Breaking News

17 February, 2012

Speak My language please..



 By Ibu Embun  

Sebuah siang yang panas sekelompok ibu di perbatasan kota dan kabupaten Tangerang duduk terpekur. Seorang perempuan muda duduk ditengah tengah mereka. Perempuan itu sedang memaparkan pentingnya pendidikan anak untuk masa depan. Lancar sekali ia berceloteh, matanya bergerak menyapu ruangan menatap wajah wajah lugu yang tefokus padanya. Hingga hampir satu jam kemudian seorang ibu panitia berbisik padanya "Ibu maaf..mayoritas yang hadir hanya bisa berbahasa sunda " Seketika ibu muda itu terbelalak, miris sekaligus ia ingin tertawa geli, empat puluh menit ia berbicara dalam bahasa Indonesia sebagian besar audiensnya tidak memahami perkataannya, sekaligus ia merasa geli karena ia terlahir sebagai orang sunda dan dapat berbahasa sunda.

Medio April 2011, di PAUD Bougenville di kecamatan Karawaci Tangerang. Tim NAURA Family Edu Center datang memberi penyuluhan tentang tumbuh kembang anak usia dini. Kali ini ibu ibu antusias mendengarkan dan sesekali menimpali dengan pertanyaan seputar balita mereka. Tiba tiba seorang ibu mengacungkan tangan tersipu seraya berkaya "ibu punteun dari tadi saya teh mau nanya motorik itu apa ? "

Karlsruhe Germany, awal oktober 1998 seorang ibu sepuh berkerudung menepuk punggung saya kemudian menjabat tangan saya kuat kuat sambil tersenyum riang. Ia berbicara panjang lebar sambil merangkul punggung saya dengan  hangat. Saya pun tersenyum, tersenyum karena senang mendapat kenalan baru sesama muslim, sekaligus tersenyum bingung karena kecuali beberapa kata saja seperti moslem, hajj, Alhamdulillah, saya sama sekali tidak mengerti apa yang ia bicarakan. saya hanya merasakan hangat ukhuwah tapi komunikasi kami sama sekali tidak nyambung karena ibu Ehsan ( dengan susah payah saya mengetahui namanya setelah menggunakan bahasa tarzan kiri kanan ) berbahasa Turki sementara saya berbahasa Inggris.


Komunikasi selalu menjadi kata kunci dari relasi manusia. Saya bahkan berpendapat setelah sandang pangan dan papan komunikasi menjadi kebutuhan dasar manusia dalam berkehidupan. Ketiga fragmen kehidupan saya diatas menjadi pembelajaran yang berharga tentang bagaimana membangun hubungan dengan sesama.

Fragmen pertama selalu membuat saya terpingkal pingkal. Bayangkan saya terlahir sebagai orang sunda dan  bisa berbahasa sunda sementara saya tidak menggunakannya pada saat itu karena saya "berpikir" bahwa ibu ibu itu pastilah bisa berbahasa  Indonesia. Waktu itu saya berpikir saya tidak berada jauh dari ibu kota hanya 30 km saja, masakah penduduk di wilayah ini masih ada yang belum bisa berbahasa Indonesia, sekali lagi "SAYA pikir ".

Kejadian kedua adalah yang paling baru yang saya alami. Waktu itu Naura Family Edu Center memang mempunyai program safari edukasi ke PAUD milik RW di kecamatan Karawaci Tangerang. Kali ini seluruh ibu dapat mengerti bahasa Indonesia tapi ternyata pilihan kata yang saya dan seorang dokter waktu itu terasa kurang sederhana dan mengawang bagi audiens yang ternyata sebagiannya hanya lulusan SD dan SMP Padahal yang kami bicarakan sederhana saja soal panduan tumbuh kembang anak sesuai usia, kami hanya ingin orang tua di PAUD tersebut tak menuntut anaknya langsung diajari membaca dan menulis karena tahapan tumbuh kembang anaknya belum sampai ke sana.Saya dan rekan saya waktu itu juga akhirnya tertawa geli sekaligus mengevaluasi diri kami bahwa kami memang kurang memahami atau kami memang terlalu "pintar" bicara..saking pintarnya sampai orang yang kami ajak bicara tak mengerti kami membicarakan apa.

Sedang yang terakhir adalah saat saya baru saja menginjakkan kaki di negeri Hitler. Kondisi sebagai minoritas membuat warga muslim di sana tak memperdulikan asal negara, kelompok atau madzhab fiqih yang biasa menjadi polemik di Indonesia. Bagi kami cukuplah kami mengetahui anda muslim dan anda adalah saudara kami yang akan disambut dengan suka cita meski kami terkendalabahasa. Kami tidk menggunkan bahasa lisan namun bahasa hati.

Pada era facebook saya berteman dengan banyak orang dari berbagai latar belakang budaya, pendidikan, agama dan lintas usia. Saya senang berteman dengan orang baru, belajar banyak hal dari setiap friend request. Biasanya saya akan selalu melihat info profil teman baru saya.
Saya biasa mengamati asal kota, pekerjaan, status dan pendidikan yang bersangkutan sebagai gambaran kasar bagaimana saya harus berkomunikasi.
Saya tentu tak akan berani ber "elo gue " pada seorang teman baru dari Yogya. Sementara saya juga tak akan asal bicara soal politik nasional pada orang orang tertentu.
Dengan keberagaman yang ada saya belajar tidak memaksakan prinsip dan ideaisme saya pada orang lain. Saya hanya fokus pada nilai nilai kebaikan yang universal tanpa harus terjebak radikalisme dalam hal apapun. Pemaksaan kehendak hanya akan berujung pada polemik dan perpecahan sementara menurut saya hal itulah yang paling tidak dibutuhkan saat ini oleh bangsa ini.

Rasulullah SAW yang menjadi panutan saya pernah berpesan pada Mushab bin Umair ketika akan berangkat berdakwah  " Berbicaralah dengan bahasa kaummu ". Saya meyakini aktifitas perluasan idealisme haruslah dilakukan dengan hikmah dan kata kata yang baik. Menggunakan bahasa yang dapat dimengerti dengan baik oleh berbagai kalangan menjauhkan kita dari kesalahpahaman. Akhirnya belajar berbahasa adalah hal yang sangat menarik. Bahasa adalah jendela suatu bangsa, jendela hati anak manusia yang sedang berkomunikasi menjalankan fungsi fungsi sosialnya demi kebaikan bersama.Catatan akhir dari tulisan ini adalah saya suka belajar bahasa apa saja jawa, sunda, minang, betawi, arab, cina, Inggris, Jerman, bahasa tubuh, bahasa tarzan dll kecuali ..134h454 4L4Y..hahahaha..