Breaking News

22 February, 2012

Surat Warsini Buat Supeno (1)___

Jakarta, 26 desember 2007

Kpd Mas Supeno
Di tempat

Dengan hormat.

Mas Peno, waktu sampean membaca surat ini, mungkin aku sudah sangat jauh. Aku tulis surat ini diatas kapal terbang yang membawaku ke Den Haag.
Sampean mungkin sudah tahu dengan siapa aku pergi.
Ya kau benar, Erik mengajakku ke negaranya setelah kerjaannya di Jakarta selesai.

Mas Peno, dugaanmu ternyata benar, Erik yang kau sebut Mister itu menaruh hati padaku. Dia bermaksud mengawiniku tengah tahun ini.
Maafkan aku mas Peno. Tapi sampean harus ngerti kalau aku ga bisa selamanya menunggu sampean.
Bukan karena Erik lebih gagah ataupun lebih kaya dibanding sampean. Sungguh, aku lebih suka kulitmu yang dekil daripada Erik yang terang itu, membuatku malu kalau dekat2 dengannya.
Tapi Mas Peno, seperti bude'ku bilang jangan suka menilai orang dari luarnya, Erik ternyata baik hati, dan sangat ramah padaku.

Dua bulan terakhir ini dia selalu mengirimiku SMS, lima kali sehari. Isinya rupa-rupa, mulai dari mengucapkan selamat pagi, tanya sarapan, tanya sudah makan obat apa belum, ingetin aku solat, sampai malemnya pas aku mau tidur.
Di akhir smsnya pun selalu dia tulis "aku cinta kamu".

Hm.. Aku jadi ingat terakhir kali sampean bilang begitu padaku mas, 7th yang lalu dibawah pohon jambu aer pakde Dirman.
Kau bilang "aku cinta sampean Warsini. Sampean mau tidak jadi bojoku?".
Itulah kata cintamu yang pertama dan terakhir mas Peno.. Lalu sejak itu aku terus menunggu.
Bukan, bukan menunggu kau kawini, aku menunggu kata2 cinta lainnya.
Sewaktu sampean lewat depanku wkt aku menyapu halaman, waktu ktemu di rapat karang taruna, waktu di lapangan voli, waktu kita jadi pager ayu dan pager bagus di kawinan de'Sri dan bang Murtado, waktu nonton layar tancep, bahkan waktu kita ketemu di mesjid kau sama sekali tak tersenyum padaku.

Huh! Cinta apa ini.

Aku suka iri sama si Welas, tiap malem sabtu dia dijemput si Agus di depan mesjid, diam2 mereka pergi jalan2, baru pulang jam 9 pas bubaran pengajian.
Biarpun bapak si Welas nda suka, tapi kayaknya mereka bisa bahagiaaaaa sekali...

Mas Peno,
meninggalkan kampung, entah kenapa hanya sampean yang kuingat.
Aku sebetulnya tak mau terus terang begini, males kalau sampean tambah besar kepala.
Aku juga nda abis fikir, setahun lalu waktu kita putus, aku sama sekali ndak menitikkan air mata. Tapi skr aku susah sekali menahan tangis. Rasanya aku betul-betul akan jauh dari sampean..

Aku melihat ke bawah dari jendela pesawat, rasanya ingin aku kau tarik turun..

Sungai mengecil, rumah2, sawah, jalanan,..

Selamat tinggal Mas Peno'ku..


-Warsini-