Breaking News

06 February, 2012

The Story Of Tato


  Selama lebih kurang tiga belas tahun menekuni profesi sebagai dokter hewan, dari sekian banyak pasien yang pernah kutangani, ada satu kasus yang begitu meninggalkan kesan mendalam di diriku. Ketika itu aku kebetulan bertugas di kota Padang Sidempuan, sebuah kota kecil yang terletak di daerah pedalaman Tapanuli Selatan, Sumatera Utara. Pekerjaan suamiku memang
mengharuskan kami untuk terus berpindah-pindah mengikuti proses mutasi yang diatur oleh kantornya. Sehingga biasanya setiap tiga atau empat tahun sekali akupun ikut sibuk mengurus pindah dari kantor tempatku bekerja, dengan alasan ikut suami yang pindah tugas.

Nah...ketika bertempat tinggal di Padang Sidempuan itulah aku mengalami kejadian ini.
Di sore itu, seorang wanita muda mengetuk pintu rumah kami.

"Permisi......," terdengar ucapannya dari luar rumah.
Bergegas aku berjalan ke ruang tamu untuk membukakan pintu depan rumah kami.

"Ya......., mencari siapa Mbak?", tanyaku padanya.

"Maaf Bu, ini rumah dokter hewan Rima ya?,"tanyanya perlahan.

"Iya, benar....saya sendiri Mbak,"jawabku.

Wanita muda itu, yang kemudian kuketahui bernama Veni, ternyata adalah seorang pemilik anjing yang memintaku untuk datang ke rumahnya untuk memeriksa anjingnya yang katanya tiba-tiba saja lumpuh terduduk tidak bisa berjalan.
Sore itu aku pun mendatangi rumah Veni, yang ternyata tidak begitu jauh dari rumah kami.
Di rumah Veni aku diperkenalkan dengan dua ekor anjingnya, yang bernama Tato dan Gading. Sepasang anjing jenis bastar yang terlihat terawat dengan  baik. Gading terlihat sehat, berjalan hilir mudik di ruang tamu, sedangkan Tato, nah...ini dia pasienku. Anjing jantan yang berumur sekitar tiga belas tahun itu terduduk lemas di atas lapisan-lapisan handuk usang yang rupanya ditumpukkan Veni di atas lantai sebagai alas bagi anjing miliknya itu.

"Sudah dua hari ini dia tidak bisa berjalan Bu,"jelas Veni padaku.

"BAB dan BAK nya semua dilakukan di sini, karena kalau saya gendong dia sepertinya kesakitan, jadi ya begitulah....saya beri alas-alas dari kain supaya air pipisnya tidak menyebar ke mana-mana Bu," tambah Veni.

Tato yang sedang diperbincangkan melihat ke arahku dengan curiga. Dia menggeram perlahan, menunjukkan sebaris gigi yang runcing-runcing. Kehadiranku sebagai orang asing  yang belum dikenalnya menimbulkan reaksi waspada, reaksi normal dari seekor anjing.

"Tato....jangan galak-galak sayang...., ini Bu Dokter mau memeriksa kamu....,"Veni merayu anjing miliknya supaya mau bersikap tenang.

Setelah menghabiskan waktu hampir setengah jam untuk berkenalan dengan Tato (satu hal yang membuat aku agak malas melayani  pasien dengan panggilan ke rumah atau istilah kerennya house call, para pasienku terutama yangdari jenis anjing selalu menjadi lebih agresif dan bersikap bossy jika berada di lingkungan rumahnya, berbeda jika mereka yang dibawa ke tempatku, akulah yang bersikap bossy dan mereka yang sedikit grogi karena takut dengan suasana baru yang asing,ha..ha...) akhirnya bisa juga dia kuperiksa.Beberapa saat setelah selesai memeriksa Tato itulah tiba-tiba masuk seorang pria ke dalam ruang tamu rumah Veni.

"Gimana Ma.....si Tato.....sudah selesai diperiksa?", tanyanya pada Veni, yang rupanya adalah istrinya.

Sedari tadi aku memang agak bertanya-tanya dalam hati, wanita muda ini, Veni...terlihat cukup muda untuk menjadi seorang ibu. Tetapi untuk menempatkan ia di status gadis rasanya sudah tidak pantas lagi.  Kedatangan laki-laki yang ternyata adalah suaminya
itu menjawab pertanyaanku.

"Baru aja selesai diperiksa Pa...ini kenalan dulu dengan Bu Rima Pa, dokter nya Tato....," ucap Veni pada suaminya.

