Breaking News

06 February, 2012

Suatu Kali Sebelum Memejamkan Mata


  in Ibu-ibu Doyan Nulis - Interaktif · Edit Doc · Delete Suatu kali sebelum memejamkan mata, belahan jiwaku yang bisa kupanggil ‘nda’ berkisah tentang kesehariannya, meminta sedikit perhatian diantara kriyep-kriyep kantuk mataku, memohon jawaban atas setiap pertanyaan yang sebenarnya tak perlu kujawab cukup ku berdehem sebagai tanda persetujuan.

“yang, dikantor tadi emosiku dibuat lelah oleh perdebatan dan ketidak setujuan atas sikapku.” Keluhnya.
Bukankah sebuah kantor adalah komunitas layaknya segerombolan sapi ditengah savanna, disana tidak hanya ada sapi namun singa, buaya dan kuda-kuda liar yang memiliki posisi dan porsi dalam keikutsertaannya memenuhi kehidupan belantara.
Kantor bak rimba tak bertuan memiliki banyak kesamaan pun tak dipungkiri banyaknya perbedaan yang mampu memupus ide dan hasrat tiap individunya. Tapi bagaimanapun kantor adalah tempat yang indah untuk berkeluh kesah dan meluangkan waktu barang sebentar.

“yang, bukankah tiap orang punya tugas masing-masing? Kenapa harus aku juga yang mengerjakan bagiannya?” sambatnya. Coba tanyakan pada pelangi bagaimana dia bisa menampilkan seluruh warnanya dengan indah, bukankah matahari hanya memberinya modal warna cuma 1, yaitu warna putih? Bagaimana pelangi bisa memberikan pemandangan yang indah kepada mata kita dengan keanekaragamannya?

Indah bukan menjadi pelangi? Pelangi bisa membuat yang memandangnya menjadi indah, pun pelangi mampu membuat dirinya sendiri indah, dan lagi pelangi tak pernah mengeluh dan mengurangi warnanya. Karena apalah fungsi matahari kalau pelangi mencoba mengurangi satu saja warna di tubuhnya.

Cobalah menjadi tubuh pelangi itu, hanya dengan satu warna pelangi tak pernah mengeluh apalagi mengurangi warnanya untuk kita.

“yang, aku bingung harus bagaimana dengan kondisi yang selalu menyudutkanku.” Timpalnya Seseorang pernah memberikan racikan kalimat kepadaku, “ada 2 cara untuk memancarkan cahaya; menjadi lilin atau menjadi cermin yang akan memancarkan cahaya lilin itu.” Kalimat itu menggugahku bahwa agar menjadi orang yang bermanfaat bagi sekitar hanya 2 plihannya. Yaitu menjadi pencetus ide untuk lebih baik atau menjadi corong suara bagi kebaikan itu.

Berat memang namun inilah makna kita melengkapi indahnya dunia, menjadi yang pertama atau menjadi penerus apa yang telah bermula. Menjadi lilin dengan pelitanya yang menerangi walau diletakkan diujung ruangan pelitanya akan tetap sanggup menerangi seluruh ruangan. Atau menjadi cermin yang akan mereflesikan cahaya sesuai yang dikehendaki. Dengan begini maka yakinlah bahwa capekmu akan terobati nda!
“yang, aku mau berhenti sajalah kalau terus-terusan begini!” Ancamnya. Dimanapun nda berada manusia itu hanyalah rangkaian rantai tak putus dalam kehidupan, setiap manusia bergantung kepada manusia lain, walau sejatinya tak akan pernah ditemukan mata rantai yang benar-benar pas untuk merangkai tiap hubungan antar manusia itu sendiri.

Intinya tak ada satupun manusia yang sama. Memahami, menghargai dan saling bersimpati antar sesama di lingkungan nda akan memberikan rasa kebersamaan yang tidak hambar untuk dikecap.

Maka tidaklah realistis apabila bapak pendahulu kita selalu bilang “perlakukanlah orang lain sebagaimana kita ingin diperlakukan.” Karena apa yang didalam hati, pikiran dan perasaan setiap orang sangatlah berbeda. Tidaklah ada kemungkinan untuk bisa menyatukannya secara harmoni bila orang lain yang kita paksa untuk sama dengan kita.

Tak naïf pula bila “perlakukanlah orang lain sebagaimana mereka ingin diperlakukan.” Mampu menjadi gradasi moral dimana kita hidup dan member kehidupan. Menjadi manusia yang harmonis dengan sesama, lentur dengan budaya, namun tegas dalam sikap dan iman.

Kemudian akhirnya mimpi memberi khayalan akan dunia yang lebih baik.

…..Imagine no possessions
I wonder if you can
No need for greed or hunger
A brotherhood of man
Imagine all the people
Sharing all the world……
-Imagine by John Lennon-

*diambil dari blognya suami...*

0 komentar:

Post a Comment