membantu berjualan di warung di tepi pantai bang. Malayani pembeli yang seringkali ramai jika liburan tiba. Kadang aku mencuci piring atau membantu memasak. Pekerjaan ini cukuplah bang untuk makan sederhana kami bertiga dan taukah kau bang, anak-anak sudah sekolah. Mereka hebat dan pintar. Aku bangga, bang. Kau juga pasti bangga. Percayalah,bang. Mereka akan menjadi orang hebat seperti impian kita.

Saat berjalan di tepi pantai seringkali kenangan tentangmu hadir. Ingat saat kita pertama berjumpa. Pantai ini menjadi saksinya. Saat kulihat kau selalu melirik setiap kali kita berpapasan, menyapa dan kemudian menjadi akrab.. Manisnya saat itu,bang, Aku yang baru pertama kali merasakan desiran hangat karena tatapan mesramu hanya mampu tersipu malu. Ingat saat kau melamarku, “ Dik, kau mau jadi istri nelayan dan hidup susah.” Ah,kau bang. Jangan katakan itu. Hidup kita memang susah. Hidupmu…hidup kita…tetapi apa kita tak perhak untuk bahagia?  Kesusahan jika kita hadapi dengan ikhlas dan sabar kita juga akan bahagia, itu pesan bapakku saat kita menikah.

Hari-hari bersamamu adalah hari-hari yang bahagia, benar kata bapak. Jika kita ikhlas menghadapi semua maka apapun tak menajdi masalah. Meski gubuk kita bocor, meski makan sederhana sekali, meski kita belum mampu membeli pakaian untuk menganti yang sudah lusuh. Kita selau tersenyum. Aku selalu merasa hangat disamping mu, bang. Kau suami yang baik. Tak segan kau membantuku dirumah. Pagi buta kau menimba dan mencuci pakaian,”Supaya nanti kau tinggal menjemur.” Begitu katamu setiap kali kukatakan sudahlah bang,biar aku saja yang mengerjakan.

Kau juga ayah yang luar biasa baiknya. Ketika bayi, tak segan kau membantuku memandikan, tak hanya mengajak bermain tetapi menyuapi dan menidurkan mereka. Dengan tembang yang kau alunkan perlahan, mereka terlelap dengan nyaman. Berkaca mataku saat kuintip kau kecup dahi mereka perlahan dan mulutmu membisikan doa. Rasanya Tuhan telah mengirim malaikat penjaga untuku, untuk anak-anakku.

Semua itu hanya kenangan,bang. Kenangan abadi yang tak pernah akan hilang. Maka, setelah bertahun kau pergi tanpa kabar, aku bertahan. Walau kedua orangtuaku mendesak aku untuk menikah lagi aku selalu menolak. Aku tahu mereka kasihan padaku,bang. Hidup sendiri membesarkan anak-anak kita. Tapi kuyakinkan pada mereka aku bisa. Aku yakin, walau ntah kapan kau akan kembali. Jikapun tidak mungkin Tuhan akan mempertemukan kita di alam yang berbeda. Akan kubesarkan anak-anak kita,bang. Akan ku buat kau bangga. Maka aku berjanji untuk menyekolahkan mereka setinggi mungkin. Dengan cara apa, aku yakin Tuhan akan menuntunku.

Kutitipkan rindu ini,bang. Pada embun malam. Meski apa yang kutulis ini tak mungkin pernah sampai karena hanya tersimpan dibawah bantalku. Tetapi aku yakin, dalam doa yang berderai ini kau akan mendengar.

0 komentar:

Post a Comment