Setelah menyalamiku, laki-laki itu mendekati Tato yang sedang  terbaring lemas.

"Tato.......mau makan apa?,"tanyanya lembut sambil membelai-belai anjingnya.

"Iya to, mama masakin apa kamu to?," ucapan dari Veni membuat aku agak terkejut.
Adalah hal biasa bagiku sebagai seorang dokter hewan untuk menjadi saksi akan kasus-kasus cinta kasih yang mendalam dan tulus antara hewan peliharaan dan pemiliknya. Tetapi rasa-rasanya belum pernah aku menemukan pemilik hewan peliharaan yang me "mamakan" dirinya pada hewan miliknya. Begitu dalamkah cinta Veni, wanita muda ini pada anjingnya Tato..........

Ternyata kejadian-kejadian berikutnya (Tato menjadi pasienku selama hampir tiga bulan) menunjukkan padaku betapa besarnya cinta kasih "Papa dan Mama "nya Tato pada anjing itu. Baik Veni maupun suaminya benar-benar memperlakukan kedua ekor anjingnya itu dengan penuh kasih sayang dan cinta kasih yang luar biasa.

Selama tiga bulan penuh, Tato yang tidak bisa berjalan itu mereka rawat dengan penuh kasih sayang. Anjuranku untuk  melatih otot-otot kaki Tato dengan terus berusaha mengajak anjing itu berjalan (dengan dibantu oleh dua buah ban dalam bekas yang dikalungkan di belakang kedua pasang kakinya) dengan sabar dijalankan oleh suami isteri itu. Selama dua minggu pertama
berobat, setiap dua hari sekali aku datang untuk menyuntikkan obat bagi Tato.  Setiap kali aku datang, Veni dan suaminya selalu ada untuk mendampingi anjingnya. Pekerjaan suaminya yang ternyata seorang  pengusaha di bidang properti membuat dia tidak terlalu terikat oleh jam kerja layaknya pegawai kantoran, sehingga tiap kali Tato harus disuntik "Papa"nya selalu ada untuk
membantu merayu dan membujuk-bujuk Tato agar mau bersikap tenang saat harus kusuntik.
Ketika sudah lebih dari sebulan berobat dan Tato masih belum bisa berjalan, "Papa" nya membuatkan Tato sebuah box dari kayu yang diberi roda sehingga anjing itu bisa didorong dalam boxnya untuk berjemur di halaman depan rumah mereka.

 Di kota kecil Padang Sidempuan, tidak ada yang namanya pet shop dimana kita bisa menemukan alat-alat untuk perawatan hewan kesayangan, sehingga" Papanya" Tato pun terpaksa harus membuat sendiri box untuk anjing kesayangannya itu.

Veni dan suaminya juga dengan sabar membersihkan kotoran anjingnya itu, yang masih BAB dan BAK di boxnya, karena selalu menolak untuk diangkat/digendong keluar rumah untuk buang hajat, luka di daerah kelaminnya menyebabkan Tato masih merasa kesakitan jika digendong.
Selama lebih kurang satu jam setiap minggu aku memeriksa Tato, dan selama itu pula Tato yang bolak-balik BAK mengotori handuk-handuk bekas yang menjadi alas box nya, membuat Veni terpaksa hilir mudik mengambil kain-kain alas yang masih bersih, untuk mengganti alas box Tato yang sudah basah dan bau oleh air kencingnya.

"Sudah hampir dua bulan juga ya Ven, Tato tidak bisa jalan," ucapku prihatin.
Kasus-kasus  seperti yang menimpa Tato memang biasanya memakan waktu lama untuk sembuh. Kelemahan umum, usia tua, infeksi saluran kencing yang merembet ke luka-luka di sekitar kelaminnya(karena selalu basah oleh air kencing) membuat anjing ini membutuhkan waktu lama untuk pulih.

"Iya....tapi dia sudah banyak kemajuan Bu, dulu waktu baru-baru sakit dan belum diobati, dia kan tidak mau makan sama sekali, sekarang nafsu makannya sudah bagus, luka-lukanya juga sudah mulai mengering, dan alat kelaminnya tidak bengkak lagi Bu," jawab Veni sabar.

"Kemarin saya lihat dia sudah mulai mau mencoba untuk berdiri Bu, tapi terus jatuh lagi, mungkin kakinya belum cukup kuat ya Bu,"
tambah Veni.

"Iya, saya perhatikan ada dua tiga kali dia mencoba untuk berdiri Bu," suami Veni ikut melaporkan perkembangan anjingnya.

Memang sepasang suami isteri ini merawat anjingnya dengan luar biasa telaten. Tanyakan saja berapa kali si Tato kemarin buang air besar atau kecil,  pasti Veni bisa menjawabnya dengan tepat dan akurat.  Aku pun sering tidak perlu bersusah payah memeriksa phisiknya Tato, karena Veni sudah siap dengan informasi lengkap tentang sisi mana dari badannya Tato yang bulunya terlihat rontok, akan adanya luka kecil sebesar koin lima ratus rupiah yang membuat kulit Tato jadi terkelupas, mata sebelah kanan Tato yang terlihat banyak "belek" nya dst dst.

Hal-hal kecil yang terkadang luput dari pengamatanku (karena sudah keburu digonggongi Tato....anjing itu mulai sebal dengan kehadiranku yang selalu menghadiahinya dengan suntikan-suntikan obat) juga dilaporkan dengan cepat oleh Veni.
Pendek kata, menurutku Tato dan Gading adalah hewan yang paling beruntung di dunia ini, karena memiliki "Papa dan Mama" yang luar biasa sayang pada mereka berdua.

(Kasih sayang yang luar biasa besar yang ditunjukkan oleh sepasang suami isteri itu kepada kedua ekor anjing peliharaannya mungkin juga sebagai pelampiasan dari naluri untuk menyayangi mereka yang belum bisa tersalurkan sebagaimana mestinya. Dari ceritanya kepadaku, ternyata walaupun sudah lebih dari lima tahun berumahtangga,Veni dan suaminya belum juga dikaruniai
seorang anak)

Setelah tiga bulan berobat, Tato mulai bisa berjalan walaupun masih sempoyongan.
Sebenarnya Veni dan suaminya masih bersikeras ingin melanjutkan perobatan Tato, sampai sembuh dan pulih total Bu....katanya padaku. Tetapi ketika itu pekerjaan di kantor juga tidak kalah banyak (hanya ada tiga orang dokter hewan di Padang Sidempuan), dan aku juga selalu repot dengan ketiga anakku yang masih kecil-kecil, sehingga dengan pertimbangan kondisi Tato sudah stabil dan dia hanya perlu menjalani masa pemulihan, aku menganjurkan Veni untuk konsultasi mengenai perkembangan Tato melalui telepon saja.

Selama sebulan lebih Veni rutin meneleponku, meminta advis tentang kondisi Tato. Mengenai pakannya, vitamin, dan perawatan kulit bekas luka-luka di tubuh Tato.

Di suatu sore datang telepon dari Veni.

"Ibu, sedang ada di rumah kah?", tanyanya sopan.

"Iya, saya di rumah Ven,"jawabku.

"Saya mau datang Bu, bolehkan?", tanyanya lagi.

"Ok, saya tunggu....," balasku .

Ada apa gerangan Veni sampai mau datang ke rumah kami aku juga tidak tahu.
Tidak berapa lama Veni datang, di tangannya tampak sebuah toples plastik besar yang berisi....ikan nila hidup.

Anak-anakku melonjak-lonjak kegirangan mendapat hadiah ikan nila.

"Hore.....bisa kita taruh di kolam belakang!," teriak Thoriq si sulung.

"Yang dimaksudnya dengan kolam itu cuma bak kecil kog Ven....," ucapku pada Veni.

Ternyata Veni baru memanen ikan nila dari kolam ikan yang memang ada di belakang rumahnya. Dia bermaksud memberikan beberapa ekor padaku sebagai tanda terima kasih karena ...Alhamdulillah...anjingnya Tato sudah sembuh total. Sudah bisa jalan, berlari,melompat.....

"Sudah seperti Tato yang dulu Bu,"ucapnya sumringah. Raut wajahnya berseri-seri. Selama  lebih kurang setengah jam ia dengan bersemangat menceritakan secara detil perkembangan dan kemajuan yang berhasil dicapai Tato, anjingnya. Tidak henti-hentinya ia mengucapkan terima kasih padaku.

 Ah....kalau menurutku sih perawatan dan kasih sayang dari Veni dan suaminya lah yang
terutama menyembuhkan Tato. Bagaimanapun, aku  yang mendengar kabar yang menggembirakan ini turut senang.

Tidak sia-sia jerih payah kedua "Papa dan Mama" yang luar biasa ini.




0 komentar:

Post a Comment